Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

RESUME PUBLIC RELATIONS IX


MEDIA RELATIONS
Muhammad Fadli Al Fudhail


A.    Pengantar
Media masa merupakan sarana yang paling ampuh untuk mendukung kegiatan humas atau public relations. Kekuatan media massa dapat membentuk opini terhadap ide atau gagasan di ruang publik. Bagi seorang pelaksana humas atau PR yang cerdas dan memiliki kemampuan menciptakan hubungan yang harmonis dengan media, adalah salah satu sukses.
Satu hal yang pasti dan perlu diingat, kehadiran media atau singkatnya disebut pers sebagai salah satu pranata sosil, memiliki siifat yang melembaga. Dalam arti setiap peliputan berita, secara langsung dapat memberikan refleksi atau cerminan akan kehidupan masyarakat. Karena peran reporter di media cetak atau media penyiaran untuk meliputi peristiwa dan menyajikannya menjadi berita aktual, secara potensial dapat membentuk opini khalayak.
Dalam dimensi politik media, saat ini seorang pelaksana humas atau PR haruslah menyadari, kehadiran seorang wartawan/reporter dalam meliput berita, hendaklah disadari bahwa media masa merupakan sarana pendidikan dan akses informasi bagi publik yang sudah terdidik. Penyajian berita politik dan peristiwa sosial yang di rekonstruksikan dalam bahasa simbolik yang keras dengan unsur provokasi, sensasional, secara perlahan-lahan, dan pasti akan ditinggalkan oleh publik pembaca.
PR dan media massa harus mengakui bahwa fakta kedua pihak sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Dimana lembaga pemerintahan dibutuhkan sebagai sumber berita mereka, sedangkan media massa dibutuhkan lembaga sebagai sarana efektif dalam menyampaikan pesan. Meskipun kadang ada saling ketidakpuasan, tetap keduanya hidup dalam sebuah ikatan. Suatu ikatan yang disebut sebagai mutual depedensi(saling ketergantungan).
B.     Konsepsi dan Penafsiran Profesi Jurnalistik
Secara konsepsial profesi jurnalistik diterjemahkan sebagai komunitas masyarakat yang memiliki kemampuan, pengetahuan, dan beretika. Penafsiran tersebut memberikan implikasi bahwasanya, agar dapat menjamin terselenggaranya kegiatan public relations atau humas dapat dipercaya dan disosialisasikan kepada publik, adalah dari peran reporter. Keberadaan seorang reporter untuk meliput kegiatan publiic relations atau humas, merupakan suatu kontribusi.
Makudnya setiap peliputan peristiwa oleh media secara fungsional dapt memberikan sinyalemen, peringatan, dan indikasi dari suatu fakta. Namun seorang reporter juga diingatkan, bahwa mereka sebagai insan pers tidak memiliki wewenang untuk melakukan penindakan atau enghakimi terhadap anggota masyarakat dan aparat negara yang telah melanggar tertib hukum.
C.     Himbauan Moral
Idealnya ketika reporter mencoba meliput peristiwa serta merekontruksi menjadi realittas sosial pada diri khalayak, maka terciptalah repruduksi makna. Pada tahap lanjut diharapkan makna tersebut dapat ditafsirkan oleh khalayak sesuai pengalaman individunya. Dalam banyak pengertian, berita diberi pengertian sebagai berikut “news is a new piece of information about a significant and recent event that effects the listeners and  is of interest to them”.
Berasarkan batasan berita tersebut, dapatlah diberi pengertian bahwa berita merupakan sepotong informasi yang signifikan dari suatu peristiwa akhir, dan memberikan dampak bagi kepentingan publik. Implikasinya terhadap praktek jurnalistik, adalah sebagai berikut:
1.    Dalam suasana yang transfaran saat ini, kebebasan para reporter untuk menyusun reportase penyajian berita merupakan salah satu refleksi dari pada kebebasan berbicara dan berpendapat, dan merupakan sendi dari kehidupan demokrasi. Pers dalam pranata sosial dalam ala reformasi yang bebas dan bertanggungjawab, sesuai dengan filosofi lingkungannya.
2.    Suatu reportase pers terhadap dinamika yang terjadi ditengah masyarakat pada saat ini, telah memberikan arti; pertama, pers harus dapat menyakinkan dirinya terlebih dahulu terhadap pemahaman makna pemilu yang bebas, jurdil dan rahasia sebagai salah satu ciiri demokrasi. Kedua, kegiatan reportase untuk meliput isyu tentang pemilu 2009 atau tragedi meletusnya gunung merapi.
3.    Satu keyakinan untuk rekan jurnalis, hasil dari reportase yang disajikan melalui media bukanlah untuk dibaca, didengar, dan ditonton sendiri, melainkan untuk disebarkan kepada khalayak luas.
D.    Mengapa Harus Profesional
Profeersionalisme wartawan atau reporter ketika menjalankan fungsinya secara moral mengandung makna:
·      Insan pers adalah kelompok komunitas yang memiliki kemampuan untuk membentuk opini masyarakat melalui kegiatan jurnalistik.
·      Insan pers adalah kelompok komunitas yang memiliki hak istemewa seperti: hak untuk memperoleh informasi, hak tolak, hak jawab, dan hak koreksi secara proporsional.
E.     Implikasi Terhadap Kebebasan Pers
Bagi pelaksan humas atau PR perlu mempertimbangkan implikasi dari kebebasan informasi, utamanya dalam kaitan hubungan dengan media.  Bukan tidak mungkin para reporter di media cetak yang menjalankan fungsi jurnalistiknya, sedikit banyak bersinggungan dan berhadapan dengan banyak kelompok kepentingan.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bagi pelaksana humas atau PR ketika berhadapan dengan keadaan tersebut, yaitu:
1.    Kehadiran akan peran dan tanggungjawab reporter dimasa ini, bukanlah suatu pengecualian untuk mengasingkan diri dalam melakukan karya jurnalistik. Dimasa ini sangat dibutuhkan kehadiran seorang reporter yang memiliki visi dan misi tanggungjawab untuk meliput berita yang dapat menumbuhkan iklim kesadaran untuk berbangsa, bukan sebaliknya. Pendewasaan politik rakyat hanya mungkin dilakukan salah satunya melalui penyajian berita yang sehat dan objektif.
2.    Kontrol sosial yang dijalankan pers terhadap segala bentuk kebijakan yang dijalankan serta dikembangkan oleh lembaga pemerintah,swasta, dan masyarakat juga tanggungjawab pers. Berkaitan dengan itu, peliputan berita oleh seorang reporter, secara potensial dapat membentuk opini publik.
3.    Dinamika dari keberadaan reporter didalam menjalankan misinya selalu berada pada posisi yang mengemban panggilan tugas aktif, dinamis, dan kreatif untuk ikut mengantarkan masyarakat kearah proses pendewasaan diri dari kemajuan  zaman.
F.      Tiga Pendekatan
Tiga pendekatan yang lazim digunakan oleh humas atau PR, yaitu:
1.    Pendekatan reaktif : pendekatan yang dilakukan oleh pelaksana humas atau PR terhadap media.
·      Pahamilah tenggat waktu
·      Selalu siap untuk melakukan percakapan dengan telepon
·      Tempatkan diri anda dalam kepentingan reporter
·      Upayakan keseimbangan informasi
·      Jangan bohong
·      Jangan mengemis
2.    Pendekatan proaktif : pendekatan yang dilakukan oleh pelaksana humas atau PR, dengan cara;
·      Mengetahui pesan yang ingi dikirim
·      Pesannya jelas, lugas dan langsung
·      Media yang digunakan menurut prioritasnya
·      Memilih reporter atau editor
·      Utamakan nilai publikasi yang mengandung nilai berita
·      Siapa pihak  ketiga dan apa kata mereka
·      Sampaikan siaran pers yang dapat menarik reporter tidak tertarik
3.    Pendekatan interaktif : model pendekatan yang dilakukan oleh pelaksana humas atau PR yang meliputi;
·      Diskusikan isu yang menarik untuk dipublikasikan
·      Jadilah narasumber yang handal dan dipercaya
·      Selalu berfikir dalam terminologi kebutuhan dan tenggat waktu
·      Utamakan eklusifitas subyek, tujuan organisasi, keterbukaan hukum, dll
·      Bicaralah secara singkat padat dan jelas
·      Reporter memiliki waktu terbatas
G.    Karakteristik Media
Karakteristik media dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.    Surat kabar harian, megutamakan aktual berita,ttengang waktu, sangat ketat.
2.    Surat kabar mingguan, punya staf redaksi, editorial yang terbatas.
3.    Majalah regional/nasional, memiliki SDM yang beragam, tergantung kepada luas sirkulasi dan pendapatan iklannya.
4.    Majalah perdagangan, tenaga editornya terbatas, subyeknya terfokus, mengutamakan visi dan misi lembaga atau instansi,
5.    Newslater/warkah warta biasanya hanya pada subyek tertentu saja dan cenderung untuk sangat rinci dengan pendekatan mendalam.
6.    Televisi, pelputan mengutamakan spot news yang memiliki nilai hiburan, sensualitas, juga feature.
7.    Radio, menetapkan jam siaran yang potensial bagi khalayak pendengar untuk jenis pemberitaan.
H.    Karakteristik Wartawan
Lazimnya bagi pelaksana humas atau PR, perlu juga mengetahui karekteristik reporer media, antara lain:
·      Reporter tidak menyukai suasana protokoler.
·      Mereka dikejar “tenggat waktu atau deadline”.
·      Mereka lebih menyukai persahabatan.
·      Perlakukan mereka secara eksklusif, karena mereka membutuhkan.
Hal yang dilakukan humas atau PR ketika berhadapan dengan median yaitu:
1.    Buatlah kliping media, dan lakukan analisis isi media, dengan cara memilah-milah bagian pemberitaan mana yang tidak benar dan pencemaran nama baik, serta melanggar kode etik etika jurnalistik.
2.    Lakukan hak jawab sebagai nara sumber.

3.    Tetapkan tuntutan yang kita inginkan atas kelanjutan pelaksanaan hak jawab tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar