MASALAH ISRA DAN
MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW.
Oleh : DR.H.Mukhyar Sani,MA.
Saat
ini umat Islam sedang berada di bulan Rajab 1435 H. suatu bulan yang sangat
popular dengan sebutan bulan isra dan mi’raj nabi Muhammad saw.
Hal ini dapat dimaklumi karena pada bulan ini
berapa abad yang silam beliau di-israkan dan dimi’rajkan
dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina, dan kembali ke masjidil
Haram pada malam yang sama setelah sebelumnya menghadap Allah swt.dalam jarak
yang sangat dekat. Kehadiran bulan Rajab
ini-sebagaimana tahun-tahun sebelumnya-selalu disambut hangat oleh kalangan
umat Islam yang direfleksikan dengan menggelar peringatan isra dan mi’raj nabi Muhammad
saw. Perhatikan saja, bagaimana ramainya peristiwa itu diperingati orang, boleh
jadi setiap masjid, langgar, bahkan kantor instansi pemerintah tidak
ketinggalan menggelar peringatan yang sama. Di Kalimantan Selatan, terutama di
daerah perkotaan, peringatan itu bukan saja digelar oleh kalangan laki-laki,
tetapi juga kaum ibu melaksanakan kegiatan yang sama yang khusus untuk kaum ibu
itu sendiri. Seperti diketahui, banyak sekali langgar atau masjid yang memiliki
wadah berkumpul kaum ibu, yang disebut dengan “Persatuan Yasin dan Shalawat
Ibu-Ibu.” Persatuan ini tampaknya
tidak sekedar wadah bagi mereka untuk bersama-sama mengadakan pertemuan
rutin membaca Yasin dan Shalawat, tetapi fungsinya menjadi diperluas
lagi.Didalamnya mereka bisa membaur, bersosialisasi, bertukar pikiran, dan dapat
pula dengan wadah itu, mereka melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam
seperti maulid nabi, nuzulul Qur’aan, termasuk peringatan isra dan mi’raj
disetiap bulan Rajab.
Sebenarnya
peristiwa isra mi’raj ini sebagaimana disebutkan di atas, terjadi sekitar
tahun ke 11 dari kenabian atau sekitar tahun 621 M. yang menurut kebanyakan
ulama pada malam 27 Rajab. Dengan demikian sudah
sangat jauh jaraknya dari zaman kita sekarang yang hidup di atas ke 21 M. ini,
ya kira-kira 1500 tahun lebih. Akan tetapi, semangat umat Islam untuk
memperingatinya tampak tidak pernah berkurang, bahkan perhatian mereka untuk itu terkesan semakin
besar.Tampaknya peristiwa ini memiliki daya tarik tersendiri, boleh jadi inilah
salah satu kelebihan bulan yang didalamnya beberapa abad silam terjadi
peristiwa luar biasa yang apabila dialami oleh seorang nabi atau rasul
peristiwa itu kemudian dikatagorekan sebagai mu’jizat. Di dalam surah al-Isra
ayat 1 yang merupakan dalil tentang terjadinya peristiwa ini, Allah
memulainya dengan kata-kata subhana
suatu kata-kata yang lazimnya dalam bahasa Arab memang dipakai untuk
menunjukkan kekaguman atau keheranan
terhadap kebesaran Tuhan. Dalam kehidupan ini seseorang bukan tidak
mungkin menyaksikan sesuatu yang luar biasa plus menakjubkannya terkait ciptaan
Tuhan, entah ciptaanNya itu dalam bentuk binatang, tumbuh-tumbuhkan atau yang
lainnya dimana kemudian ia mengucapkan
kalimat subhanallah, Maha Suci Allah. Maksudnya adalah Maha Suci Allah
dari segala kekurangan, tetapi Ia adalah Maha Besar, Maha Gagah,Maha Mengatur
segalanya. Surah al-Isra ayat 1 itu, terjemahnya adalah sebagai berikut
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari
al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Demikian itulah
bimbingan agama ketika seorang hamba melihat atau menyaksikan sesuatu yang
menakjubkan lalu dia mengucapkan kalimat thayyibah subhanallah.
Bandingkan juga umpamanya ketika seseorang mendapatkan karunia Allah, kepadanya
diajarkan kalimat al-hamdulillah sebagai pertanda bersyukur atas
karuniaNya itu. Ketika mendapat musibah diajarkan jugakepada seseorang untuk mengucapkan inna li Allah wa inna
ilaih ra’ji’un sebagai pengakuan bahwa semuanya ada akhirnya berikut pada
waktunya kembali kehadiratNya. Hal ini sangat menarik ketika dikaitkan dengan kesadaran bahwa
segalanya kecil ketika dihadapkan kepada kebesaran Tuhan, sehingga memunculkan
semangat untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam bentuk memperbanyak
kebaikan dan mengurangi bahkan meniadakan melakukan perbuatan menyimpang. Konon
kabarnya orang-orang Arab zaman dahulu bertasbih ketika melihat hal-hal atau
keadaan yang menakjubkan. Ayat 1 al-Isra ini dimulai dengan kalimat tasbih
itu seolah menyampaikan pesan, betapa Allah kagum kepada orang-orang Arab
ketika itu yang merendahkan seorang rasul yang diutusnya untuk mereka. Rasul
itu, Muhammad saw. menyampaikan berita bahwa pada suatu malam beliau
diperjalankan dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha, kemudian dimi’rajkan
sekaligus dan kembali ke al-Masjidil Haram pada malam yang sama. Didalam al-Qur”aan kalimat tasbih
selalu mendahului kalimat tahmid dan istighfar umpamanya pada
surah al-Nashr ayat 3 artinya “Maka bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu dan beristighfarlah kepadaNya. Sesungguhnya Dialah Maha Penerima Taubat.
Sebagai suatu peristiwa luar biasa, peristiwa isra mi’raj ini beritanya
sangat mengejutkan banyak orang ketika itu terutama mereka yang belum menerima
Islam sebagai agama dan keyakinan. Sebagai contoh adalah Abu Jahal, dia tidak
mau membenarkannya, dan dialah orangnya yang memanggil banyak penduduk Mekah
untuk menghadap nabi mendengarkan paparan beliau sekitar peristiwa luar biasa
yang dialami beliau pada malam 27 Rajab itu.Hal inilah tampaknya yang
melatar belakangi Allah menurunkan ayat 1 surah al-Isra yang artinya
sebagaimana diungkapkan di atas.Tidak lama setelah itu, Abu Jahal pindah domisili ke Badar dan setelah perang
Badar, beliau kembali menetap di Mekah
dan meninggal disana. Sebuah riwayat mengungkapkan paman nabi itu, dibimbing
langsung oleh nabi untuk mengucap dua kalimah syahadat menjelang detik-detik
akhir hayatnya, tetapi gagal. Sehubungan dengan ini al-Qur”aan dalam sebuah
ayatnya menggambarkaan “Engkau wahai Muhammad tidak akan dapat memberi
petunjuk untuk seseorang yang engkau cintai, akan tetapi Allahlah yang memberi
petunjuk untuk siapa yang Ia kehendaki. Memang tidak mudah tampaknya bagi
sebagian orang ketika itu untuk begitu saja menerima berita tentang isra
dan mi’raj ini untuk kemudian membenarkannya. Perjalanan antara Masjid
al-Haram dan Masjid al-Aqsha yang selama ini memakan waktu 40
hari-pergi pulang- dengan kendaraan onta dengan kecepatan tinggi, toh kemudian
ditemukan seseorang yang bernama Muhammad
yang mengaku menempuhnya dengan hanya lailan, tidak sepenuh
malam, belum termasuk naik keatas dan melintasi beberapa langit atau mi’raj.
Menurut mereka hal ini betul-betul
diluar kelaziman zamannya, sehingga mereka membuat perhitungan-perhitungan,
disamping tidak mau membenarkannya, juga megemukakan beberapa pertanyaan yang
terkait dengan perjalanan nabi pada malam itu. Ada yang mengemukakan
pertanyaan, apakah beliau bertemu dengan rombognan pengusaha yang 40 orang dari
Siria yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah, kalau ketemu, kira-kira akan
berapa hari lagi mereka baru memasuki kota Mekah ini dan pertanyaan-pertanyaan
lainnya. Inilah barangkali kekeliruan mereka dalam mendekati masalah peristiwa
luar biasa ini, karena melihatnya dengan rasiop semata, bukan dengan pendekatan
keimanan. Agama menggambarkan, bahwa tidak semua masalah dapat didekati dengan
pendekatan akal atau rasio, apalagi ketika seseorang sadar tentang keterbatasan
akal itu. Ada masalah dalam kehidupan ini menurut agama yang hanya harus
didekati dengan keimanan, atau keyakinan
bahwa Tuhan memiliki kebesaran luar biasa, Dia Maha Gagah, Maha Penentu,
Maha Bijaksana, dan Maha Memperjalankan hambaNya. Pada malam 17 Rajab
itu, nabi Muhammad sessungguhnya tidak berjalan sendiri, tetapi diperjalankan
oleh Allah swt. sebagaimana termaktub dalam ayat 1 surah al-Isra di
atas. Untuk membantu-barangkali- agar seseorang hamba tidak terkejut dengan
berita luar biasa ini atau isra mi’raj ini, al-Qur’aan menempatkan surah
al-Isra sesudah surah al-Nahl yang artinya lebah. Mengapa
lebah? Karena binatang lebah bisa dikatagorekan sebagai binatang yang unik,
luar biasa, ia menghasilkan madu yang bisa dijadikan obat untuk penyembuhan
suatu penyakit, ia tidak mau mengganggu makhluk lain, kecuali ia diganggu
terlebih dahulu. Suatu hal yang menarik tentang binatang yang satu ini, adalah
dalam kehidupan jama’ahnya, konon kabarnya mereka tidak dipimpin oleh lebah
jantan, tetapi dipimpin oleh sang Ratu, lebah betina dan mereka tidak melakukan
hubungan seksual, melainkan ditempat tersembunyi. Sebagai makhluk Tuhan yang
tidak memiliki akal, gambaran di atas, tampak mengagumkan kita sebagai makhluk
manusia yang berakal. Kelebihan-kelebihan yang ada pada binatang lebah itu
sesungguhnya bisa dijadikan bahan renungan bagi kehidupan kita sebagai umat
manusia. Binatang saja bisa mendatangkan manfaat besar bagi manusia, mengapa
kadang-kadang makhluk berakal tidak bisa berbuat baik seperti binatang lebah
itu.
Perjalanan
luar biasa nabi Muhammad saw. pada malam isra dan mi’raj dari
Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha di Palestina dan kemudian dari situ dimi’rajkan
ke atas untuk kemudian kembali lagi pada malam yang sama, seolah menggambarkan
suatu episode dalam kehidupan yang mesti dilalui oleh semua hambaNya. Perjalanan
itu dimulai dari tempat yang suci ke tempat yang suci, bahkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Suci, mengisyaratkan agar kehidupan setiap hambaNya mesti berangkat
dari latar belakang yang suci dan tujuan yang suci pula. Dalam perjalanan itu,
sejumlah pengalaman dan kejadian nyata sebagai pelajaran untuk kehidupan, baik
yang terkait dengan kebaikan, maupun yang terkait dengan prahara nanti yang
akan dirasakan orang-orang yang durhaka tampak ditunjukkan kepada beliau. Dalam
perjalanan itu, ditampakkan suatu komunitas petani yang gigih menanam dan
memetiknya tanpa ada tegang waktu bagi pertanian mereka untuk tidak berbuah.
Menakjubkan memang, begitu dipanen buahnya, sesaat kemudian berbuah lagi
berikut dipanen kembali, begitulah seterusnya. Sebuah perumpamanya bagi mereka yang
mau menyantuni orang-orang tidak berada dalam bentuk sedekah dengan keikhlasan. Bayangkan betapa banyak
orang-orang disekitar kita yang butuh perhatian, terlantar hidupnya karena
latar belakang ekonomi, mereka kemudian meminta-minta, bahkan kadang-kadang
mengantar mereka nekad mengambil hak orang tanpa restu. Dengan menyantuni
orang-orang tidak berada, sesungguhnya seseorang yang berada ikut memberi sumbangan berharga, bukan saja pada sisi
ekonomi, tetapi juga dalam bidang keamanan, ketertiban masyarakat banyak,
bahkan perintah. Dari sini mestinya antara umara dan aghniya bisa
bersinergis dalam menanggulangi berbagai bentuk kejahatan yang dapat meresahkan
banyak orang. Penyakit-penyakit itu seringkali dilatar belakangi oleh keadaan
ekonomi disamping fator-faktor lainnya. Ketika mendapat kesempatan untuk
menengok surga dan neraka pada malam itu, kepada nabi Muhammad dibuka rekaman
kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang benar dan rekaman prahara yang
dirasakan oleh orang-orang yang melawan aturan Tuhan. Beliau melihat kenikmatan
di dalamnya sebagai sebuah kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata,
terdengar oleh telinga, dan terbayang oleh pikiran. Dineraka diperlihatkan
bagaimana orang-orang yang sedang disiksa berada dilautan darah dan nanah sebagai
gambaran akibat meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Sebagai sebuah
kewajiban, shalat memang menempati posisi yang sangat senteral dan strategis,
karena merupakan tiang agama dan induk untuk ibadah-ibadah yang lainnya.
Pengaruh penerimaannya dan penolakannya diakhirat nanti akan berimbas terhadap
ibadah-ibadah lainnya, seperti puasa,
zakat, naik haji dan lain-lain.
Karena itu al-Qur’aan dan hadits, banyak memberi dorongan dan peringatan bagi
orang-orang beriman untuk menegakannya dan jangan meninggalkannya, apalagi
kalau kemudian mengingkari kewajibannya. Sebagai contoh umpamanya al-Qur’aan
mengungkapkan “ Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai
dalam shalatnya, mereka itu ingin dilihat orang dan menolak memberi pertolongan.Sedangkan
didalam ayat lain diungkapkan bahwa shalat itu mencegah seseorang dari
perbuatan keji dan munkar. Kedua ayat itu mengingatkan semua hamba yang
beriman untuk menegakkan shalat lima waktu, melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, sebab pelaksanaannya
yang baik sesuai ketentuannya kemudian
akan mengantarkannya terhindar
dari perbuatan keji dan munkar. Kewajiban shalat lima waktu ini justeru
diterima nabi Muhammad saw. pada malam 27 Rajab yang ketika itu beliau diisrakan
dan dimi’rajkan.
Sebagaimana
diungkapkan dalam berbagai reference, sesaat sebelum diperjalankan pada malam
itu, 27 Rajab, dilakukan pengoperasian dada beliau, alias dibedah untuk
dibersihkan alaqah warna hitam yang konon kabarnya disitulah iblis sering mangkal untuk menggoda dan merayu
seseorang. Dengan demikian, wajarlah kalau kemudian
susah bagi iblis laknatullah menggoda beliau dengan cara apapun dan
bagaimanapun. Sebab alaqah warna hitam itu sudah suci bersih, tidak ada
tempat lagi bagi iblis untuk menetap dan menggodanya. Hati yang bersih akan
disinari oleh hidayah Tuhan yang memancar
menghiasi segala tingkah laku dan perbuatan seseorang, termasuk memiliki
motivasi ikhlas dalam berbuat. Al-Qur”aan melukiskan semua hamba Allah, apakah
ia sebagai guru agama, kiyai, pedagang, petani, buruh, dan lain-lain, semua
berpeluang bagi iblis untuk menggoda dan
merayunya.Lalu siapa yang ia tidak bisa mengggoda dan merayunya, al-Qur”aan
menjawabnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam berbuat. Dengan demikian,
seiap hambaNya dalam berbuat hendaknya memelihara sebaik-baiknya tujuan suci
itu, tidak harus tujuan mencari ridhaNya itu kemudian terkontaminasi oleh
motivasi-motivasi lainnya, apakah itu riya umpamanya sebagaimana diterangkan
ketika menguraikan tentang shalat di atas, atau oleh motivasi buruk lainnya.
Tentang niat ikhlas ini al-Qur”aan telah mengabadikan suatu surah yang diberi
nama al-ikhlas yang terjemahnya adalah sebagai berikut “Katakanlah,
Dia adalah Allah Yang Maha Esa. Allahlah satu-satunya tempat bergantung. Ia
tiada beranak dan tiada pila diperanakkan. Tiada sesuatupun yang setara dengan
Dia. Ada riwayat yang menyebutkan, kaum Quraisy mengutus beberapa delegasi
menghadap nabi Muhammad saw. menawarkan sejumlah fasilitas agar beliau berhenti
mengajak orang mentauhidkan Tuhan, mengikhlaskan menyembah Tuhan.Tawaran itu
adalah dalam bentuk harta, kedudukan, dan wanita. Beliau menjawab, aku tidak
gila hartaa, kedudukan dan wanita. Aku
adalah utusan Allah yang mengajak manusia meninggalkan penyembahan berhala dan
pengarahkan pengagungan hanya kepada Allah swt. Sikap beliau menolak tawaran itu,boleh jadi
menggambarkan bagaimana seseorang yang dalam menegakkan kebenaran, terutama
ketauhidan mengajak orang mengakui Tuhan sebagai zat yang Maha Esa tidak mudah
tergiur dengan tawaran itu. Mengajak umat menegakkan ketauhidan, meluruskan keyakinan mereka tampak jauh lebih
penting ketimbang menerima tawaran yang hanya merupakan kepentingan sesaat,
walaupun menurut ukuran keduniaan itu mungkin
sangat menjanjikan. Menurut
sebuah sumber-setelah dioperasi-dada beliau dipenuhi dengan al-iman, al-Islam, al-ilm, al-hilm, dan
al-hikmah. Mengapa diisi dengan semua ini tidak dengan yang lain seperti al-syaja’ah,
al-adl, atau al-ihsan umpamanya? Perjalanan isra dan mi’raj
ini boleh diibaratkan sebagai episode
kehidupan bagi seseorang yang sarat lika-likunya, sehingga banyak didalamnya
diperlihatkan tamsil-tamsil yang terkait dengan kehidupan itu sendiri. Dari
al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha beliau berhenti di Thaybah, Baitul
lahm, Tursina, dan di Masjid al-Aqsha sendiri dimana ditempat-tempat
itu beliau melaksanakan shalat. Di setiap langit yang beliau lewati; yang
pertama sampai yang ketujuh, beliau bertemu dengan beberapa orang nabi
terdahulu seperti Adam, Isa bin Maryam dan Yahya, Yusuf, Ideris, Harun, Musa
dan nabi Iberahim As. Masing-masing nabi
itu menyambut Muhammad saw. dengan
hangat berikut menyampaikan salam kehormatan untuk beliau. Boleh jadi
bertemunya nabi Muhammad saw. ketika itu dengan sejumlah para nabi,
menggambarkan bahwa hidup seseorang mestinya selalu dekat dengan orang-orang
baik termasuk dekat dengan para ulama.Para ulama menurut sebuah hadits adalah
pewaris para nabi yang melanjutkan tugas dan tanggung jawab nabi membimbing
umat ke arah kebaikan dunia akhirat.Setelah itu, beliau meneruskan perjalanan
menghadap Tuhan dimana beliau melihat
berbagai perumpamaan yang baik dan tidak baik yang terkait dengan kehidupan
sekarang di dunia dan nanti di akhirat.Perumpamaan-perumpamaan itu tampaknya
diharapkan menjadi bahan renungan berharga dan pelajaran bagi semua hambaNya
dalam mengarungi kehidupan ini. Dada nabi Muhammad setelah dibedah untuk dibersihkan diisi dengan al iman,al-Islam,al- ilm,al-
hilm, dan al- hikmah seolah mengisyaratkan bahwa seseorang dalam hidup ini
jiwanya mesti memiliki al-iman, al-Islam, al-ilm, al-hilm, dan al-hikmah. Sebagai
pengikut nabi Muhammad saw. sudahkah
setiap individu muslim mengisi
jiwanya dengan al- iman, al-Islam,al-
ilm,al- hilm, dan al-hikmah sebagaimana nabi Muhammad saw.
Pengakuan beriman bagi seseorang belum dipandang cukup dengan hanya mengatakan
“saya beriman” tanpa menyakini dengan hatinya berikut
membuktikannya dengan tindakan nyata.
Kata-kata “amanu” dalam al-Qur”aan hampir selalu dibaringi oleh kata-kata yang bernuansa tindakan nyata,
seperti amal shaleh, dan lain-lain yang
sejenisnya. Panggilan untuk melaksanakan
ibadah puasa umpamanya yang termaktub dalam al-Baqarah 183, kata-kata
“amanu” dibaringi oleh
kata-kata al-shiyam, artinya puasa sebagai bukti nyata mengimani
kewajiban berpuasa. Pengakuan beragama
Islam belum cukup dengan hanya mengatakan “aku beragama Islam.”Al-Islam
yang bisa diartikan kedamaian, aman sentosa, selamat, tunduk dan patuh
berikut penyerahan, boleh jadi dimaksudkan agar setiap individu muslim dalam
kehidupannya membawa dan menyebarkan kedamaian, tidak melakukan kerusakan
termasuk pertumpahan darah. Al-Qur”aan mengungkapkan “janganlah kamu
melakukan kerusakan dipermukaan bumi ini padahal bumi ini sebelumnya keadaannya
baik.” Ada empat ciri keislaman -menurut sebuah sumber- bagi seseorang;
merendahkan diri, tidak rakus, tidak berbohong, dan tidak melakukan perbuatan
haram atau terlarang. Pengakuan berilmu belum cukup dengan hanya mengatakan “saya
orang alim umpamanya” tanpa mengamalkannya.” Al-Ilm atau ilmu
pengetahuan, mengisyaratkan bahwa setiap individu muslim mestinya mejadi orang
yang berilmu, yang mengetahui bagaimana beriman yang baik, dan bagaimana
beribadah yang baik dan benar. Setiap
individu muslim mestinya menjadi orang-orang yang haus ilmu, yang memiliki
semangat tinggi menggali, memahami, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu
pengetahuan, sehingga diharapkan umat Islam
tidak dinilai terkebelakang dalam
bidang ilmu pengetahuan atau pendidikan. Agama mendorongan setiap individu muslim agar menjadi orang cerdas, alim yang
mengamalkan ilmunya. Al-Qur”aan seolah
bertanya, apakah sama antara orang yang berilmu pengetahuan dengan orang yang tidak berilmu pengetahuan?
Selaanjutnya kesantunan keramah-tamahan al-hilm.Pengakuan kesantunan
belum cukup dengan hanya mengatakan “saya orang santun” tanpa dibuktikan
dengan tindakan nyata. Al-hilm, kesantunan atau keramah-tamahan,
mengisyaratkan bahwa setiap individu muslim
prilakunya harus santun, tidak anargis, sebab tindakan anargis dapat menggambarkan seolah al-Islam
bukan agama yang menawarkan kesantunan atau kedamaian. Sekarang sering terjadi
tindakan-tindakan kekerasan yang menggambarkan
kesantunan seolah sirna dalam kehidupan. Anak dengan tragis membunuh
orang tuanya dan orang tuanya dengan ringan tangan memukul anaknya. Dalam Ali ‘Imran 79 diungkapkan bahwa kesantunan atau
keramah-tamahan itu adalah merupakan rahmat Allah swt. sehingga untuk
memilikinya seseorang harus mencarinya
dan meminta kepadaNya. Selanjutnya pengakuan arif, (al-hikmah) bijaksana
belum dianggap cukup hanya dengan mengatakan” aku orang bijak atau cerdas“ tanpa dibuktikan
dengan tindakan nyata. Dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan, nabi
Muhammad saw. adalah panutan yang paling ideal.Sulit bagi seseorang menemukan
fakta dimana ditemukan kebijakan beliau
yang tidak arif, yang tidak adil atau memihak kepada orang atau kelompok
tertentu. Dalam menentukan hukuman beliau mengatakan “andaikata anakku
Fathimah mencuri pasti tangannya akan kupotong.” Seseorang yang dalam
menegakkan hukum tidak bisa berlaku adil, sesungguhnya dia bukanlah orang yang
arif bijaksana; orang yang arif biasanya
adil dan orang yang adil biasanya bijaksana.
Dengan membaca berikut menelaah peristiwa luar biasa; isra dan mi’raj
ini diharapkan semua hamba Allah yang beriman, dapat memetik hikmah yang
terkandung di dalamnya, memahaminya dan mengamalkan pesan-pesan berharga yang
dipertunjukkan ketika terjadi peristiwa itu.Sebaliknya, semua hambaNya berupaya menghindari tindakan-tindakan tidak
benar yang akan membawa sengsara sebagaimana digambarkan pada peristiwa yang
sama isra dan mi’raj nabi Muhammad saw.









0 komentar:
Posting Komentar