Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T10


PENDEKATAN DAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Muhammmad Fadli Al Fudhail


Pendekatan Komunikasi Pembangunan
Dari hasil kajiannya terhadap beragam pendekatan pembangunan yang dikembangkan dibeberapa Negara ketiga Asia, Rahim (Schramm dan lerner, 1976) menyimpulkan tentang adanya tiga macam pendekatan komunikasi pembangunan.
Dari ketiga pendekatan tersebut, disampaikan informasi tentang pengalaman penerapannya diempat Negara, yaitu:
a)    Pendekatan pendidikan dan komunikasi pembangunan, di Bangladesh dan Korea.
b)    Pendekatan melalui media massa, di India.
c)    Pendekatan agitasi ideologis dan mobilisasi massa, di Cina.

1)    Model pendekatan pendidikan dan komunikasi pembangunan di Bangladesh dan Korea.

Model pendendekatan komunikasi pembangunan yang diterapkan di Bangladesh ini dikenal sebagai model Commilia Academy yang dipelopori oleh seorang akademisi yaitu Akhter Ahmed Khan yang memilih bekerja dipedesaan dari pada jabatan sebagai birokrat (Hakim Agung).
Pendekatan (pendidikan) komunikasi pembangunan ini, berlandaskan pada pendekatan inter-personal melalui tenaga-tenaga fasilitator atau komunikator kunci yang berfungsi ganda, yaitu:
1.    Melakukan pengujian terhadap inovasi dan demostrasi,
2.    Mengomunikasikan inovasi, yang secara teratur mengunjingi, “sasarannya” yang berada diwilayah kerjanya untuk menyampaikan dan mengajarkan inovasi tersebut,
3.    Berusaha untuk menggerakan penerima manfaatnya untuk berfartsipasi didalam kegiatan pembangunan.
Proyek commilia ini terbukti banyak mencapai keberhasilan, yang terutama disebabkan oleh adanya beragam dukungan berupa :
a.     Kepribadian pencetus ide (Ahmed Khan), yang memenuhi persyaratan sebagai innovator yang berkualitas tinggi, dengan ditopang oleh banyak tenaga ahli (baik didalam negeri sendiri maupun didatangkan dari luar negeri).
b.    Otonomi besar yang diberikan oleh penguasa (pemerintah) untuk dengan bebas (sesuai dengan pengalamannya sebagai guru besar dan hakim) merancang dan melaksanakan kegiatannya yang sangat beragam diberbagai lokalitas wilayah pembangunan yang dipilihnya.
c.     Keterbukaan atau keleluasaan untuk memperoleh informasi dari berbagai pihak (baik dari kalangan perguruan tinggi, peneliti, birokrat, politisi, dan masyarakat luas).
d.    Dukungan dana yang sangat besar, diantaranya dengan menggunakan dana bantuan luar negeri.

Berbeda dengan model pendekatan pendidikan dan komunikasi pembangunan yang diterapkan di Bangladesh, model Sea Maul Undong adalah pendekatan pendidikan dan komunikasi pembangnan yang diterapkan di korea, yang merupakan satu-satunya model komunikasi pembangunan yang direncanakan dari “bawah” (bottom up planning) yang dilaksanakan oleh “mother’s Club” dikalangan perempuan di pedesaan (semacam PKK di Indonesia).
Semula kelompok ini ditumbuhkan oleh seorang Kepala Desa (yang kebetulan permpuan) dalam rangka kampanye Keluarga Berencana. Tetapi kemudian berkembang untuk melaksanakan pembangunan masyarakat dibanyak bidang (pembibitan tanaman, kerajinan, dan lain-lain).
Pelajaran yang dapat diambil dari keberasilan program sea maul undong ini adalah :
a.     Komunikasi pembangunan harus dilakukan oleh orang-orang atau lembaga yang memiliki status peran yang kuat didalam masyarakat.
b.    Keberasilan pembangunan tidak harus dlakukan melalui jalur birokrasi, tetapi dapat dilaksanakan melalui kelompok kecil dari lembaga swadya masyarakat (LSM) atau organisasi non pemerintahan/ORNOP (non government organization/NGO).
c.     Pembangunan dapat dilaksanakan dengan berhasil, jika anggota masyarakat berfartisipasi penuh (meskipun melalui kelompok-kelompok kecil) atas dasar adanya kesadaran tentang masalah yang dihadapi.

2)    Model pendekatan media massa di India

Model pendekatan media massa yang diterapkan dalam komunikasi pembangunan di India ini, dirumuskan dari hasil penelitian komunikasi yang dlaksanankan dinegeri tersebut, khususnya penelitian tentang komunikasi pembangunan yang menggunakan media massa (radio, TV, film, dan surat kabar) yang dilaporkan oleh Dube.
Pendekatan ini hanya dilakukan melelui radio yang ditunjang dengan pembentukan forum-media atau kelompok belajar yang dilengkapi bahan-bahan tertulis.

3)    Model pendekatan agitasi ideology dan mobilisasi massa di Cina

Model komunikasi ini merupakan model pendektan komunikasi pembangunan yang diterapkan dalam pelaksanaan Landrefom di Cina pada tahun 1949, yang menggantikan system penguasaan berdasarkan kekerabatan dengan sisitem produksi kolektif. Pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan media massa sebagai media agitasi (untuk penyimpanan pesan ideologis) yang dibarengi dengan pendekatan inter-personal untuk menggerakan kelompok-kelompok tradisional dalam rangka mobilisasi massa untuk melaksanakan program-program pembangunan yang digerakan oleh kader-kader pembangunan (change agent).

Terbesar dari system politik yang dianut Cina, model pendekatan komunikasi pembangunan ini dinilai sangat berhasil. Keberasilan itu terletak pada :
1)    Penggunaan media massa yang secara luas dan terus menerus untuk melakukan agitasi melalui penyampaian pesan ideologis tentang keburukan-keburukan system lama dan keunggulan system baru yang mampu membakar semangat masyarakat luas untuk memerangi system “lama” tersebut.
2)    Penggunaan kelompok tradisional yang secara historis telah memiliki pengaruh , kekuatan, dan solidaritas sosial yang mapan, serta kekuasaan untuk menggerakan partisipasi masyarakatnya.
3)    Keompok-kelompok tradisional beranggotakan orang-orang yang memiliki sikap “kebersamaan” yag diakibatkan oleh kesamaan nasib.
4)    Adanya kesadaran msyarakat untuk mengubah dan memperbaiki nasib, dari kelas mana yang selama ini tertindas, secara bersama-sama dalam system produksi yang kolektif.
5)    Kader-kader partai yang menggantikan fungsi raja kecil didalam system kekaisaran.

Strategi komunikasi pembagunan
Berbeda dengan pemahamannya tentang “pendekatan” yang oleh Axinn (1988)  disebut ebagai suatu “gaya” yang menentukan dan harus di ikuti oleh semua pihak dalam system yang bersangkutan (the style of action with in a system) atau “pendekatan” ibarat bunyi kendang yang harus diikuti penabuh gamelan dan penarinya, “strategi” digunakan untuk mendefinisikan rancangan operasionalnya yang akan dipilih untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan dan kegiatannya.

1)    alternatif plihan strategi
Van De Ban dan Hawkins (1985) menawarkan adanya tiga strategi yang dapat dipilih, yaitu : rekayasa sosial, pemasaran sosial, dan partisipasi sosial.
Menagcu pada tawaran pilihan strategi tersebut, Mardikanto (1995) menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada strategi komunikasi pembangunan yang selalu efektif dan baik untuk semua kelompok penerima manfaat, karena pilihan strategi tergantung motivasi fasilitatorr dan perlu memperhatikan kondisi kelompok penerima manfaat.

2)    kondisi prioritas dan penunjang
Yang dimaksud dengan kondisi prioritas adalah sesutau yang harus ditunjukan sebelum seorang fasilitator mengharapkan suatu keberhasilan dari kegiatan komunkasi pembangunan yang akan dilaksanakan. Beberapa kondisi prioritas minimum yang perlu dipertimbangkan dala hal ini adalah:
a.     kemampuan fasilitator untuk berkomunikasi
b.    tersedianya suatu system (sarana) penunjang yang memungkinkan fasilitator dan kliennya  melakukan sesuatu yang ingin mereka lakukan.
c.     Adanya kebijakan pemerintah yang memungkinnya para fasilitator dan klienya melakukan apa yang mereka ingin lakukan dalam upayanya untuk memperoleh suatu manfaat atau imbalan tertentu (baik yang sifatnya ekonmis maupun sosial).

Ø Kemampuan fasilitator untuk berkomunikasi dengan masyarakat
Keberhasilan seorang fasilitator sangat tergantung pada kemampuannya berkomunikasi. Tentang hal ini, fasilitator harus memiliki latar belakang kehidupan yang sama atau setidak-tidaknya jangan bertentangan dengan adat, kebiasaaan, dan budaya penerima manfaat.
Ø Tersedianya system penunjang
Setiap fasilitator harus didukung oleh system penunjang yang mampu mengembangkan persediaan informasi ilmiah mutakhir, baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, maupun untuk memenuhi kebutuhn penerima manfaatnya.

·     System penunjang untuk penerima manfaat
Dalam banyak kasus, penerima manfaat sering memerlukan layanan penunjang untuk menerapkan inovasi yang direkomendasikan. Setidak-tidaknya adalah penyalur sarana produksi yang diperlkan sampai dilokasi penerima manfaat, kredit produksi, jalan dan sarana pengangkutan dari lokalitas usaha ke/dari pasar untuk menjual produk atau membeli saran ayang diperlukan bagi usahanya, serta system informasi yang menyediakan inovasi (ide baru, cara-cara yang perlu diadopsi oleh penerima manfaat).
·     Kebijakan penunjang dari pemerintah
Kebijakan atau hal-hal yang dituntut pemerintah, harus cukup luwes untuk mengijinkan para fasilitator membantu masyarakat agar dapat mencapai tujuan-tujuan pribadinya, agar terkait langsung maupun tidak langsung denga yang ditetapkan oleh pemerintah. Kebijakan tersebut harus dapat diarahkan untuk merngsang masyarakat untuk mengadopsi inovasi ( seperti kredit, produksi, jaminan pasar, insentif harga, dll).
·     Klien fasilitator
Untuk membantu penerima manfaatnya, setiap fasilitator perlu bekerja sama dengan berbagai pihak yang terlibat dalam kegitan pelayanan pembangunan. Adanya lembaga-lembaga pelayanan dan pemberi informasi yang baik, akan sangat membantu pemberian informasi dari luar kepada masyarakat.

3)    penerima manfaat komunikasi pembangunan
didalam proses komunikasi pembangunan setiap fasilitator pertama tama harus dapat bekerja sama dengan masyarakat dan penyedia atau pemberi pelayanan penunjng bagi keberasilan pembangunan. Tetapi, dalam banyak ha, seorang fasilitator perlu memperhatikan pihak-pihak lain yang akan mempengaruhinkeberasilan kegiatannya, yang meliputi :
-        pemegang posisi atau pemilik pengaruh tingkt local, yang biasanya terdiri atas : pemuka agama, penguasa local, tokoh-tokoh politik, dan pegawai negeri (khususnya guru, ABRI).
-        Para perintis (innovator, pemuka pendapat, dan pihak-pihaklain yang secara potensial menjadi tokoh masyarakat).
-        Ibu-ibu rumah tangga, sebab pengambilan keputusan tidak perlu dilakukan oleh kaum pria (selaku kepala keluarga) saja.
-        Anggota keluarga yang lain, sebab dalam banyak hal, penerima manfaat komunikasi lebih efektif jika disampaikan kepada seluruh anggota keluarga, dan bukannya secara individual.

4)    konsekuensi dari filosofi kegiatan fasilitator
setiap melakukan kegiatannya, seorang fasilitator selalu dilandasi filosofi untuk membantu penerima manfaatnya. Tetapi pertanyaan yang selalu muncul dalam hubungan ini adalah :
-        kepada siapa komunikasi pembangunan ini diarahkan, atau siapa yang diharapkan oleh fasilitator untuk datang kepadanya.
-        Dengan siapa fasilitator tersebut dapat berinteraksi secara lebih sejajar dan bukannya berhubungan seperti layaknya antara guru dengan yang diguruinya.

Sehubungan dengan itu, muncul arrgumen-argumen yang memusatkan pada:
-        Kegiatan komunikasi pembangunanyang dilakukan maupun apa yang dapat dilakukan para fasilitator, tergantung pada kehadirannya.
-        Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana mereka berinteraksi dengan warga masyarakat, harus berlandaskan pada hubungan antara guru dan murid.

a.     Antara pencari dan penunggu informasi
Bertolak dengan cara para “penerap lambat” memperoleh informasi dan kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan sebelum mengadopsi suatu inovasi, beberapa fasilitator berpendapat bahwa: perhatian harus dipusatkan kepada mereka yang benar-benar memerlukan atau mencari bantuan.
Mereka ini sebagian besar tergantung pada bujukan para “panutannya”. Dengan demikian upaya penyampaian informs kepada warga masyarakat yang dilakukan melalui kerja sama dengan mereka yang mencari informasi (umumnya adalah para perintis dan pelopor) akan merupakan proses yang lebih dikenal dengan “perembesan ke bawah” atau “trickle down diffusion”.
Mereka yang sependapat dengan pandanga ini umumnya berargumen bahwa:
-        Setiap individumemiliki hak untuk memilih segaa sesuatu yang diinginkan  atau apa yang dikehendakinya.
-        Setiap idividu selalu bekerja dari apa yang pernah dipelajari atau pernah dilakukannya.

b.    Hipotesis kesenjangan pengetahuan
Hampir sama dengan kasus yang telah dikemukakan diatas, banyak kegiatan komunikasi pembangunan yang berlandaskan pada hipotesis yang menyatakan bahwa komunikasi pembangunan harus dirancang dan disalurkan kepada mereka yang memiliki pendidikan relative lebih rendah.
Pemahaman seperti ini dilandaskan pada pendekatan “ memberi yang harus diberi dan mengambil dari apa yang tidak memerlukan”. Melalu pengendalian program-program pendidikan yang dibuat agar dapat tersedia bagi masyarakat kelas bawah. Tetapi, landasan kerja seperti itu, sering sangat sulit untuk dilaksanakan. Sebab, penerima manfaat yang memiliki pendidikan rendah , umumnya adalah golongna miskin. Seingga, jika landasan kerja itu dilaksanakan akan memerlukan kegiatan ekstra keras, memerlukan banyak waktu, biaya, tenaga mauun pikiran, tetai hasilnya seringkali tak kelihatan. Sebaliknya, jika komunikasi pembangunan diarahkan kepada golongan masyarakat yang berpendidikan tinggi, akan dilaksanakan dengan lebih mudah, ringan, cepat, dan hasilnya dapat dibanggakan, tetapi berakibat pada semakin melebarnya kesenjangan antara lapisan bawah dengan lapisan atas.

c.     Pendekatan “Top Down” vs Interaksi
Penelitian-penelitian untuk menghasilkan inovasi umumnya diakukan oleh para propesional yang pada umumnya memiliki pendidikan (formal) yang lebih baik/tinggi dibandingkan para masyarakat penggunanya.
Oleh sebab itu, cara yang terbaik ialah menggabungkan teknik “top down” dengan  “interaksi” yaitu:
Para peneliti dan fasilitator mengaarkan inovasi (sesuatu yang baru) kepada penerima manfaat dan pada waktu yang sama mereka harus mau mendengarkan an belajar dari massyarakat penerima manfaatnya.
Melalui cara ini, setiap komunikasi pembangunan akan dapat menjalani interaksi dengan penerima manfaatnya, baik dalam fungsinya untuk menyalurkan informasi (inovasi) dan menerima umpan balik dari masyarakat penerima manfaat untuk dianalisasi atau diteruskan kepada sumber informasi yang bersangkutan (peneliti, pakar, penentu kebijaksanaan).

d.    Peran fasilitator dan peninjauan kembali atas Strategi-strateginya.
Sehubungan dengan fungsi pengintegrasikan ini, para fasilitator juga perlu untuk memahami peubah-peubah yang mungkin menyebabkan keragaman tentang peran bantuan bagi masyarakat melalui mana mereka harus bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
·     Perencanaan
Dalam kaitan ini, perencanaan harus dikerjakan bersama kelompok masyarakat, situasi dan tujuan-tujuan
·     Program dan pemograman
Setiap program harus mencakup :
1.                Isu yang ditonjolkan
2.                Rencana tentang strategi perubahan
3.                Saluran komunikasi da sis program yang digunakan
4.                Masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatannya
5.                Penerima manfaat dan tujuan  khusus yang diinginkan dan pentahapan partisipasi mereka dalam setiap upaya pendidikan yang direncanakan
6.                Rencana arian dan kegiatannya.
·     Isu-isu kelayakan
Apa yang diharapkan harus sesuaikan denga tenaga kerja yang tersedia, kegiatan-kegiatan penunjang dan sumber daya lain.

5)    upaya meningkatkan dampak ganda dari kegiatan
seorang fasilitator perlu membayangkan pengembangan cara-cara untuk memperoleh dampak ganda (multiplier effect) dari apa yang dikerjakan. Dampak ganda dari kegiatan yang dilakukan dalam komunikasi pembangunan adalah seberapa jauh kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat diharapkan adanya kegiatan lanjutan yang dapat dilaksananakan sendiri oleh masyarakat dengan sedikit (atau sama sekai tidak) memerlukan bantuan fasilitator yang bersangkutan.
Beberapa upaya untuk memperoleh dampak ganda dalam pelaksanaan komunikasi pembangunan dapat dilakukan melalui:
-        pembentukan forum  media sebagi media komunikasi pembangunan
-        melibatkan sebagian warga masyarakat dalam progam-program pendidikan.

Terkait dengan strategi komunasi pembangunan  terdapat tiga hal yang harus diperhatikan demi tercapai nya tujuan-tujuannya yaitu, (pacem et al, 1979) :
a.     To secure understanding, dalam arti memastikan baha penerima manfaat benar-benar memahami atau mengerti makna pesan/inovasi yang disampaikan oleh fasilitatornya.
b.    To establish acceptance, yaitu memantabkan pemahaman penerima manfaat agar apa yang akan dilakuka benar-benar sesuai dengan yang diharapkan fasilittornya, melali pendampingan dan fasilitasi yang berkelanjutan.
c.     To motive action, atau memotavasika agar penerima manfaat segera melaksanakan informasi dan atau penerapan inovasi, yang dibarengi dengan kesiapan fasilitator untuk memberikn peran bantuan yang dibutuhkan.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar