BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
(MADIHIN SEBAGAI MEDIA BKI ALTERNATIF)
Oleh: Zain Muslim, S.Sos.I
Abstrak
Bimbingan dan Konseling Islam
merupakan salah satu kajian dalam Ilmu Dakwah. Bimbingan dan Konseling
merupakan salah satu dakwah bil-qaul
yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Beragam permasalahan yang
dihadapi oleh masyarakat memerlukan pemecahan masalah, salah satunya dengan
adanya bimbingan dan konseling ini. Dalam bimbingan dan konseling islam banyak
media yang dapat digunakan contohnya seperti media kesenian madihin. Kesenian
ini merupakan suatu kesenian tradisional orang Banjar yang berisikan
nasihat-nasihat dalam bentuk lantunan syair khasnya. Para Walisongo sudah
membuktikan bahwa dakwah melalui seni budaya bisa dijadikan sebagai cara untuk
membimbing, membina dan mengajak masyarakat. Dengan adanya dakwah melalui seni
budaya ini, penulis berpendapat bahwa kesenian madihin dapat juga dijadikan sebagai salah satu media
dalam berdakwah dan dapat dijadikan sebagai
alternatif dalam bimbingan dan konseling islam di masa modernisasi ini.
Kata
Kunci: Bimbingan, Penyuluhan, Madihin.
PENDAHULUAN
Kepentingan dakwah dalam penyiaran
agama dirasa penting. Dakwah islamiyah telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad
Saw. dengan cara sebaik-baiknya, sehingga banyak umat manusia yang memeluk
agama Islam di masa Nabi hidup dan sesudah wafatnya.[1]
Dakwah kemudian diteruskan oleh para khalifah dan sahabat Nabi hingga terus
dilaksanakan oleh pemimpin agama dan para ulama. Kegiatan ini dilaksanakan
sampai sekarang sampai akhir zaman.
Umat Islam pada dasarnya memiliki
kewajiban melaksanakan dakwah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki manusia.
Tugas berdakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul untuk kaumnya sesuai
dengan perkembangan zaman itu sendiri, memberikan contoh nyata bagi kita untuk
melakukan kegiatan dakwah. Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat
45 dan 46 yang berbunyi
$pkr'¯»t ÓÉ<¨Z9$# !$¯RÎ) y7»oYù=yör& #YÎg»x© #ZÅe³t6ãBur #\ÉtRur ÇÍÎÈ $·Ïã#yur n<Î) «!$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ %[`#uÅ ur #ZÏYB ÇÍÏÈ
Artinya:
Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi
saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk menjadi penyeru
kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.[2]
Ayat ini
menunjukkan bahwa berdakwah itu merupakan sesuatu yang terpenting untuk
dilaksanakan dalam kehidupan. Tugas berdakwah harus dilaksanakan secara
berkesinambungan dan terencana untuk ketentraman umat sampai akhir zaman.
Dakwah harus ada yang menyeru, berhasil atau tidaknya suatu kegiatan dakwah
harus didukung oleh unsur-unsur dakwah yang satu sama lainnya saling
keterkaitan, sehingga membentuk suatu sistem.[3]
Perangkat unsur dakwah tersebut meliputi dai, mad’u, materi, media, metode dan
logistik.
Dakwah
merupakan suatu kegiatan menyampaikan bahasa Tuhan kepada semua makhluk agar
dapat dimengerti dan difahami, baik menyangkut hubungan dengan Tuhan, sesama
manusia serta manusia dengan alam. Intisari kalam Allah dalam Alquran merupakan
bagian terpenting dalam proses dakwah islamiyah. Fokus dakwah yaitu memberi
peringatan, pengertian kepada manusia agar mengamalkan ajaran Allah yang
terkandung dalam Alquran sebagai pedoman hidup manusia.
Membahasakan
bahasa Allah dalam Alquran tidak terbatas pada penjelasan dan penyampaian saja,
namun juga harus menyentuh pembinaan dan pembentukan pribadi, keluarga,
masyarakat Islam secara menyeluruh. Para juru dakwah perlu mempertimbangkan dan
melihat keanekaragaman masyarakat yang dihadapi dilapangan. Dakwah islamiyah
memerlukan kearifan dalam menyusun model penyajian dakwah, materi yang tepat
serta media yang unik agar apa yang menjadi tujuan dan target dakwah dapat
tercapai dengan baik.
Masyarakat
yang beragam menuntut upaya agar para juru dakwah bisa menciptakan konsep
dakwah Islam yang relevan dengan keanekaragaman masyarakat. Prinsip dakwah
islamiyah bukan hanya sekedar mengajak manusia masuk agama Islam ataupun
mengikuti ajaran Islam tanpa mengerti dan menghayatinya. Ajakan ini hendaknya
diiringi dengan penyadaran dan penghidupan batin manusia serta mengaktualkan
nilai-nilai ketuhanan dalam diri manusia.
Dakwah
mencakup seluruh aspek dalam kehidupan ini, termasuk pembinaan, bimbingan dan
penyuluhan serta konseling, baik bimbingan keluarga, kelompok masyarakat secara
menyeluruh. Dakwah bisa juga dilakukan dengan menggunakan segala macam bentuk
media seperti media cetak, elektronik maupun audio visual. Tujuannya untuk
memudahkan juru dakwah dalam membahasakan dakwah sesuai perkembangan zaman
modernisasi. Hal ini memungkinkan terciptanya berbagai alternatif yang akan
dijadikan model dalam berdakwah. Oleh karena itu, berdakwah bisa dengan berbagai
media ataupun model seperti bimbingan dan konseling islam.
Bimbingan dan Konseling Islam
merupakan sebuah model alternatif dakwah islamiyah, dalam rangka mencerminkan
konsepsi Islam sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dakwah
memberikan bantuan atau bimbingan individu atau kelompok agar mampu hidup
selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah demi tercapainya kebahagiaan dunia
dan akhirat. Seiring perkembangan zaman yang serba maju, perlu
adanya suatu inovasi dalam dunia bimbingan dan konseling. Berbagai media bisa
digunakan untuk membantu proses pelaksanaan bimbingan dan konseling. Salah satu
media yang dapat digunakan dalam bimbingan konseling islam adalah melalui media
kesenian madihin.
PEMBAHASAN
Pengertian
Bimbingan dan Konseling Islam
Istilah
bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari kata guidence dan counseling
dalam bahasa Inggris. Guidence dapat
berarti menunjukkan jalan, mengatur, mengarah, memberikan nasihat.[4]
Menurut istilah bimbingan dapat diartikan sebagai proses pemberian bantuan yang
dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu,
baik anak-anak, remaja atau orang dewasa agar yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dengan memanfaatkan kekuatan individu
dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang
berlaku.[5]
Bimbingan
memiliki berbagai macam bentuk yaitu ada bentuk bimbingan individual dan ada
bentuk bimbingan kelompok. Apabila hanya satu orang yang dilayani maka disebut
dengan bimbingan individu, namun apabila orang yang dilayani lebih dari satu
orang maka istilahnya adalah bentuk bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok
dapat dilaksanakan dalam berbagai cara misalnya dengan cara kelompok diskusi,
konseling kelompok, dan dapat juga melalui sebuah media kesenian. Yang
terpenting tujuan bimbingan tercapai yaitu mengoptimalkan potensi diri dan
mengembangkan serta memahami tanggung jawab dalam kehidupan.
Konseling
dalam kamus bahasa Inggris counseling dikaitkan dengan kata counsel yang berarti sebaga nasihat,
anjuran, pembicaraan.[6]
Adapun menurut Andi Mappiare (1984) dalam W.S.Winkel dan M.M.Sri Hastuti
menyebutkan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok bimbingan dalam
usaha membantu konselor dan klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien
dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah
khusus.[7]
Biasanya bimbingan dan konseling disebut bersama, sehingga tercipta istilah
majemuk bimbingan dan konseling.
Bimbingan
Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup
selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun konseling islami merupakan suatu proses
pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya
sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan
petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.[8]
Menurut
beberapa pakar dalam bidang bimbingan konseling di atas, maka dapat dipahami
bahwa bimbingan dan konseling islam merupakan suatu proses pemberian bantuan
kepada individu maupun kelompok, baik mengarahkan, memberikan nasihat secara
langsung maupun tidak langsung, agar mampu menggali potensi diri dan dapat
mengambil tanggung jawab sendiri serta menyadari akan eksistensinya sebagai
makhluk Allah untuk keselarasan dengan petunjuk Tuhan, sehingga dapat mencapai
tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bimbingan dan Penyuluhan Islam
sebagai Sarana Berdakwah
Dakwah
berasal dari bahasa Arab yang berarti memanggil, mengajak dan menyeru.[9]
Dakwah merupakan proses islamisasi untuk mempertahankan keislaman setiap insan
yang sudah memeluk agama Islam dan mengupayakan orang yang ingkar terhadap
Islam agar kembali meyakini dan mengamalkan ajaran Islam.[10]
Menurut Syaikh Ali Mahfuzh memberikan batasan dakwah sebagai pembangkitan
kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat makruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar, supaya manusia memperoleh keberuntungan
kebahagian dunia dan akhirat.[11]
Membahasakan
Alquran dalam konteks dakwah tidak terbatas pada penjelasan dan penyampaian
saja, akan tetapi juga meliputi pencerahan, pembinaan, bimbingan baik individu,
keluarga maupun kelompok masyarakat. Tujuannya agar memudahkan bagi para dai
dalam membahasakan dakwah sesuai dengan perkembangan zaman.
Dakwah
dalam pemahaman yang lebih luas dapat dimaknai bahwa semua bentuk dan upaya
yang mengandung dimensi ajakan, seruan dan panggilan kepada kebaikan dapat
dikategorikan sebagai dakwah. Berbagai macam metode dan media dapat digunakan
untuk menunjang kegiatan dakwah islamiyah tersebut. Namun dalam pelaksanaannya
harus diperhatikan unsur-unsur yang ada dalam dakwah itu sendiri. Aktivitas
dakwah tidak mungkin dapat terlaksana tanpa adanya persiapan dan perencanaan
yang matang terhadap berbagai unsur yang mempengaruhinya. Adapun unsur-unsur
tersebut antara lain:
1. Subjek
Dakwah
2. Objek
Dakwah
3. Materi
Dakwah
4. Media
Dakwah
5. Metode
Dakwah
Unsur-unsur
dakwah saling keterkaitan satu sama lainnya, pesan dakwah tidak akan sampai
kepada mad’u tanpa adanya metode, sedangkan metode tidak akan berjalan tanpa
adanya media. Dengan demikian, media dakwah adalah salah satu instrumen yang
dilalui oleh pesan yang menghubungkan antara dai dan mad’u. Media menjadi salah
satu unsur terpenting dalam proses dakwah islamiyah.
Media
dakwah merupakan alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dakwah. Media
tersebut bisa melalui bentuk lisan, tulisan maupun perbuatan. Para juru dakwah
harus bisa memanfaatkan media dan mencari sebuah alternatif media sebagai
inovasi yang dapat digunakan dalam berdakwah. Salah satu cara yang dapat
digunakan dalam berdakwah yaitu melalui metode bimbingan dan konseling islam.
Bimbingan
dan Konseling Islam merupakan sarana alternatif dalam berdakwah untuk
merefleksikan konsepsi Islam sesuai dengan permasalahan yang dihadapi mad’u.
Dakwah merupakan pemberian bantuan atau bimbingan kepada individu maupun
kelompok agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah serta
Sunnah nabi, agar tercapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Bimbingan
dan Konseling Islam sebagai alternatif dalam berdakwah memiliki kemungkinan
yang cukup besar untuk diterapkan di era modernisasi sekarang ini, karena ruang
lingkup esensi dakwah meliputi semua aspek kehidupan manusia dan dakwah
memiliki karakteristik yang dinamis, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh
karena itu, bimbingan dan konseling islam dapat dikategorikan sebagai salah satu
metode alternatif dalam berdakwah.
Kesenian Madihin sebagai Media
Alternatif Bimbingan dan Penyuluhan Islam
Kesenian
tradisional Banjar memiliki berbagai jenis yang hidup dan berkembang di
Kalimantan Selatan. Kesenian tradisional Banjar pada umumnya cukup komunikatif,
disenangi oleh masyarakat serta hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan
masyarakat Banjar. Salah satu kesenian yang masih terlihat sampai sekarang
adalah kesenian madihin.
Kesenian
madihin sekarang ini terlihat adanya perkembangan yang cukup memadai meskipun
masih terbatas orang yang melestarikannya. Padahal kesenian madihin ini
tergolong kesenian yang cukup sederhana dan murah. Kesederhanaannya karena
penyajian yang utama dari kesenian ini hanya penyampaian syair-syair yang
dibacakan oleh seniman madihin yang biasa disebut pemadihinan.
Nama
madihin diperkirakan berasal dari kata madah yakni sejenis puisi lama dalam
sastra Indonesia. Pendapat ini beralasan karena kesenian madihin menyajikan
syair-syair sebagai suatu puisi.[12]
Madah artinya syair-syair yang dinyanyikan.[13]
Madihin dapat dikatakan sebagai
pengembangan lebih lanjut dari syair. Ada dua pendapat tentang asal mula kata
madihin, yaitu:
1. Kata
madah dalam bahasa Arab yang berarti
kata-kata pujian
2. Kata padah dalam bahasa Banjar yang merupakan
kata dasar untuk membentuk istilah papadah atau nasihat, papadahi atau
nasihati, dan mamadahi atau menasihati yang kemudian menjadi kata madihin yang
artinya kata-kata puitis yang berisi nasihat.
Syair
madihin terdiri atas bait-bait yang tidak menentu jumlah barisnya. Akan tetapi
setiap baris yang terdiri atas beberapa kata, memiliki hukum puisi terikat dengan bunyi akhir baris yang
selalu sama. Suatu keahlian seorang seniman pemadihinan
adalah harus memiliki syair-syair yang sudah mesra dalam ingatan.[14]
Madihin
menurut Ganie adalah puisi rakyat bertipe hiburan yang dilisankan atau
dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu
sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khazanah folklor Banjar.[15]
Madihin tetap akan terus berkembang dalam menyajikan berbagai pesan yang
disampaikan karena kesenian ini mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
dimanapun ditampilkan.
Madihin
ditampilkan dalam bentuk pertunjukkan rakyat yang bisa ditampilkan melalui
peringatan hari-hari besar tertentu, menghibur tamu, penyuluhan-penyuluhan,
pesta perkawinan, pesta adat, khitanan anak, kelahiran anak dan lain
sebagainya. Seiring perkembangan teknologi dan pemikiran masyarakat, madihin
kini ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai fungsi sosial, akan tetapi dapat
dikembangkan sebagai salah satu cara menyisipkan nilai-nilai agama dalam proses
dakwah islamiyah.
Dakwah
harus memerlukan strategi agar berjalan sesuai rencana dengan dilihat dari
kondisi sosial, status sosial atau sistem sosial serta kondisi individual.[16]
Melalui kesenian, dakwah juga bisa dilakukan sebagai ragam strategi berdakwah
di era modernisasi ini. Menyampaikan pesan dakwah perlu ditunjang dengan karya
sastra yang bermutu sehingga lebih indah dan menarik untuk dilihat. Karya
tersebut meliputi syair, pantun, nasyid, lagu dan sebagainya.[17]
Seni
merupakan ilham yang lahir dalam bentuk yang tepat.[18]
Dengan kata lain, seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam
hati seseorang yang dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam
bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran, penglihatan atau gerak.[19]
Melalui kesenian inilah dapat menjadi sebuah media dalam melakukan bimbingan
dan konseling islam.
Memberikan
bimbingan dan konseling tidak mesti harus diberikan ketika seseorang atau klien
yang datang ke sebuah tempat praktik konseling, akan tetapi seiring
perkembangan zaman, media dapat berperan dalam proses pelaksanaan bimbingan dan
konseling islam. Melalui berbagai macam media yang dapat digunakan dalam
bimbingan dan konseling, semakin banyak alternatif pilihan media maka akan
semakin membantu konselor dalam menerapkan pilihan media yang bisa digunakan
dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Media
yang sering diterapkan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling meliputi media
televisi, radio, koran, wisata dan sebagainya. Pelayanan bimbingan dan
konseling dapat dilakukan dengan berbagai macam media, salah satunya dengan
kesenian madihin. Melalui kesenian ini, diharapkan bimbingan dan konseling dapat
menemukan sebuah inovasi baru dalam pemberian model pelayanan bimbingan dan
konseling islam.
Kesenian
lokal yang ada di masing-masing daerah merupakan salah satu strategi dalam
melakukan proses bimbingan dan konseling, baik proses pemberian bantuan kepada
individu maupun kelompok. kesenian madihin merupakan cara yang unik dan dapat
dikembangkan sebagai salah satu alternatif media dalam bimbingan dan konseling
islam. Penerapan kesenian ini dapat memberikan alternatif baru agar peran
bimbingan dan konseling yang diberikan kepada individu dan kelompok bisa
direspon dengan cepat dan diterima serta memberikan kesan bagi masyarakat yang
menyaksikannya.
PENUTUP
Era
modernisasi sekarang ini, membuat permasalahan hidup semakin kompleks. Rumitnya
masalah dalam kehidupan membuat manusia memerlukan adanya bimbingan. Bimbingan
dan Konseling Islam keberadaannya sangat penting sebagai ragam alternatif dalam
berdakwah. Dakwah dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya membina dengan
cara bimbingan konseling. Bimbingan dan Konseling Islam bertujuan untuk
membantu manusia dalam memahami permasalahannya agar mampu mengembangkan
potensi dirinya agar selalu dalam jalan yang lurus, serta menjalankan perintah
Allah dan Sunnah Nabi.
Bimbingan
dan Konseling Islam memiliki media yang berbagai macam, diantaranya dengan cara
kesenian. Kesenian menjadi strategi baru dalam aktivitas dakwah islamiyah,
seperti halnya para walisongo yang sudah menerapkan dakwah melalui kesenian.
Daerah Kalimantan Selatan pun, memiliki berbagai macam kesenian yang dapat
digunakan sebagai media dalam bimbingan dan konseling. Kesenian yang ada di
daerah ini, dapat dijadikan media dalam bimbingan konseling islam seperti
halnya kesenian madihin.
Madihin
ditampilkan dalam bentuk pertunjukkan rakyat yang bisa ditampilkan dalam
peringatan hari-hari besar tertentu, penyuluhan-penyuluhan, dan lain
sebagainya. Seiring perkembangan teknologi dan pemikiran masyarakat, madihin
kini ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai fungsi sosial, akan tetapi dapat
dikembangkan sebagai salah satu cara menyisipkan nilai-nilai agama dalam proses
dakwah islamiyah serta madihin juga dapat dijadikan sarana alternatif media
dalam melakukan bimbingan dan konseling islam.
DAFTAR PUSTAKA
Masy’ari,
Anwar, Studi Tentang Ilmu Dakwah.
Surabaya, PT.Bina Ilmu, 1981.
Syafruddin,
Ilmu Dakwah Sebagai Disiplin Ilmu.
Banjarmasin, Antasari Press, 2009.
Winkel, W.S, dan M.M.Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta, Media Abadi, 2006.
Prayitno, dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.
Jakarta, PT.Rineka Cipta, 2004.
Musnamar, Tohari, dkk, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan
Konseling Islami. Yogyakarta, UII Press, 1992.
Sukayat,
Tata, Quantum Dakwah. Jakarta,
PT.Rineka Cipta, 2009.
Seman, Syamsiar, Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin dan Pantun. Banjarmasin,
tp, 2011.
Sulistyowati, Endang, dan Tajuddin Noor
Ganie, Sastra Banjar Genre lama Bercorak
Puisi. Banjarmasin, Tuas Media, 2012.
Syabibi, M.Ridho, Metodologi Ilmu Dakwah. Bengkulu, Pustaka Belajar Kerjasama STAIN
Bengkulu, 2007.
Aziz,
Moh.Ali, Ilmu Dakwah. Jakarta,
Kencana, 2009.
Badrun,
Ahmad, Pengantar Ilmu Sastra.
Surabaya, Usaha Nasional, 1983.
Shadily,
Hasan, Ensiklopedi Umum. Jakarta,
Kanius, 1973.
[1] Anwar Masy’ari, Study Tentang Ilmu Dakwah,
(Surabaya:PT.Bina Ilmu,1981), h.10
[2] Kementerian
Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya,
(Jakarta: PT.Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h.599
[3] Syafruddin, Ilmu Dakwah Sebagai Disiplin Ilmu,
(Banjarmasin:Antasari Press,2009), h.21
[4] W.S
Winkel dan M.M.Sri Hastuti, Bimbingan dan
Konseling di Institusi Pendidikan, (Yogyakarta:Media Abadi,2006), Cet.Ke-5,
h.27
[5] Prayitno dan
Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan
Konseling, (Jakarta:PT.Rineka Cipta,2004), h.99
[6] W.S Winkel dan
M.M.Sri Hastuti, Op.Cit, h.34
[7] Ibid, h.35
[8] Tohari Musnamar
dkk, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan
Konseling Islami, (Yogyakarta:UII Press,1992), hal.5
[9] Syafruddin, Op.Cit, h.1
[10] Tata Sukayat, Quantum Dakwah, (Jakarta:PT.Rineka
Cipta,2009),Cet.Ke-1, h.2
[11] Ibid, h.3
[12] Syamsiar Seman, Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin
dan Pantun, (Banjarmasin:tp,2011), Cet.Ke-6, h.5
[13] Endang
Sulistyowati dan Tajuddin Noor Ganie, Sastra
Banjar Genre Lama Bercorak Puisi, (Banjarmasin:Tuas Media,2012), h.23
[14] Syamsiar Seman, Op.Cit, h.7
[15] Endang
Sulistyowati dan Tajuddin Noor Ganie, Op.Cit,
h.23
[16] M.Ridho Syabibi,
Metodologi Ilmu Dakwah,
(Bengkulu:Pustaka Belajar Kerjasama STAIN Bengkulu,2007), h.135
[17] Moh.Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta:Kencana,2009),
h.328
[18] Ahmad Badrun, Pengantar Ilmu Sastra, (Surabaya:Usaha
Nasional,1983), h.14
[19] Hasan Shadily, Ensiklopedi Umum, (Jakarta:Kanius,1973),
h.996









0 komentar:
Posting Komentar