Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T4


PENERIMA MANFAAT KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Muhammad Fadli Al Fudhail

A.    Pengertian Penerima Manfaat
Komunikasi pembangunan disebut adanya penerima (receiver) atau bahkan sasaran Komunikasi Pembangunan, yaitu: masyarakat, utamanya masyarakat kelas bawah, kelompok akar-rumput (grassroots), atau kelompok masyarakat yang termarjinalkan).
Mardikanto (1996) telah mengganti istilah “sasaran” menjadi Penerima manfaat (benediciaries) yang dapat diartikan sebagai individu atau (kelompok) masyarakat tertentu.
Dalam pengertian “penerima manfaat”, terkandung makna bahwa:
1)      Berbeda dengan kedudukannya sebagai”sasaran”, masyarakat sebagai penerima manfaat memiliki kedudukan yang setara dengan penentu kebijakan, Fasilitator dan pemangku kepentingan pembangunan yang lain.
2)      Penerima manfaat bukanlah obyek atau “sasaran tembak” yang layak dipandang rendah oleh penentu kebijakan dan para Fasilitator, melainkan ditempatkan pada posisi terhormat yang perlu dilayani dan atau difasilitasi sebagai rekan sekerja dalam mensukseskan pembangunan.
3)      Berbeda dengan kedudukannya sebagai “sasaran” yang tidak punya pilihan atau kesempatan untuk mengkritisi atau menawar setiap pesan/materi yang disampaikan, selain harus menerima/mengikutinya, penerima manfaat memiliki posisi tawar yang harus dihargai untuk menerima atau menolak informasi/inovasi yang disampaikan Fasilitatornya.
4)      Penerima Manfaat tidak berada dalam posisi dibawah penentu kebijakan dan atau para Fasilitator, melainkan dalam kedudukan setara dan bahkan sering justru lebih tinggi kedudukannya, dalam arti harus lebih didengar dan diperhatikan oleh Fasilitator terkait dengan pesan/materi dan metode yang akan diterapkan.
5)      Proses belajar yang berlangsung antara Fasilitatordan penerima manfaatnya bukanlah bersifat vertical (Fasilitator menggurui penerima manfaatnya), melainkan proses belajar bersama yang partisipatip.
B.     Ragam Penerima Manfaat
Penerima manfaat Komunikasi Pembangunan dapat dibedakan dalam:
a.       Pelaku utama, yang terdiri dari warga masyarakat dan keluarganya.
b.      Kelompok penentu, yang terdiri dari aparat birokrasi pemerintah (eksekutif, legislative dan yudikatif) sebagai perencana, pelaksana, dan pengendali kebijakan pembangunan.
c.       Kelompok pendukung, yang terdiri dari stakeholders (pemangku kepentingan) yang lain, yang mendukung/memperlancar kegiatan pembangunan pertanian.
C.     Karakteristik Penerima Manfaat
Beberapa karakteristik penerima manfaat yang perlu adalah
1.      Karakteristik pribadi, yang mencakup: jenis kelamin, umur, suku/etnis, agama, dll.
Dalam agenda MDG’S kesetaraan jender menjadi perhatian utama, karena fungsi strategis perempuan sebagai penerus generasi dan sumberdaya manusia dalam pembangunan, yang dalam banyak kasus (karena alas an agama dan atau adat) kurang mendapat perhatian yang setara dengan kaum laki-laki.
2.      Status social ekonomi, yang meliputi : tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan keterlibatannya dalam kelompok/organisasi kemasyarakatan.
Komunikasi pembangunan lebih mengutamakan pendidikan karena dinilai sebagai variable utama untuk memperbaiki mutu-hidup. Kegiatan pendidikan luar-sekolah bagi kelompok yang kurang beruntung memperoleh pendidikan formal disekolah. Selain pendidikan, program dan kegiatan peningkatan pendapatan (income generating) juga dikembangkan dalam komunikasi pembangunan karena kemiskinan merupakan sumber utama ketidakberdayaan.
Dan pengorganisasian masyarakat merupakan upaya dalam setiap program/kegiatan komunikasi pembangunan, guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam setiap proses pembangunan. Karena efesian dalam pelayanan, juga penting dalam membangun kekuatan bersama untuk menaikkan posisi-tawar.
3.      Perilaku keinovatifan sebagaimana yang dikelompokkan oleh Rogers(1971) yang terdiri dari : perintis(innovator), pelopor (early adopter), penganut dini (early majority), penganut lambat (late majority) dan kelompok yang tidak bersedia berubah (laggards).
4.      Moral ekonomi masyarakat, yang dibedakan dalam moral subsistensi dan moral rasionalitas.
·           Menurut Wharton (1965) adanya kontinum perilaku ekonomi dari yang bergerak dari moral subsisten yang pada umumnya tdak responsive terhadap inovasi yang ditawarkan melalui upaya perberdayaan, kearah “moral ekonomi rasional” yang sangat responsive terhadap perubahan. Pemahaman ini menjadi penting karena kelompok subsisten akan sulit menerima pertimbangan-pertimbangan rasional (untuk melakukan perubahan demi peningkatan keuntungan atau manfaat ekonomi), sebaliknya kelompok rasional akan sulit menerima pertimbangan-pertimbangan subsisten (yang mengutamakan selamat, berbagai kemiskinan, menolak perubahan, berorientasi pasar, dll).
·           Scott (1976)mengemukakan bahwa moral ekonomi subsisten memiliki karakteristik khusus, yaitu:
a.       Mengutamakan selamat, dan tidak mudah menerima inovasi yang belum teruji. Sebaliknya, lebih suka melakukan kebiasan-kebiasan, warisan tradisi, yang benar-benar telah teruji oleh waktu.
b.      Tidak menyukai/menolak pasar, dengan moral subsisten yang mengutamakan keselamatan, maka mereka hanya melakukan kegiatan yang terbatas pada rutinitas kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak menyukai pasar karena seringkali mengundang ketidakpastian.
c.       Hubungan patron-clien, Dalam hubungan antara elit masyarakt dan warganya, hubungan antara pemilik lahan dan penyakap/penggarap, dan hubungan antara petani pengelola dengan tenaga-kerjanya (buruh tani) benar merupakan hubungan patron-lien yang saling membantu, mendukung, melindungi. Dan tidak hanya untuk menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan kehidupan bermasyarakat.
·           Sedangkan menurut popkin (1961) mengemukakan bahwa setiap warga masyarakat (seperti juga anggota masyarakat yang lain) juga rasional, yang selalu ingin memperbaiki nasibnya dengan mencari dan memilih peluang-peluang yang mungkin dapat dilakukannya. Maka cirri-ciri mastyarakat rasional sebagai berikut:
a.       Menyukai perubahan,berbeda dengan masyarakat subsisten yang tidak menyukai inovasi dan atau perubahan, masyarakat rasional selalu mencari atau memburu inovasi demi perubahan demipeningkatan produksi dan produktivitasnya serta perbaikan efisiensi. Karena perubahan bukanlah ancaman, melainkan peluang menuju perbaikan masyarakat dan kehidupannya.
b.      Memerlukan pasar, untuk meningkatkan efisiensi dan produtivitasnya maka masyarakat rasional membutuhkan pasar sebagai tempat menjual (kelebihan) produksi yang tidak habis dikonsumsi sendiri. Dan juga sebagai sumber input (sarana produksi) dan peralatan yang dibutuhkan serta sebagai sumber informasi/inovasi yang sangat dibutuhkan bagi perbaikan manajemen, perbaikan teknik berusaha serta peningkatan efisien usahanya.

c.       Hubungan eksploitatif, masayrakat rasional hanyalah hubungan bisnis atau untung-rugi atau bahkan saling mengeksploitasi, demi meningkatkan efesiensi dan pendapatan keuntungannya. Dalam masyrakat rasional masing-masing selalu berusaha memperoleh manfaat setinggi-tingginya dari setiap korbanan yang dilakukan. Dalam hubungan keharmonisan masyarkat sudah dikalahkan dengan kepentingan pribadi, dan kesejahteraan hanya dapat dinikmati dari banyak pendapatan/keuntungan yang dapat dijadikan alat-tukar atau alat pembelian produk (barang atau jasa yang menjadi kebutuhan keluarga).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar