PUBLIC
SPEAKING
Muhammad Fadli Al Fudhail
A. Pengantar
Secara sederhana, kegiatan public speaking adalah
kemampuan berbicara didepan sejumlah orang. Proses komunikasi kegiatan public
speaking dapat berbentuk komunikasi dan bermedia, tergantung dari jumlah
sasaran atau target khalayak.
Seorang pelaksan PR ketika akan melakukan kegiatan
public speaking, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan topic.
Biasanya sangat dipengaruhi oleh visi-misi pertemuan, karakteristik pendengar
dan kemampuan pembaicara. Setalah topik ditetapkan, kemudian menetapkan tujuan.
Penetapan tujuan merupakan pintu gerbang persiapan public speaking. Karena
setelah menetapkan tujuan, akan diketahui persiapan-persiapan apa saja yang
harus dilakukan selanjutnya.
Public speaking merupakan keahlian berbicara dalam
berbagai keadaan dan situasi didepan sejumlah orang. Konsepsi keahlian disini
dibatasi kepada pengertian bagaimana dimaksudkan:
1. Mengorganisasikan pikiran sesuai logika
2. Penyesuaian pesan terhadap lawan bicara
3. Penyampaian pesan berdampak maksimum
terhadap lawan bicara
4. Menyesuaikan diri terhadap umpan balik
lawan bicara
Public speaking menuntut penggunaan bahasa yang
formal. Pendengar biasanya akan bereaksi negatif pada pembicara yang tidak mempercantik
bahasa mereka saat berbicara.
B. Pelaksanaan Public Speaking
Public speaking dapat menghasilkan sesuatu yang
berbeda atau membuat perubahan pada dunia dengan cara yang sederhana, yaitu
berbicara. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pelaksanaannya:
1. Tampilan fisik
2. Tekanan suara
3. Tujuan
C. Persiapan Public Speaking
Penetapan tujuan merupakan pintu gerbang persiapan
public speaking. Karena setelah menetapkan tujuan, pelaksana humas atau PR akan
mengetahui persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan pada tahap lanjut.
1. Tujuan umum: membujuk, memberi tahu,
menghibur, menyampaikan informasi dengan jelas, akurat, menarik perhatian, agar
dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pendengar.
2. Tujuan khusus: metode dan teknik untuk
menetapkan topic, tujuan umum, tujuan khusus, ide sentral secara sistematis.
D. Prosedur Persiapan Public Speaking
Terdapat empat yang harus diperhatikan oleh seorang
pelaksana humas atau PR di dalam mempersiapkan prosedur public speaking bagi
kepentingan perusahaan atau organisasi yaitu:
1. Menentukan topic
2. Menetapkan tujuan umum
3. Menetapkan tujuan khusus
4. Menetapkan ide sentral
E. Persiapan Penyusunan Ide Sentral
Persiapan
penyusunan ide sentral meliputi:
1. Khalayak biasanya ingin mendengar
tentang hal-hal yang berarti bagi mereka
2. Tidak ada hal yang paling penting
membuat orang tertarik, selain tentang diri mereka sendiri, masalah mereka
sendiri dan cara menyelesaikan masalah mereka
3. Pembicara yang baik adalah yang
berorientasi pada pendengarnya.
Langkah
menyusun ide sentral adalah:
1. Ide sentral harus ditulis dalam kalimat
padat yang lengkap
2. Jangan menggunakan bentuk pertanyaan
3. Hindari bahasa simbolik
4. Pastikan ide pelaksanaan humas atau PR
tidak terlalu umum atau kurang jelas
F. Analisis Khalayak
Analisis khalayak yang dilakukan berkaitan dengan
pelaksanaan kegiatan public speaking dikelompokkan dalam dua hal:
1. Analisis Demografi merupakan analisis
yang secara khusus digunakan untuk mengetahui usia, factor gender,
latarbelakang suku, budaya, bangsa dan agama.
2. Analisis Situasi merupakan analisis yang
mempelajari khalayak sebagai target dari sasaran komunikasi, meliputi jumlah
khalayak, setting fisik, kedudukan pendengar terhadap subjek, kedudukan
pendengar terhadap pembicara.
G. Pengorganisasian Naskah
Pengorganisasian dan pembangunan materi public
speaking yang kokoh dapat dilakukan jika pelaksanaan humas atau PR menguasai
fungsi ketiga komponen dasar meteri public speaking, yaitu: pembukaan, batang
tubuh, dan penutup.
H. Metode Cresendo dan Ending
Metode ini diadopsi dari teknik musik, pelaksanaan
humas atau PR harus membangun minat dan perhatian dari pembukaan dengan
menggunakan suara, baik itu nada, intonasi, ketukan maupun volume suara.
Metode ini juga merupakan kombinasi antara isi pesan
yang dramatic, gerak badan dan jeda kalimat. Kombinasi itulah yang menciptakan
momen penutup yang berkesan karena memang sudah dirancang dari awal.
I. Metode Menyampaikan Pesan
Untuk menjadi public speaker yang handal, pengalaman
adalah guru terbaik. Tapi ingat, dengan pedoman-pedoman yang ada, seorang PR
akan memiliki petunjuk dasar untuk dapat memulai dari arah yang benar.
Karena itu ketika seorang PR sebelum melakukan
kegiatan public speaking, tentu akan timbul sejumlah pertanyaan-pertanyaan
didalam dirinya, antara lain seperti:
1. Apakah saya harus bersikap tegas,
agresif atau kalem saja?
2. Dimana saya harus berdiri nanti?
3. Bagaimana seharusnya gerak tubuh
(gesture) saya?
4. Bagaimana saya memanfaatkan catatan
saya?
5. Seberapa cepat saya harus bicara?
6. Kapan saya berhenti untuk jeda?
7. Kemana saya harus memandang?
8. Apa yang saya lakukan apabila saya
melakuakan kesalahan?
Oleh karenanya, salah satu cara yang tepat bagi
seorang PR untuk membawakan kegiatan public speaking agar dapat berjalan
sebagaimana diharapkan, maka perlu memperhatikan pemilihan dari jenis metode
penyampaian yang lazim digunakan, terdiri dari:
1. Membaca naskah
2. Menghapal naskah
3. Impromtu
4. Extempor aneously
J. Kiat Mengatasi Hambatan
Gugup dapat terjadi karena situasi public speaking
sering dianggap sebagai situasi yang mengancam. Karen dianggap ancaman, maka
adrenalin dalam tubuh bergerak cepat. Akibatnya kendali otak melemah, tubuh
menjadi kaku, gemetar, keluar keringat dan reaksi biologis lainnya. Dalam dunia
komunikasi, dikenal apa yang disebut sebagai Adagium, yaitu: semakin tinggi
ketidakpastian (uncertainty), maka semakin tinggi kacemasan (anxiety). Hambatan
utamanya adalah gugup.
Dapat dijelaskan untuk mengatasi rasa gugup
tersebut, maka seorang PR perlu memperhatikan hal berikut:
1. Dapatkan pengalaman berbicara
2. Lakukan persiapan
3. Berpikir positif
4. Gunakan kekuatan visualisasi
Percaya diri sering dikenal sebagai kekuatan dari
berfikir positif. Jika seseorang berpikir dan menumbuhkan sugesti pada dirinya,
seperti ucapan “saya bisa”, maka akan bisa, begitu pula sebaliknya. Karena itu
pikiran negatif yang seringkali muncul harus dapat dirubah menjadi positif.









0 komentar:
Posting Komentar