KOMUNIKASI UNTUK PERUBAHAN
Muhammad Fadli Al Fudhail
Pengertian komunikasi
Secara historis, pada awalnya teori komunikasi
dikembangkan oleh Aristoteles sejak 3 abad sebelum kritus (Amri Jahi, 1984).
Berdasarkan asal katanya, Gunter Kieslich
(1970) mengemukakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare”
yang berarti “berpartisipasi” atau “memberitahukan”. Bersamaan dengan
“communis” yang berarti “milik” atau berlaku dimana-mana; dan “communis opinio”
memiliki “pendapat umum” atau “pendapat mayoritas”. Dengan demikian komunikasi
dapar diartikan sebagai upaya menyampaikan sesuatu (informasi) kepada
masyarakat luas, agar diketahui dan menjadi “milik bersama”
Komunikasi Untuk Perubahan
Dalam setiap segi kehidupan, sejak didalam
keluarga atau rumah tangganya sendiri, dalam hubungan antar tetangga, dalam
tempat bekerja, dala pergaulan antar individu, dalam khidupan ekonomi, politik,
sosial, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, emuanya memerlukan adanya
komunikasi antar individu maupun antar kelompok (anggota) masyarakat.
Dalam proses pembangunan, komunikasi juga
dilakukan dan sering kali menjadi kegiatan yang harus terus dikembangkan
seakrab mungkin antar intansi, antar bagian, antar organisasi dan lain lain.
Terkait dengan perubahan, Grey-Felder (2001
menyatakan bahwa komunikasi memiliki kemampuan, bahkan kekuasaan (power)
sebagai :
1. Katalisator perubahan
2. Memberdayakan individu-individu
3. Penguatan masyarakat
4. Menawarkan pengembangan masyarakat
5. Menyuarakan suara-suara (masyarakat) yang
tidak pernah terdengar.
Proses Perubahan Dalam Komunikasi
Melalui komunikasi, proses perubahan perilaku yang menjadi tujuan
penyuluh/fasilitator sebenarnya dapat dilakukan melalui 4 (empat) scara yaitu:
1) Secara
peruasive, atau bujukan, yakni perubahan perilaku yang dilakukan dengan cara menggugah
perasaan penerima manfaat secara bertahap sampai dia mau mengikuti apa yang
dikehendaki oleh komunikator.
2) Secara
pervaion, atau
pengulangan, yakni penyampaian pean yang sama secara berulang-ulang, sampai
penerima manfaatnya mau mengikuti kehendak komunikator.
3) Secara
complosion, yaitu teknik pemaksaan tidak langsung dengan cara menciptakan kondisi yang
membuat penerima manfaat harus melakukan/menuruti kehendak komunikator.
Misalnya, jika kita menginginkan petanimenerapkan bola tanam: padi-padi, palawija
dilahan yang berpengairan terjamin, dapat dilakukan dengan memutuskan jatah
pengairan kewilayah tersebut.
4) Secara
coersion, yaitu teknik
pemaksaan secara langsung, dengan cara memberikan sanksi (hadiah/hukuman)
kepada mereka yang menurut atau melanggar anjuran yang diberikan. Misalnya,
memberikan penghargaan kepada petani pengguna pupuk organik, atau melakukan
pencabutan terhadap tanaman petani yang tidak direkomendasikan.
Sehubungan dengan ini, dalam komunikasi pembangunan harus dihindari
cara-cara pemaksaan, tetapi sejauh mungkin tetap melakanakan teknik-teknik
bujukan dan pengulangan yang dilakukan melalui kegiatan belajar bersama
Teori-teori Komunikasi Untuk Perubahan
Grey-Felder (2001) secara singkat mengartikan
“komunikasi untuk Perubahan”sebagai:
Proses dialogis yang dilakukan oleh lembaga publik dan
kalangan swasta, agar masyarakat mampu mendefinisikan: siapa mereka, apa yang
menjadi kebutuhan/keinginannya, dan bagaimana cara-cara meyampaikannya.
Terkait dengan hal ini, terdapat35 teori yang
ecara singkaat diringkas menjadi 25 sebagai berikut (Feek and Heimann, 2001):
2. Model Budha
3. Personalityand
Group Awakening Trough Shramadana
4. Teori Kebudayaan
5. Paradigma Teori
Perubahan
6. Interaksi dan
Edukasi Masyarakat
7. Teori
Pendidikan Liberal
8. Model ”Health
Belief”
9. Theory of
ReasonedAction
10. Social
Cognitive Theory
11. Variabel yang
melandasi Perilaku
12. Model
StrukturMasyarakat Lokal
13. Model
Ekspektasi Sosial (Social Expectation)
14. Teori Spiral
Perubahan Perilaku
15. Spiral Perubahan
Perilaku dalam Lingkungannya
16. Tahapan-tahapan
Perubahan Perilaku
17. Cultivation
Theory of Mass Media
18. The Knowledge
Filter
19. Consumer
Information Processing Model of Change
20. Ocial Learning
Theory atau social Cognoitive Theory
21. Community Level
Model
22. Proceda-procede
Phases
23. Robinson’s Two
Step Model
24. Model Difusi
25. The Soul City
Thoughts on Behavior Change









0 komentar:
Posting Komentar