INOVASI
Muhammad Fadli Al Fudhail
A. Pengertian Inovasi
Materi komunikasi pembangunan adalah pesan
yang ingin disampaikan kepada penerima menfaatnya yang berupa sesuatu yang baru
atau sering disebut sebagai inovasi.
Di dalam bab ini ada beberapa pengertian
inovasi, yaitu:
1. Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan
inovasi sebagai:
Ide-ide baru, praktek-praktek baru, atau obyek-obyek yang
dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan.
2. Lionberger dan Gwin (1982) mengartikan inovasi
tidak sekedar sebagai sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni
sesuatu yang dinilai baru atau dapat mendorong terjadinya pembaharuan dalam
masyarakat atau pada pola lokalitas tertentu.
Jadi, inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang
hasil produksi saja, tetapi mencakup: ideologi, kepercayaan, sikap hidup,
informasi, perilaku, pola pikir, atau gerakan-gerakan menuju kepada proses
perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pengertian inovasi dapat
semakin diperluas menjadi (Mardikanto, 1988):
“Sesuatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan,
perilaku, nilai-nilai, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, di
terima, dan digunakan dan atau di terapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar
warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau
mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat
demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikan mutu hidup setiap individu dan
seluruh warga masyarakat yang bersangkutan”.
B. Ragam Inovasi
Rahim (1971) membedakan adanya dua macam tipe
pesan, yaitu: pesan ideologis dan pesan informatif:
1.
Pesan ideologis: ialah konsep dasar yang melandasi dan
dijadikan alasan untuk melaksanakan perubahan-perubahan atau pembangunan yang
direncanakan demi terwujudnya perbaikan mutu hidup. Sebagai contoh: terwujudnya
masyarakat adil dan makmur, materil dan spiritual berdasarkan Pancasila sebagai
pesan ideologis pembangunan di Indonesia.
2.
Pesan informatif: ialah segala bentuk informasi yang
berkaitan dengan dan bergantung pada pesan ideologisnya.
Pesan informatif dapat berbentuk kebujakan
pembangunan, nilai-nilai sosial budaya, dan semua informasi yang berkaitan
dengan tujuan yang ingin dicapai serta segala macam upaya yang ingin
dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan yang direncanakan, seperti:
ide-ide, metoda, petunjuk teknis, informasi teknologi baru, dan lain
sebagainya.
Tentang pesan informatif ini, Havelock (1969)
membedakannya dalam 4 (empat) macam tipe pesan, yaitu:
1.
Pengetahuan tentang ilmu dasar
Hasil penelitian dasar yang berupa metode dan
teori-teori, yang belum dapat dijadikan acuan untuk langsung diterapkan oleh
masyarakat luas.
2.
Hasil riset terapan dan pengembangan/pengujian
Kegiatan lanjutan untuk mengkaji hasil-hasil
penelitian dasar jika diterapkan di suatu wilayah dengan kondisi fisik/alami
atau kondisi sosial budaya tertentu.
3.
Pengetahuan praktis
Ringkasan dari hasil riset terapan dan
pengembangan/pengujian yang telah “diolah” dan dikaji ulang menjadi informasi
yang mudah dipahami oleh semua pihak yang ingin menggunakannya.
4.
Pesan pengguna
Pesan pengguna dapat berupa masukan bagi
kegiatan penelitian (ilmu dasar dan terapan) paraktis, atau dapat dijadikan
pengetahuan praktis baru yang dapat di manfaatkan oleh Fasilitator atau warga
masyarakat yang lainnya.
Pesan pengguna, dalam kehidupan nyata dapat
berbentuk:
(1)
Ekspresi tentang kebutuhan, yang berupa: keluhan,
kepuasan, kegembiraan, atau cerita tentang pengalaman yang disampaikan oleh
pengguna kapada fasilitator atau teman-temannya, setelah ia menerapkan invasi
yang ditawarkan oleh fasilitatornya.
(2)
Reaksi penerima manfaat, yang berupa:
a)
Meningkatnya kebutuhan akan inovasi yang bersangkutan
(dalam bentuk informasi/penjelasan atau produk).
b)
Perbaikan produksi dan pendapatan setelah menerapkan
inovasi yang ditawarkan.
c)
Sikap negatif yang ditunjukkan kepada fasilitator tokoh
masyarakat, jika ternyata inovasi yang ditawarkan tidak memberikan manfaat/
perbaikan mutu hidup atau bahkan merugikan dan menuntut pengorbanan yang harus
ditanggungnya.
C. Karakteristik Inovasi
Mardikanto dan Sutarni (1985) membedakan
adanya tiga macam materi Komunikasi Pembangunan, yaitu:
1.
Materi tentang pemecahan masalah yang sedang dan akan
dihadapi.
2.
Materi tentang petunjuk dan atau rekomendasi, yang harus
dilaksanakan.
3.
Materi yang bersifat instrumental
Lebih lanjut, dari karakteristik inovasinya,
dapat dibedakan dalam karakteristik intrinsik (yang melekat pada inovasinya
sendiri) maupun karakteristik ekstrinsik yang dipengaruhi oleh keadaan
lingkungannya (rogers, 1983; Mardikanto, 1988).
Karakteristik intrinsik inovasi tersebut
mencakup:
a.
Informasi ilmiah yang melekat/dilekatkan pada inovasinya
b.
Nilai-nilai atau keunggulan (teknis, ekonomis, sosial
budaya, dan polotis) yang melekat pada inovasinya
c.
Tingkat kerumitan (kompleksitas) inovasi
d.
Mudah/tidaknya dikomunikasikan (kekomunikatifan) inovasi
e.
Mudah/tidaknya inovasi tersebut dicobakan (trialability)
f.
Mudah/tidaknya inovasi tersebut diamati (observability)
Sedangkan karakteristik ekstrinsik inovasi
meliputi:
a.
Kesesuaian (complitibility) inovas dengan lingkungan
setempat (baik lingkungan fisik, sosial budaya, politik, dan kemampuan ekonomis
masyarakatnya)
b.
Tingkat keunggulan relatif dari inovasi yang ditawarkan,
atau keunggulan lain yang dimiliki oleh inovasi dibanding dengan teknologi yang
sudah ada yang akan diperbaharui/digantikannya, baik keunggulan teknis
(kecocokan dengan keadaan alam setempat, tingkat produktifitasnya), ekonomis
(besar biaya atau keuntungannya), manfaat non ekonomis, maupun dampak sosial
budaya dan politis yang di timbulkan.
Roy (1981) dari hasil penelitiannya berhasil
memberikan urutan jenjang kepentingan dari masing-masing sifat inovasi yang
perlu diperhatikan di dalam kegiatan penyuluhan.
|
Jenjang
Kepentingan
|
Sifat Inovasi
|
|
1
|
Tingkat Keuntungan
(profitability)
|
|
2
|
Biaya yang diperlukan
(cost of innovation)
|
|
3
|
Tingkat kerumitan/kesederhanaan
(complexity-simplicity)
|
|
4
|
Kesesuaian dengan lingkungan fisik
(physical compatibility)
|
|
5
|
Kesesuaian dengan lingkungan budaya
(cultural compatibility)
|
|
6
|
Tingkat mudahnya dikomunikasikan
(communcicability)
|
|
7
|
Penghematan tenaga kerja dan waktu
(saving of labour and time)
|
|
8
|
Dapat/tidaknya dipecah-pecah/dibagi
(divisibility)
|
D. Sumber Inovasi
Materi komunikasi pembangunan sangatlah
beragam, dan beragam pula sumber informasi yang dijadikan materi komunikasi
pembangunan. Dari beragam sumber materi tersebut, dapat dikelompokkan:
1.
Sumber resmi dari instansi/dinas-dinas terkait.
a.
Departemen/dinas-dinas terkait.
b.
Lembaga penelitian dan pengembangan.
c.
Pusat-pusat kajian.
d.
Pusat-pusar informasi
e.
Pengujian lokal yang dilaksanakan oleh Fasilitator yang
berstatus pegawai negeri.
2.
Sumber resmi darilembaga-lembaga swasta/lembaga swadaya
masyarakat, yang khusus bergerak di bidang penelitian, pengkajian dan
penyebaran informasi.
3.
Pengalaman petani, baik dari pengalaman usaha taninya
sendiri atau hasil dari “petak pengalaman” yang dilakukan secra khusus dengan
atau tanpa bimbingan fasilitator
4.
Sumber lain yang dapt dipercaya, misalnya: informasi
pasar dan para pedagang, perguruan tinggi
5.
Publikasi (buku, teks, jurnal), media-media (majalah,
surat kabar, tabloid), internet, dll.
Sehubungan dengan ragam sumbermateri yang
disebutkan di atas, perlu diingat bahwa:
1.
Materi yang berasal dari lembaga-lembaga resmi
(pemerintah dan atau swasta) seringkali tidak selalu sesuai dengan kondisi
pengguna, meskipun telah teruji melalui metode ilmiah tertentu. Sehingga,
tidaklah mengherankan jika materi-materi yang disampaikan seringkali ternyata:
a.
Secara teknis tak dapat dilaksanakan
b.
Secara ekonomi tidak menguntungkan
c.
Tidak dapat diterapkan karena pertimbangan-pertimbangan
politis, sosial, dan budaya setempat yang tidak mendukungnya.
2.
Materi yang berasal dari pengalaman petani, seringkali
masih diragukan keterandalannya (ketepatan dan ketelitiannya).
3.
Materi yang berasal adri sumber lain, seringkali tidak
jujur.
E. Pemilihan Inovasi
Arboleda (1981) memberikan acuan agar setiap
Fasilitator mampu membeda-bedakan ragam materi yang ingin disampaikan pada
setiap kegiatannya:
1.
Materi pokok, yaitu materi yang benar-benar dibutuhkan
dan harus diketahui oleh penerima manfaat utamanya.
2.
Materi pokok, sedikitnya mencakup 50% dari seluruh materi
yang ingin disampaikan pada saat yang sama.
3.
Materi yang penting, yang berisi tentang dasar pemahaman
segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan yang dirasakan penerima
manfaatnya.
4.
Materi ini, diberikan sekitar 30% dari seluruh materi
yang ingin disampaikan.
5.
Materi penunjang,materi yang masih berkaitan dengan
kebutuhan yang dirasakan.
6.
Materi ini maksimal sebanyak 20% dari seluh materi yang
diberikan.
7.
Materi yang mubazir, materi yang sebenarnya tidak perlu
dan tidak ada gayutannya dengan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat.









0 komentar:
Posting Komentar