Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

JURNAL DAKWAH ULAMA

BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
(MADIHIN SEBAGAI MEDIA BKI ALTERNATIF)

Oleh: Zain Muslim, S.Sos.I


Abstrak
            Bimbingan dan Konseling Islam merupakan salah satu kajian dalam Ilmu Dakwah. Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu dakwah bil-qaul yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Beragam permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat memerlukan pemecahan masalah, salah satunya dengan adanya bimbingan dan konseling ini. Dalam bimbingan dan konseling islam banyak media yang dapat digunakan contohnya seperti media kesenian madihin. Kesenian ini merupakan suatu kesenian tradisional orang Banjar yang berisikan nasihat-nasihat dalam bentuk lantunan syair khasnya. Para Walisongo sudah membuktikan bahwa dakwah melalui seni budaya bisa dijadikan sebagai cara untuk membimbing, membina dan mengajak masyarakat. Dengan adanya dakwah melalui seni budaya ini, penulis berpendapat bahwa kesenian madihin  dapat juga dijadikan sebagai salah satu media dalam berdakwah dan dapat dijadikan sebagai  alternatif dalam bimbingan dan konseling islam di masa modernisasi ini.

Kata Kunci: Bimbingan, Penyuluhan, Madihin.

PENDAHULUAN
            Kepentingan dakwah dalam penyiaran agama dirasa penting. Dakwah islamiyah telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw. dengan cara sebaik-baiknya, sehingga banyak umat manusia yang memeluk agama Islam di masa Nabi hidup dan sesudah wafatnya.[1] Dakwah kemudian diteruskan oleh para khalifah dan sahabat Nabi hingga terus dilaksanakan oleh pemimpin agama dan para ulama. Kegiatan ini dilaksanakan sampai sekarang sampai akhir zaman.
Umat Islam pada dasarnya memiliki kewajiban melaksanakan dakwah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki manusia. Tugas berdakwah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul untuk kaumnya sesuai dengan perkembangan zaman itu sendiri, memberikan contoh nyata bagi kita untuk melakukan kegiatan dakwah. Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 45 dan 46 yang berbunyi
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# !$¯RÎ) y7»oYù=yör& #YÎg»x© #ZŽÅe³t6ãBur #\ƒÉtRur ÇÍÎÈ $·ŠÏã#yŠur n<Î) «!$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ %[`#uŽÅ ur #ZŽÏYB ÇÍÏÈ  
Artinya:
Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.[2]

Ayat ini menunjukkan bahwa berdakwah itu merupakan sesuatu yang terpenting untuk dilaksanakan dalam kehidupan. Tugas berdakwah harus dilaksanakan secara berkesinambungan dan terencana untuk ketentraman umat sampai akhir zaman. Dakwah harus ada yang menyeru, berhasil atau tidaknya suatu kegiatan dakwah harus didukung oleh unsur-unsur dakwah yang satu sama lainnya saling keterkaitan, sehingga membentuk suatu sistem.[3] Perangkat unsur dakwah tersebut meliputi dai, mad’u, materi, media, metode dan logistik.
Dakwah merupakan suatu kegiatan menyampaikan bahasa Tuhan kepada semua makhluk agar dapat dimengerti dan difahami, baik menyangkut hubungan dengan Tuhan, sesama manusia serta manusia dengan alam. Intisari kalam Allah dalam Alquran merupakan bagian terpenting dalam proses dakwah islamiyah. Fokus dakwah yaitu memberi peringatan, pengertian kepada manusia agar mengamalkan ajaran Allah yang terkandung dalam Alquran sebagai pedoman hidup manusia.
Membahasakan bahasa Allah dalam Alquran tidak terbatas pada penjelasan dan penyampaian saja, namun juga harus menyentuh pembinaan dan pembentukan pribadi, keluarga, masyarakat Islam secara menyeluruh. Para juru dakwah perlu mempertimbangkan dan melihat keanekaragaman masyarakat yang dihadapi dilapangan. Dakwah islamiyah memerlukan kearifan dalam menyusun model penyajian dakwah, materi yang tepat serta media yang unik agar apa yang menjadi tujuan dan target dakwah dapat tercapai dengan baik.
Masyarakat yang beragam menuntut upaya agar para juru dakwah bisa menciptakan konsep dakwah Islam yang relevan dengan keanekaragaman masyarakat. Prinsip dakwah islamiyah bukan hanya sekedar mengajak manusia masuk agama Islam ataupun mengikuti ajaran Islam tanpa mengerti dan menghayatinya. Ajakan ini hendaknya diiringi dengan penyadaran dan penghidupan batin manusia serta mengaktualkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri manusia.
Dakwah mencakup seluruh aspek dalam kehidupan ini, termasuk pembinaan, bimbingan dan penyuluhan serta konseling, baik bimbingan keluarga, kelompok masyarakat secara menyeluruh. Dakwah bisa juga dilakukan dengan menggunakan segala macam bentuk media seperti media cetak, elektronik maupun audio visual. Tujuannya untuk memudahkan juru dakwah dalam membahasakan dakwah sesuai perkembangan zaman modernisasi. Hal ini memungkinkan terciptanya berbagai alternatif yang akan dijadikan model dalam berdakwah. Oleh karena itu, berdakwah bisa dengan berbagai media ataupun model seperti bimbingan dan konseling islam.
Bimbingan dan Konseling Islam merupakan sebuah model alternatif dakwah islamiyah, dalam rangka mencerminkan konsepsi Islam sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dakwah memberikan bantuan atau bimbingan individu atau kelompok agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Seiring perkembangan zaman yang serba maju, perlu adanya suatu inovasi dalam dunia bimbingan dan konseling. Berbagai media bisa digunakan untuk membantu proses pelaksanaan bimbingan dan konseling. Salah satu media yang dapat digunakan dalam bimbingan konseling islam adalah melalui media kesenian madihin.

PEMBAHASAN
Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam
Istilah bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari kata guidence dan counseling dalam bahasa Inggris. Guidence dapat berarti menunjukkan jalan, mengatur, mengarah, memberikan nasihat.[4] Menurut istilah bimbingan dapat diartikan sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja atau orang dewasa agar yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.[5]
Bimbingan memiliki berbagai macam bentuk yaitu ada bentuk bimbingan individual dan ada bentuk bimbingan kelompok. Apabila hanya satu orang yang dilayani maka disebut dengan bimbingan individu, namun apabila orang yang dilayani lebih dari satu orang maka istilahnya adalah bentuk bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok dapat dilaksanakan dalam berbagai cara misalnya dengan cara kelompok diskusi, konseling kelompok, dan dapat juga melalui sebuah media kesenian. Yang terpenting tujuan bimbingan tercapai yaitu mengoptimalkan potensi diri dan mengembangkan serta memahami tanggung jawab dalam kehidupan.
Konseling dalam kamus bahasa Inggris counseling dikaitkan dengan kata counsel yang berarti sebaga nasihat, anjuran, pembicaraan.[6] Adapun menurut Andi Mappiare (1984) dalam W.S.Winkel dan M.M.Sri Hastuti menyebutkan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok bimbingan dalam usaha membantu konselor dan klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.[7] Biasanya bimbingan dan konseling disebut bersama, sehingga tercipta istilah majemuk bimbingan dan konseling.
Bimbingan Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun konseling islami merupakan suatu proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.[8]
Menurut beberapa pakar dalam bidang bimbingan konseling di atas, maka dapat dipahami bahwa bimbingan dan konseling islam merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu maupun kelompok, baik mengarahkan, memberikan nasihat secara langsung maupun tidak langsung, agar mampu menggali potensi diri dan dapat mengambil tanggung jawab sendiri serta menyadari akan eksistensinya sebagai makhluk Allah untuk keselarasan dengan petunjuk Tuhan, sehingga dapat mencapai tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bimbingan dan Penyuluhan Islam sebagai Sarana Berdakwah
Dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti memanggil, mengajak dan menyeru.[9] Dakwah merupakan proses islamisasi untuk mempertahankan keislaman setiap insan yang sudah memeluk agama Islam dan mengupayakan orang yang ingkar terhadap Islam agar kembali meyakini dan mengamalkan ajaran Islam.[10] Menurut Syaikh Ali Mahfuzh memberikan batasan dakwah sebagai pembangkitan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, supaya manusia memperoleh keberuntungan kebahagian dunia dan akhirat.[11]
Membahasakan Alquran dalam konteks dakwah tidak terbatas pada penjelasan dan penyampaian saja, akan tetapi juga meliputi pencerahan, pembinaan, bimbingan baik individu, keluarga maupun kelompok masyarakat. Tujuannya agar memudahkan bagi para dai dalam membahasakan dakwah sesuai dengan perkembangan zaman.
Dakwah dalam pemahaman yang lebih luas dapat dimaknai bahwa semua bentuk dan upaya yang mengandung dimensi ajakan, seruan dan panggilan kepada kebaikan dapat dikategorikan sebagai dakwah. Berbagai macam metode dan media dapat digunakan untuk menunjang kegiatan dakwah islamiyah tersebut. Namun dalam pelaksanaannya harus diperhatikan unsur-unsur yang ada dalam dakwah itu sendiri. Aktivitas dakwah tidak mungkin dapat terlaksana tanpa adanya persiapan dan perencanaan yang matang terhadap berbagai unsur yang mempengaruhinya. Adapun unsur-unsur tersebut antara lain:
1.      Subjek Dakwah
2.      Objek Dakwah
3.      Materi Dakwah
4.      Media Dakwah
5.      Metode Dakwah
Unsur-unsur dakwah saling keterkaitan satu sama lainnya, pesan dakwah tidak akan sampai kepada mad’u tanpa adanya metode, sedangkan metode tidak akan berjalan tanpa adanya media. Dengan demikian, media dakwah adalah salah satu instrumen yang dilalui oleh pesan yang menghubungkan antara dai dan mad’u. Media menjadi salah satu unsur terpenting dalam proses dakwah islamiyah.
Media dakwah merupakan alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dakwah. Media tersebut bisa melalui bentuk lisan, tulisan maupun perbuatan. Para juru dakwah harus bisa memanfaatkan media dan mencari sebuah alternatif media sebagai inovasi yang dapat digunakan dalam berdakwah. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam berdakwah yaitu melalui metode bimbingan dan konseling islam.
Bimbingan dan Konseling Islam merupakan sarana alternatif dalam berdakwah untuk merefleksikan konsepsi Islam sesuai dengan permasalahan yang dihadapi mad’u. Dakwah merupakan pemberian bantuan atau bimbingan kepada individu maupun kelompok agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah serta Sunnah nabi, agar tercapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Bimbingan dan Konseling Islam sebagai alternatif dalam berdakwah memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk diterapkan di era modernisasi sekarang ini, karena ruang lingkup esensi dakwah meliputi semua aspek kehidupan manusia dan dakwah memiliki karakteristik yang dinamis, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, bimbingan dan konseling islam dapat dikategorikan sebagai salah satu metode alternatif dalam berdakwah.

Kesenian Madihin sebagai Media Alternatif Bimbingan dan Penyuluhan Islam
Kesenian tradisional Banjar memiliki berbagai jenis yang hidup dan berkembang di Kalimantan Selatan. Kesenian tradisional Banjar pada umumnya cukup komunikatif, disenangi oleh masyarakat serta hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Banjar. Salah satu kesenian yang masih terlihat sampai sekarang adalah kesenian madihin.
Kesenian madihin sekarang ini terlihat adanya perkembangan yang cukup memadai meskipun masih terbatas orang yang melestarikannya. Padahal kesenian madihin ini tergolong kesenian yang cukup sederhana dan murah. Kesederhanaannya karena penyajian yang utama dari kesenian ini hanya penyampaian syair-syair yang dibacakan oleh seniman madihin yang biasa disebut pemadihinan.
Nama madihin diperkirakan berasal dari kata madah yakni sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Pendapat ini beralasan karena kesenian madihin menyajikan syair-syair sebagai suatu puisi.[12] Madah artinya syair-syair yang dinyanyikan.[13] Madihin  dapat dikatakan sebagai pengembangan lebih lanjut dari syair. Ada dua pendapat tentang asal mula kata madihin, yaitu:
1.      Kata madah dalam bahasa Arab yang berarti kata-kata pujian
2.      Kata padah dalam bahasa Banjar yang merupakan kata dasar untuk membentuk istilah papadah atau nasihat, papadahi atau nasihati, dan mamadahi atau menasihati yang kemudian menjadi kata madihin yang artinya kata-kata puitis yang berisi nasihat.
Syair madihin terdiri atas bait-bait yang tidak menentu jumlah barisnya. Akan tetapi setiap baris yang terdiri atas beberapa kata, memiliki hukum  puisi terikat dengan bunyi akhir baris yang selalu sama. Suatu keahlian seorang seniman pemadihinan adalah harus memiliki syair-syair yang sudah mesra dalam ingatan.[14]
Madihin menurut Ganie adalah puisi rakyat bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khazanah folklor Banjar.[15] Madihin tetap akan terus berkembang dalam menyajikan berbagai pesan yang disampaikan karena kesenian ini mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dimanapun ditampilkan.
Madihin ditampilkan dalam bentuk pertunjukkan rakyat yang bisa ditampilkan melalui peringatan hari-hari besar tertentu, menghibur tamu, penyuluhan-penyuluhan, pesta perkawinan, pesta adat, khitanan anak, kelahiran anak dan lain sebagainya. Seiring perkembangan teknologi dan pemikiran masyarakat, madihin kini ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai fungsi sosial, akan tetapi dapat dikembangkan sebagai salah satu cara menyisipkan nilai-nilai agama dalam proses dakwah islamiyah.
Dakwah harus memerlukan strategi agar berjalan sesuai rencana dengan dilihat dari kondisi sosial, status sosial atau sistem sosial serta kondisi individual.[16] Melalui kesenian, dakwah juga bisa dilakukan sebagai ragam strategi berdakwah di era modernisasi ini. Menyampaikan pesan dakwah perlu ditunjang dengan karya sastra yang bermutu sehingga lebih indah dan menarik untuk dilihat. Karya tersebut meliputi syair, pantun, nasyid, lagu dan sebagainya.[17]
Seni merupakan ilham yang lahir dalam bentuk yang tepat.[18] Dengan kata lain, seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam hati seseorang yang dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran, penglihatan atau gerak.[19] Melalui kesenian inilah dapat menjadi sebuah media dalam melakukan bimbingan dan konseling islam.
Memberikan bimbingan dan konseling tidak mesti harus diberikan ketika seseorang atau klien yang datang ke sebuah tempat praktik konseling, akan tetapi seiring perkembangan zaman, media dapat berperan dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling islam. Melalui berbagai macam media yang dapat digunakan dalam bimbingan dan konseling, semakin banyak alternatif pilihan media maka akan semakin membantu konselor dalam menerapkan pilihan media yang bisa digunakan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
Media yang sering diterapkan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling meliputi media televisi, radio, koran, wisata dan sebagainya. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai macam media, salah satunya dengan kesenian madihin. Melalui kesenian ini, diharapkan bimbingan dan konseling dapat menemukan sebuah inovasi baru dalam pemberian model pelayanan bimbingan dan konseling islam.
Kesenian lokal yang ada di masing-masing daerah merupakan salah satu strategi dalam melakukan proses bimbingan dan konseling, baik proses pemberian bantuan kepada individu maupun kelompok. kesenian madihin merupakan cara yang unik dan dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif media dalam bimbingan dan konseling islam. Penerapan kesenian ini dapat memberikan alternatif baru agar peran bimbingan dan konseling yang diberikan kepada individu dan kelompok bisa direspon dengan cepat dan diterima serta memberikan kesan bagi masyarakat yang menyaksikannya.

PENUTUP

Era modernisasi sekarang ini, membuat permasalahan hidup semakin kompleks. Rumitnya masalah dalam kehidupan membuat manusia memerlukan adanya bimbingan. Bimbingan dan Konseling Islam keberadaannya sangat penting sebagai ragam alternatif dalam berdakwah. Dakwah dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya membina dengan cara bimbingan konseling. Bimbingan dan Konseling Islam bertujuan untuk membantu manusia dalam memahami permasalahannya agar mampu mengembangkan potensi dirinya agar selalu dalam jalan yang lurus, serta menjalankan perintah Allah dan Sunnah Nabi.
Bimbingan dan Konseling Islam memiliki media yang berbagai macam, diantaranya dengan cara kesenian. Kesenian menjadi strategi baru dalam aktivitas dakwah islamiyah, seperti halnya para walisongo yang sudah menerapkan dakwah melalui kesenian. Daerah Kalimantan Selatan pun, memiliki berbagai macam kesenian yang dapat digunakan sebagai media dalam bimbingan dan konseling. Kesenian yang ada di daerah ini, dapat dijadikan media dalam bimbingan konseling islam seperti halnya kesenian madihin.
Madihin ditampilkan dalam bentuk pertunjukkan rakyat yang bisa ditampilkan dalam peringatan hari-hari besar tertentu, penyuluhan-penyuluhan, dan lain sebagainya. Seiring perkembangan teknologi dan pemikiran masyarakat, madihin kini ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai fungsi sosial, akan tetapi dapat dikembangkan sebagai salah satu cara menyisipkan nilai-nilai agama dalam proses dakwah islamiyah serta madihin juga dapat dijadikan sarana alternatif media dalam melakukan bimbingan dan konseling islam.

DAFTAR PUSTAKA
Masy’ari, Anwar, Studi Tentang Ilmu Dakwah. Surabaya, PT.Bina Ilmu, 1981.
Syafruddin, Ilmu Dakwah Sebagai Disiplin Ilmu. Banjarmasin, Antasari Press, 2009.
Winkel, W.S, dan M.M.Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta, Media Abadi, 2006.
Prayitno, dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta, PT.Rineka Cipta, 2004.
Musnamar, Tohari, dkk, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta, UII Press, 1992.
Sukayat, Tata, Quantum Dakwah. Jakarta, PT.Rineka Cipta, 2009.
Seman, Syamsiar, Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin dan Pantun. Banjarmasin, tp, 2011.
Sulistyowati, Endang, dan Tajuddin Noor Ganie, Sastra Banjar Genre lama Bercorak Puisi. Banjarmasin, Tuas Media, 2012.
Syabibi, M.Ridho, Metodologi Ilmu Dakwah. Bengkulu, Pustaka Belajar Kerjasama STAIN Bengkulu, 2007.
Aziz, Moh.Ali, Ilmu Dakwah. Jakarta, Kencana, 2009.
Badrun, Ahmad, Pengantar Ilmu Sastra. Surabaya, Usaha Nasional, 1983.
Shadily, Hasan, Ensiklopedi Umum. Jakarta, Kanius, 1973.









*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan BPI Angkatan 2010
[1] Anwar Masy’ari, Study Tentang Ilmu Dakwah, (Surabaya:PT.Bina Ilmu,1981), h.10
[2] Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: PT.Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h.599
[3] Syafruddin, Ilmu Dakwah Sebagai Disiplin Ilmu, (Banjarmasin:Antasari Press,2009), h.21
[4] W.S Winkel dan M.M.Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Yogyakarta:Media Abadi,2006), Cet.Ke-5, h.27
[5] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta:PT.Rineka Cipta,2004), h.99
[6] W.S Winkel dan M.M.Sri Hastuti, Op.Cit, h.34
[7] Ibid, h.35
[8] Tohari Musnamar dkk, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, (Yogyakarta:UII Press,1992), hal.5
[9] Syafruddin, Op.Cit, h.1
[10] Tata Sukayat, Quantum Dakwah, (Jakarta:PT.Rineka Cipta,2009),Cet.Ke-1, h.2
[11] Ibid, h.3
[12] Syamsiar Seman, Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin dan Pantun, (Banjarmasin:tp,2011), Cet.Ke-6, h.5
[13] Endang Sulistyowati dan Tajuddin Noor Ganie, Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi, (Banjarmasin:Tuas Media,2012), h.23
[14] Syamsiar Seman, Op.Cit, h.7
[15] Endang Sulistyowati dan Tajuddin Noor Ganie, Op.Cit, h.23
[16] M.Ridho Syabibi, Metodologi Ilmu Dakwah, (Bengkulu:Pustaka Belajar Kerjasama STAIN Bengkulu,2007), h.135
[17] Moh.Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta:Kencana,2009), h.328
[18] Ahmad Badrun, Pengantar Ilmu Sastra, (Surabaya:Usaha Nasional,1983), h.14
[19] Hasan Shadily, Ensiklopedi Umum, (Jakarta:Kanius,1973), h.996

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar