Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T8


PENGEMBANGAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Muhammad Fadli Al Fudhail
A.    Pengertian partisispasi
Pengertian partisispasi adalah keikut sertaan seseorang atau sekelompok  anggota masyarakat dalam suatu kegiatan. Menurut raharjo keikut sertaan tersebut, dilakuan akibat dari terjadinya interaksi sosial antara individu yang bersangkutan dengan anggota   masyaraka yang lain.
Karakteristik dari proses partisipasi ini adalah semakin mantapnya jaringan sosial yang “baru” yang memebentuk suatu jaringan sosial bagi terwujudnya suatu kegiatan untuk mencapai suatu tujuan yang di inginkan.
Verhangen (1979) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu bantuk khusus dari intraksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat.
Intraksi dan komunikasi itu dilandasi oleh danya kesadaran dimiliki oleh yang bersangkuatan mengenai:
1.      Kondisi yang tidak memuaskan, dan harus diperbaiki.
2.      Kondisi tersebut dapat diperbaiki melalui kegiatan manusia atau masyarakanya sendiri.
3.      Kempuannya untuk ber partisipasi dalam kegiatan yang dapat dilakukan .
4.      Adanya kepercayaan diri, bahwa ia dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi kegiatan yg bersangkutan.

B.     Ruang lingkup partisispasi
Berdasarkan pengertian partisipasi  diatas dapat disimpulkan bahwa partisipasi merupakan bentuk suatu keterlibatan dan keikut setaan secara aktif dan suka rela, baik karen alasan dalam (intrinsik) maupun luar (ekstrinsik) dalam seluruh kegiatan yang bersngkutan, yang mencakup: pengambilan keputusan dalam perancanaan,  pelaksanaan, pengendalian (pemantauan, evluasi, pengewasan), serta pemanfaatan hasil-hasil yang dicapai.

C.     Bentuk-bentk partisispasi
Dusseldorp (1981) mengidintifikasi beragam bentuk- bentuk kegiatan partisipasi  yg dilakukan oleh warga masyarakat berupa:
1.      Menjadi anggota kelompok-kelompok masyarakat
2.      Melibatkan diri dalam kegiatan diskusi kelompok
3.      Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan diskusi organisasi untuk menggerakkan partisipasi masyarakat yang lain
4.      Menggerakkan SDM
5.      Mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusann.
6.      Memanfaatkan hasil-hasil yg dicapai dari kegiatan masyarakat
Selain itu, Slamet (1985) mengemukakan adanya kebergaman partisipasiberdasarkan input yang di sumbangkan dan keikut sertaan dalam memanfaatkan hasil pembangunan seperti berikut:
1.      Ikut memberikan input, menerima imbalan atas input yg diberikan dan ikut memanfaatkan hasil pembangunannya.
2.      Ikut memberikan input, tidak menerima imbalan atas input yg diberikan tetapi ikut memanfaatkan hasil pembangunannya.
3.      Ikut memberikan input, menerima imbalan atas input yg diberikan tetapi tidak ikut memanfaatkan hasil pembangunannya.
4.      Ikut memberikan input, tidak menerima imbalan atas input yg diberikan dan juga tidak  ikut memanfaatkan hasil pembangunannya.
5.      Tidak Ikut memberikan input, sehingga tidak menerima imbalan atas input yg diberikan tetapi ikut memanfaatkan hasil pembangunannya.

D.    Tingkat partisispasi
Dilihat dari tingkat atau tahapan partisipasi, Wilcox (1988) mengemukakan 5 (lima) tingkatan , yaitu:
1.      Memberikan informasi (information)
2.      Konsultasi (consultation)
3.      Pengambilan keputusan bersama (Deciding together)
4.      Bertindak bersama (Acting together)
5.      Memberikan dukungan (supporting independent community interest)

E.     Derajat dan kesukarelaan partisispasi
Berkaitan dengan tingkat kesukarelaan masyarakat untuk  ber partisipasi, Dusseldorp (1981)membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan, yakni:
1.      Partisipasi spontan, yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan, dan keyakinan sendiri.
2.      Partisipasi terinduksi, yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar, meskipun yg bersangkutan memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.
3.      Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirassakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya, atau peranserta yang dilakukan untuk memenuhi kebiasan, nila- nilai, atau norma yang di anut masyarakat setempat.
4.      Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi, yaitu peranserta yang dilakukan karen takut kehialangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilakukan.
5.      Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu peranserta yang dilakukan karen takut menerima hukuman dari perturan/ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan.
Raharjo (1983) mengemukakan adanya tiga variasi bentuk partisipasi adlah:
1)      Partisipasi terbatas, yaitu partisipasi yang hanya digerakkan untuk kegiatan-kegiatan tertentudemi tercapainya tujuan pembangunan, tetapi untuk kegiatan tertentu yg dianggap menimbulkan kerawanan bagi stabilitas nasional dan kalangan pembangunan, diatas.
2)      Partisipasi penuh (full scale partisipation), artinya partisipasi yg seluas-luasnya dalam segala asfek pembangaunan.
3)      Mobilisasi tanpa partisipasi, artinya partisipasi yg dibangkitkan oleh pemerintah (penguasa), tetapi masyarakat sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mempertimbangkan kepentingan pribadi dan tidak diberi kesempatan untuk turut mengajukan tuntutan maupun mempengaruhi jalalnnya keputusan pemerintah.

F.      Syarat tumbuhnya partisispasi masyarakat
Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sangat ditentukan oleh tiga unsur, yaitu:
1.      Adanya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat rakat untuk berpartisipasi yaitu:
a)      Kemauan dari penguasa untuk melibtkan masyarakat dari pembangunaan
b)      Kesempatan untuk memperoleh informasi pembengunan
c)      Kesempatan mmanfaatkan dn memobilisasi sumberdaya (alam dan manusia) untuk pelaksanaan pembangunan
d)     Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat, temasuk peralatan/perlengkapan penunjangnya.
e)      Kesempatan berorganisai, termasuk memperoleh dan menggunakan peraturan, perijinan dan proedur kegiatan yang harus dilaksanakan
f)       Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan, dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat.

2.      Adanya kemapuan masyarakat rakat untuk berpartisipasi
Yang dimaksud dengan kemapuan disini ialah:
a.       Kemampuan untuk menemukan dan memahami keempatan-kesempatan untuk membangun , atau pengetahuan tentang peluang untuk membangun (memperbaiki mutu hidupnya)
b.      Kemampuan untuk melaksankan pembangunan, yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki
c.       Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang teredia  secara optimal.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya pertisipai mayarakat dalam pembangunan.
a.       Dalam konsep pikologi
b.      Secara Sosiologi
c.       Besarnya harapan
3.      Adanya kemauan masyarakat rakat untuk berpartisipasi
Utamanya untuk ditentukan oleh sikap mental yang dimiliki masyarakat untuk membangun atau memperbaiki kehidupannya, yang menyangkut:
a)      Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan
b)      Sikapterhadap penguasa atau pelaksana pembanguan pada umumnya
c)      Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas diri
d)     Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan
e)      Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya

G.    Masalah-masalah partisispasi masyarakat
Soetrisno (1995) mengidinfikasi masalah kaitanya dng pengembangan partisipasi masyarakat dalam pembangunan diantaranya:
a. Masalah pertama dan terutama dalam pembangunan pertisipasi masyarakat adalah, belum dipahaminya makna sebenarnya tentang pertisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan
b. Masalah kedua adalah, dengan dikembangkannya pembangunan sebagai ideologi baru yang harus diamankan  dengan dijaga ketat, yang mendorong aparat pemerintah bersifat otoriter.
c. masalah ketiga banyak peraturan yang meredam keinginan masyarakat untuk berpartisipasi.

H.    Komunikasi pembangunan untuk pengembangan partisispasi masyarakat
Tujuan Komunikasi pembangunan bukanlah sekedar untuk memasyarakatkan pembangunan dan penyampian pesan-pesan pembangunan saja, tapi lebih penting dari itu adalah menumbuhakan, menggerakkan dan memelihara partisispasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Faktor-faktor penentu tumbuh dan berkembangnya partisipasi diatas adalah :
1.      Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi
Seperti telah dikemukakan, kesadaran masyarakat untuk berprtisipasi itu akan baru tumbuh jika masyarakat telah mengetahui tentang:
a.       Adanya masalah yang sedang dihadapi dan memerlukan upaya pemecahannya.
b.      Adanya kemampuan mayarakat sendiri untuk memcahkan masalahnya endiri
c.       Pentingnya partisipasi setiap warga masyarakat  dalam pemecahan masalah, melalui kegiatan pembangunan
d.      Adanya kepercayaan dalam diri setiap warga masyarakat yang bersangkutan bahwa mereka mampu memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pelaksana pembangunan tersebut.
2.      Menginformasikan tentang adanya  kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisispasi.
Seringkali terjadi, bahwa partisipasi masyarakat tidak tampak karena mereka merasa tidak diberi kesempatanuntuk berpartisispasi atau dibenarkan berpartisispasi, khususnya menyangkut pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan, pemantauan dan evaluasi, serta pemanfaatan hasil pembangunan yang di capai. Karena itu, melaluai komunikasi pembangunan harus dijelaskan tenteng segala hak dan kewajiban setiap warga masyarakat dalam setiap proses pembangau pembangunan yg dilaksanakan, serta pada bagian bentuk apa mereka diharapkan partisipasinya dan dalam bentuk apa.
3.      Menunjukan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi
Ketidak-munculan pertiipasi masyarakat dalam pembangunan, juga dapat terjadi karena mereka tidak cukup memiliki atau merasa tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi.
Sehubungan dengan itu,melaluikomunikasi pembangunan, kepada masyarakat harus ditunjukan adanya:
a.       Kemampuan yang telah dimiliki oleh masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan
b.      Berbagai potensi ataupeluang yang dapat dimanfaatkan agar masyarakat yang bersangkutan dapat dan mampu berpartisipasi
c.       Berbagai upaya untuk dapat meningkatkan kemampuan masyarakat (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), agar mereka dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembangunan

4.      menggerakkan kemauan masyarakat untuk berparsipasi

hal yg sering menyebabkan tidak tumbuhnya partisispasi masyarakat dlam pembangunan adalah karena mereka hanya diminta untuk berpartisispasi dalam memberikan input, tanpa tahu dengan jelas tentang manfaat yg akan mereka peroleh dan rasakan ( secara langsung dan tak langsung), serta kesempatan apa saja yg di sediakan baginya untuk ber partisisapi. Oleh sebab itu, melalui komunikasi pembangunan harus dijelaskan tentang manfaat dan kesempatan yg tesedia atau diberikan kpd masyarakat, untuk menerima atau merasakan manfaat hasil pembangunan tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar