Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN T13


KONSEP DAN WACANA PEMBANGUNAN
Muhammad Fadli Al Fudhail

Latar belakang kajian pembangunan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan bahwa “tuhan tidak akan mengubah nasib suatu golongan, apabila golongan itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri”. Ungkapan lain “berpikirlah lah tentang apa yang telah dijadikan tuhan, jangan berpikir pada dzatnya tuhan”. Kedua ungkapan itu merupakan ide untuk melakukan pembangunan di alam bumi atau jagat raya ini.
Pembangunan merupakan proses perubahan secara sengaja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Pelaksana pembangunan banyak dipengaruhi oleh kondisi fisik dan nonfisik dari suatu masyarakat sehingga akselerasi (percepatan) pembangunan di setiap negara tidak sama. Menurut tjokroamidjaja (1989:1), faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat,meliputi:
1.      Masyarakat yang masih tradisional
2.      Masyarakat yang bersifat peralihan, dan
3.      Masyarakat mau (modern).
Siagan (2005:6) mengatakan bahwa fokus dan orientasi kegiatan pembangunan di dunia ini sejak berakhirnya perang dunia ke II. Pada saat itu muncul dua pola baru dalam hubungan antar bangsa di dunia ini. Kedua pola baru tersebut  adalah sebagai berikut:
1.      Bahwa negara-negara yang menang perang pada perang ke II, dan pihak lain ada negara yang kalah.
2.      Yang terlihat pada waktu itu bahwa dari satu pihak negara-negara bekas jajahan yang baru saja memperoleh kemerdekaan setelah terjajah sekian lama dan pihak lain adalah bekas negara jajahan.

Konsep dan definisi pembangunan
            secara definitif pembangunan diformulasikan oleh beberapa pakar dan ahli antara lain sebagaiberikut.
            Tjokroamidjojo dan mustapadijaja (1990) mengungkapkan pendapat, bahwa pengertian pembangunan harus dilihat secara dinamis, dan bukan dilihat sebagai konsep statis. Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Selanjutnya disebutkan bahwa proses pembangunan adalah merupakan perubahan sosial budaya. Pembangunan supaya menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri (self sustaining proces) tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya.
            Di sisi lain pendapat siagan (2005:4) mengemukakan bahwa pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah manuju modernisasi dalam rangka pembinaan  bangsa (national building). Selanjutnya siagan (2005:4-5) mengatakan apabila definisi sederhana diatas disimak secara cermat, akan muncul ke permukaan paling sedikit tujuh ide pokok yaitu:
1.      Pembangunan merupakan suatu proses. Berarti pembangunan merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara            berkelanjutan dan terdiri dari tahap-tahap yang disatu pihak bersifat independen akan tetapi dipihak lain merupakan “bagian” dari sesuatu yang bersifat tanpa akhir (never ending).
2.      Pembangunan merupakan upaya yang secara sadar ditetapkan sebagai sesuatu untuk dilaksanakan.
3.      Pembangunan dilakukan secara terencana, baik dalam arti jangka panjang, jangka sedang, dan jangka pendek.
4.      Rencana pembangunan mengandung makna pertumbuhan dan perubahan. Pertumbuhan dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan suatu negara bangsa untuk berkembang dan tidak sekedar mampu untuk mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan, dan eksestensi. Perubahan mengandung makna bahwa suatu negara harus bersikat antisipatif dan proaktif dalam menghadapi tuntutan situasi yang berbeda dari satu iangka waktu ke jangka waktu yang lain.
5.      Pembangunan mengarah kepada modernitas. Modernitas disini diartikan antara lain sebagai cara hidup yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya, cara berpikir rasional dan sistem budaya yang kuat tetapi fleksibel.
6.      Modernitas yang ingin dicapai  melalui berbagai kegiatan pembangunan pendefinisi bersifat multidimensional. Artinya modernitas tersebut mancakup seluruh segi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dapat mengejawantah dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan.
7.      Semua hal yang telah disinggung diatas ditujukan kepada usaha pembinaan bangsa sehingga negara bangsa yang bersangkutan semakin kokoh pondasinya dan semakin mantap keberadaannya.

Nilai filosofis pembangunan
            Pembangunan dilaksanakan tentunya dilandasi oleh nilai-nilai filosofis suatu masyarakat atau bangsa yang bersangkutan.
            Filosofi pembangunan adalah merupakan pemikiran dan gagasan secara radikal mengenai pembangunan yang dianggap penting bagi kemanusiaan.
            Pembangunan di indonesia seharusnya juga diletakkan dalam skala filsafati dan dalam konteks pembangunan manusia seutuhnya, adalah salah satu untuk meletakkan “pembangunan” sinonim dari “development” itu pada skala yang teknis naturalistik semata-mata.
Secara filosofis, satu hal yang perlu kita perhatikan dalam pembangunan adalah keberadaan manusia indonesia di tengah-tengah kemajuan teknologi dalam kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya, merupakan hakikat pembangunan nasional. Kemajuan teknologi sebagai salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengatakan kemajuan pembangunan, tanpa dikendalikan secara baik justru akan dapat mempengaruhi diri manusia itu sendiri.

Penerapan norma moral dan etika dalam pembangunan   
            salah hal yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya ialah daya pikir, akar, dan nalarnya, daya pikir, akal, dan nalarnya tersebut menjadikan manusia mampu membedakan antara yang pantas dan tidak pantas dilakukan, antara yang wajar dan yang tidak wajar.





Tujuan dan tahapan pembangunan
            Tujuan pembanguan di negara manapun, tentunya untuk kebaikan masyarakat, walapun pembangunan itu dilakukan secara bervariasi pada hakekatnya hampir sam yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut siagan (1984:30) pada umumnya komponen yang dicita-citakan dalam keberhasilan pembangunan adalah bersifat relatif dan sukar membayangkan tercapainya “titi jenuh yang absolut”, yang setelah tercapai tidak mungkin ditingkatkan lagi seperti:
1.      Keadilan sosial
2.      Kemakmuran yang merata
3.      Perlakuan sama di mata hukum
4.      Kesejahteraan matrial, mental dan spiritual
5.      Kebahagiaan untuk semua
6.      Ketentraman
7.      Keamanan
Dalam pelaksanaan pencapaian tujuan pembanguan adalah menumbuhkan rasa kepercayaan kepada masyarakat serta mendorong untuk lebih berpartisipasi  dalam kegiatan pembangunan dalam tjokroamidjojo (1985:207) sebagai berikut:
1.      Keterlibatan aktif atau berpartisipasi masyarakat dapat ber arti keterlibatan dalam proses penentuan arah dan strategi kebijaksanaan pembangunan oleh pemerintah.
2.      Adalah keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan.
3.      Adalah keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat pembangunan secara berkeadilan. Dengan melihat tujuan tersebut tidak ada titik akhir dalam pembangunan.

Visi dan misi pembangunan
Dalam mencapai tujuan pembangunan agar terarah dan dapat diukur harus dirumuskan visi dan misi yang selaras dengan tujuan tersebut.
Visi adalah pandangan atau wawasan luas manajemen mengenai kondisi (lingkup, skala dan ukuran) yang ingin dicapai oleh organisasi (pembangunan) di masa depan ( supriyono, 1998:41).
            Visi menumbuhkan komitmen pelaksana pembangunan untuk mewujudkan visi tersebut menjadi kenyataan. Agar dapat menentukan visi dengan jelas bagi suatu organisasi manajemen harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut, yaitu: dalam pembangunan apa kita sekarang berada. Untuk menjawab pertanyaan tersebut manajemen harus menjawab yaitu:
1.      Menganalisa skala, lingkup, ukuran dan bauran hasil pembangunan, aktivitas dan organisasi saat ini.
2.      Memandang kedepan dengan cara membandingkan celah antara apa yang sesungguhnya apa yang sesungguhnya dicapai dengan apa yang ingin dicapai.
3.      Celah tersebut digunakan oleh pelaksana pembangunan untuk menentukan arah dan pola organisasi masa depan.
Menurut supriyono (1998:42) misi adalah pernyataan pokok mengenai alasan eksestensi   organisasi dan peta umum arah dan pola organisasi di masa depan. Misi menentukan:
1.      Bagaiman kehendak organisasi berinteraksi dengan lingkungannya.
2.      Bagaimana kehendak organisasi untuk mencapai visi tertentu.
Misi mendifinisikan bidang-bidang pembanguan biasanya dalam bentuk golongan kegiatan atau harapan yang hendak dicapai sesuai dengan tuntunan lingkungan. Misi disebut pula pernyataan misi, juga berisi pernyataan lebih umum yang disampaikan pada pihak luar mengenai keinginan-keinginan organisasi yang hendak dicapai. Menurut supriyono (1998:42) menyatakan misi  harus memuat antara lain, yaitu:
1.      Menentukan apa yang dicita-citakan organisasi.
2.      Membedakan organisasi dengan organisasi lain.
3.      Menjadi kerangka untuk evaluasi aktivitas  kini dan masa depan.
4.      Menjamin kebulatan maksud dalam organisasi.
5.      Menyediakan basis untuk memotivasi sumber-sumber organisasi.
6.      Menyediakan standar untuk mengalokasikan sumber-sumber organisasi
7.      Menentukan sifat dan ilkim bisnis yang diinginkan.
8.      Menyediakan titik fokal untuk mengidentifikasikan tujuan dan arah perusahaan (organisasi)
9.      Memungkinkan penterjemahan maksud organisasi kedalam tujuan-tujuan yang cocok.
10.  Memungkinkan penterjemahan tujuan ke dalam strategi dan aktivitas yang spesifik lainnya.

Agen dan komitmen pembangunan
            Siagian (2005:48-53) menyebutkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pembangunan dalam semua segi kehidupan dan penghidupan bangsa menuntut komitmen  seluruh komponen masyarakat idealnya, berdasarkan strategi dan rencana pembangunan yang di tetapkan pemerintah, semua warga masyarakat turut menjadi “pemain” dan tidak ada yang sekadar menjadi “penonton”.

            Memang benar bahwa jenis, intensitas, dan eksentitas keterlibatan berbagai pihak berbeda-beda karena pengatahuan, keterampilan, pemekiran intelektual, waktu, tenaga, dan kesempatan yang dimiliki juga beraneka ragam. Meskipun penyelenggaraan kegiatan pembangunan tidak menggunakan pendekatan “elitist”, kelompok elite dalam masyarakat harus memberikan kontribusi yang lebih substansial dibandingkan dengan para warga masyarakat lain.  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar