DRAMA KLASIK
INI TENTANG “CINTA”
---------------------------------------------------------------------------------------
Hari sudah sore, namun aku masih
berdiam diri di kamar tidurku. Aku hanya menatap ke arah luar rumahku
melalui jendela kamar. Ku lihat hujan masih sangat deras. Di luar sana ada
beberapa anak kecil yang sedang bergembira menikmati hujan. Dengan bertelanjang
dada, mereka saling memercikkan air yang tergenang dari sebuah kubangan di
tengah lapangan besar itu. Terlihat mereka saling tertawa pertanda bahwa mereka
sangat menikmatinya. Tiba-tiba pikiranku mengingat seseorang yang kemarin
aku temui di sekolah. Gadis yang membuatku sering tersenyum bodoh dalam setiap lamunanku. Gadis itu adalah Rena. Seorang gadi scantik yang mendominasi semua fikiranku.
Dan tanpa sadar dan tanpa menghiraukan hujan ataupun jendela, akupun
mulai terlelap.
------------------------------------------
Pagi harinya, aku bangun cepat. Ya, ini adalah hari senin. Hari
dimana kami akan dibariskan di tengah lapangan sekolah untuk mengikuti upacara
bendera. Dan aku tidak ingin
terlambat dan dihukum.
Akhirnya, aku tiba di sekolah
tepat waktu. Begitu bel berbunyi, semua siswa berhamburan membentuk barisan
sesuai dengan koloninya masing-masing. Aku pun berbaris sesuai dengan kelasku.
Namun, aku belum melihat Rena didalam
barisan. Hingga tiba-tiba dia muncul tepat di sampingku. Aku terkejut. Aku
merasa senang sekaligus gugup. aku benar-benar terdiam menahan nafas berada di
sampingnya. Sesekali dia melihat ke arahku. Mungkin dia merasa ada yang berbeda
dengan sikap ku.
“ Hey, kamu
kenapa ? kamu sakit ?
kenapa wajahmu pucat dan tubuhmu gemetaran ?” bisik Rena kepadaku.
“ Oh... emmm.. apa...emmm tidak..ti.. aku tidak apa-apa”
jawabku gugup.
“ Oh, ya sudah kalau begitu.” Kata Rena.
Aku pun tidak dapat berkata-kata lagi. Aku hanya terdiam memperhatikan
arahan pembina upacara. Sesekali aku meliriknya dan tersenyum dalam hati.
Ternyata dia begitu perhatian terhadapku
----------------------------------------------
pada suatu hari setela pengumuman. kelulusan sekolahku yaitu SMA bakti banua. Dan
hujan begitu deras. Aku dan Rena terjebak di
sekolah, padahal hari mulai senja. Saat itu aku memberanikan diri berdiri di
sampingnya yang sedang memandang hujan penuh kecewa. Mungkin dia kesal karena hujan
sudah menundanya untuk sampai ke rumah.
“ Hai, Ren
. kenapa wajahnya mengerut begitu .” tanyaku memulai percakapan.
“ Ah, kamu, yan. Ini, hujannya lebat banget.”
jawab Rena
“ oh,
mangnya kenapa ?” kataku.
“ kan susah pulang “ jawabnya.dan aku mulai
nyengir mendengarnya.
“ eh, Ren,
nanti kamu terusin kulyahmu kemana?” tanyaku lagi.
“ belum tau sih, Aku
mash bingung.” Jawabnya kemudian.
Tiba-tiba hujan mulai reda. Kini gerimislah yang berperan.
Di kejauhan, terlihat sinar jingga sebagai efek dari hadirnya senja.
“ ren, hujannya sudah reda nih, ayo kita
pulang.” ajakku
pada Rena.
“ Oh iya, yan.
Kalau kamu, mau kulyah dimana
? tanya Rena sewaktu
diperjalanan.
“ Kalau aku sih ingin kulyah
dibanjarmasin pengen dikampus
IAIN Antasari Banjarmasin.” Jawabku sambil nyengir.
“ Begitu ya. bagus deh kamu bisa meneruskan kulyah” Kata Rena.
Kami pun terus berjalan, hingga
akhirnya tibalah di ujung jalan dimana kami harus berpisah. Sebelum berpisah
aku pun memulai merealisasikan maksud dan tujuanku mengajaknya berjalan
menikmati hujan di senja ini.
“ Ren,
sebenarnya ada yang mau aku katakan padamu.” Kataku pada Rena.
“ Apa ?. katakan
saja” tanya Rena.
“ Ren,
aku menyukaimu. Aku tau ini sulit bagimu, tapi aku berharap kau mau menerimaku.” Jawabku.
Rena
terlihat bingung. Begitu juga denganku.
“ Baiklah, aku
tidak tahu harus bagaimana. Aku
perlu berpikir. Aku pulang dulu.” Kata Rena tiba-tiba .
“ iya,
Ren. Tapi aku harap
jangan lama-lama karena minggu
depan aku sudah berangkat ke Banjarmasin.” Jawabku.
Rena hanya mengangguk lalu
pergi menjauhiku menuju rumahnya. Aku tidak berhenti memandangnya hingga dia
benar-benar hilang di balik tembok rumahnya. setelah itu, aku pun pulang ke
rumah dengan perasaan lega bercampur cemas. Lega karena semua isi hati telah
tercurahkan. Cemas karena tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya terhadap
pengakuanku tadi kepadanya.
--------------------------------------------
Sejak hari dimana aku mengungkapkan
perasaanku kepadanya, Rena
banyak berubah. Dia menjadi pendiam. Aku juga tidak berani untuk menanyakan hal
itu padanya karena takut membuatnya marah.
Sampai hari ini. hari dimana aku
akan berangkat ke Banjarmasin,
Rena masih membisu. Dia
tidak pernah mengabari aku tentang apapun yang berkaitan dengan peristiwa itu.
Sikapnya itu seakan mempertegas bahwa dia memang tidak memiliki perasaan yang
sama denganku. Aku hanya dapat pasrah menerima keadaan ini. Akhirnya, dengan
sisa-sisa semangat yang ku miliki aku pun berpamitan pada semua keluarga
dirumah dan masuk kedalam taxian kota meninggalkan mereka untuk pergi ke terminal
yang menuju kota Banjarmasin tempataku kulyah. Sepanjang perjalanan, ku amati
satu per satu bangunan dan jalanan yang pernah menjadi saksi bisu cerita senja
ku bersama Rena. Aku
hanya dapat menahan sedihku.Terlalu banyak kenanganku bersama Rena, Berat
rasanya meninggalkan kota ini. kembali aku hanya dapat memejamkan mata sambil
menghela nafas. Namun, semua harus ku lakukan. Ini semua demi mimpi dan cita-citaku yang ingin menjadi
seorang guru yang handal.
Menunggu keberangkatan, aku pun duduk di salah satu kursi
tunggu diterminal. Aku
duduk sendirian. Aku duduk seperti orang memohon doa. Membungkuk dan
mengusap-usapkan kedua tanganku ke wajah. Tiba-tiba...
“ Hey, mau berangkat kok tidak bilang-bilang” kata seseorang
yang berada di sampingku.
Aku kenal suara itu. suara anggun yang hanya dimiliki oleh
seorang gadis di kelas. Ya, Rena.
Pasti itu Rena.
Seketika aku menoleh ke arahnya, dan benar saja itu adalah Rena. Aku senang luar biasa.
“ Eh, Rena.
Kok ada di sini, ada apa ?” tanyaku.
“ tentu
saja, aku ke sini untuk menemui mu. Aku kan masih punya hutang. Karna aku belum menjawab tentang pernyataanmu
waktu itu.” jawabnya.
“ Oh, iya. Jadi gimana ?” tanya ku.
“ Oke. Dengar dan lihat aku. Pertama, aku begitu kaget
mendengar pernyataanmu waktu itu karena sebenaranya aku juga mempunyai rasa
yang sama denganmu. Hanya saja aku lebih keras kepala darimu. keras kepalaku
membuatku hanya dapat memendam perasaan ini dalam-dalam. Dan sebenarnya aku
tidak tahu harus jawab apa.” Jawab Rena
“ Rena, aku tidak memaksamu untuk menjawab pernyataanku itu.
Tapi, aku ingin kau percaya. Aku ingin kau percaya terhadap semua perasaanku
terhadapmu.” Kata ku pada Rena.
“ Aku percaya. Hanya saja , seperti yang ku katakan tadi,
aku lebih keras kepala. Aku selalu menyangkal dan menyangkal. kau tau, sebenarnya
aku tak ingin kau pergi, yan.
Aku sudah terlalu nyaman denganmu. Aku sudah mulai terbiasa mendengar suaramu.”
Jawab Rena.
“ Ren,
bukan hanya kau yang seperti itu. aku bahkan sudah sedari dulu merasa nyaman
denganmu. Itu sebabnya aku menyukaimu dan menantang semua rasa gugup ku saat
mengungkapkan isi hatiku ini kepadamu. Itu juga yang menyebabkan aku ingin kau
mau menerimaku. ” Kata
ku pada Rena.
Rena
hanya terdiam. Duduk dan hanya
menuduk dikursi sebelahku, dia membisu seribu bahasa. Sampai seorang Petugas terminal meminta agar semua
penumpang bersiap-siap. Aku pun meminta Rena untuk bangun dan membiarkan aku pergi. Aku mencoba
membangunkan karena mungkin dia tertidur. Perlahan, aku menyentuh bahunya.
Namun dia tak bergeming. Aku kembali menyentuh dan menggoyang-goyangkan bahunya
semakin keras. Lagi-lagi dia tidak merespon. Aku mulai cemas.
“ Ren,
bangun Ren. Aku udah
mau berangkat, nih”. Pintaku pada Rena.
Namun, dia tak bergeming sedikitpun.
“ Ren,
kamu kenapa ? astagaaa...”
aku terkejut ketika tanganku bersatu dengan tangannya.
Tangannya begitu dingin. Seperti membeku ditimbun salju
kutub utara. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Rena. Dia tidak bangun-bangun walaupun
aku sudah berusah membangunkannya. Aku semakin cemas.
“ Tolong...tolong... panggil ambulans, panggil cepat.”
Pintaku pada orang-orang
diterminal.
Aku mulai cemas. Aku tidak bisa melihat Rena seperti ini. Aku takut, aku takut
terjadi apa-apa pada Rena.
Aku takut, ini menjadi pertemuan terakhir bagi kami. Aku mulai menangis. Aku
tak dapat membendung air mataku. Aku menumpahkan air mata ini sembari
memeluknya erat-erat dan berharap ini bukan pelukan terakhirku untuknya.
Ambulans tiba. Petugas datang menghampiri kami. Petugas
menggotong badan Rena
dan meletakkannya ke dalam mobil itu. mereka membawa Rena ke Rumah Sakit.
-------------------------------------
Beberapa
bulan kemudian
Namaku Ryan ramadhan dan Kini
aku sudah berada dibanjarmasin.
Kota dimana aku melanjutkan studi ku, disebuah perguruan tinggi islam terbesar
dikota Banjarmasin. Yaitu Institut
Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin. aku
memejamkan mata untuk kembali mengingat Rena. sosok yang tidak dapat
tergantikan seumur hidupku. Tak lupa aku membawa kertas hijau dengan tinta
hitam pemberiannya terakhir bersamaku yang aku terima dari ibunya setelah
pemakaman. Dan disana pula aku mengetahui bahwa Rena mempunyai penyakin kangker
tulang. Perlahan-lahan kubuka
kertas tersebut dan aku tak kuasa membaca tulisan itu. tulisan yang berbunyi “ JIKA
SUATU SAAT NANTI AKU MENGHILANG, PERCAYALAH BAHWA AKU MENCINTAIMU” tulisan
sederhana dengan tinta berwarna Hitam yang di goreskan pada kertas berwarna
hijau namun penuh makna. Aku hanya dapat memeluk kertas itu. Tak kusadari,
ternyata air mataku menetes tepat di tubuh kertas hijau itu. Aku menangis
bersama hujan yang terjadi saat itu.
-------------------------------------------









0 komentar:
Posting Komentar