Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T7


ADOPSI DAN DIFUSI INOVASI
Muhammad Fadli Al Fudhail

Pengertian Adopsi
Adopsi, pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psychomotoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan fasilitator oleh masyarakat penerima manfaatnya.
 Adopsi, benar-benar merupakan proses penerimaan sesuatu yang “baru” ag ditawarkan dan diupayakan oleh pihak lain (fasilitator).
Proses adopsi inovasi juga dapat didekati dengan pemahaman bahwa proses yang diupayakan secara sadar demi tercapainya tujian pembangunan.
Sebagai suatu proses, pembuangunan merupakan proses interaksi dari banyak pihak yang secara langsung maupun tak langsung terkait dengan upaya peningkatan produktivitas dan peningkatan pendapatan serta perbaikan mutu-hidup, melalui penerapan teknnologi yang terpilih (Mardikanto, 1988).
Berlandaskan pada pemahaman seperti itu, dapat disimpulkan beberapa pokok-pokok pemikiran tentang adopsi inovasi kaitannya dengan pembangunan, sebagai berikut:
1.      Adopsi inovasi memerlukan proses komunikasi yang terus-menerus untuk mengenalkan, menjelaskan, mendidik, dan membantu masyarakat agar tahu, mau, dan mampu menerapkan teknologi terpilih(yang disuluhkan).
2.      Adopsi inovasi merupakan proses pengembalian keputusan yang berkelanjutan dan tidak kenal berhenti, untuk: memperhatikan, menerima, memahami, menghayati, dan menerapkan teknologi terpilih yang disuluhkan.
3.      Adopsi inovasi memerlukan kesiapan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam praktek berusahatani, dengan memanfaatkan teknologi terpilih (yang disuluhkan).

Tahapan Adopsi
Tahapan-tahapan adopsi itu, seperti dikenalkan oleh Rogers(1961, 1969, 1983) adalah:
1.      Awareness, atau kesadaran, yaitu penerima manfaat mulai sadar tentang adanya inovasi yang ditawarkan oleh fasilitator.
2.      Interest, atau tumbuhnya minat yang seringkali ditandai oleh keinginannya untuk bertanya atau untuk mengetahui lebih banyak/jauh tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan oleh fasilitator.
3.      Evaluation atau penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi yang telah diketahui informasinya secara lebih lengkap.
4.      Trial, atau mencoba dalam skala kecil untuk lebih yang meyakinkan penilainnya, sebelum menerapkanuntuk skala yang lebih luas lagi.
5.      Adoption, atau menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilakukan/diamainya sendiri.

Ukuran Adopsi Inovasi
Tergantung pendekatan ilmu yang digunakan, adopsi inovasi dapat diukur dengan beragam tolak-ukur (indikator) dan ukuran.
Didalam praktek komunikasi pembangunan, penilaian tingkat adopsi inovasi biasa dilakukan dengan menggunakan tolak ukur tingkat mutu intensifikasi, yaitu dengan membandingkan “rekomendasi” yang ditetapkan dengan jumlah dan kualitas penerapan yang dilakukan di lapang.
Sehubungan dengan itu, Totok Mardikanto (1994) mengukur tingkat adopsi dengan tiga tolak-ukur, yaitu: kecepatan (atau selang waktu antara diterimanya informasi dan penerapan yang dilakukan), luas penerapan inovasi atau proporsi luas lahan yang telah “diberi” inovasi baru), serta mutu intensifikasi dengan membandingkan penerapan dengan “komendasi” yang disampaikan oleh fasilitatornya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi
Tergantung kepada proses perubahan perilaku yang diupayakan, proses pencapaian tahapan adopsi dapat berlangsung secara cepat maupun lambat.
Jika proses tersebut melalui “pemaksaan” (coersion), biasanya dapat berlangsung dengan cepat, tetapi jika melalui “bujukan” (persuasive) atau “pendidikan” (learning), proses adopsi tersebut dapat berlangsung lebih lambat (soewardi, 1987). 
Dari khasanah kepustakaan diperoleh informassi bahwa kecepatan adopsi, ternyata dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
1.      Sifat-sifat atau karakteristik inovasi
2.      Sifat-sifat atau karakteristik calon pengguna
3.      Pengambilan keputusan adopsi
4.      Saluran atau media yang digunakan
5.      Kualifikasi fasilitator
Perkembangan penerapan ilmu komunikasi pembangunan di Indonesia, Slamet (1978) dengan menggunakan penedekatan ilmu komunikasi seperti yang biasa dilakukan oleh Rogers (1969), mengenalkan variabel-variabel penentu kecepatan adopsi yang terdiri atas: sifat-sifat inovasinya, kegaiatan promosi yang dilakukan fasilitator, ciri-ciri sistem sosial masyarakat penerima manfaat, dan jenis pengambilan keputusan yang dilakukan oleh penerima manfaat.
Selaras dengan itu, maka kajian terhadap faktor-faktor penentu adopsi inovasi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan sekaligus, yaitu: pendekatan komunikasi, psiko-sosial, dan pendekatan sistem.
·         Pendekatan Komunikasi
Berlo (1961) menegaskan bahwa, kejelasan komunikasi sangat ditentukan oleh keempat unsur-unsurnya.
Bertolak dari konsep ini, maka proses adopsi inovasi ditentukan oleh kualitas atau kinerja komunikasi pembangunan, yang mencakup (Rogers, 1969):
a.       Kualitas fasilitator
b.      Sifat-sifat inovasinya
c.       Saluran komunikasi yang digunakan, dan
d.      Ciri-ciri penerima manfaat yang meliputi: status sosial-ekonomi, dan persepsinya terhadap aparat pelaksana.

·         Sifat-sifat Inovasi
Terbagi menjadi dua, yaitu sifat instrinsik (yang melekat pada inovasinya sendiri) maupun sifat ekstrinsik yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya (Mardikanto, 1988).
Sifat-sifat instrinsik inovasi itu mencakup:
a.       Informasi ilmiah yang melekat/dilekatkan pada inovasinya
b.      Nilai-nilai atau keunggulan-keunggulan (teknis, ekonomis, sosial budaya, dan politis) yang melekat pada inovasinya.
c.       Tingkat kerumitan (kompleksitas) inovasi
d.      Mudah/tidaknya dikomunikasikan atau kekomunikatifan inovasi
e.       Mudah/tidaknya inovasi tersebut dicobakan (trialability)
f.       Mudah/tidaknya inovasi tersebut diamati (observability)
Sedang sifat-sifat ekstrinsik inovasi meliputi:
a.       Kesesuaian (compability), inovas dengan lingkungan setempat (baik lingkungan fisik, sosial budaya, politik, dan kemampuan ekonomis masyarakatnya).
b.      Tingkat keunggulan relatif dari inovasi yang ditawarkan, atau keunggulan lain yang dimilki oleh inovassi dibanding dengan teknologi yang sudah ada yang akan diperbaharui/digantikannya: baik keunggulan teknis (kecocokan dengan keadaan alam setempat, tingkat produktivitas-nya), ekonomis (besarnya biaya atau keuntungannya), manfaat non ekonomi, maupun dampak sosial budaya dan politis yang ditimbulkannya.
·         Kualitas Fasilitator
Terasuk dalam penegrtian kualitas fasilitator, terdapat empat tolak ukur yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
1.      Kemampuan dan keterampilan fasilitator untuk berkomunikasi
2.      Pengetahuan fasilitatortentang inovasi yang (akan) disuluhkan
3.      Sikap fasilitator, baik terhadap inovasi, penerima manfaat, dan profesinya
4.      Kesesuaian latar belakang sosial-budaya fasilitator dan penerima manfaat
Berkaitan dengan kemmapuan fasilitator untuk berkomunikasi, perlu juga diperhatikan kemampuannya berempati, atau kemampuan merasakaan keadaan orang lain.
·         Sumber Informasi yang dimanfaatkan
Penerima manfaat yang inovatif, biasanya banyak memnafaatkan beragam sumber onformasi, seperti:lembaga pendidikan/perguruan tinggi, lembaga penelitian, dinas-dinas terkait, media masa, tokoh-tokoh masyarakat, dll.
Sedangkan golongan masyarakat yang krang inovatif umumnya hanya memanfaatkan informasi dari tokoh-tokoh (warga masyarakat) setempat, dan relatif sedikit memanfaatkan informasi dari media massa.
·         Saluran komunikasi yang digunakan
Pada dasarnya dikena ada tiga macam saluran atau media komunikasi, yaitu:  saluran antarpribadi, media massa, dan forum media yang dimaksudkan untuk menggabungkan keunggulan-keunggulan yang imilki oleh saluran antar pribadi dan media massa.
·         status sosial-ekonomi penerima manfaat
Rogers (1971), mengemukakan hipotesisnya bahwa setiap kelompok masyarakat terbagi menjadi 5 kelompok individu berdasarkan tingkat kecepatannya mengadopsi inovasi, yaitu:
1.      2,5 % kelompok perintis (innovator)
2.      13,5 % keompok pelopor (early adapter)
3.      34,0 % kelompok penganut dini (early mayority)
4.      13,5 % kelompok penganut lambat (late majority)
5.      2,5 % kelompok orang-orang yang tak mau berubah (laggard)
Lionberger (1960) mengemukakan beberapa faktor ang mempengaruhi kecepatan seseorang untuk mengadopsi inovasi yang meliputi:
1.      Luas skala-usaha
2.      Tibgkat pendapatan
3.      Keberanian mengambil resiko
4.      Umur
5.      Tingkat partisipasi dalam kelompok/organisasi di luar lingkungannya sendiri
6.      Aktivitas mencari informasi atau ide-ide baru.
Dixon (1982) mengemukakan beberapa sifat individu yang sangat berperan dalam mempenharuhi kecepatan adopsi inovasi, yang berupa:
1.      Prasangka Interpersonal
Adanya sifat kelompok masyarakat (terutama yang masih tertutup) untuk mencurigai setiap tinadakan orang-orang yang berasal dan berada di luar sistem sosialnya, seringkali berpengaruh terhadap kecepatan adopsi inovasi.
2.      Pandangan terhadap kondisi lingkungannya yang terbatas
Foster (1965) dan Shanin (1973) dari hasil pengamatannya menyimpulkan bahwa, kecepatan adopsi inovasi sangat tergantung pada persepsi penerima manfaat erhadap keadaan lingkungan sosial di sekitarnya.
3.      Sikap terhadap penguasa
Dualisme sikap tehadap penguasa, juga berpengaruh kepada kecepatan adopsi inovasi.
4.      Sikap kekeluargaan
Warga masyarakat penerima manfaat yang mampu mengambil keputusan secara individual, tanpa mengikut sertakan keluarga atau kerabat dekatnya.
5.      Fatalisme
Adalah suatu kondisi yang menunjukkan ketidakmampuan seseorang merencanakan masa depannya sendiri, sebagai akibat  dari pengaruh faktor-faktor luar yang tdak mampu dikuasainya.
6.      Kelemahan aspirasi
Sebagai akibat lanjutan dari kondisi fatalisme adalah lemahnya aspirasi atau cita-cita untuk menikmati kehidupan yang lebih baik.
7.      Hanya berpikir untuk hari ini
Yang menyelimuti hati dan pikiran mereka hanyalah: bagaimana untuk bisa hidup hari ini sepuas-puasnya, sedang hari esok tergantung pada nasib.
8.      Kosmopolitnes
Yaitu tingkat hubungannya dengan “dunia luar”. Diluar sistem sosialnya sendiri.
9.      Kemampuan berpikir kritis
Dalam arti kemampuan untuk menilai sesuatu keadaan (baik/buruk, pantas/tidak pantas, dll)
10.  Tingkat kemajuan peradabannya
Akan sangat menentukan ragam  dan mutu kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh setiap individu dalam sistem sosial yang bersangkutan (Lippit, 1958).
11.  Cara pengambilan keputusan
Dalam hal ini, pengambilan keputusan secara pribadi lebih cepat daripda pengambilan keputusan yang dilakukan oleh kelompok bersama (warga).
·         Pendekatan pendidikan
Osgood (1953) melalui penjelasannya mengenai teori rangsangan dan tanggapan (stimulus-response theory), mengemukakam bahwa proses adopsi yang merupakan salah satu bentuk tanggapan atas rangsangan (inovasi) yang diterima, sangat tergantung kepada manfaat atau reward yang dapat diharapkannya.
·         Pendekatan psiko-sosial
Secara psikologis, kegiatan yang dilakukan oleh seseorang (untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu), dilatar belakangi oleh adanya motivasi.
·         Pendekatan sistem
Berdasarkan pendekatan ini , maka variabel-variabel yang perlu diperhatikan dalam proses adopsi adalah:
a.       Kualitas pelayanan input, khususnya yang berkaitan dengan pengadaan sarana produksi dan kredit.
b.      Aplikasi dan supervisi dalam penggunaan input
c.       Jaminan harga dan sistem pemasaran produk

·         Pendekatan pengembangan masyarakat
Tujuan akhir dari setiap kegiatan pengembangan masyarakat adalah untuk mewujudkan perbaikan kesejahteraan masyarakat (dalam arti: ekonomi, sosial, fisik, dan mental).

Difusi inovasi dalam komunikasi pembangunan
Yang dimaksud diatas adalah perembesan adopsi inovasi dari suatu individu yang telah mengadopsi ke individu yang lain dalam sistem sosial masyarakat penerima manfaat yang sama.
Kecepatan adopsi (dan difusi) juga tergantung kepada aktivitas yang dilakukan oleh fasiltatornya sendiri. Fasilitator diharapkan dapat mempercepat proses adopsi/difusi inovsai, melalui:
1.      Melakukan diagnosa terhadap masalah-maslah masyarakatnya, serta kebutuhan-kebutuhan nyata (real need) yang belum dirasakan masayarakatnya.
2.      Membuat masyarakat penerima manfaat menjadi tidak puas dengan kondisi yang dialaminya, dengan cara menunjukkan: kelemahan-kelemahan mereka, masalah-masalah mereka, addanya kebutuhan-kebutuhan baru yang mendorong mereka untu siap melakukan perubahan-perubahan; sedemikian rupa sehingga dengan kesadaranyya mereka termotivasi untuk melakukan perubahan-perubahan.
3.      Menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat penerima manfaat.
4.      Mendukung dan membantu masyarakat penerima manfaat.
5.      Memantabkan hubungan dengan masayarakat.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar