Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

JURNAL DAKWAH ULAMA

MASALAH ISRA DAN MI’RAJ  NABI MUHAMMAD SAW.
Oleh : DR.H.Mukhyar Sani,MA.

            Saat ini umat Islam sedang berada di bulan Rajab 1435 H. suatu bulan yang sangat popular dengan sebutan bulan isra dan mi’raj nabi Muhammad saw. Hal ini dapat dimaklumi karena pada bulan ini  berapa abad yang silam beliau di-israkan dan dimi’rajkan dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina, dan kembali ke masjidil Haram pada malam yang sama setelah sebelumnya menghadap Allah swt.dalam jarak yang sangat dekat.  Kehadiran bulan Rajab ini-sebagaimana tahun-tahun sebelumnya-selalu disambut hangat oleh kalangan umat Islam yang direfleksikan dengan menggelar peringatan  isra dan mi’raj nabi Muhammad saw. Perhatikan saja, bagaimana ramainya peristiwa itu diperingati orang, boleh jadi setiap masjid, langgar, bahkan kantor instansi pemerintah tidak ketinggalan menggelar peringatan yang sama. Di Kalimantan Selatan, terutama di daerah perkotaan, peringatan itu bukan saja digelar oleh kalangan laki-laki, tetapi juga kaum ibu melaksanakan kegiatan yang sama yang khusus untuk kaum ibu itu sendiri. Seperti diketahui, banyak sekali langgar atau masjid yang memiliki wadah berkumpul kaum ibu, yang disebut dengan “Persatuan Yasin dan Shalawat Ibu-Ibu.” Persatuan ini tampaknya  tidak sekedar wadah bagi mereka untuk bersama-sama mengadakan pertemuan rutin membaca Yasin dan Shalawat, tetapi fungsinya menjadi diperluas lagi.Didalamnya mereka bisa membaur, bersosialisasi, bertukar pikiran, dan dapat pula dengan wadah itu, mereka melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam seperti maulid nabi, nuzulul Qur’aan, termasuk peringatan isra dan mi’raj disetiap bulan Rajab.
            Sebenarnya peristiwa isra mi’raj ini sebagaimana disebutkan di atas, terjadi sekitar tahun ke 11 dari kenabian atau sekitar tahun 621 M. yang menurut kebanyakan ulama pada malam 27 Rajab. Dengan demikian sudah sangat jauh jaraknya dari zaman kita sekarang yang hidup di atas ke 21 M. ini, ya kira-kira 1500 tahun lebih. Akan tetapi, semangat umat Islam untuk memperingatinya tampak tidak pernah berkurang, bahkan  perhatian mereka untuk itu terkesan semakin besar.Tampaknya peristiwa ini memiliki daya tarik tersendiri, boleh jadi inilah salah satu kelebihan bulan yang didalamnya beberapa abad silam terjadi peristiwa luar biasa yang apabila dialami oleh seorang nabi atau rasul peristiwa itu kemudian dikatagorekan sebagai mu’jizat. Di dalam surah al-Isra ayat 1 yang merupakan dalil tentang terjadinya peristiwa ini, Allah memulainya  dengan kata-kata subhana suatu kata-kata yang lazimnya dalam bahasa Arab memang dipakai untuk menunjukkan kekaguman atau keheranan  terhadap kebesaran Tuhan. Dalam kehidupan ini seseorang bukan tidak mungkin menyaksikan sesuatu yang luar biasa plus menakjubkannya terkait ciptaan Tuhan, entah ciptaanNya itu dalam bentuk binatang, tumbuh-tumbuhkan atau yang lainnya  dimana kemudian ia mengucapkan kalimat subhanallah, Maha Suci Allah. Maksudnya adalah Maha Suci Allah dari segala kekurangan, tetapi Ia adalah Maha Besar, Maha Gagah,Maha Mengatur segalanya. Surah al-Isra ayat 1 itu, terjemahnya adalah sebagai berikut “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Demikian itulah bimbingan agama ketika seorang hamba melihat atau menyaksikan sesuatu yang menakjubkan lalu dia mengucapkan kalimat thayyibah subhanallah. Bandingkan juga umpamanya ketika seseorang mendapatkan karunia Allah, kepadanya diajarkan kalimat al-hamdulillah sebagai pertanda bersyukur atas karuniaNya itu. Ketika mendapat musibah diajarkan jugakepada seseorang  untuk mengucapkan inna li Allah wa inna ilaih ra’ji’un sebagai pengakuan bahwa semuanya ada akhirnya berikut pada waktunya kembali kehadiratNya. Hal ini sangat menarik  ketika dikaitkan dengan kesadaran bahwa segalanya kecil ketika dihadapkan kepada kebesaran Tuhan, sehingga memunculkan semangat untuk selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam bentuk memperbanyak kebaikan dan mengurangi bahkan meniadakan melakukan perbuatan menyimpang. Konon kabarnya orang-orang Arab zaman dahulu bertasbih ketika melihat hal-hal atau keadaan yang menakjubkan. Ayat 1 al-Isra ini dimulai dengan kalimat tasbih itu seolah menyampaikan pesan, betapa Allah kagum kepada orang-orang Arab ketika itu yang merendahkan seorang rasul yang diutusnya untuk mereka. Rasul itu, Muhammad saw. menyampaikan berita bahwa pada suatu malam beliau diperjalankan dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha, kemudian dimi’rajkan sekaligus dan kembali ke al-Masjidil Haram pada malam yang sama.  Didalam al-Qur”aan kalimat tasbih selalu mendahului kalimat tahmid dan istighfar umpamanya pada surah al-Nashr ayat 3 artinya “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah kepadaNya. Sesungguhnya Dialah Maha Penerima Taubat. Sebagai suatu peristiwa luar biasa, peristiwa isra mi’raj ini beritanya sangat mengejutkan banyak orang ketika itu terutama mereka yang belum menerima Islam sebagai agama dan keyakinan. Sebagai contoh adalah Abu Jahal, dia tidak mau membenarkannya, dan dialah orangnya yang memanggil banyak penduduk Mekah untuk menghadap nabi mendengarkan paparan beliau sekitar peristiwa luar biasa yang dialami beliau pada malam 27 Rajab itu.Hal inilah tampaknya yang melatar belakangi Allah menurunkan ayat 1 surah al-Isra yang artinya sebagaimana diungkapkan di atas.Tidak lama setelah itu, Abu Jahal  pindah domisili ke Badar dan setelah perang Badar, beliau kembali menetap di  Mekah dan meninggal disana. Sebuah riwayat mengungkapkan paman nabi itu, dibimbing langsung oleh nabi untuk mengucap dua kalimah syahadat menjelang detik-detik akhir hayatnya, tetapi gagal. Sehubungan dengan ini al-Qur”aan dalam sebuah ayatnya menggambarkaan “Engkau wahai Muhammad tidak akan dapat memberi petunjuk untuk seseorang yang engkau cintai, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk untuk siapa yang Ia kehendaki. Memang tidak mudah tampaknya bagi sebagian orang ketika itu untuk begitu saja menerima berita tentang isra dan mi’raj ini untuk kemudian membenarkannya. Perjalanan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha yang selama ini memakan waktu 40 hari-pergi pulang- dengan kendaraan onta dengan kecepatan tinggi, toh kemudian ditemukan seseorang yang bernama Muhammad  yang mengaku menempuhnya dengan hanya lailan, tidak sepenuh malam, belum termasuk naik keatas dan melintasi beberapa langit atau mi’raj. Menurut mereka hal ini  betul-betul diluar kelaziman zamannya, sehingga mereka membuat perhitungan-perhitungan, disamping tidak mau membenarkannya, juga megemukakan beberapa pertanyaan yang terkait dengan perjalanan nabi pada malam itu. Ada yang mengemukakan pertanyaan, apakah beliau bertemu dengan rombognan pengusaha yang 40 orang dari Siria yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah, kalau ketemu, kira-kira akan berapa hari lagi mereka baru memasuki kota Mekah ini dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Inilah barangkali kekeliruan mereka dalam mendekati masalah peristiwa luar biasa ini, karena melihatnya dengan rasiop semata, bukan dengan pendekatan keimanan. Agama menggambarkan, bahwa tidak semua masalah dapat didekati dengan pendekatan akal atau rasio, apalagi ketika seseorang sadar tentang keterbatasan akal itu. Ada masalah dalam kehidupan ini menurut agama yang hanya harus didekati dengan keimanan, atau keyakinan  bahwa Tuhan memiliki kebesaran luar biasa, Dia Maha Gagah, Maha Penentu, Maha Bijaksana, dan Maha Memperjalankan hambaNya. Pada malam 17 Rajab itu, nabi Muhammad sessungguhnya tidak berjalan sendiri, tetapi diperjalankan oleh Allah swt. sebagaimana termaktub dalam ayat 1 surah al-Isra di atas. Untuk membantu-barangkali- agar seseorang hamba tidak terkejut dengan berita luar biasa ini atau isra mi’raj ini, al-Qur’aan menempatkan surah al-Isra sesudah surah al-Nahl yang artinya lebah. Mengapa lebah? Karena binatang lebah bisa dikatagorekan sebagai binatang yang unik, luar biasa, ia menghasilkan madu yang bisa dijadikan obat untuk penyembuhan suatu penyakit, ia tidak mau mengganggu makhluk lain, kecuali ia diganggu terlebih dahulu. Suatu hal yang menarik tentang binatang yang satu ini, adalah dalam kehidupan jama’ahnya, konon kabarnya mereka tidak dipimpin oleh lebah jantan, tetapi dipimpin oleh sang Ratu, lebah betina dan mereka tidak melakukan hubungan seksual, melainkan ditempat tersembunyi. Sebagai makhluk Tuhan yang tidak memiliki akal, gambaran di atas, tampak mengagumkan kita sebagai makhluk manusia yang berakal. Kelebihan-kelebihan yang ada pada binatang lebah itu sesungguhnya bisa dijadikan bahan renungan bagi kehidupan kita sebagai umat manusia. Binatang saja bisa mendatangkan manfaat besar bagi manusia, mengapa kadang-kadang makhluk berakal tidak bisa berbuat baik seperti binatang lebah itu.   
            Perjalanan luar biasa nabi Muhammad saw. pada malam isra dan mi’raj dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha di Palestina dan kemudian dari situ dimi’rajkan ke atas untuk kemudian kembali lagi pada malam yang sama, seolah menggambarkan suatu episode dalam kehidupan yang mesti dilalui oleh semua hambaNya. Perjalanan itu dimulai dari tempat yang suci ke tempat yang suci, bahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Suci, mengisyaratkan agar kehidupan setiap hambaNya mesti berangkat dari latar belakang yang suci dan tujuan yang suci pula. Dalam perjalanan itu, sejumlah pengalaman dan kejadian nyata sebagai pelajaran untuk kehidupan, baik yang terkait dengan kebaikan, maupun yang terkait dengan prahara nanti yang akan dirasakan orang-orang yang durhaka tampak ditunjukkan kepada beliau. Dalam perjalanan itu, ditampakkan suatu komunitas petani yang gigih menanam dan memetiknya tanpa ada tegang waktu bagi pertanian mereka untuk tidak berbuah. Menakjubkan memang, begitu dipanen buahnya, sesaat kemudian berbuah lagi berikut dipanen kembali, begitulah seterusnya. Sebuah perumpamanya bagi mereka yang mau menyantuni orang-orang tidak berada dalam bentuk sedekah  dengan keikhlasan. Bayangkan betapa banyak orang-orang disekitar kita yang butuh perhatian, terlantar hidupnya karena latar belakang ekonomi, mereka kemudian meminta-minta, bahkan kadang-kadang mengantar mereka nekad mengambil hak orang tanpa restu. Dengan menyantuni orang-orang tidak berada, sesungguhnya seseorang yang berada ikut memberi  sumbangan berharga, bukan saja pada sisi ekonomi, tetapi juga dalam bidang keamanan, ketertiban masyarakat banyak, bahkan perintah. Dari sini mestinya antara umara dan aghniya bisa bersinergis dalam menanggulangi berbagai bentuk kejahatan yang dapat meresahkan banyak orang. Penyakit-penyakit itu seringkali dilatar belakangi oleh keadaan ekonomi disamping fator-faktor lainnya. Ketika mendapat kesempatan untuk menengok surga dan neraka pada malam itu, kepada nabi Muhammad dibuka rekaman kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang benar dan rekaman prahara yang dirasakan oleh orang-orang yang melawan aturan Tuhan. Beliau melihat kenikmatan di dalamnya sebagai sebuah kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbayang oleh pikiran. Dineraka diperlihatkan bagaimana orang-orang yang sedang disiksa berada dilautan darah dan nanah sebagai gambaran akibat meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Sebagai sebuah kewajiban, shalat memang menempati posisi yang sangat senteral dan strategis, karena merupakan tiang agama dan induk untuk ibadah-ibadah yang lainnya. Pengaruh penerimaannya dan penolakannya diakhirat nanti akan berimbas terhadap ibadah-ibadah lainnya, seperti puasa,  zakat, naik haji  dan lain-lain. Karena itu al-Qur’aan dan hadits, banyak memberi dorongan dan peringatan bagi orang-orang beriman untuk menegakannya dan jangan meninggalkannya, apalagi kalau kemudian mengingkari kewajibannya. Sebagai contoh umpamanya al-Qur’aan mengungkapkan “ Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya, mereka itu ingin dilihat orang dan menolak memberi pertolongan.Sedangkan didalam ayat lain diungkapkan bahwa shalat itu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar. Kedua ayat itu mengingatkan semua hamba yang beriman untuk menegakkan shalat lima waktu, melaksanakannya  dengan sebaik-baiknya, sebab pelaksanaannya yang baik sesuai ketentuannya kemudian  akan mengantarkannya  terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Kewajiban shalat lima waktu ini justeru diterima nabi Muhammad saw. pada malam 27 Rajab yang ketika itu beliau diisrakan dan dimi’rajkan.
            Sebagaimana diungkapkan dalam berbagai reference, sesaat sebelum diperjalankan pada malam itu, 27 Rajab, dilakukan pengoperasian dada beliau, alias dibedah untuk dibersihkan alaqah warna hitam yang konon kabarnya disitulah  iblis sering mangkal untuk menggoda dan merayu seseorang. Dengan demikian, wajarlah kalau kemudian susah bagi iblis laknatullah menggoda beliau dengan cara apapun dan bagaimanapun. Sebab alaqah warna hitam itu sudah suci bersih, tidak ada tempat lagi bagi iblis untuk menetap dan menggodanya. Hati yang bersih akan disinari oleh hidayah Tuhan yang memancar  menghiasi segala tingkah laku dan perbuatan seseorang, termasuk memiliki motivasi ikhlas dalam berbuat. Al-Qur”aan melukiskan semua hamba Allah, apakah ia sebagai guru agama, kiyai, pedagang, petani, buruh, dan lain-lain, semua berpeluang bagi iblis untuk  menggoda dan merayunya.Lalu siapa yang ia tidak bisa mengggoda dan merayunya, al-Qur”aan menjawabnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam berbuat. Dengan demikian, seiap hambaNya dalam berbuat hendaknya memelihara sebaik-baiknya tujuan suci itu, tidak harus tujuan mencari ridhaNya itu kemudian terkontaminasi oleh motivasi-motivasi lainnya, apakah itu riya umpamanya sebagaimana diterangkan ketika menguraikan tentang shalat di atas, atau oleh motivasi buruk lainnya. Tentang niat ikhlas ini al-Qur”aan telah mengabadikan suatu surah yang diberi nama al-ikhlas yang terjemahnya adalah sebagai berikut “Katakanlah, Dia adalah Allah Yang Maha Esa. Allahlah satu-satunya tempat bergantung. Ia tiada beranak dan tiada pila diperanakkan. Tiada sesuatupun yang setara dengan Dia. Ada riwayat yang menyebutkan, kaum Quraisy mengutus beberapa delegasi menghadap nabi Muhammad saw. menawarkan sejumlah fasilitas agar beliau berhenti mengajak orang mentauhidkan Tuhan, mengikhlaskan menyembah Tuhan.Tawaran itu adalah dalam bentuk harta, kedudukan, dan wanita. Beliau menjawab, aku tidak gila hartaa, kedudukan dan wanita.  Aku adalah utusan Allah yang mengajak manusia meninggalkan penyembahan berhala dan pengarahkan pengagungan hanya kepada Allah swt. Sikap  beliau menolak tawaran itu,boleh jadi menggambarkan bagaimana seseorang yang dalam menegakkan kebenaran, terutama ketauhidan mengajak orang mengakui Tuhan sebagai zat yang Maha Esa tidak mudah tergiur dengan tawaran itu. Mengajak umat menegakkan ketauhidan,  meluruskan keyakinan mereka tampak jauh lebih penting ketimbang menerima tawaran yang hanya merupakan kepentingan sesaat, walaupun menurut ukuran keduniaan itu mungkin  sangat menjanjikan.  Menurut sebuah sumber-setelah dioperasi-dada beliau dipenuhi dengan  al-iman, al-Islam, al-ilm, al-hilm, dan al-hikmah. Mengapa diisi dengan semua ini tidak dengan yang lain seperti al-syaja’ah, al-adl, atau al-ihsan umpamanya? Perjalanan isra dan mi’raj ini boleh diibaratkan  sebagai episode kehidupan bagi seseorang yang sarat lika-likunya, sehingga banyak didalamnya diperlihatkan tamsil-tamsil yang terkait dengan kehidupan itu sendiri. Dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha beliau berhenti di Thaybah, Baitul lahm, Tursina, dan di Masjid al-Aqsha sendiri dimana ditempat-tempat itu beliau melaksanakan shalat. Di setiap langit yang beliau lewati; yang pertama sampai yang ketujuh, beliau bertemu dengan beberapa orang nabi terdahulu seperti Adam, Isa bin Maryam dan Yahya, Yusuf, Ideris, Harun, Musa dan  nabi Iberahim As. Masing-masing nabi itu menyambut  Muhammad saw. dengan hangat berikut menyampaikan salam kehormatan untuk beliau. Boleh jadi bertemunya nabi Muhammad saw. ketika itu dengan sejumlah para nabi, menggambarkan bahwa hidup seseorang mestinya selalu dekat dengan orang-orang baik termasuk dekat dengan para ulama.Para ulama menurut sebuah hadits adalah pewaris para nabi yang melanjutkan tugas dan tanggung jawab nabi membimbing umat ke arah kebaikan dunia akhirat.Setelah itu, beliau meneruskan perjalanan menghadap Tuhan dimana  beliau melihat berbagai perumpamaan yang baik dan tidak baik yang terkait dengan kehidupan sekarang di dunia dan nanti di akhirat.Perumpamaan-perumpamaan itu tampaknya diharapkan menjadi bahan renungan berharga dan pelajaran bagi semua hambaNya dalam mengarungi kehidupan ini. Dada nabi Muhammad setelah dibedah  untuk dibersihkan diisi dengan  al iman,al-Islam,al- ilm,al- hilm, dan al- hikmah seolah mengisyaratkan bahwa seseorang dalam hidup ini jiwanya mesti memiliki al-iman, al-Islam, al-ilm, al-hilm, dan al-hikmah. Sebagai pengikut nabi Muhammad  saw. sudahkah setiap individu muslim  mengisi jiwanya  dengan al- iman, al-Islam,al- ilm,al- hilm, dan al-hikmah sebagaimana nabi Muhammad saw. Pengakuan beriman bagi seseorang belum dipandang cukup dengan hanya mengatakan “saya beriman” tanpa menyakini dengan hatinya berikut membuktikannya  dengan tindakan nyata. Kata-kata “amanu” dalam al-Qur”aan hampir selalu dibaringi oleh  kata-kata yang bernuansa tindakan nyata, seperti  amal shaleh, dan lain-lain yang sejenisnya.  Panggilan untuk melaksanakan ibadah puasa umpamanya yang termaktub dalam al-Baqarah 183,  kata-kata   “amanu” dibaringi oleh  kata-kata al-shiyam, artinya puasa sebagai bukti nyata mengimani kewajiban  berpuasa. Pengakuan beragama Islam belum cukup dengan hanya mengatakan “aku beragama Islam.”Al-Islam yang bisa diartikan kedamaian, aman sentosa, selamat, tunduk dan patuh berikut penyerahan, boleh jadi dimaksudkan agar setiap individu muslim dalam kehidupannya membawa dan menyebarkan kedamaian, tidak melakukan kerusakan termasuk pertumpahan darah. Al-Qur”aan mengungkapkan “janganlah kamu melakukan kerusakan dipermukaan bumi ini padahal bumi ini sebelumnya keadaannya baik.” Ada empat ciri keislaman -menurut sebuah sumber- bagi seseorang; merendahkan diri, tidak rakus, tidak berbohong, dan tidak melakukan perbuatan haram atau terlarang. Pengakuan berilmu belum cukup dengan hanya mengatakan “saya orang alim umpamanyatanpa mengamalkannya.” Al-Ilm atau ilmu pengetahuan, mengisyaratkan bahwa setiap individu muslim mestinya mejadi orang yang berilmu, yang mengetahui bagaimana beriman yang baik, dan bagaimana beribadah  yang baik dan benar. Setiap individu muslim mestinya menjadi orang-orang yang haus ilmu, yang memiliki semangat tinggi menggali, memahami, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan, sehingga diharapkan umat Islam  tidak dinilai  terkebelakang dalam bidang ilmu pengetahuan atau pendidikan. Agama mendorongan  setiap individu  muslim agar menjadi orang cerdas, alim yang mengamalkan  ilmunya. Al-Qur”aan seolah bertanya, apakah sama antara orang yang berilmu pengetahuan dengan orang  yang tidak berilmu pengetahuan? Selaanjutnya kesantunan keramah-tamahan al-hilm.Pengakuan kesantunan belum cukup dengan hanya mengatakan “saya orang santun” tanpa dibuktikan dengan tindakan nyata. Al-hilm, kesantunan atau keramah-tamahan, mengisyaratkan bahwa setiap individu muslim  prilakunya harus santun, tidak anargis, sebab tindakan  anargis dapat menggambarkan seolah al-Islam bukan agama yang menawarkan kesantunan atau kedamaian. Sekarang sering terjadi tindakan-tindakan kekerasan yang menggambarkan  kesantunan seolah sirna dalam kehidupan. Anak dengan tragis membunuh orang tuanya dan orang tuanya dengan ringan tangan memukul anaknya. Dalam  Ali ‘Imran 79  diungkapkan bahwa kesantunan atau keramah-tamahan itu adalah merupakan rahmat Allah swt. sehingga untuk memilikinya seseorang  harus mencarinya dan meminta kepadaNya. Selanjutnya pengakuan arif, (al-hikmah) bijaksana belum dianggap cukup hanya dengan mengatakan” aku orang  bijak atau cerdas“ tanpa dibuktikan dengan tindakan nyata. Dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan, nabi Muhammad saw. adalah panutan yang paling ideal.Sulit bagi seseorang menemukan fakta  dimana ditemukan kebijakan beliau yang tidak arif, yang tidak adil atau memihak kepada orang atau kelompok tertentu. Dalam menentukan hukuman beliau mengatakan “andaikata anakku Fathimah mencuri pasti tangannya akan kupotong.” Seseorang yang dalam menegakkan hukum tidak bisa berlaku adil, sesungguhnya dia bukanlah orang yang arif bijaksana; orang yang arif  biasanya adil dan orang yang adil biasanya bijaksana.  Dengan membaca berikut menelaah peristiwa luar biasa; isra dan mi’raj ini diharapkan semua hamba Allah yang beriman, dapat memetik hikmah yang terkandung di dalamnya, memahaminya dan mengamalkan pesan-pesan berharga yang dipertunjukkan ketika terjadi peristiwa itu.Sebaliknya, semua hambaNya  berupaya menghindari tindakan-tindakan tidak benar yang akan membawa sengsara sebagaimana digambarkan pada peristiwa yang sama isra dan mi’raj nabi Muhammad saw.         
  

        

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar