Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T21


PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Muhammad Fadli Al Fudhail

A.    Pemberdayaan Masyarakat
Untuk memberikan pemahaman awal tentang pemberdayaan maka dikemukakan berbagai pendapat para ahli dan pakar seperti berikut:
1.      Ony dan A.M.W. Pranaka (1996:56-57)
Bahwa konsep pemberdayaan pada awalnya merupakan gagasan yang menempatkan manusia sebagai subyek di dunianya, karena itu wajar apabila konsep ini merupakan kecenderungan ganda, yaitu :
a.       Pemberdayaan menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat, organisasi atau individu agar menjadi lebih berdaya. Ini sering desibut sebagai kecendrungan primer dari mekna pemberdayaan.
b.      Kecenderungan sekunder, menekankan pada proses menstimulasi mendorong dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya.
2.      Cook dan Steve (1996,IX)
Bahwa pemberdayaan (empowerrmen) akan memberikan filosofis praktis serta sarana perubahan untuk membantu, memperbaiki, baik kepuasan pelanggan maupun karyawan, dengan demikian juga dapat memperbaiki efektifitas organisasi. Dan selanjutnya dikatakan pemberdayaan (empowerrmen) merupakan perubahan yang terjadi pad falsafah manajemen, yang dapat membantu menciptakan suatu lingkungan dimana individu dapat menggunakan kemampuan dan energinya, untuk meraih tujuan organisasi.
3.      Menurut Ife (1995:61-64)
Pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan melainkan kekuasaan atau penguasaan klien atas:
a.       Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal, pekerjaan.
b.      Pendefenisian kebutuha: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan aspirasi dan keinginannya.
c.       Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
d.      Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosisal, pendidikan, kesehatan.
e.       Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal, informal dan kemasyaratan.
f.       Aktifitas ekonomi: kemmapuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme produksi, distribusi, dan pertukaran barang serta jasa.
g.      Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan proses kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.
4.      Devry (1994, 159)
“Seven Key Point of Empowerrmen”
a.       Mengurangi hambatan-hambatan birokrasi yang tidak perlu untuk membuat karyawan lebih bertanggung jawab dan memiliki daya tanggap.
b.      Membiasakan karyawan untuk menanggapi permasalahan pelanggan dengan berkata “ya” dari pada menolaknya.
c.       Memberikan keberanian pada karyawan untuk mengambil resiko dan belajar dari kesalahan.
d.      Memberikan dukungan pada karyawan untuk bekerja dengan benar.
e.       Memperbaiki teknik bekerja dengan memberikan penghargaan karyawan yang bekerja dengan baik.
f.       Menciptakan kondisi atau perasaan yang dibutuhkan diantara karyawan baik dalam pelayanan interen maupun memberikan pelayanan kepada masyarakat luar.
g.      Dalam organisasi saya sendiri, akan ditempuh peningkatan pelayanan.
5.      Suharto (2005:57)
Pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerrment), berasal dari kata “power” (kekuasaan atau keberdayaan). Karenanya, ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol.
Suharto (2005,58-59) mengemukakan pendapat beberapa para ahli definisi pemberdayaan :
Tujuan             : Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah (Ife,1995)
Proses              : Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagai pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (parsons, et.al.1994).
Cara                 : Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial (Swift dan Levin,1987)
Cara                 : Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupannya (Rappaport,1984.)

B.     Ketidakberdayaan dan Indikator Pemberdayaan Masyarakat
a.       Ketidakberdayaan Masyarakat
Sennet dan Cabb (1972), Conway (1979) dan Suharto (1997), menyatakan bahwa ketidakberdayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti: ketiadaan jaminan ekonomi, ketiadaan pengalaman dalam arena politik, ketiadaan jaminan ekonomi, ketiadaan dukungan finansial, ketiadaan pelatihan-pelatihan, dan adanya ketegangan fisik maupun emosional Para teoritisi, seperti Seeman (1985), Seligman (1972), dan Learner (1986) meyakini bahwa ketidakberdayaan yang dialami oleh sekelompok masyarakat merupakan akibat dari proses internalisasi yang dihasilkan dari interaksi mereka dengan masyarakat. Mereka menganggap diri mereka sebagai lemah, dan tidak berdaya, karena masyarakat memang menganggapnya demikian.
Penilaian diri yang negatif. Ketidakberdayaan dapat berasal dari adanya sikap penilaian negatif yang ada pada diri seseorang yang terbentuk akibat adanya penilaian negatif dari orang lain.
·         Interaksi negatif dengan oarang lain.
·         Lingkungan yang lebih luas.
Beberapa kelompok dalam masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai kelompok tidak berdaya meliputi, yaitu:
a.       Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender, maupun etnis.
b.      Kelompok lemaj khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay, lesbian, masyarakat terasing.
c.       Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi dan/atau keluarga.

C.     Indikator Keberdayaan
Menurut Kieffer (1981) dan Suharto (997:215) pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi kompetisi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif. Parson et.al. (1994:106) juga mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada :
a.       Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar.
b.      Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
c.       Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.
Ada 8 indikator pemberdayaan :
1. Kebebasan mobilitas
2. Kemampuan membeli komoditas kecil
3. Kemampuan membeli komoditas besar
4. Terlibat dalam pembuatan keputusan-keputusan rumah tangga
5. Kebebasan relatif dari dominasi keluarga
6. Kesadaran hukum dan politik
7. Keterlibatan dalam kampanye dan protes-protes
8. Jaminan ekonomi dan kontribusi terhadap keluarga

D.    Strategi pemberdayaan
Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan (impowerrment setting), sebagai berikut:
1. Aras mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, stress mangement, crisis intervention.
2. Aras mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien.
3. Aras makro. Pendekatan ini disebut juga sebagai strategi sistem besar (large-syistem strategi), karena perybahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas.
Menurut Suharto (2005:66-67) pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan dapat dicapai dengan melalui penerapan pendekatan pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi 5p, yaitu : Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan Pemeliharaan.
a.       Metoda dan teknik Pemberdayaan
Pada hakekatnya pemberdayaan merupakan upaya berian kuasa dan kemampuan kepada masyarakat terutama kepada kelompok merjinal. Pemberian kuasa diantaranya berupa:
1. Kuasa untuk menyampaikan pendapat dan kreativitas secara bebas.
2. Kuasa untuk merencanakan demi kepentingan pribadi, keluarga maupun masyarakat.
3. Kuasa untuk mengelola operasionalisasi berdasar perencanaan yang telah ikut dibuat.
4. Kuasa untuk mengambil keputusan bedasarkan keyakinan tanpa tekanan dari pihak manapun.
5. Kuasa untuk ikut mengawasi jalannya pemerintahan.
6. Kuasa untuk ikut menikmati hasil pembangunan yang menjadi haknya.
7. Kuasa untuk mendapat perlakuan adil dari penguasa secara politis, hukum, ekonomi maupun budaya.
8. Kuasa untuk disetarakan sebagai mitra pemerintah maupun dunia usaha.
9. Kuasa untuk menentukan hari depan keluarga.
10. Dan bentuk keadilan serta kesejahteraan sosial yang bisa diperoleh sebagai haknya.
b.      Metods Participatory Rural Appraisal
Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan suatu tek-nik pengkajian pengembangan masyarakat desa yg di Indonesia diawali pada tahun 1993 di lingkungan Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara (KPDTNT).
PRA secara harfiah diartikan sebagai Pengkajian Desa secara partisipatif. PRA adalah Pendekatan dan teknik-teknik pelibatan masyarakat dalam proses-proses pemikiran yang berlangsung selama kegiatan-kegiatan perencanaan dan pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi program pembangunan masyarakat" (Driyamedia,1996:15)
PRA dalam pelaksanaannya menyampaikan 11 prinsip:
1. Prinsip mengurtamakan yang terabaikan (keberpihakan)
2. Prinsip pemberdayaan (penguatan) masyarakat.
3. Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator.
4. Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan.
5. Prinsip santai dan informal
6. Prinsip triangulasi
7. Prinsip mengoptimalkan hasil
8. Prinsip orientasi praktis
9. Prinsip berkelanjutan dan selang waktu
10. Prinsip belajar dari kesalahan
11. Prinsip terbuka
Dalam metoda PRA dikenal lima dasar program yaitu :
A. Pengenalan kebutuhan
B. Perencanaan kegiatan
C. Pelaksanaan/pengorganisasian kegiatan
D. Pemantauan kegiatan
E. Evaluasi kegiatan

c.       Metoda partisipasi assesment dan rencana
Metoda Partisipatori Assesment (MPA) terdiri atas 4 langkah:
A. Menemukan maslah
B. Menemukan Potensi
C. Menganalisis masalah dan potensi
D. Memilih solusi pemecahan masalah

d.      Metoda loka karya
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam suatu loka karya adalah:
1. Agenda yang dibahas sesuai dengan kebutuhan peserta.
2. Sebaiknya narasumber dan penyelenggara telah membagikan hang out topik bahasan beberapa hari sebelumnya.
3. Dalam loka karya semua gagasan dikembangkan dan ditampung, sebaiknya dalam kelompok-kelompok yang relatif kecil 5-10 orang.
4. Hasil pemikiran yang telah dikristalisasi dalam setiap kelompok dipresentasikan pada pleno.
5. Dalam pleno terjadi lagi sharing yang diwakili juru bicara dan didapatkan konsensus.

e.       Metoda Brainstorming
Adapun operasionalisasi dari teknik brainstorming adalah sebagai berikut:
1. Kumpulkan kelompok-kelompok sekitar 10 orang dan ajukan fokus yang akan dibahas.
2. Setiap peserta secara bertanggung jawab boleh mengajukan gagasannya secara bebas.
3. Seorang berperan sebagai sekretaris selalu mencatat inti pembicaraan.
4. Resumekan dan refleksikan kembali kepada peserta.
5. Temukan konsensus alternatif dan ambil suatu keputusan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar