KONSEP DAN WACANA PEMBANGUNAN
Muhammad Fadli Al Fudhail
Latar belakang kajian pembangunan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar
ungkapan bahwa “tuhan tidak akan mengubah nasib suatu golongan, apabila
golongan itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri”. Ungkapan lain “berpikirlah
lah tentang apa yang telah dijadikan tuhan, jangan berpikir pada dzatnya
tuhan”. Kedua ungkapan itu merupakan ide untuk melakukan pembangunan di alam
bumi atau jagat raya ini.
Pembangunan merupakan proses perubahan secara sengaja
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Pelaksana pembangunan banyak
dipengaruhi oleh kondisi fisik dan nonfisik dari suatu masyarakat sehingga
akselerasi (percepatan) pembangunan di setiap negara tidak sama. Menurut
tjokroamidjaja (1989:1), faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan bila
dikaitkan dengan kondisi masyarakat,meliputi:
1.
Masyarakat yang masih tradisional
2.
Masyarakat yang bersifat peralihan, dan
3.
Masyarakat mau (modern).
Siagan (2005:6) mengatakan bahwa fokus dan orientasi
kegiatan pembangunan di dunia ini sejak berakhirnya perang dunia ke II. Pada
saat itu muncul dua pola baru dalam hubungan antar bangsa di dunia ini. Kedua
pola baru tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Bahwa negara-negara yang menang perang pada perang ke II, dan pihak lain
ada negara yang kalah.
2.
Yang terlihat pada waktu itu bahwa dari satu pihak negara-negara bekas
jajahan yang baru saja memperoleh kemerdekaan setelah terjajah sekian lama dan
pihak lain adalah bekas negara jajahan.
Konsep dan definisi pembangunan
secara
definitif pembangunan diformulasikan oleh beberapa pakar dan ahli antara lain
sebagaiberikut.
Tjokroamidjojo
dan mustapadijaja (1990) mengungkapkan pendapat, bahwa pengertian pembangunan
harus dilihat secara dinamis, dan bukan dilihat sebagai konsep statis.
Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir.
Selanjutnya disebutkan bahwa proses pembangunan adalah merupakan perubahan
sosial budaya. Pembangunan supaya menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju
atas kekuatan sendiri (self sustaining proces) tergantung kepada manusia dan
struktur sosialnya.
Di sisi
lain pendapat siagan (2005:4) mengemukakan bahwa pembangunan adalah suatu usaha
atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah manuju modernisasi dalam rangka
pembinaan bangsa (national building).
Selanjutnya siagan (2005:4-5) mengatakan apabila definisi sederhana diatas disimak
secara cermat, akan muncul ke permukaan paling sedikit tujuh ide pokok yaitu:
1.
Pembangunan merupakan suatu proses. Berarti pembangunan merupakan rangkaian
kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan
dan terdiri dari tahap-tahap yang disatu pihak bersifat independen akan tetapi
dipihak lain merupakan “bagian” dari sesuatu yang bersifat tanpa akhir (never
ending).
2.
Pembangunan merupakan upaya yang secara sadar ditetapkan sebagai sesuatu
untuk dilaksanakan.
3.
Pembangunan dilakukan secara terencana, baik dalam arti jangka panjang,
jangka sedang, dan jangka pendek.
4.
Rencana pembangunan mengandung makna pertumbuhan dan perubahan. Pertumbuhan
dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan suatu negara bangsa untuk berkembang
dan tidak sekedar mampu untuk mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan, dan eksestensi.
Perubahan mengandung makna bahwa suatu negara harus bersikat antisipatif dan
proaktif dalam menghadapi tuntutan situasi yang berbeda dari satu iangka waktu
ke jangka waktu yang lain.
5.
Pembangunan mengarah kepada modernitas. Modernitas disini diartikan antara
lain sebagai cara hidup yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya, cara
berpikir rasional dan sistem budaya yang kuat tetapi fleksibel.
6.
Modernitas yang ingin dicapai
melalui berbagai kegiatan pembangunan pendefinisi bersifat
multidimensional. Artinya modernitas tersebut mancakup seluruh segi kehidupan
berbangsa dan bernegara, yang dapat mengejawantah dalam bidang politik,
ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan.
7.
Semua hal yang telah disinggung diatas ditujukan kepada usaha pembinaan
bangsa sehingga negara bangsa yang bersangkutan semakin kokoh pondasinya dan
semakin mantap keberadaannya.
Nilai filosofis pembangunan
Pembangunan
dilaksanakan tentunya dilandasi oleh nilai-nilai filosofis suatu masyarakat
atau bangsa yang bersangkutan.
Filosofi
pembangunan adalah merupakan pemikiran dan gagasan secara radikal mengenai
pembangunan yang dianggap penting bagi kemanusiaan.
Pembangunan
di indonesia seharusnya juga diletakkan dalam skala filsafati dan dalam konteks
pembangunan manusia seutuhnya, adalah salah satu untuk meletakkan “pembangunan”
sinonim dari “development” itu pada skala yang teknis naturalistik semata-mata.
Secara filosofis, satu hal yang perlu kita perhatikan
dalam pembangunan adalah keberadaan manusia indonesia di tengah-tengah kemajuan
teknologi dalam kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya, merupakan
hakikat pembangunan nasional. Kemajuan teknologi sebagai salah satu indikator
yang sering digunakan untuk mengatakan kemajuan pembangunan, tanpa dikendalikan
secara baik justru akan dapat mempengaruhi diri manusia itu sendiri.
Penerapan norma moral dan etika dalam pembangunan
salah hal
yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya ialah daya pikir, akar, dan
nalarnya, daya pikir, akal, dan nalarnya tersebut menjadikan manusia mampu
membedakan antara yang pantas dan tidak pantas dilakukan, antara yang wajar dan
yang tidak wajar.
Tujuan dan tahapan pembangunan
Tujuan
pembanguan di negara manapun, tentunya untuk kebaikan masyarakat, walapun
pembangunan itu dilakukan secara bervariasi pada hakekatnya hampir sam yakni
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut siagan (1984:30) pada umumnya
komponen yang dicita-citakan dalam keberhasilan pembangunan adalah bersifat
relatif dan sukar membayangkan tercapainya “titi jenuh yang absolut”, yang
setelah tercapai tidak mungkin ditingkatkan lagi seperti:
1.
Keadilan sosial
2.
Kemakmuran yang merata
3.
Perlakuan sama di mata hukum
4.
Kesejahteraan matrial, mental dan spiritual
5.
Kebahagiaan untuk semua
6.
Ketentraman
7.
Keamanan
Dalam pelaksanaan pencapaian tujuan pembanguan adalah
menumbuhkan rasa kepercayaan kepada masyarakat serta mendorong untuk lebih
berpartisipasi dalam kegiatan
pembangunan dalam tjokroamidjojo (1985:207) sebagai berikut:
1.
Keterlibatan aktif atau berpartisipasi masyarakat dapat ber arti
keterlibatan dalam proses penentuan arah dan strategi kebijaksanaan pembangunan
oleh pemerintah.
2.
Adalah keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam
pelaksanaan kegiatan pembangunan.
3.
Adalah keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat pembangunan secara
berkeadilan. Dengan melihat tujuan tersebut tidak ada titik akhir dalam
pembangunan.
Visi dan misi pembangunan
Dalam mencapai tujuan pembangunan agar terarah dan dapat
diukur harus dirumuskan visi dan misi yang selaras dengan tujuan tersebut.
Visi adalah pandangan atau wawasan luas manajemen
mengenai kondisi (lingkup, skala dan ukuran) yang ingin dicapai oleh organisasi
(pembangunan) di masa depan ( supriyono, 1998:41).
Visi
menumbuhkan komitmen pelaksana pembangunan untuk mewujudkan visi tersebut
menjadi kenyataan. Agar dapat menentukan visi dengan jelas bagi suatu
organisasi manajemen harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut, yaitu:
dalam pembangunan apa kita sekarang berada. Untuk menjawab pertanyaan tersebut
manajemen harus menjawab yaitu:
1.
Menganalisa skala, lingkup, ukuran dan bauran hasil pembangunan, aktivitas
dan organisasi saat ini.
2.
Memandang kedepan dengan cara membandingkan celah antara apa yang
sesungguhnya apa yang sesungguhnya dicapai dengan apa yang ingin dicapai.
3.
Celah tersebut digunakan oleh pelaksana pembangunan untuk menentukan arah
dan pola organisasi masa depan.
Menurut supriyono (1998:42) misi adalah pernyataan pokok
mengenai alasan eksestensi organisasi
dan peta umum arah dan pola organisasi di masa depan. Misi menentukan:
1.
Bagaiman kehendak organisasi berinteraksi dengan lingkungannya.
2.
Bagaimana kehendak organisasi untuk mencapai visi tertentu.
Misi mendifinisikan bidang-bidang pembanguan biasanya
dalam bentuk golongan kegiatan atau harapan yang hendak dicapai sesuai dengan
tuntunan lingkungan. Misi disebut pula pernyataan misi, juga berisi pernyataan
lebih umum yang disampaikan pada pihak luar mengenai keinginan-keinginan
organisasi yang hendak dicapai. Menurut supriyono (1998:42) menyatakan
misi harus memuat antara lain, yaitu:
1.
Menentukan apa yang dicita-citakan organisasi.
2.
Membedakan organisasi dengan organisasi lain.
3.
Menjadi kerangka untuk evaluasi aktivitas
kini dan masa depan.
4.
Menjamin kebulatan maksud dalam organisasi.
5.
Menyediakan basis untuk memotivasi sumber-sumber organisasi.
6.
Menyediakan standar untuk mengalokasikan sumber-sumber organisasi
7.
Menentukan sifat dan ilkim bisnis yang diinginkan.
8.
Menyediakan titik fokal untuk mengidentifikasikan tujuan dan arah
perusahaan (organisasi)
9.
Memungkinkan penterjemahan maksud organisasi kedalam tujuan-tujuan yang
cocok.
10. Memungkinkan penterjemahan tujuan ke dalam strategi dan
aktivitas yang spesifik lainnya.
Agen dan komitmen pembangunan
Siagian
(2005:48-53) menyebutkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pembangunan dalam
semua segi kehidupan dan penghidupan bangsa menuntut komitmen seluruh komponen masyarakat idealnya,
berdasarkan strategi dan rencana pembangunan yang di tetapkan pemerintah, semua
warga masyarakat turut menjadi “pemain” dan tidak ada yang sekadar menjadi
“penonton”.
Memang
benar bahwa jenis, intensitas, dan eksentitas keterlibatan berbagai pihak
berbeda-beda karena pengatahuan, keterampilan, pemekiran intelektual, waktu,
tenaga, dan kesempatan yang dimiliki juga beraneka ragam. Meskipun
penyelenggaraan kegiatan pembangunan tidak menggunakan pendekatan “elitist”,
kelompok elite dalam masyarakat harus memberikan kontribusi yang lebih
substansial dibandingkan dengan para warga masyarakat lain.









0 komentar:
Posting Komentar