Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T19


PEMBANGUNAN POLITIK
Muhammad Fadli Al Fudhail

1.      PENDEKATAN FUNGSIONAL
Model pembangunan politik multidimensional bertolak dari konsepsi Almond (1960) mengenai sistem-sistem politik yang terdiri dari struktur dan fungsi. Pada aspek fungsi terdapat fungsi input dari setiap sistem poitik yang berupa rekrutmen dan sosialisasi politik, artikulasi kepentingan, agregrasi kepentingan, serta komunikasi politik. Selain itu juga ada fungsi output yang memiliki pembuatan peraturan (kebijakan), penerapan dan pengawasan atas kepatuhan terhadap peraturan tersebut. Adapun pembangunan politik itu dapat dirinci berdasarkan tinhkat spesifikasinya yang terwujud sebagai struktur-struktur yang pada prakteknya akan melaksanakan berbagai macam fungsi tadi. Struktur itu sendiri bervariasi dan menjadi ciri bagi masing-masing sistem politik.
Almond dan Powell mengidentifikasikan empat jenis tantangan atau tugas yang dihadapi oleh stiap sistem politik yaitu, tugas pembangunan negara (state building), pembangunan bangsa (nation building), penggalakan partisipasi, serta pelaksanaan fungsi distribusi. Ada lima faktor yang dianggap paling penting dalam analisis pembangunan politik. Pertama, ada masalah-masalah yang mendasar yang harus dituntaskan oleh setiap sistem politik misalnya, tuntutan partisipasi, unifikasi nasional atau tekanan-tekanan yang dialami sistem. Kedua, setiap sistem politik memiliki sumber-sumber (resources) yang bisa dimanfaatkannya untuk mengatasi berbagai masalah. Ketiga, pembangunan politik itu dipengaruhi oleh aspek lain dalam sisem sosial, sistem ekonomi, atau lingkungan internasional. Faktor keempat adalah karakteristik menangani tuntutan dan memobilisir hubungan. Yang kelima adalah berbagai variabel pilihan yang ditentukan oleh respon elit politik dalam menghadapi berbagai macam tantangan.
Almond dan powell mengajukan teori mengenai pembangunan politik yang kemudian menjadi sasaran kritik dari berbagai pengamat. Mereka mengajukan gagasan ini mengenai gagasan politik yang mengacu pada tiga aspek. Rumusan dasar teori yang mereka kemukakan menyatakan bahwa semakin modern atau maju suatu kepolitikaan (polity), ia akan semakin ditandai oleh diferensiasi, otonomi, dan skularisasi..
Gagasan bahwa pembangunan politik itu berkaitan erat dengan kapasitas sistem dan diferensiasi menggunakan konsep-konsep kapasitas sistem dan diferensiasi struktural dalam mencoba mendifinisikan konsep pembangunan politik tanpa melibatkan fungsionalisme.

2.      PENDEKATAN PROSES SOSIAL
Pembangunan politik juga dapat dianggap sebagai refleksi proses pembangunan sosial yang lebih luas. Teori modernisasi menyatakan bahwa pembangunan politik merupakan kelanjutan dari proses pembangunan yang lebih umum – industrialisasi, urbanisasi, dan pemberantasan buta huruf- yang kesemuanya menggerakkan suatu asyarakat dari kondisi tradisional ke kondisi modern. Teori modernisasi itu sendiri memiliki banyak fersi (Binder, 1986). Proses modernisasi adalah pergerakkan dari masyarakat tradisional yang melibatkan dari tiga fase pokok, yaitu urbanisasi, pemberantasan buta huruf dan pasrtisipasi media massa. Sumbangan utama larner bagi tema modernisasi adalah penekannya pada mekanisme komunikasi yang dapat menuntaskan proses transisi. Pembangunan politik mengacu pada partisipasi massa, termasuk penggunaan sistem media modern yang menggantikan sistem lama, yakni yang hanya mengandalkan informasi dari mulut-kemulut. Lerner mengidentifikasikan empat dimensi modernisasi yang satu sama lain memiliki korelasi dalam kadar yang berbeda-beda, keempat dimensi itu adalah urbanisasi, pemberantasan buta huruf, partisipasi media massa, dan partisipasi politik.
Mobilisasi sosial adalah konsep yang merangkum berbagai macam proses perubahan yang lebih spesifik seperti perubahan kependudukan, pekerjaan, lingkungan sosial, hubungan tatap muka, perubahan intitusional, perubahan peranan dan cara-cara bertindak, perubahan pengalaman harapan. Dan kebutuhan, termasuk kebutuhan akan pola-pola baru akan afiliasi kelompok dan citra identitas pribadi. Masing-masing dan secara bersama-sama dan perubahan –perubahan tersebut cenderung mempengaruhi bahkan terkadang merombak prilaku politik. (deuthsh,1961).
Bila fungsionalisme berfokus pada perubahan-perubahan statis antara dua jenis masyarakat atau dua jenis kepolitikan pendekatan modernisasi lebih menekankan dinamika proses perubahan dari suatu jenis masyarakat kejenis yang lain. Meskipun demikian, implikasi yang sesungguhnya dari perubahan sosial terhadap  perubahan politik masih belum dapat dipastikan. Deutcsh sendiri hanya mengemukakan beberapa kemungkinan konsekuensi yang ditimbulkan oleh perubahan sosial secara luas terhadap perubahan politik, namun ia tidak menjelaskan lebih luas.


3.      PENDEKATAN KRISIS
Pembangunan politik tidak bisa ditafsirkan sebagai deterministik (menentukan) dalam menuju suatu hasil yang ditentukan, melainkan harus dipandang sebagai tahapan yang diperlukan agar tahap-tahap berikutnya dalam menuju hasil bisa lebih baik. Perubahan sosial mendasar merupakan momentum ketidaktentuan dan reurentasi; mungkin pembangunan politik merupakan tanggapan dari suatu sistem dalam menghadapi fenomena krisis. Teori penting mengenai pembangunan politik tersebit kemudia dikembangkan oleh leonard brinder yang merangkum berbagai hasil penelitian mengenai pembangunan politik yang dilaksanakan oleh dewan riset ilmu sosial amerika.
Dengan demikian pembangunan politik maupun institusi onalisasi tidak terjamin kemunculannya, meskipun keduanya turut mempengaruhi keberhasilan sistem dalam memberikan tanggapan terhadap perubahan serta krisis ( atau kemampuan elite politik dalam mengatasi tantangan atau tugas mempertahankan entitas yang ada). Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1968, binder mengemukakan bahwa konsep pembangunan politik cenderung mengalami perubahan sesuai dengan pergeseran presepsi atas respons institusional apa yang diperlukan untuk menghadapi suatu krisis. Selanjutnya ia membagi bagi teori-teori pembangunan politik sebagai berikut :
a.       Teori liberal pembangunan yang menonjolkan demokrasi dan pemerataan sebagai utama respon utama sistem dalam menghadapi krisis atau perubahan.
b.      Teori negara ( state teory) yang menonjolkan, pentingnya peningkatan kontrol, perencanaan dan iptek.
c.       Teori revolusioner  yang menekankan perlunya mobilisasi massa dan transformasi sosialis.
d.      Teori ketergantungan (dependency teory0 yang menonjolkan pengaruh lebarnya ketergantungan pusat preferi ( ketergantungan negara-negara berkembang dan keterbelakangan terhadap negara-negara maju.
Ada dua implikasi pokok yang bersumber dari perubahan sosio-ekonomi (misalnya modernisasi yang melanda suatu masyarakat) terhadap stabilitas suatu sistem politik atau kepolitikan. Salah satu pendapat yang populer mengatakan stabilitas karena melalui pembangunan politik setiap sistem politik memacu untuk melakukan berbagai macam penyesuaian. Jadi ada upaya untuk mengukur pembangunan politik berdasarkan indikator-indikator stabilitas politik (sigelmen, 1971:37) indikator-indikator itu meliputi stabilitas pemerintahan, partisipasi politik pihak militer, artikulasi kepentingan oleh kelompok-kelompok kepentingan anomi, kepemimpinan politik, artikulasi kepentingan oleh asosiasional, serta karakter birokrasi.
      Adapula teori yang mengaitkan pembangunan politik dengan instabilitsa. Indikator-indikatornya antara lain adalah kudeta, perombakan konstitusi, perombakan kabinet, dan pergeseran pemegang jabatan-jabatan eksekutif terpenting (banks,1972). Memang konsep pembangunan politik itu bisa dikembangkan seluas-luasnya. Pemikiran berikutnya yang tak kalah menariknya adalah mencoba menghubungkan pembangunan politik dengan kondisi keterbelakangan (underdevelopment).

4.      PENDEKATAN RADIKAL
Andre gunder frank (1967) memperkenalkan sebuah paradigma yang cukup bermutu untuk menafsirkan segenap proses perubahan ekonomi, politik dan sosial. Pemikiran frank ini turut diilhami oleh pemikiran markis sebelumnya yang antara lain dikemukakan oleh paul barandan sweeney. Ciri khas utama dari karya frank adalah pemilahannya antara dunia maju dan dunia berkembang, serta antara pusat dan pinggiran (center and priphery). Transisi dari tradisionalisme menuju modernisme merupakan tahap berkembang dari tahap keterbelakangan ( jadi pemikiran ini bertolak belakang dengan teori teori modernisasi yang menyatakan hal sebaliknya). Proses menuju keterbelakangan politik dilandaskan pada logika interaksi antara pusat (negara-negara kapitalis maju) dan pinggiran ( negara-negara dunia ketiga) yang mengakibatkan kerugian atau kemerosotan pihak pinggiran.
            Menurut teori analisis sistem dunis (theory of world system analysis) yang diajukan oleh immanuel Wallerstein (1974, 1979), segenap proses perubahan dipenjuru dunia saling berkaitan , bahkan bisa dipandang sebagai suatu zero-sum game (permainan hasil nol; artinya kerugian atau kemerosotan suatu pihak merupakan keuntungan atau kemajuan bagi pihak lain, dan demikian pula sebaliknya). Wujud pokok perubahan yang terjadi adalah peningkatan ketimpangan kesejahteraan antara dunia maju dan dunia berkembang, serta ketimpangan sosial didalam setiap negara pinggiran. Wallerstein memandang pembangunan sebagai suatu hal yang didekte oleh pola produksi komoditi mengejar laba dalam perekonomian dunia yang ditandai oleh berbagai bentuk eksploitasi tenaga kerja yang bertumpu pada hubungan kekuasaan asimetris antara puasat yang kuada dan pinggiran yang lemah. Jadi menurut pemikiran itu, pembangunan yang berlangsung disunia ketiga hanya mengakibatkan ketimpangan sosial, inflasi, dan pengangguran. Mungkin ada baiknya jika kita mempelajari klasidikasi konsep dan mengorek keterkaitannya satu sama lain agar kita dapat mengukur tingkatan masing-masing. Kita memiliki begitu banyak variabel berkaitan dengan lima aspek pembangunan berikut ini :

(a)    Pembangunan demokrasi:

*      Skor atau angka demokrasi
*      Hak-hak asasi manusia
*      Peranan politik pihak militer
*      Pluralisme atau fraksionalisasi sistem kepartaian
*      Fungsi-fungsi sistem kepartaian

(b)   Kapasitas:

·         Konsumsi pemerintah
·         Belanja pemerintah pusat atau secara umum
·         Belanja militer dan personalia militer
·         Keterlibatan dalam perang sesuai perang duina kedua

(c)    Institusionalisasi:

Ø  Sklerosa instisusional
Ø  Usia keberadaan kepemimpinan modern (berapa tahun)
Ø  Pengaruh kepemimpinan modern (sudah berapa tahun)
Ø  Status negara

(d)   Stabilitas

o   Kemelut politik
o   Tindakan kekerasan
o   Gelombang demonstrasi

(e)    Orientasi radikal

ü  Kekuatan kaum kiri
ü  Dominasi kaum kiri dipemerintahan


Dari pendekatan teori-teori pembangunan ekonomi tersebut, bila dianalisis satu sama lain saling melengkapi dan saling mendukung serta tidak berdiri sendiri. Dalam pelaksanaannya dapat dipilih salah satu pendekatan atau digabungkan dengan pendekatan yang satu dengan yang lain disesuaikan dengan kondisi pembangunan itu sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar