KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Muhammad Fadli Al Fudhail
Hakekat pembangunan
Istilah “pembangunan” yang biasa digunakan dalam
bahasa indonesia, dewasa ini telah semakin berkembang sebagai terjemahan dari
beragam istilah asing, sehingga terkadang mengandung kerancuan pengertian. Pembangunan
, dalam kehidupan sehari-hari, dapat digunakan sebgai terjemahan atau padanan
istilah: development, growt and change, modernizastion, atau bahkan juga
progress.
Pembangunan mencakup banyak makna, baik fisik atau non
fisik, baik proses atau tujuannya, baik yang duniawi maupun rohaniah. Pada
istilah pembangunan melekat juga pengertian-pengertian : ekonomi, politik,
maupun sosial dan kebudayaan.meskipun demikian, apapun maksud, tujuannya, dan
makna yang terkandung dalam pengertian yang dimaksudkan dalam satu istilah yang
sama yaitu “pembangunan” , kesemuanya akan selalu merujuk pada sesuatu yang memiliki arah positif,lebih baik, dan
lebih bermanfaat bagi kehidupan umat manusia secara individual maupun bagi
masyarakatnya (Ismid Hadad, 1980).
Riyadi (1981) mengungkapkan adanya beragam rumusan
yang dikemukakan oleh banyak pihak, namun kesemuanya itu mengarah kepda ke
suatu kesepakatan bahwa:
Pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan,
demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan
individu-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan
itu.
Oleh sebab itu, didalam istilah pembangunan,
terkandung begitu banyak pokok-pokok pikiran, yang antara lain adalah sebagai
berikut:
(1) Pembangunan adalah sutu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah
kenal berhenti, untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan dalam
kehidupan masyarakat.
(2) Poses pembangunan yang terjadi, bukanlah suatu yang sufatnya alami atu “given”
, melainkan suatu proses yang dilaksanakan dengan sadar dan terencana.
(3) Proses perubahan yang akan dilaksanakan dan ingin dicapai dalam setiap
pembangunan, adalah perubahan yang menyeluruh yang mencakup beragam aspek dan
tatanan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
(4) Pembangunan adaah suatu yang: dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Sehingga, pembangunan bukanlah kegiatan yang direncanakan, dilaksanakan dan
dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan segolongan atau sekelompok warga
masyarakat.
(5) Pembangunan adalah pembanguna manusia seutuhnya dan pembangunan
masyarakat yang bersangkutan.
Pembangunan Sebagai Erubahan Terencana
Lippit, dkk.(1985) mengemukakan bahwa,
perubahan-perubahan yang disebabkan oleh
prilaku manusia itu, paa dasarnya disebabkan oleh dua hal, yaitu:
1. Adanya keinginan manusia untuk selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
semakin berubah.
2. Adanya atau telah diketemukannya inovasi-inovasi yang yang memberikan
peluang atau menumbuhkan aspirasi-aspirasi baru bagi setiap manusia untuk
berusaha memenuhi kebutuhan atau
memperbaiki kesejahteraan hidupnya, tanpa harus mengganggu lingkungan aslinya.
Kedua alsan
seperti itulah yang sering kali menumbuhkan motivasi pada diri seseorang untuk
melakukan upaya-upaya tertentu yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan.
Sebab jika ia tetap tinggal diam, akan menjadi orang terbelakang atau
ketinggalan.
Dahama dan
Bhatnagar(1980) mengemukakan faktor-faktor pendorong terjadinya perubahan, yang
meliputi:
1. Adanya keinginan manusia untuk selalu melakukan ”modifikasi” tentang
kebutuhan-kebutuhannya, baik untuk menghadapi masalah-masalah jangka pendek
maupun jangka panjang.
2. Terjadinya persaingan-persaingan antar individu atau masyarakat yang
senantiasa ingin memenuhi kebutuhan.
3. Terjadinya kerusakan-kerusakan lingkungan fisik dan kelembagaan sebagai
akibat persaingan antar individu atau antar masyarakat yang saling bersaing
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pembanguan Sebagai suatu Sistem
Rahim (Schram dan Lerner, (1976) mengungkapkan bahwa,
di dalam setip proses pembangunan sebagi suatu sistem, pada dasarnya terdapat
dua kelompok atau “sub-sistem” pelaku-pelaku pembangunan, yang terdiri atas:
1. Sekelompok kecil warga masyarakat yang merumuskan perencanaan dan berkewajiban untuk
mengorganisasi dan menggerakkan warga msyarakat yang lain untuk berpartisipasi
dalam pembangunan.
2. Masyarakat luas yang berpartisipasi dalam proses pembangunan, baik dalam
bentuk:pemberian input (ide, biaya, tenaga,dll), pelaksana kegiatan,
pemantauan, dan pengawasan, serta pemanfaatan hasil-hasil pembangunan.
Beberapa hal
berikut ini perlu mendapat perhatian dari kedua sub-sistem pelaku-pelaku
pembangunan:
1. Aparat pemerintah/penguasa, di dalam pengambilan keputusan tentang
kebijakan dan perencanaan pembangunan harus senantiasa mau: mendengarkan,
memahami, dan menghayati aspirasi masyarakat, memahami kodisi dan
masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi masyarakat.
2. Masyarakat harus selalu diberitahu tentang apa yang sedang dan telah
direncanakan oleh penguasa, serta diberitahu cara-cara yang telah dipilih untuk
melaksanakan pembangunan yang direncanakan itu. Untuk selanjitnya masyarakat
harus aktif mempersiapkan diri untuk berpartisipasi di dalam proses pembangunan
tersebut.
Pembanguan Sebagai Proses Penerapan
Tekhnologi
Kegiatan pembangunan memerlukan “teknologi-teknologi”
tertentu yang sebelumnya telah dipilih (margono Slamet, 1985), sehingga seluruh sumber daya yang tersedia dapat
dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi perbaikan mutu hidup masyarakat.
Selaras dengan uraian diatas, maka secara ringkas
dapat dikembangkan bahwa:
Pembangunan adalah upaya yang dilakukan secara sadar
dan terencana , dilakukan terus-menerus oleh pemerintah bersama-sama segenap
warga masyarakatnya atau dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh
pemerintah, dengan menggunakan teknologi yang terpilih, untuk memenuhi segala
kebutuhan atau memecahkan masalah-masalah yang sedang akan dihadapi, demi
tercapainya mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat dari suatu
bangsa yang merencanakan dan melaksanakan pembangunan tersebut.
Perkembangan Paradigma Pembangunan
Kartasasmita (1997) menegaskan bahwa, pembangunan pada
dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dalam arti yang
luas. Terkait dengan kajian tentang pembangunan, muhi et. Al (1993)
mengemukakan beberapa pendekatan teoritis, yatu:
a. Teori Evolosi, yang mengacu pada Evolosi peradaban yang dikemukakan oleh
Charles Darwin.
b. Teori perubahan sosial (Emile durkheim, 1964; redfield, 1947)
c. Teori struktural fungsional (parsons, 1851).
d. Teori ekonomi (gunar mrdal,1970; rostow, 1962).
e. Teori konflik yang dicetuskan oleh karl marx (1919-1883).
f. Teoi ekologi, yang dikemukakan oleh odum (1971).
g. Teori ketergantungan yang berkembang di Amerika Latin sebagaimana
dilaporkan oleh frank (wilber, 1979)
Akan halnya
dengan kecendrungan konsep pembangunan yang dikembangkan di Indonesia
(wrihatnolo dan Dwijiwinoto(2007) mengemukakan adanya tahapan tahapan:
a. Strategi pertumbuhan
b. Pertumbuhan dan distribusi
c. Teknologi tepat-guna
d. Kebutuhan dasar
e. Pembangunan berkelanjutan
f. Pemberdayaan
Tentang ke-enam konsep pembangunan tersebut,
kartasasmita (1997) menjelaskan sebagai berikut:
Strategi pertumbuhan
Pembangunan, menurut kepustakaan ekonomi
pembangunan. Seringkali didefinisikan sebagai suatu proses yang
berkesinambungan untuk mewujudkan peningkatan pendapatan riil perkapita melalui
peningkatan jumlah dan produktivitas sumber daya. Dari pandangan itu lahir
konsep-konsep mengenai pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi.
Teori mengenai pertumbuhan ekonomi dapat
ditelusuri setidak-tidaknya sejak abad ke-18, yang diawali oleh Adam Smith
(1776)
Pertumbuhan dan distribusi
Salah satu metode yang umum digunakan dalam
menilai pengaruh dari pembangunan terhadap kesejahteraan masyarakat adalah
dengan mempelajari distribusi pendapatan.
Prmbagian pendapatan berdasarkan
kelas-kelas pendapatan (the size distribution of income) dapat diukur dengan
menggunakan kurva lorenz atau indeks gini. Selain distribusi pendapatan, dampak
dan hasil pembangunan juga dapat diukur dengan melihat tingkat kemiskinan
(proverty)disuatu negara.
Teknologi
Tepat-Guna
Kegagalan teknologi yang padat modal
(capital intensive) untuk menyediakan lapangan dan kesempatan-kerja didunia
ketiga, telah mendorong pendekatan baru yang disebut appropriatetecknology.
Teknologi seperti ini, yang “small is
beautiful”(schumacher, 1978), diyakini lebih cocok untuk negara-negara yang
sedang berkembang, karena disamping npadat-karya (abour intensif) juga mampu
bagi penduduk, dan memberikan nilai tambah produksi yang tepat dinikmati oleh
produsen bahan-bahan atau bahan baku.
Kebutuhan
Dasar
Masih dalam rangka mencari jawaban terhadap
tantangan paradigma keadilan dalam pembangunan, berkembang pendekatan yang oleh
steeten et al.,(1981) disebutnya sebagai pendekatan kebutuhan dasar manusia
atau basic human needs(BHN).
Strategi BHN disusun untuk menyediakan
barang dan jasa dasar bagi masyarakat miskin, seperti makanan pokok, air dan
sanitasi, perawatan kesehatan, pendidikan dasar, dan perumahan.
Walaupun RWG and BHN mempunyai tujuan yang
sama, keduanya berbeda dalam hal kebijaksanaan yang diambi. RWG menekankan pada
peningkatan produktivitas dan daya beli masyarakat miskin, sedangkan BHN
menekankan pada penyediaan public services disertai jaminan kepada masyarakat
miskin agar dapat memperoleh pelayanan tersebut.
Paradigma
ketergantungan
Dalam rangka perkembangan teori ekonomi
politik dan pembangunan perlu dicatat pula bahwa aspek edeologi dan politik
turut mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang berkembang. Salah satu diantaranya
adalah teori ketergantungan (devedency) yang dikembangkan terutama berdasarkan
keadaaan pembangunan di Amerika Latin pada tahun 1950-an/
Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan itu sendiri,
diartikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi
masa-kini, tanpa merugikan generasi dimasa mendatang (world commision, 1987).
Pembangunan
berbasis pada masyarakat.
Konten (1984) memunculkan teori baru yang
menyaajikan potensi-potensi baru yang penting guna memantapkan pertumbuhan dan
kesejahteraan manusia, keadilan dan kelestarian pembangunan itu sendiri, yang
kemudian disebut sebagai teori pembangunan yang berpusat pada rakyat (people
centered development)
Pemberdayaan
dan Pembangunan Partisipatuf
Teori tentang empowerment yang dipandang
sebagai pemaknaan altrnatif terhadap pembanguan pencapaian dan elemen dalam
people centred, disebutkan oleh dudley seers(1979). Ada delapan kondisi utama
yang harus dicapai dalam pelaksanaannya yaitu:
1. Rendahnya kemiskinan
2. Rendahnya pengangguran
3. Relatif ada kesetaraan
4. Demokratisasi dalam kehidupan politik
5. Kemerdekan nasional yang sesungguhnya
6. Baiknya tingkt pendidikan masyarakat
7. Status perempuan yang relatif setara dengan laki-laki dan partisipasi
perempuan,
8. Berkelanjutan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masa depan.
Menurut pandangan
ini tujuan pokok perkembangan dalah memperuas pilihan-pilihan manusia (Ul Haq.
1985). Penngertian ini mempunyai dua sisi.
Pertama,
pembentukan kemampuan manusia seperti tercermin dalam kesehatan, pengetahuan,
dan keahlian, yang meningkat.
Kedua,
penggunaan kemampuan yang telah dipunyai untuk bekerja, untuk menikmati
kehidupan, atau untuk aktif dalam kegiatan kebudayaan, sosial, dan politik.









0 komentar:
Posting Komentar