Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

JURNAL DAKWAH ULAMA

MASALAH ZIARAH KE TIGA MASJID
Oleh : DR.H.Mukhyar Sani,MA.

Dalam sebuah hadits dijelaskan, maksudnya “Tidak sangat dianjurkan melakukan suatu perjalanan, melainkan hanya ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabi di Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina”. Menurut hadits ini ziarah ke masjid lain tidak ada larangan, tetapi yang sangat dianjurkan adalah ziarah ke tiga masjid tersebut. Mengapa sangat dianjurkan ke masjid-masjid  tersebut berziarah ? barangkali karena ziarah ke sini memiliki kelebihan atau keistimewaan-keistimewaan tersendiri.
Masjidil Haram umpamanya, sebagaimana diketahui merupakan masjid yang selalu dikunjungi banyak orang, kecuali pada musim haji, di luar musim haji juga demikian. Di dalamnya umat Islam, selain melaksanakan ibadah wajib seperti shalat lima waktu, juga dapat melaksanakan ibadah-ibadah khas lainnya seperti thawaf, sa’i, dan lain-lain. Nabi Muhammad saw. menjelaskan, “Shalat di masjidku lebih afdhal 1000 kali dari shalat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram menurut beliau lebih afdhal 100.000 kali dari shalat di tempat lain”.
Ketika  musim haji tiba, jama’ah haji biasanya rebutan untuk memasuki Masjidil Haram ini, masing-masing mereka melakukan berbagai ibadah. Di antaranya ada yang thawaf, shalat di hijir Ismail, di belakang maqam Ibrahim, rebutan mencium hajar aswad, dan lain-lain. Yang terpenting diingat juga dimanapun umat Islam berada, ketika mereka melaksanakan shalat, mereka menghadap ke arah kiblat. Ka’bah sebagaimana diketahui adalah kiblatnya umat Islam. Setelah jama’ah haji bermalam di Mina, mereka kemudian melaksanakan thawaf ifadhal, ketika mau meninggalkan Mekkah, mereka melaksanakan tahwaf wada’. Pendek kata, banyak ibadah khusus yang dapat dilaksanakan umat Islam ketika mereka berada di Masjidil Haram.
Tentang Masjid Nabawi, umat Islam juga sangat dianjurkan untuk ziarah ke sana. Ada beberapa ibadah khusus yang dapat dilakukan selama jama’ah haji berada di Madinah. Di antaranya adalah shalat arbain, shalat wajib 40 waktu berturut-turut tentunya berjamaah. Karena itu, biasanya jama’ah haji berada di Madinah ini, tidak kurang dari delapan hari. Mengapa, sebab selama delapan hari itu, di dalamnya dapat dilaksanakan shalat wajib 40 waktu. Nabi Muhammad saw. menjelaskan, “Siapa saja yang melaksanakan 40 shalat fardhu di masjidku berturut-turut, ia akan bebas dari neraka, dari siksanya, dan bebas pula dari sifat kemunafikan”.
Selain itu, para jama’ah haji selama di Madinah dapat pula  berulang-ulang ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. Sebagai seseorang yang mengaku umatnya, tentu saja hal ini sangat baik  untuk  dilakukan, dan juga dapat ziarah ke Baqi, tempat isteri-isteri beliau dikuburkan. Nabi Muhammad saw. menjelaskan, “Barangsiapa  yang berziarah ke maqamku, ia akan mendapatkan syafaatku nanti di hari kiamat”.
Selain kedua masjid tersebut, menurut hadits di atas, Masjidil Aqsha di Palestina juga sangat dianjurkan untuk dikunjungi. Banyak umat Islam yang telah berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Masjid ini memiliki sejarah tersendiri, kaitannya dengan kiblat umat Islam, Isra Mi’raj dan lain-lain. Menurut catatan sejarah, Masjidil Aqsha dibangun oleh nabi Daud as. Bangunannya ketika itu sangat besar sekali yaitu kurang lebih 5000 meter persegi. Sayangnya, beberapa tahun kemudian masjid itu roboh menyusul terjadinya tsunami, dan kemudian dibangun kembali dalam bentuk dan ukuran yang ada sekarang ini.
Sebelum datang perintah menghadap Ka’bah, selama beberapa bulan nabi Muhammad saw. dan umat Islam ketika itu dalam shalat menghadap kearah Masjidil Aqsha. Tentu saja masjid ini dianggap sebagai kiblat umat Islam ketika itu. Dalam surah Al Baqarah   : 142 dan 144 hal ini dijelaskan, artinya “Orang-orang yang kurang akalnya diantara mereka akan berkata, apakah yang memalingkan mereka umat Islam dari kiblatnya Baitul Maqdis yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya. Katakanlah kepunyaan Allah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. Sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya. Dalam sebagian surah al-Baqarah ayat 144 diungkapkan artinya “…Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Demikian, semoga bermanfaat.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar