Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T11


KECENDERUNGAN KOMUNIKASI PEMBANGUNGAN
DI MASA DEPAN
Muhammad Fadli Al Fudhail

Model- model komunikasi Pembangunan
Bessette (2000) mengemukakan adanya dua kecenderungan besar dalam komunikasi pembangunan, yaitu:
1.         Pendekatan skala- besar dengan menggunakan media- massa
2.         Pendekatan Komunikasi Masyarakat(community communication) untuk mendukung kelompok akar- rumput (grassroots) yang menggunakan media kecil ( videos, poster, slide yang di-paparkan, dll.).
Dalam Model Pembangunan yang pertama yang secara ekslusif dilandasi oleh variabel ekonomi, Komisi McBride (1980) mencatat sebagai berikut :
Model sebelumnya yang dipakai dalam komunikasi, khusus untuk mendesemisikan informasikepada masyarakat tentang manfaat pembangunan. Model ini dilandasi oleh hipotesis bahwa kesejahteraan akan secara otomatis tersaring ke semua aras masyarakat, termasuk komunikasi yang berasal dari atas (top down) karena itu, pengaruhnya sangat jauh dari yang diharapkan sebelumnya.
Model komunikasi pembangunan yang pertama, yang dicirikan sebagai proses diseminasi dan difusi pengetahuan dan teknologi, model ini mengacu kepada teori moderenisasi.
Model ini memperoleh kritik dar beberapa phak,utamanya menyangkut kesengjangan antara pemlik lahan (yang terbuka terhadap teknologi baru) dengan penerima Manfaat miskin (yang buta huruf). Model ini juga gagal dalam menjelaskan dampak perbaikan ekonomi maupun struktur politik serta kapasitas sdopsi inovasi.
Model kedua , dicirikan sebagai proses komunikasi yang mengartikan pembangunan sebagai proses global, dimana masyarakat sendiri yang bertanggung jawab; pembnagunan bukanlah sesuatu yang berasal dari luar, tetapi merupakan proses perubahan sosial yang dilakukan oleh masyarakat sendiri(rogers, 1976).
Paradigma ketiga adalah yang disebut sebagai paradigma “ pembangun lain, “ yang tidak hanya terfokus  pada pembangunan material, tetapi tetapi juga menyangkut nila- nilai dan budaya. Di sini, Komunikasi Pembangunan dilakukan dengan menggunakan media- kecil di dalam jejaring yang memanfaatkan pendekatan komunikasi masyarakat lapis bawah.
Tekait dengan media-masyarakat yang dikembangkan terdapat unsur – unsur yang mencakup (Berrigan 1981). :
1.      Identifikasi kebutuhan-kebutuhan melalui kontak- langsung dengan kelompok;
2.      Konkretisasi dan uji masalah oleh masyarakat setempat pada kondisi lokal
3.      Seleksi masalah – masalah prioritas oleh kelompok;
4.      Perumusan metode untuk mencari solusi;
5.      Identifikasi dan pengumpulan informasi yang diperlukan;
6.      Pelaksanaan aksi oleh kelompok yang merencanakannya;
7.      Perluasan kegiatan kepada kelompok lain;
8.      Menetapkan perwakilan sistem komunikasi untuk mengenalkan kegiatan mereka.

Menuju Pembangunan yang Lain
Todaro (1977) menyatakan bahwa:
“Pembangunan harus dipandang sebagai proses multi-dimensi yang melbatkan perubahan- perubahan terbesar dalam struktur sosial, sikap- sikap popular, dan kelembagaan nasional, sama merataan, dan pemberantasan kemiskinan absolut.
Dalam pengertian ini, esensi pembangunan harus mewakili semua jenjang perubahan- perubahan, dimana sistem sosial mampu memperoleh kebutuhan- dasar dan impian/harapan setiap individu dan kelompok didalam sistem sosialnya, meninggalkan kondisi “ketidak-puasan” menuju situasi dan kondisi material dan spiritual yang lebih baik.
Terkait dengan paradigm “Pembangunan lain” diatas, Servaes (1999)
Mengungkapkan Tujuh Prinsip Yang meliputi:\
1.      Pemerintah Kebutuhan Dasar (basic needs) yang meliputi kebutuhan material dan non material.
2.      Endogeny atau kedaulatan individu dan masyarakatnya
3.      Keswadayaan, utamanya yang menyangkut kekuatan dan sumberdaya masyarakat
4.      Ekologi, yaitu mencakup pemanfaatan dan pelestariannya
5.      Keberlanjutan, kaitannya dengan saling – ketergantungan sumberdaya
6.      Demokrasi partisipatif, utamanya “Oleh Masyarakat” pada semua arah masyarakat
7.      Perubahan struktual dan keberlanjutan,  utamanya dalam system kekuasaan, self-  manajemen dan pengembangan partisipasi masyarakat.

Menuju model Komunikasi  Berorientasi Publik
Komunikasi Yang Berorientasi Publik adalah komunikasi horizontal partisipatif, dan mengacu kepada kepentingan penerima manfaatnya. Model  ini berlandaskan pada proses interaktif partispasi, dan komunikasi dua- arahpada semua arah masyarakat system sosial, lebih memperhatikan proses dan konteks serta merupakan “pertukaran makna” (exchange of meanings).
Komunikasi Yang Berorientasi Publik lebih bersifat dialektik, dan partisipasi aktif oleh publik. Meskipun demikian, hal ini mudah dikatakan dibanding mempraktekannya. Dengan kata lain, seseorang lebih mudah membuat strategi komunikasi alternatif secara umum, tetapi hanya sebagian kecil yang mampu merumuskan “bagaimana berkomunikasi (Darvin 1980).

Model Komunikasi Dengan Partisipasi Sosial Yang Aktif
Contreras (1980) menyatakan bahwa : untuk memahami potensi memahami komunikasi, harus berangkat dari pengujian yang serius terhadap konteks sosial dimana komunikasi akan dilakukan.
Terkait dengan hal ini, Somavia (1977) merangkum komponen esensial yang esensial yang terdiri dari :
(1) Komunikasi merupakan kebutuhan manusia, karena itu, kepuasan berkomunikasi terkait dengan: kesehatan, nutrisi, perumahan, pendidikan, dan ketenaga-kerjaan.
(2) Komunikasi adalah aturan yang didelegasikan. Di dalamnya, terkandung budaya, politik, ekonomi dan kontek kesejarahan yang harus mampu diterjemahkan oleh partisipan komunikasi.
(3) Komunikasi merupakan mata (facet) dari proses emansipasi dan liberalisasi. Karena itu, tanggung jawab media dalam proses perubahan sosial sangat penting.
(4) Tugas komunikasi menyangkut aturan dan kewajiban, sebab, media dalam kenyataannya harus mampu mengembangkan layanan public yang harus patuh terhadap tanggung jawab sosial dan hukum yang mencerminkan consensus sosial dalam masyarakat.
Dalam hubungan ini,  Matta (1979, 1981, 1986) merancang model komunikasi dengan partisipasi aktif masyarakat, yang dimulai dengan rumusan sasaran sebagai berikut:
(1) Komunikasi memiliki tugas sosial yang terkaitdengan struktur sosial yang merinci sifat dan pengaruhnya terhadap proses komunikasi.
(2) Kebebasan berkomunikasi harus dijamin, baik bagi setiap individu dan masyarakatnya.
(3) Fungsi produksi dan strukutur administrasi media harus berbasis pada separangkat kebijakan yang dirumuskan oleh masyarakatnya.
(4) Proses komunikasi lokal, nasional, dan international harus diletakkan dalam kontek tanggung jawab sosial, kaitannya dengan peraturan dan kewajiban yang telah dirumuskan dalam kerangka hukum dan kelembagaan .
(5) Penerima Manfaat, sebagai subyek dalam proses komunikasi, harus diajak berpartisipasi dan diberi akses lebih besar untuk menjangkau media.
(6) Pendidikan dalam komunikasi merupakan keperluan yang mutlak
(7) Melalui pengorganisasian kelompok-kelompok publik, Penerima Manfaat harus mampu menganalisis secara kritis dan berpartisipasi dalam proses komunikasi.
(8) Untuk mengakses dan berpartisipasi pada media, harus dioraganisasikan agar Penerima politik,edukasi.komonikasi,budaya,evaluative dan beragam bentuk pengambilan keputusan.
(9) komunikasi adalah proses dinamis,yang memerlukan evaluasi secara tetap ,berkala dan berkelanjutan.
(10) perlu dibentuk Komisi Supervisi,yang memungkinkan kelompok-kelompok publik dan otoritas komunikasi mengembangkan mekanisme dan metoda partisipasinya.

Kesenjangan Pemanfaatan Media
Meskipun media- media bertujuan untuk meratakan informasi, dalam prakteknya telah terjadi kesnjangan, tidak saja antara masyarakat perkotaan dan perdesaan.
Tentang hal ini, hasil kajian Shore (1978) menunjukkan sekitar 20  mayarakat kelas bawah di perdesaan tidak mampu menjangkau media masa. Meskipun TV dipandang sebagai media kelompok elit di perdesaan media radiopun ternyata tidak menjamin efektivitas Komunikasi Pembangunan.

Peran Fasilitator
   Fasilitator (change agent) yang di handalkan sebagai mativator dan penggerak pembangun ternyata di luar dugaan juga tidak  banyak berperan dalam menjangkau Penerima Manfaat, utamanya kelas bawah yang jarang terlibat/ dilibatkan dalam proses Komunikasi Pembangunan.(Lenglet, 1978).
Oleh sebab itu, kebradaan Fasilitator tidak cukup hanya sebagai “pembawa /penyebar” informasi/inovasi, tetapi secara aktif melibatkan diri pada pengembangan efektivitas kelembagaan layanan masyarakat lain.

Peran Komunikasi Dalam Pembangunan
Contreras (1979) menyatakan bahwa: dalam komunikasi pembangunan, hal yang lebih penting harus diperhatikan adalah potensi komunikasi dalam knteks sosialnya, disbanding pengoperasian komunikasinya.

Tantangan Komunikasi Pembangunan memasuki abad 21
Memasuki abad 21,  dunia telah banyak mengalami perubahan, terutama globalisasi dalam banyak aspek kehidupan. Kondisi tersebut telah menghadapkan para pengambil keputusan pada dilema yang setidaknya menyangkut 2 (dua) isu pokok, yaitu:
1.      Informasi dan organisasi pembangunan yang dibutuhkan masyarakat untuk: memperoleh informasi dan ide- ide baru guna mengembangkan usahanya, agar dapat menghadapi kompleksitas pola permintaan konsumen, mengurangi kemisknan, serta terus menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungannya.
2.      Pembiayaan Komunikasi pembangunan dan penyebarluasan yang melekat pada mandat yang diembannya, yaitu:
a.       Tugas – tugas pokok
b.      Ketergantungannya terhadap kebijakan pemerintah dan fungsi lembaga- lembaga lainnya
c.       Masalah- masalah yang diakibatkan dan berdampak pada kemauan politik serta dukungan finansialnya
d.      Keterandalannya sebagai lembaga layanan informasi dan pengetahuan baru
e.       Keberlanjutan fisikal, dan
f.       Interaksinya dengan tumbuh dan berkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dari dalam negeri, Mardikanto (1998;2000) mensnyalir beberapa kelemahan dalam kegiatan komunikasi pembangunan yang menyangkut banyak hal, yaitu:
1.         Profesionalisme Komunikasi pembangunan
Rendahnya mutu Komunikasi pembangunan, jika ditelusuri, sebenarnya disebabkan rendahnya profesionalisme Komunikasi pembangunan, yang menyangkut:
a.       Keahlian Fasilitator, yang oleh maraknya  globalisasi informasi sering ketinggalan disbanding keahlian para praktisi atau penerima manfaatnya.
b.      Kebanggaan Profesi Komunikasi Pembangunan, karena jabatan fungsional yang disandang para fsiilitator dinilai lebih rendah atau kalah status dibanding jabatan sturktual yang lebih bergengsi dan memperoleh (lebih) banyak kemudahan serta kesempatan memperkaya diri.
c.       Etika Profesi Komunikasi pembangunan, yang tidak lagi dihayati sebagai pekerjaan yang penuh pengabdiaan.
2.   Unsur- unsur system komunikasi Pembangunan
Berkaitan dengan unsur-unsur komunikasi, tantangan-tantangan mncul dari semua komunikasinya,yaitu:
a)  Fasilitator, yang selama ini adalah tergolong “orang luar” (baik aparat pemerintah atau aktivis LSM) yang tidak dibayar (diangkat dan diberhentikan) oleh penerima manfaatnya.
b)  Materi Komunikasi Pembangunan, umumnya masih didominasi oleh materi-teknis, dan belum banyak memperhatikan kebutuhan penerima manfaatnya, utamanya tentang manajemen, permintaan pasar, kewirausahaan, dan pentingnya pendidikan politik.
Sumber informasi yang masih didominasi dari Dinas/Lembaga penelitian, sementara itu, kearifan tradisional belum banyak digali bahkan cenderung tidak dihargai.
c)  Metode Komunikasi Pembangunan, masih terpusat pada pemanfaatan media-masa dan belum banyak memanfaatkan multi-media secara proposional.
d)  Secara teoritis, kegiatan Komunikasi Pembangunan hanya mengacu kepada konsep-konsep pendidikan dan komunikasi, dan belum memanfaatkan konsep-konsep psikologi-sosial, serta pemasaran-sosial.
e)  Pendekatan dan Strategi Komunikasi Pembangunan
Satu hal  yang layak dicermati adalah, banyak kebijakan pembangunan yang tidak menggunakan pendeketan kesejahteraan masyarakat, tetapi lebih mengutamakan pendekatan kekuasaan.
f)   Efektivitas Komunikasi Pembangunan
Seperti dikemukakan diatas, kegiatan Komunikasi Pembangunan, secara konseptual  masih sangat konvensional dalam arti terbatas menggunakan konsep-konsep pendidikan dan atau komunikasi.
Berkaitan dengan tantangan- tantangan yang dihadi oleh kegiatan Komunikasi pembangunan tersebut, Feder, et al (1999) mengidentiifikasi adanya 8 (delapan) tantangan generic yang sedang dihadapi Komunikasi pembangunan, yaitu:
1.      Skala dan kompleksitas dari tugas- tugas Komunikasi Pembangunan.
2.      Ketergantungannya terhadap kebijakan pemerintah dan fungsi lembaga- lembaga lainnya, yang berakibat pada efektivitas investasi Komunikasi Pembangunan, efektivitas kelembagaan dan kebikan, serta efesiensi pemanfaatan sumberdaya yang  dapat diakses.
3.      Ketidakmampuan untuk menulusurihubungan penyebab dan akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan Komunikasi pembangunan, kaitannya dengan: masalah- masalah yang dihadapi, dukungan polotis, alokasi anggaran, dan akuntabilitas kegiatan pembangunan.
4.      Komitmen dan dukngan politis, terutama pada kondisi seringnya terjadi pergantian (pemegang) kekuasaan.
5.      Akuntabilitas, yang menyangkut kinerja Komunikasi pembangunan, kinerja personil, dan kinerja staf yang berhubungan dengan Penerima Manfaat (fasilitator, peneliti, dll)
6.      Kelayakan sebagai lembaga layanan pengetahuan dan informasi, yang harus menjangkau semua penerima manfaat, aparat pemerintah dilapis terbawah, dan dan stakeholder lain yang memerlukannya
7.      Keberlanjutan operasionalisasi fisikal dan sumberdaya yang lain, baik karena ketidakpastian anggaran maupun rendahnya pengembalian dana yang telah digunakan untuk kegiatan komunikasi pembangunan.
8.      Interaksi dengan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan kaitannya dengan mutu pesan – pesan yang disampaikan melalui kegiatankomunikasi pembangunan, yang tercermin pada keterkaitan antara Komunikasi Pembangunan dengan penelitian.    
Khusus yang menyangkut interaksi atau keterkaitan antara kegiatan Komunikasi Pembangunan dan penelitian, Barret dan Marsh (2001) mengemukakan adanya tiga hal pokok yang perlu dicermati,yaitu:
1)      Efektivitas adopsi teknologi, karena kesenjangan tingkat pendidikan antara peneliti,fasilitator, dan masyarakat penggunanya.
2)      Tantangan penelitian, kaitannya dengan tingginya biaya atau korbanan yang harus ditanggung penggunanya.
3)      Pentingnya memerankan “pengusaha yang berhasil” sebagai actor panutan yang sekaligus dapat dijadikan tenaga sukarela dalam kegiatan Komunikasi Pembangunan.
Lebih lanjut, Marsh dan Pannel (1999) mengungkapkan adanya 4(empat) masalah yang akan dihadapi di awal abad 21 ini, yaitu:
1)      Kemampuan penelitian dan aliran informasi yang dihasilkan.
2)      Efisiensi dan keberlanjutan setiap pembaharuan oraganisasi dan rancangan yang disiapkan.
3)      Kesalahan pasar dan informasi tentang sifat-sifat produk  yang dihasilkan.
4)      Metode Komunikasi Pembangunan dan alih-teknologi.

Komunikasi Pembangunan Di Masa Depan
Di Masa mendatang, kegiatan komunikasi Pembangunan akan menghadapi tantangan- tantangan , terutama yang diakibatkan oleh pertumbuhan populasi penduduk ditengah- tengah semakin sempitnya lahan pertanian sehingga usaha tani harus semakin mengkhususkan diri serta meningkatkan efisiensinya. Di lain pihak, kegiatan Komunikasi Pembangunan harus semakin bersifat “partisipatip” yang diawali dengan analisis tentang keadaan dan kebutuhan masyarakat melalui kegiatan Penilaian Desa Partisipatif (Chambers, 1993).
Karena itu dimasa depan, kekuatan dan perubahan Komunikasi Pembangunan akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan dikemukakan  berikut ini ( Rivera & Gustafon)
1.      Iklim Ekonomi dan Politik
Sejak krisis Ekonomi dan politik melanda beberapa Negara pada akhir abad 20, banyak negara yang tidaka lagi mampu membiayai kegiata publik di tengah – tengah demokratisi. Karena itu Kegiatan Komunikasi pembangunan harus dilaksanakan secara lebih efisien untuk dapat melayani kelompok penerima Manfaat yang lebih luas.

2.      Konteks Sosial di wilayah Pedesaan
Di masa depan , masyarakat pedesaan relative berpendidikan, lebih banyak memperoleh informasi darii media massa serta terbuka dar isolasi geografis, lebih memiliki aksesbilitas dengan kehidupan bangsanya sendiri dan dunia internasional. Karena itu, Komunikasi Pembnagunan harus mampu menjawab tantangan pertumbuhan penduduk, meningkatnya urbanisasi, dan perubahan aturan/kebijakan.

3.      Sistem Pengetahuan
Terjadinya perubahan politik yang berdampak pada debirokratisasi, desentralisasi (pelimpahan kewenangan ) dan devolusi (penyerahan kewenangan) kepada masyarakat lokal
4.      Teknologi informasi
Perkembngan telekomunikasi dan penggunaan telopon seluler (HP) dan computer Pribadi (PC, Laptop. Notebook, dll) akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan komunikasi pembangunan di masa depan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar