Hadiah syurga dari ayah
Pagi itu....
Aku ditemani sang mentari yang cerah dan angin yang
berhembus pelan, mencoba untuk tersenyum ditengah hati yang sedang gundah.
Apakah benar ini hari terakhir aku sebagai lajang?
Tidakkan ku pikir ini trlalu cepat? Umurku maseh 18 tahun, dan aku baru saja
lulus dari sekolah ku dipesantren.
Ku coba untuk menahan genangan air dipelupuk mataku,
besok acara sudah berlangsung, sedangkan aku tidak tahu siapa orang yang akan
menjadi imamku nanti.
Aku hidup dengannya hingga tua namun hingga hari ini
batang hidungnya pun tak pernah ku lihat, ayah, tidakkah ayah berpikir ini
berat bagiku, disaat teman-teman ku masih menggendong buku apakah aku sudah
harus menggendong seorang anak.
“nak, lakasi kaluar gen, tuh abah manunggui handak
maantar ikam kapuskesmas gasan imunisasi sabalum banikahan” ibu menghampiriku
dan berbicara dalam logat banjar bahasa dalam suku kami.
Dan akupun hanya bisa pasrah dan menyahut pelan
”inngih ma’ae ni ulun basiap-siap nah”.
Sebagai anak yang berbakti akupun harus menuruti
perintah orang tuaku yang ingin menjodohkan aku dengan anak jurangan kayu
dikampung sebelah.
Dengan bergegas aku mempersiapkan diri untuk pergi
bersama ayah ke puskesmas. Menyampirkan kerudung ku dengan rapi dan sedikit
bedak tipis agar tidak kelihatan pucat. Terdengar ayah memanggil dari luar “nak
lakasi abah mahadangi nah” kutengok ayah dari pintu dan berucap “inggech bah ne
siap nah” kembali bergegas aku menghampiri ayah, kutengok ayah sambil tersenyum
sudah duduk dengan tegak dikendaraan butut tercintanya.”hehe anakku nang bujang
nih babengkeng dahulu handak tulak, tahu bnar isuk handak dikawinakan” kata
ayah sambil mengusap sayang kepalaku.dan akupun hanya bisa cemberut manja.
Setelah kembali dari puskesmas dan turun dari kendaran
butut tercinta ayah, bergegas ibu menghampiriku “ kayapa tadi nak hudahkah
basuntiknya?” kata ibu dengan suara tidak terlalu nyaring bahkan hampir
berbisik. Dan akupun menyahut “inggih ma’ae sudah disuntik tadi ulun.” Kembali
ibu bertanya sambil menarikku kearah bangku teras. “disuntik apa tadi nak?
Disuruh baKB kah ikam nak?”. kembali aku menyahut” jar ibu dokternya inggih jar
ma’ae disuruh nang sabulan jar, ulun ni inggih’ae kda tahu fnk jaka pn
manggani’e tadi?”ujarku sambil tersenyum.” Haduh ikam ne nak’ae kaya kada tahu
haja kandaraan abah ikam tu sabuahannya buruk ha pulang.kayapa mama handak
umpat” kata ibuku sambil tertawa.
Lalu ibuku pun kembali masuk kedalam rumah membantu
ibu-ibu tetangga yang sedang bergotong royong dirumahku untuk mempersiapkan masakan
untuk pernikahanku besok.
Aku sedikit terenyuh melihat ibu dan ayahku telihat
sangat senang menanti pernikahanku, dari kemarin mereka tak henti-hentinya
tersenyum dan menyeru para tetangga untuk datang kepernikahan besok. Itulah
sebab kenapa aku sama sekali tidak tega mengatakan tidak ketika ibu
menyampaikan bahwa anak juragan kayu itu melamarku seminggu yang lalu.
Rasa-rasanya sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dari adik-adikku, aku
tidak tega kalau berlama-lam membebani mereka, dengan uang yang seada-adanya
untuk membiayai aku dan adik-adikku sekolah.aku berpikir mungkin inilah jalanku
berbakti dan aku hanya bisa mnerimanya dengan lapang hati karna calon suamiku
dari keluarga yang cukup berada ku pikir mungkin nanti aku bisa membantu bapak dan
ibu menyekolahkan adik-adik ku, tidak hanya sampai lulus aliayah sepertiku
namun aku bertekad bisa membantu mereka hingga adik-adikku menyelesaikan
kulyahnya. Mungkin niat untuk membahagiaka orang tuaku itulah yang menyebabkan
aku menolak melihat foto orang itu saat ditunjukkan kepadaku ketika lamaran itu
berlangsung diruang tamu dan aku hanya disuruh berdiam dalam kamar.
Hari mulai sore, segera aku masuk kedalam
rumah.kulihat ayah dan para tetanga lainnya pun bersiap merapikan peralatan
pertukangan merekaa setelah selesai dari kesibukan mempersiapkan tenda-tenda
untuk para undangan besok mengambil makanan.
ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR, tak terasa adzan maghrib
berkumandang bergegas aku mengambil wudhu, karna mungkin ini sholat berjamaah
terakhir bersama ayah, karna besok aku sudah dinikahkan bersama orang yang
belum ku kenal dan besok sudah akan menjadi suamiku yang seterusnya akan
menjadi imamku dalam tiap-tiap solatku nanti.
Setelah selesai solat maghrib lalu sholat isya ayah masih
memimpin wirid dan do’a. Kulihat ketika berdo’a mata ayah sedikit berkaca-kaca,
mungkin ayah juga sedih membayangkan besok beliau harus melepas anak
kesayangannya untuk hidup bersama orang lain. Lalu ku ikuti ayah menadahkan
tangan sambil berdo’a didalam hati:
Rabbi…
Di tengah air rahmat-Mu yang turun
membasahi ranah kami ini,
Aku memohon..
Ampuni segal dosa-dosa hamba, dan dosa-dosa kedua
orangtua hamba
Limpahkan segala rahmatmu kepada mereka.
Dan hamba berharap Bahwa laki-laki yang
hari ini akan meminang hamba
adalah yang terbaik untuk hamba.
jika ini memang yang terbaik untuk
hamba,
Maka dengan sangat bahagia hamba akan
menyimpan rasa ego
Dan mulai mencintai apa yang telah
menjadi tulisan-Mu..
Di hari ini, hamba berserah diri
kepada-Mu..
Mengharap Engkau akan membukakan pintu-pintu
keajaiban
Untuk diri hamba yang hina ini..
Hamba ingin menjaadi seperti Khadijah,
Yang mendapatkan suami terbaik untuk
dirinya yang juga terbaik..
Hamba juga ingin menjadi seperti
Aisyah,
Meskipun dini, namun ia mendapatkan
seseorang
Yang selalu menuntunnya ke arah yang
benar..
Hamba tak ingin mendahulukan-Mu Ya
Rabbii..
Hamba hanya ingin Engkau memilihkan
untuk hamba,
Layaknya Engkau memilihkan untuk
Khadijah dan Aisyah..
Hingga detik ini, hamba masih berharap
bahwa
Engkau akan memberikan hamba yang
terbaik, dari yang baik..
Kuatkan hamba, dan teguhkan keyakinan
hamba Ya Allah..
Ku tutup do’a sederhana itu dengan do’a terakhir yang
dari dulu telah diajarkan kepadaku” rabbighfirly waliwalidayya warhamhuma kama
rabbayani shaghira...amien”
Dan kemudian mencium tangan mereka untuk memohon maaf
atas segala kesalahan-kesalahan selama ini.
Selesai dengan ibadah itu kemudian akupun disuruh
luluran dan “batimung” dalam suku banjar, karna menurut yang aku dengar bahwa
batimug itu akan membuat pegantin akan terlihat lebih cantik dan wangi, karna
bersamaan dengan jatuhnya keringat yang mengalir maka akan jatuh pula segala
kotoran yang ada dibadan. Setelah selesai semua ritual itu barulah aku
diperbolehkan istirahat. Sebelum berbaring dan tidur ku sempatkan terlebih
dahulu mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam dan sholat istikharah,
agar jalan yang kulewati besok berjalan lancar dan meyakinkan keputusan yang
aku ambil tidaklah salah. Barulah setelah itu aku mulai berbaring dan
memejamkan mata untuk menjemput sang mimpi yang sedang menantiku.
Pagi itu....
Pagi ini...kebali sang mentari meyapaku dengan hangat
dengan lembutnya sang embun yang menyegarkanku.tak terasa hari ini adalah hari
H pernikahanku, sampai subuh tadipun aku bangun dan melaksanakan sholat subuh
aku masih belum bisa percaya inilah saatnya aku meninggalkan orang tuaku untuk
hidup bersama orang lain yang sama sekali belum ku kenal. Namun ketika melihat
hiruk pikung para tetangga yang berlau lalang dengan kesibukan masing-masing untuk
mempersiapkan pernikahan dirumah, barulah aku benar-benar tersadar. inilah
saatnya, saat dimana orang itu akan datang menjemputku dengan satu kalimat ijab
qabul yang diucapkannya gelar ibu rumah tangga pun akan segera ku sandang.
Ingin rasanya menangis dan lari kepangkuan ibu untuk mengatakan betapa ini
menakutkanku, bagaimana mungkin ibu mempercayakan aku kepada orang yang sama
sekali belum aku kenal. Namun aku tidak akan tega mengatakan itu kepada beliau
aku begitu mnyayangi kedua orang tuaku dan sampai sejauh ini mana mungkin aku
tega mebuat mereka bersedih atas sikapku yang belum dewasa, biarlah semua hanya
ada dipelupuk mata dan tersimpan dalam hati.
Tak terasa rumah pun sudah mulai ramai tidak hanya
dipenuhi oleh ibu-ibu tetangga yang mempersiapkan hidangan namun juga para tamu
undangan dan kerabat jauh yang mulai berdatangan. Ibu perias pengantin pun
sudah datang dan segera ingin meriasku, sambil perias itu bekerja diapun
mengajakku berbincang-bincang sambil meredakan kegugupanku “nak kada ush gugup,
sabarataan anak babinian cagar dikawinakan jua, mungkin ikam talakas naham pada
nang lain” mendengar itu rasanya semakin ingin air mataku meleleh namun segera
kutahan, aku tidak ingin membuat riasan yang susah payah dibingkainya diwajahku
akan sia-sia dan berantakan aku hanya
bisa mengangguk dan menyahut pelan”inggih pang cil’ae”. Setelah selesai dia
merias dan memekaikan aku baju pengantin kebaya putih itu. Kudngar ibu-ibu dari
luar bercakap-cakap bahwa pengantin pria sudah datang dan bersiap duduk untuk
melaksanakan ijab qabul. Aku semakin gugup tak terkira inikah saatnya, Ku
dengar sayup-sayup mereka serentak mengatakan “sah”. Aku tak
kuat menahan
bendungan air mataku. Ikhtiarku usai sudah. Tak lama kemudian, ayah masuk ke dalam kamarku dan mendapatiku tengah duduk
di depan cermin. Ibu perias
tadi sudah keluar dari kamarku sebelum ijab qabul itu dimulai. Mushaf yang
tadinya kupegang, kini kuletakkan di dadaku. Tak kupedulikan lagi
riasanku akan
luntur atau tidak.
“Nak,” Panggilnya. Suara lembut dan bijaksana itu
memanggilku .Namun
aku sama sekali tak berani menatapnya. Aku hanya bisa menunduk.
“Keluar gen nak, itu laki wan kami barataan mahadangi ikam di luar.” perintahnya masih dengan suara lembutnya yang sedikit bergetar. Aku
menghapus butiran air mataku. Lantas mengikuti jejak kaki ayah. Tak tahu lagi apa yang harus aku perbuat.
“Duduk nak,”
Suruh Ayah. Aku masih tetap menunduk dan tak berani memandang wajah mas farhan yang sudah menjadi suamiku ini. “Ayo, silakan pakaikan cincin di jari istrimu.” Suruh Pak
Penghulu pada suamiku. Beliaupun menurutinya. Setelah itu, aku mencium tangan
Mas Farhan.
Seusai menciumnya, aku memberanikan
diri memandang wajah Mas Farhan.
“ALLAHU AKBAR!!!” Aku bertakbir di
dalam hatiku. Allah menjawab semua do’a dan
harapanku. Ribuan syukur tak henti-hentinya aku ucapkan.
Inilah kali pertama aku memandang wajahnya. Wajah ini
wajah yang telihat sendu dan bercahaya, telihat dia seperti orang yang pandai
beribadah,tidak heran ayah memilihkannya untukku.kulihat dia tesenyum dengan
indah menghilangkan semua rasa pensaranku tentang sosoknya selama ini.
Aku memandang Ayah dan memandang wajah
suamiku ini. Mereka tersenyum kepadaku. Dengan seketika senyumpun mulai terkembang di bibirku.
“Alhamdulillah Ya Allah.” Aku
berbisik.
kucium tangan suamiku yang seketika itu pula aku langsung mencintainya. Yah,
mencintainya karena Allah.
Berselang satu tahun...
Malam itu,,,,
aku melemparkan senyuman manis
kepadanya. Farhan memeluk lembut bahuku dan kami bergerak seiring
menuju ke kamar.
Untuk kesekian kalinya aku jatuh
cinta pada lelaki pertama yang muncul dalam hidupku. Tidak pernah ada yang kedua atau ketiga tetapi
hanya yang pertama dan terakhir bagiku. Kini, aku dapat merasakan kebahagian dalam menapaki
bahtera
rumah tangga bersama suami kesayanganku, farhan ramadhan. Ayah, terima kasih dengan
pilihan ayah ini. Unilah hadiah terindah dari ayah, hadiah syurga. Yang tidak
hanya hadiah syurga yang akan membahagiakan didunia, namun juga hadiah syurga
yang akan membimbingku meraih bahagiaan di akhirat nanti.
Ya Allah, aku mohon kepadaMu, Kau
kekalkan kebahagiaan yang kami kecap ini untuk selama-lamanya.
-------------------------------------------------------









1 komentar:
Harrah's Philadelphia Casino and Racetrack - Mapyro
Harrah's Philadelphia is 사천 출장안마 a 성남 출장샵 casino in Chester, Pennsylvania and owned by 이천 출장마사지 the Harrah's 화성 출장마사지 Philadelphia Entertainment Corporation.Owner: Harrah's Entertainment CorporationLocation: Chester, PA 충주 출장마사지 Rating: 2.9 · 16 votes
Posting Komentar