FUNGSI HUMAS
Muhammmad Fadli Al Fudhail
A.
Organisasi
Humas adalah
fungsi manajemen yang termasuk baru. Tetapi humas telah diakui sejak semula
sebagai salah satu unsur penting dalam mencapai keberhasilan perusahaan yang
bergerak dibidang komersial maupun nonprofit. Pada abad sekarang ini, humas
telah menjadi bagian yang amat vital dari proses komunikasi, yang kehadirannya
sangat diperlukan bagi tugas-tigas lembaga-lembaga ekonomi, sosial, dan
Pemerintah. Umumnya, bagian humas perusahaan ditempatkan di perusahaan –
perusahaan cabang dan di kantor-kator lokal maupun regional di seluruh bagian
Negara di mana perusahaan itu berada.
Kebanyakan
perusahaan yang lebih kecil memercayakan tugas humas ini kepada bagian lain
untuk menangani aktivitas humas sebagai tugas tambahan. Kerugian nyata dari
pengaturan seperti ini adalah bahwa humas biasanya hanya memperoleh perhatian
kedua sehingga dengan demikian tidak dapat berfungsi seefektif mungkin.
Pelaksanaan tugas humas lainnya, yang menyebar luas di berbagai organisasi
adalah membayar penasihat dari luar yang bertindak sebagai pembantu.
Humas adalah
tanggungjawab semua manajer disetiap tahap wewwenang dari menejemn puncak
sampai bawah dari suatu organisasi. Bagian humas adalah sebuah kelompok
administratif yang membantu para manajer dari semua bagian dalam melaksanakan
fungsi humas. Tidak ada wewenang untuk memberikan perintah tetapi yang ada
adalah untuk membantu, menasehati, dan mendorong para eksekutif dalam kegiatan
operasional guna memperbaiki komunikasi internal dan eksternalnya.
Peranan, tugas,
serta fungsi humas yang sangat strategis dalam menentukan keberhasilan
organisasi/lembaga dalam mencapai tujuannya menyebabkan humas harus berada pada
posisi yang strategis pula dalam struktur organisasi sebuah
organisasi/lembaga.pada prinsipnya, secara struktural, fungsi hums dalam
organisasi merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari suatu
kelembagaan atau organisasi. Humas terkait langsung dengan fungsi manajemen
puncak. Fungsi kehumasan dapat berhasil secara optimal apabila berada langsung
di bawah pimpinan atau mempunyai hubungan langsung dengan pimpinan tertinggi
(pengambil keputusan) pada organisasi/instansi yang bersangkutan.
Pendapat lain
menyatakan, humas harus diletakkan di tingkat manajemen puncak sebuah
organisasi, dengan seorang direktur yang bertanggungjawab kepada direktur utama
dan dewan direktur. Karena tindakan dan kebijaksanaan manajemen mempengaruhi
humas, maka fungsi humas harus ada dalam kedudukan tertentu di dalam struktur
organisasi/perusahaan untuk berpartisipsi dengan manajemen dalam keputusan
kebijaksanaan umum. Seorang direktur humas harus berada pada posisi yang dapat
mewakili pandapat publik atas
kebijaksanaan-kebijaksanaan dan masalah – masalah mereka dan dapat
bekerja sama dengan mereka dalam melaksanakan suatu program.
Dengan
menempati posisi manajemen puncak, bagian humas dapat bekerjasama dan
berhubungan dengan semua bagian di suatu perusahaan. Tanpa pemahaman dan
dukungan aktif dari bagian lain, maka humas yang efektif tidak dapat tercapai.
Bagian – bagian ini secara bersama – sama berkepentingan dalam mengembangkan
hubungan yang baik dengan para karyawan dan bagian humas harus memelihara hubungan
terus – menerus.
B.
Manajemen
Cukup banyak
definisi manajemen humas yang dikemukakan oleh para pakar, akademisi, dan
praktisi. Dari berbagai definsi tersebut, garis besarnya adalah manajemen humas
dapat dilihat secara konseptual, fungsional, dan unsur-unsurnya dalam aktivitas
atau keguatan serta faktor – faktor yang mempengaruhi pengertian manajemen
humas dalam suatu organisasi. Baik tujuan komunikasi dua arah timbal balik
(reciprocal communication), membangun hubungan baik (relationship) maupun komunikasi
persuasif serah (one way persuasive communication), yang pada akhirnya
bertujuan untuk membangun saling pengertian, menghargai, dukungan yang baik,
hingga menciptakan citra positif.
Manajemen humas
berarti penelitian, perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasi suatu kegiatan
komunikasi yang disponsori oleh orgnasisasi, mulai dari pertemuan kelompok
kecil hingga berkaitan dengan konferensi pers internasional via satelit, dari
pembuatan brosur hingga kampanye nasional melalui multimedia dari penyelenggarakan
acara open house menangani kasus manajemen krisis.
Menurut L.F.
Urwick dalam bukunya Element of Administration (19760, menjelaskan bahwa
aktivitas humas sebagai salah satu fungsi manajemen organisasi melalui bentuk
tugas unsur yang barkaitan dengan fungsi tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Manajemen
Mekanik
Fungsi
manajemn mekanik dengan melakukan pengamatan (peramalan) di masa mendatang,
perencanaan, dan pengorganisasian.
2.
Manajemen
Dinamik
Fungsi
manajemen dinamik ini terdiri dari unsur-unsur komando dan
pengarahan,koordinasi,serta ,pengawasan.
3.
Manajemen
Relasi
Sedangkan
fungsi hubungan atau relasi publik ini merupakan salah satu tugas manajemen
humas yang utama dalam manajemen perusahaan, yang untuk melaksanakan :
a.
Berupaya
mendengarkan pendapat dan aspirasi publik serta mampu untuk mengidentifikasikan
keinginan publik khalayak sasarannya.
b.
Menyampaikan
sumbang saran dan ide atau gagasan kreatif tertentu yang positif kepada
pimpinan organisasi demi manfaat bersama bagi perusahaan dan publik, dan
c.
Mampu
menciptakan suasana iklim yang kondusif dan hubungan yang harmonis serta
positif untuk kalangan internal perusahaan, mulai dari tingkat pimpinan ke
bawahnya atau sebaliknya, dengan membangun hubungan baik bagi kedua belah pihak
dalam suatu organisasi.
Umumnya, posisi humas meliputi satu
atau lebih fungsi manajemen berikut.
1.
Penyusunan
kegiatan (programming). Fungsi ini meliputi analisis masalah dan alternatif,
penetapan tujuan dan publik (atau kelompok yang dukungan atau pengertiannya
diperlukan), dan pemberian saran serta perencanaan aktivitas. Programming bisa
meliputi penyusunan anggaran dari persetujuan terhadap tanggungjawab bagi
orang-orang tertentu, termasuk mereka yang nonhumas.
2.
Keterpautan
(relationship). Para petugas humas yang berhasil, mengembangkan keterampilan
pribadinya dalam mengumpulkan informasi dari manajemen, dari rekan dalam
organisasinya, dan dari sumber eksternal (di luar organisasi). Secara terus –
menerus mereka mengevaluasi, dan mengusahakan persetujuan dari manajemen.
Petugas humas yang efektif adalah yang belajar agar dapat berpengaruh terhadap
orang lain.
3.
Penulisan
dan penyuntingan (editing). Karena seorang petugas humas seringkali berusaha
untuk menjangkau kelompok besar dalam masyarakat, maka alat yang paling sering
digunakan adalah kata-kata tercetak. Contoh-contoh penggunaannya bisa didapati
dalam laoran siaran berita (news release), brosur, pidato, naskah film,
newsletter, dan komunikasi manajemen lainnya, yang ditunjukan, baik kepada
personil di dalam maupun di luar organisasi yang merupakan kelompok – kelompo
internal dan eksternal. Suatu gaya penulisan yang jelas dan efektif merupakan
suatu keharusan bagi petugas humas.
4.
Informasi
menetapkan saluran yang tepat bagi penyebaran materi kepada surat kabar,
stasiun radio, dan majalah dagang atau majalah umum, serta mengadakan kontak
dengan mereka untuk mengetahui kepentingannya dalam mempublikasikan berita dan
feature organisasi,merupakan aktivitas humas yang sudah umum.
5.
Produksi
(production). Brosur, laporan khusus film, dan program multimedia adalah cara –
cara penting dalam berkomunikasi.
6.
Peristiwa
khusus (special events) . Konferensi pers, pameran, pertujukan khusus, perayaan
ulang tahun, kontes dalm progam berhadiah, perlawatan, dan pertemuan khusus,
semua merupakan peristiwa khusu yang dapat digunakan untuk menarik peprhatian
dan memperoleh penerimaan dari masyarakat.
7.
Pidato
(speaking). Pekerjaan humas seringkali menuntut keterampilan dalam
berkomunikasi tatap muka, mencari forum yang cocok, mempersiapkan pidato bagi
orang lain, dan menyampaikan pidato.
8.
Penelitian
dan penilaian (research and evaluation). Aktivitas pertama yang selalu harus
dilaksanakan oleh seorang petugas humas adalah mengumpulkan fakta.
C.
Persyaratan
Humas
Supaya
komunikasi yang efektif dapat tercipta di dalam suatu organisasi, ada beberapa
syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang humas di dalam suatu organisasi.
Syarat – syarat tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Komunikasi
dan relasi. Seorang humas haruslah
orang yang mampu berkomunikasi dan
menjalin relasi dengan orang lain karena komunikasi dan relasi merupakan roh
dari pekerjaan seorang humas.
2.
Sifat
yang rendah hati. Sifat rendah hati menjadi satu syarat yang sangat penting
yang harus dimiliki oleh seorang humas supaya berkomunikasi dapat dilakukan
terhadap semua lapisan masyarakat tanpa membedakan pangkat dan derajat.
3.
Cepat
menyesuaikan diri. Tuntutan ini menjadi satu hal yang urgen karena pekerjaan
seorang humas selalu berhubungan dengan
hal-hal yang baru dan seringkali cepat berubah.
4.
Mampu
menghadapi semua orang yang memiliki aneka ragam karakter dan latar belakang
budaya dengan baik.
5.
Seorang
humas harus mampu berkomunikasi dengan baik, yaitu mampu menjelaskan segala
sesuatu dengan jernih, jelas, dan lugas baik secara lisan maupun tulisan bahkan
secara visual.
6.
Pandai
mengorganisasi segala sesuatu. Persyaratan keena, ini merupakan persyaratan
manajerial yang harus dimiliki oleh setiap humas.
7.
Memiliki
integritas personal baik dalam profesi maupun dalam kehidupan pribadi.
Integritas personal ini dibutuhkan untuk membangun citra yang baik tentang
humas itu sendiri.
8.
Punya
imajinasi yang kuat. Persyaratan ketujuh ini sangat dibutuhkan ketika seorang
humas harus menyampaikan pesan-pesan komersial atau pesan-pesan layanan
masyarakat kepada stakeholder.
9.
Serba
tahu yaitu memiliki akses yang tinggi terhadap informasi. Diharapkan, seorang
humas adalah sumber informasi bagi semua pihak, baik pihak internal maupun
pihak eksternal.
Selain itu, persyaratan dasar humas
yang perlu diingat adalah kemampuan
D.
Kegiatan
dan Sasaran Humas
Menurut
H.Fayol, beberapa kegiatan dan sasaran humas adalah sebagai berikut
1,
Membangun identitas dan citra perusahaan.
a.
Menciptakan
identitas dan citra perusahaan yang positif.
b.
Mendukung
kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak.
Strategi Humas
Ahmad A.
Adnanputra, M.A.,M.S., pakar humas dalam naskah workshop berjudul PR Strategy
(1990), mengatakan bahwa arti strategi adalah bagian terpadu dari suatu
rencana, sedangkan rencan merupakan produk dari suatu perencanaan, yang pada
akhirnya perencanaan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen.
Tahap pertama dari fungsi manajemen adalah menetapkan tujuan yang hendak
diraih, posisi tertentu, atau dimensi yang ingin dicapai sesuai dengan
perencanaan yang telah diperhitungkan dengan baik oleh pihak – pihak yang
terlibat dalam manajemen organisasi/lembaga. Selanjutnya, program kerja yang
merupakan suatu strategi yang dijabarkan dalam langkah – langkah yang telah
direncakan. Terakhir, yang paling menentukan adalah unsur anggaran yang sudah
dipersiapkan, berfungsi sebagai pendukung khusus yang dialokasikan untuk
terlaksananya suatu strategi program kerja manajemen humas.
Kegiatan
strategi humas meliputi dua tahap, yakni komponen sasaran dan komponen sarana.
Pada umumnya, komponen sasaran adalah para stakeholder dan publik yang memiliki
kepentingan yang sama. Sasaran umum tersebut secara struktural dan formal yang
dipersempit melalui upaya segmentasi yang dilandasi seberapa jauh sasaran itu
menyandang opini bersama, potensi polemik, dan pengaruhnya bagi masa depan
organisasi, lembaga, nama perusahaan dan produk yang menjadi perhatian sasaran
khusus. Maksud sasaran khusus disini adalah yang disebut publik sasaran.
Landasan
umum dalam proses penyusunan strategi humas, menurut Ahmad S. Adnanputra dalam
makalah PR Strategy (1990), yang berkaitan dengan fungsi – fungsi humas secara
integral melekat kepada manajemen suatu perusahaan, yaitu sebagai berikut.
1.
Mengindentifikasi
permasalahan yang muncul.
2.
Identifikasi
unit – unit sasarannya.
3.
Mengevaluasi
pola dan kadar sikap tindak unit sebagai sasarannya.
4.
Mengidentifikasi
tentang struktur kekuasaan pada unit sasaran.
5.
Pemilihan
opsi atau unsur taktikal strategi humas.
6.
Mengidentifikasi
dan evaluasi terhadap perubahan kebijaksanaan atau peraturan pemerintahan dan
lain sebagainya.
7.
Langkah
terakhir adalah menjabarkan strategi humas atau cara menerapkan langkah –
langkah program yang direncanakan, dilaksanakan, mengomunikasikan, dan penilaian/evaluasi
hasil kerja.
Selanjutnya,
perlu diketahui pula komponen pembentukan strategi. Strategi dipengaruhi oleh
unsur – unsur tertentu yang berkaitan dengan lingkungan, kondisi, visi atau
arah, tujuan dan sasaran, dari suatu pola yang menjadi dasar budaya perusahaan
bersangkutan.
1.
Secara
makro, lingkungan perusahaan/lembaga tersebut akan dipengaruhi oleh unsur –
unsur kebijakan umum, budaya yang dianut, sistem perekonomian dan teknologi
yang dikuasai oleh organisasi bersangkutan.
2.
Secara
mikro, tergantung dari misi perusahaan, sumber – sumber dimiliki (sumber daya
manusia dan sumber daya guna lainnya yang dikuasai), sistem pengorganisasian,
dan rencana atau program dalam jangka pendek atau jangka panjang, serta tujuan
dan sasarannya yang hendak dicapai.
E.
Strategi
Operasional Humas
Untuk
mengokohkan dan memantapkan fungsi kehumasan agar mengenai sasaran
organisasi/lembaga, maka aktivitas utama humas secara operasional seharusnya
berada di posisi yang sedekat mungkin dengan pimpinan puncak organisasi. Manfaat
yang dapat dicapai dari kedekatan tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Memberikan
pengetahuan yang jelas dan rinci mengenai suatu sistem terpadu, pola
perencanaan, kebijakan, keputusan yang diambil, visi dan arah tujuan organisasi
bersangkutan. Hal ini perlu agar tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian
pesan dan informasi dari lembaga/organisasi kepada publiknya. Komunikator dan
mediator humas harus mengetahui sejauh mana batas – batas pesan/informasi yang
dapat dan tidak dapat dipublikasikan,khususnya kepada kalangan pers/media
massa.
2.
Agar
aktivitas humas dalam mewakili lembaga/organisasi tersebut dapat dipertegas
berkenaan dengan batas – batas wewenang dan tanggung jawab humas akan selalu
mengetahui secara jelas segi pelaksanaan dari keputusan atau kebijaksanaan
pimpinan organisasi tersebut.
3.
Mengetahui
secara langsung dengan tepat tentang latar belakang suatu proses perencanaan,
kebijaksanaan, arah, dan hingga tujuan organisasi yang hendak dicapai, baik
jangka pendek maupun jangka panjang.
4.
Dengan
berhubungan secara langsung dan segera dengan pimpinan puncak, tanpa melalui
perantara pejabat/departemen lain, maka fungsi kehumasan berlangsung secara
optimal, antisipatif, dan dapat melaksanakan berbagai macam perencanaan.
Perenan komunikasi dengan kewenangan yang ada akan mampu mengatasi berbagai
masalah yang mungkin timbul tanpa diduga sebelumnya.
5.
Sebagai
suatu akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang diambil dan kebijaksanaan
telah dijalankan oleh pihak lembaga/organisasi, maka pihak humas berperan melakuan
tindakan mulai dari memonitor,merekam, menganalisis, menelaah, hingga
mengevaluasi setiap reaksi (feed back), khususnya dalam upaya penilaian sikap
tindak serta mengetahui persepsi masyarakat.
6.
Dapat
secara langsung memberikan sumbang saran, ide, dan rencana atau program kerja
kehumasan dalam rangka untuk memperbaiki, atau mempertahankan nama baik,
kepercayaan dan citra perusahaan terhadap publiknya. Termasuk upaya
menjembatani atau menyerasikan antara kebijaksanaan/keputusan
organisasi/lembaga dengan kepentingan, dan keinginan serta sekaligus upaya
memperoleh dukungan dan pastisipasi dari masyarakat (publiknya).
Humas berfungsi untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam
mengembangkan tanggungjawabkan serta pastisipasi antara pejabat
humas dan masyarakat
(sebagai khalayak sasaran) untuk meweujudkan tujaun bersama. Fungsi tersebut
dapat diwujudkan melalui beberapa aspek pendekatan atau strategi humas berikut.
1.
Strategi
operasional
Melalui pelaksanaan program humas
yang dilakukan dengan pendekatan kemasyarakat, melalui mekanisme sosial
kultural dan nilai – nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau
kehendak masyarakat terekam pada setiap berita atau surat pembaca dan lain
sebagainya yang dimuat di berbagai media massa. Artinya, pihak humas mutlak
bersikap atau berkemampuan untuk benar – benar mendengar (listening) dan bukan
sekadar mendengar (hear) mengenai aspirasi yang ada dalam masyarakat, baik
mengenai etika, moral, maupun nilai-nilai kemasyarakatan yang dianut.
2.
Pendekatan
fungsi humas
Menciptakan komunikasi dua arah
(timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak
publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan
melakukan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman,
toleransi, dan lain sebagainya.
3.
Pendekatan
tanggung jawab sosial humas
Menumbuhkan sikap tanggungjawab
sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditunjukkan
untuk mengambil keuntungan sepihak dari publik sasarannya (masyarakat), namun
untuk memperoleh keuntungan bersama.
4.
Pendekatan
kerja sama
Berupaya membina hubungan yang
harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan ke dalam
maupun keluar untuk meningkatkan kerja sama. Humas berkewajiban memasyarakatkan
misi instansi yang diwakilinya agar diterima oleh atau mendapat dukungan
masyarakat (publik sasarannya). Hal ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan
hubungan baik dengan publiknya dan untuk memperoleh opini publik serta
perubahan sikap yang positif bagi kedua be;ah pihak.
5.
Pendekatan
koordinatif dan integratif
Untuk memperluas peranan humas di
masyarakat, maka fungsi humas dalam arti sempit hanya mewakili
lembaga/intitusinya. Tetapi peranannya yang lebih luas adalah berpartisipasi
dalam menunjang program pembangunan nasional dan mewujudkan ketahanan nasional
di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan hankamnas.
Berkaitan dengan penjelasam langkah
– lengkah pokok dari berbagai aspek pendekatan dan strategi humas di atas,
dapat ditarik suatu pengertian yang mencakupi peran humas di berbagai kegiatan
di lapngan sebagai berikut :
1.
Menginformasikan
(toinform).
2.
Menerangkan
(to explain).
3.
Menyarankan
(to suggest).
4.
Membujuk
(to persuade).
5.
Mengundang
(to invite).
6.
Meyakinkan
(to convince).
F.
Program
Kerja
Pada
dasarnya, tujuan umum program kerja dan berbagai aktivitas humas di lapangan
adalah dari menciptakan hubungan
harmonis antara organisasi/perusahaan yang diwakilkan dengan publiknya atau
stakeholder. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya citra positif, kemaunan
baik, saling menghargai, saling timbul pengertian, dan toleransi antara kedua
belah pihak. Tujuan dari proses perencanaan program kerja untuk mengelola
berbagai aktivitas humas dapat mewujudkan jika terorganisasi dengan baik
melalui manajemen humas yang dikelola secara profesional dan dapat
dipertanggung jawabkan hasil atau sasarannya.
Perencanaan,
pengorganisasian, pengomunikasikasian, hingga pengevaluasian suatu program
kerja humas melalui berbagai aktivitas tang dilaksanakan oleh humas bukanlah
pekerjaan yang mudah atau hanya sambilan, tetapi harus dikelola secara
profesional dan serius serta penuh konsentrasi agar dapat mencapai tujuan dan
sasaran yang ditetapkan.
Scott
M. Cutplin & Allen H. Center (Prentice-Hell,Inc. 1982) menyatakan bahwa
proses perencanaan program kerja melalui empat tahapan pokok yang menjadi
landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja melalui empat tahapan pokok yang
menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja kehumasan adalah sebagai
berikut.
1.
Penelitian
dan Mendengarkan
Dalam tahap ini, penelitian yang
dilakukan berkaitan dengan opini, sikap dan reaksi dari mereka yang
berkepentingan dengan aksi dan kebijaksanaan – kebijaksanaan suatu organisasi.
2.
Perencanaan
dan Pengembilan Keputusan
Dalam tahap ini, sikap opini, ide –
ide, dan reaksi yang berkaitan dengan kebijaksanaan serta penetapan program
kerja organisasi yang sejalan dengan kepentingan atau keinginan – keinginan
pihak yang berkepentingan mulai diberikan, yaitu apa yang dapat kita kerjakan ?
3.
Komunikasi
dan Pelaksanaan
Dalam tahap ini, informasi yang
berkenaan dengan langkah – langkah yang akan dilakukan dijelaskan sehingga
mampu menimbulkan kesan – kesan yang secara efektif dapat mempengaruhi pihak –
pihak yang dianggap penting dan berpotensi untuk memberikan dukungan
sepenuhnya, yaitu apa yang telah kita lakukan dan mengapa begitu ?
4.
Evaluasi
Pada tahapan ini, pihak humas mengadakan penilaian terhadap hasil –
hasil dari program – program kerja atau aktivitas humas yang telah
dilaksanakan. Termasuk mengevaluasi keefektivitasan dari teknik – teknik
manajemen dan komunikasi yang telah dipergunakan, yaitu dengan menjawab
pertanyaan : Bagaimana yang telah kita lakukan.
Tiap tahapan
dari keempat tahapan tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Setiap
tahap dari proses kerja humas sama pentingnya bagi terlaksananya suatu program
humas yang efektif. Sayangnya, banyak di antara praktisi humas yang kurang
menyadari akan hal tersebut sehingga dalam menentukan dan melaksanakan program
mereka seringkali mengabaikan tahapan – tahapan di atas. Tahap yang paling
sering diabaikan adalah penelitian, perencanaan, dan evaluasi.
Proses kerja
humas merupakan satu kesatuan perencanaan yang secara sirkuler terus
menerus berlangsung. Melalui observasi
yang pernah dilakukan, diketahui bahwa proses
analisa-sistensis-komunikasi-interpretasi dari kerja humas merupakan proses
yang berkesimbungan dalam bentuk spiral dan seringkali tumpang – tindih anrata
satu dengan yang lainnya.kalau diuraikan dan digambarkan, maka lingkaran dan
langkah – langkah kegiatan humas adalah sebagai berikut.
1.
Menganalisis
perilaku umum dan hubungan organisasi terhadap lingkungan.
2.
Menentukan
dan memahami secara benar perilaku tiap – tiap kelompok terhadap organisasi.
3.
Menganalisis
tingkat oponi publik, baik yang internalmaupun yang eksternal.
4.
Mengantisipasi
kecenderungan – kecenderungan, masalah – masalah yang potensial, kebutuhan –
kebutuhan, dan kesempatan-kesempatan.
5.
Menentukan
formulasi dan merumuskan kebijakan – kebijakan.
6.
Merencanakan
alat atau cara yang sesuai untuk meningkatkan atau mengubah perilaku kelompok
masyarakat sasaran.
7.
Menjalankan
dan melaksanakan aktivitas-aktivitas sesuai dengan program yang telah
direncanakan.
8.
Menerima
umpan balik untuk dievaluasi, kemudian mengadakan penyesuain – penyesuain yang
diperlukan.
Konsekuensi
dari proses perencanaan kerja humas seperti di atas adalah tuntutan terhadap
kemampuan tinggi dari para praktisi humas untuk dapat berperan ganda dalam
menjalankan tugasnya. Rumusan perencanaan yang matang, akan menghasilkan suatu
program humas yang efektif. Perencanaan program humas didasarkan kepada fakta
dan landasan berpikir yang sehat serta memiliki kejelasan arah dan tujuan yang
ingin dicapainya..
Secara
umum, pengertian dari perencanaan program kerja humas yaitu terdiri atas semua
bentuk kegiatan perencanaan komunikasi baik kegiatan ke dalam maupun keluar
antara organisasi dan publiknya yang tujuannya untuk mencapai saling
pengertian. Perencanaan kerja humas tersebut berkaitan dengan pengertian, perencana,
perencanaan, wujud rencana kerja, dan alasan dilakukan perencanaan kerj ahumas
termasuk manfaat dan klasifikasi perencanaan kerja tersebut.
1.
Perencanaan
Kerja Humas.
a.
Perencana
adalah seseorang yang memanfaatkan atau menginterprestasikan segala informasi,
materi, dan data yang tersedia baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk
dianalisis, diseleksi, dan diproses sebagai bahan perencanaan kerja yang akan
datang.
b.
Hasil
yang akan diperoleh releven dengan hal – hal yang diberkaitan dengan peran dan fungsi
kegiatan kehumasan dalam suatu organisasi.
2.
Perencanaan
Kerja Humas.
Perencanaan kerja humas berkaitan
dengan hal – hal berikut.
a.
Fungsi
dan teknis manajemen humas yang profesional, dinamis, serta proaktif.
b.
Merupakan
metode terbaik untuk mempersiapkan pihak organisasi dalam menghadapi perubahan
yang sering terjadi.
c.
Penilaian
(evaluasi) atau mereview hasil perkembangan kegiatan masa lalu, sekarang, dan
masa yang akan datang.
d.
Mengantisipasi
dan menghadapi tantangan atau resiko yang akan terjadi melalui suatu proses
untuk menentukan tujuan dan sasaran jangka pendek dan panjang secara periodik
dan strategis
3.
Wujud
rencana kerja humas
Bentuk rencana kerja humas dapat
diimplementasikan sebagai berikut.
a.
Rencana
yang berkaitan dengan hasil atau produk dari perencanaan yang telah
dilaksanakan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b.
Rencana
perancangan konsep dasar sari perencanaan kerja humas yang dirancang.
c.
Rencana
untuk membuat pernyataan berdasarkan dari target yang ingin dicapai.
4.
Perencanaan
kerja dan alasan – alasan dilakukannya kegiatan humas.
a.
Alasan
dalam kegiatan perencanaan, yaitu dapat bersifat proaktif, reaktif, defensif,
preventif, protektif, hingga profitabel.
b.
Alasan
mengapa :
1). Untuk mengatisipasi perubahan
lingkungan lebih luas, seperti perubahan teknologi, ekonomi, politik, hukum,
dan teknologi.
2). Menghadapi perubahan lebih
sempit (operasional), seperti menghadapi persaingan, perubahan selera pelanggan
, life cycle product, sistem komunikasi, media massa, tenaga kerja, dan relasi
bisnis.
3). Menciptakan tujuan yang obyektif,sasaran,
dan target yang ingin dicapai secara jelas dan rinci. Mampu mendefinisikan
suatu permasalahan eksteernal dan internal organisasi, menemukan fakta,
analisis SWOT, merancang rencana kerja yang akan datang pelaksanaan komunikasi,
hingga penilaian kerja (evaluasi).
5.
Manfaat
perencanaan kerja humas
Manfaat
yang diperoleh dari pembentukan perencanaan kerja humas adalah sebagai berikut.
a.
Membantu
pihak manajemen organisasi untuk mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang sering
berubah – ubah.
b.
Mengefektifkan
dan mengefesiensikan koordinasi atau kerja sama antar departemen dan pihak
terkait lainnya.
c.
Mengefisienkan
waktu, tenaga, dan biaya.
d.
Menghindari
resiko kegagalan dengan tidak melakukan perkiraan atau perencanaan tanpa arah
yang jelas dan konkret.
e.
Mampu
melihat secara keseluruhan kemampuan operasional organisasi, pelaksanaan,
komunikasi, target, dan sasaran yang hendak dicapai di masa mendatang.
f.
Menetapkan
klasifikasi rencana kerja humas, yaitu rencana strategis (sesuai dengan
kebijakan tujuan jangka panjang), rencana tetap (reguler, yang dapat dilakukan
berulang-ulang), dan rencana tertentu (rencana jangka pendek,khusus, dan
terbatas).
Sebelum
membentuk perencanaan program humas, seorang praktisi humas harus terlebih dahulu
mengetahui dan memahami tujuan yang ingin dicapai oleh organisasinya. Dari
hasil penelitian yang pernah dilakukan do Phio AS 1989, diketahui bahwa hanya
53 persen praktisi yang tidak mengetahui dengan pasti tujuan organiasai sebelum
melakukan perencanaan program humas. Akibatnya timbul hambatan – hambatan
sebagai berikut.
1.
Kegagalan
manajemen menyertakan para pelaksana untuk turut serta mempertimbangkan
perumusan kebijaksanaan dan program kerja organisasi.
2.
Kurang
tercapainya kesepakatan mengenai tujuan – tujuan dari pelaksanaan program
humas.
3.
Kurangnya
waktu karena tersita oleh pembahasan – pembahasan mengenai masalah sehari –
hari.
4.
Kelambatan
dan frustasi yang dialami oleh para pelaksanaan karena kurangnya koordinasi
dengan departemen terkait lainnya.
Menurut
Cutlip, Center &Broom (2000), perencanaan program humas harus didasarkan
kepada analisis lingkungan situasi dan kondisi sebagai beirkut
1.
A.
Searching look backward, yaitu penelusuran masa lampau atau sejarah organisasi
untuk menetapkan faktor- faktor yang memegang peranan penting dalam situasi
yang sedang terjadi.
2.
A
deep look inside, yaitu penelaahan terhadap fakta – fakta dan pendapat yang
dipertimbangkan, dipandang, dari sudut tujuan organisasi dan kemampuan internal
organisasi.
3.
A
wide look around, yaitu melihat kecenderungan – kecenderungan yang ada pada
berbagai aspek ( politik, sosial, dan ekonomi ) di sekeliling kita, serta
situasi dan kondisi saat ini untuk rencana mendatang.
4.
A
long, long looks ahead, jauh memandang ke depan, tujuan dan pelaksanaan program
organisasi ditentukan berdasarkan misi organisasi yang cukup realistik dan
kemudahan dalam mencapai tujuan. Kesesuain perencanaan dan program humas, serta
prospek organisasidi masa mendatang.
Organisasi,
sebagaimana halnya individu, memiliki cita – cita dan tujuan. Pada umumnya,
tujuan dari suatu organisasi adalah.
1.
Mendapatkan
keuntungan/penghargaan;
2.
Mempunyai
arti bagi lingkungan;
3.
Mendapatkan
dukungan;
4.
Dihormati
oleh masyarakat;
5.
Menyediakan
produk yang diperlukan dan diinginkan oleh masyarakat;
6.
Bebas
dari keterbatasan dan kebutuhan yang mendesak, dan
7.
Berpengaruh
pada pendapat publik.
Program
humas yang preventif adalah suatu program yang direncanakan untuk mencegah
terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan oleh organisasi, sedangkan program
remedial sehubungan dengan perbaikan situasi dan kondisi yang terjadi pascakrisis.
Perencanaan kerja humas berkaitan dengan hal – hal berikut.
1.
Tiga Dasar
Ada tiga dasar hakiki agar rencana
program humas dapat berhasil dengan baik.
a.
Rencana
program harus dibuat dengan teliti dan harus didukung oleh pihak manajemen.
b.
Rencana
program tersebut harus mempunyai tujuan.
c.
Dilakukan
pengarahan mengenai rencana program tersebut.
2.
Unexpected
Case
Dalam praktik, humas sering
dihadapkan dengan sesuatu yang berada di luar perkiraan atau tujuan rencana
program. Maka rencana program harus dibuat sebaik mungkin. Penanganan hal – hal
yang hadir di luar dugaan tersebut akan jauh lebih sulit dikarenakan tidak ada
guideline (patokan) dalam rencana program itu sendiri. Karena itulah, tak satu
bisnis pun dapat beroperasi tanpa rencana program – program yang matang dan
jelas.
3.
Faktor
Utama Rencana Program
a.
Kegiatan
yang akan dilaksanakan,dituangkan dalam bentuk proposal perencanaan kerja
humas.
b.
Perencanaan
anggaran.
c.
Perizinan.
d.
Strategi
pelaksanaan suatu kegiatan.
e.
Rapat/pertemuan
rutin.
f.
Perekrutan
karyawan yang akan dilibatkan dalam pekerjaan trmasuk pembagian tugasnya.
g.
Penyedian
properti/sarana untuk hal – hal yang akan muncul secara tidak terduga.
4.
Pentingnya
Rencana Program Humas
Rencana program humas sama pentingnya dengan menciptakan suatu
fondasi yang kuat untuk sebuah bangunan. Apabila rencana program sudah disusun
dan dipastikan, bisa diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang diinginkan
sesuai dengan perencanaan. Perencanaan kegiatan hingga jadwal harian perlu
dilakukan mengingatkan tugas humas yang begitu banyak dan seringkali harus
dilaksanakan pada waktu bersamaan.
G.
Aktivitas
Humas
Sebagai
pihak yang harus menjalin komunikasi ke dalam dan keluar, humas memiliki banyak
aktivitas yang harus dilakukan.
1. Membina hubungan dengan lingkungan internal.
Humas harus rajin berkomunikasi
dengan rekan sejawatnya dalam instansi. Komunikasi ini diperlukan agar humas
dapat melakukan deteksi dini tentang segala permasalahan di dalam perusahaan
dan mengetahui perkembangan setiap unit kerja.
2. Membina hubungan dengan pers.
3. Dokumentasi dan kliping.
Menurut Drs. E. Martono dalam
bukunya berjudul Pengetahuan Dokumentasi dan Perpustakaan sebagai Pusat
Informasi ( Penerbit Karya Utama, jakarta, 1991 ) pengertian dari dokumentasi
adalah sebagai berikut.
a.
Asal
kata dokumen tersebut dari bahasa Belanda, yaitu document dan sama dengan
bahasa inggris, sedangkan dalam bahasa
Latin ditulis documentum.
b.
Pada
dasarnya dokumen tertulis atau tercetak dan dapat digunakan sebagai suatu bukti
sebagai keterangan tertulis.
c.
Bentuk
dokumen dapat berupa surat, akta penting, piagam penghargaan dan rekaman foto
atau elektronik dan lain sebagainya.
d.
Dokumen
yang memiliki nilai hukum terkuak adalah dokumen asli dan sah dan dapat
disimpan dalam jangka tertentu serta dilindungi hukum.
e.
Dokumen
berguna untuk sumber keterangan, penyelidikan ilmiah, alat bantu bukti
keabsahan mengenai suatu keterangan tertentu.
Federation
Internationale de Documents (FID) merumuskan dokumentasi sebagai kegiatan yang
menghimpun, menyusun, menyebarluaskan tentang segala macam jenis lapangan
aktivitas kehidupan manusia. Dokumentasi dan kliping merupakan salah satu
kegiatan humas berkaitan dengan menelaah, menganalisis, dan kemudian mengevaluasi
perkembangan dari kemajuan bisnis perusahaan atau lembaga, aktivitas –
aktivitas, dan program acara tertentu baik bersifat komersial maupun
nonkomersial yang telah dimuat atau dipublikasikan di berbagai media massa dan
nonmassa. Pengamat,analisis, dan evaluasi tersebut kemudian disimpan sekaligus
dijadikan rujuakn penting atau informasi yang diperlukan untuk membuat rencana
program kerja humas berikutnya.
Pengertian
umum lain mengenai kegiatan pendokumentasian dalam administrasi perkantoran,
yaitu dikenal dengan istillah filling. Maksudnya, setiap surat masuk dan keluar
diarsipkan dalam suatu tempat tertentu yang sengaja sebagai tempat penyimpanan
surat atau dokumen.
Ada
pula yang mengartikan dokumentasi tersebut sebagai bagian dari kegiatan dan hasil
potret atau pemotretan (foto dokumentasi) serta egiatan merekam melalui kaset
dan video perekam mengenai suatu peristiwa atau kejadian tertentu yang dianggap
cukup penting untuk diabadikan dan kemudian tahap berikutnya menjadi bahan
pendokumentasian.
Kegiatan
yang berkaitan antara dokumentasi dan kliping bidang kehumasan merupakan alat
bantuk yang memiliki beberapa manfaat.
a.
Sebagai
bahan informasi terkini yang dapat diedarkan ke bagian lain yang dianggap
mempunyai hubungan atau kepentingan maing – masing.
b.
Sebagai
bahan referensi tertentu sebagai data atau informsai penunjang misalnya untuk
penyusunan naskah pidato dan lain
sebagainya.
c.
Sebagai
pendoman atau acuan untuk mengantisipasi langkah – langkah suatu kejadian
tertentu yang tengah dihadapi atau dimasa mendatang. Untuk perbaikan dan
pengembangan dari langkah – langkah program kerja perusahaan di masa – masa
mendatang.
d.
Khususnya
kliping berperan sebagai sumber informasi dan data untuk memantau kegiatan
pihak pesaing.
e.
Sebagai
tolak ukur tentang sejauh mana keberhasilan prestasi dan reputasi yang dicapai,
mengenai persepsi, keluhan, dan hingga perolehan citra dimata masyarakatnya.
f.
Sebagai
media komunikasi internal.
g.
Sebagai
kegiatan dokumentasi perusahaan atau lembaga.









0 komentar:
Posting Komentar