Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

RESUME PUBLIC RELATIONS X


KEBERADAAN HUMAS DALAM ORGANISASI
Muhammad Fadli Al Fudhail

A.    TUJUAN HUMAS
Humas pada hakekatnya adalah aktivitas, maka sebenarnya tujuan humas dapat dianalogikan dengan tujuan komunikasi, yakni adanya penguatan dan perubahan kognisi, afeksi dan perilaku komunikasinya.
1.                  Terpelihara dan Terbentuknya saling Pengertian (Aspek Kognisi)
Saling pengertian dimulai dari saling mengetahui atau mengenal. Tujuan humas pada akhirnya dalah memebuat publik dan organisasi/lembaga saling mengenal. Baik mengenal kebutuhan, kepentingan, harapan, maupun budaya masing-masing. Dengan demikian, aktivitas kehumasan haruslah menunjukkan adanya usaha komunikasi untuk mencapai saling kenal dan mengerti.
2.                  Menjaga dan Membentuk Saling Percaya (Aspek Afeksi)
Bila tujuan yang pertama mengarah pada penguatan dan perubahan pengetahuan (kognisi), maka tujuan berikutnya adalah lebih pada tujuan emosi, yakni pada sikap (afeksi) saling percaya (mutual confidence). Sikap saling percaya keberadaanya msih bersifat laten (tersembunyi), yakni ada pada keyakinan seorang (pulik) akan “kebaikan/ketulusan” orang lain (organisasi/lembaga) dan juga pada keyakinan organisasi/lembaga akan “kebaikan/ketulusan” publiknya.
Contoh hubungan dengan pers (external pulic relations). Bila humas memberi informasi dua kepentingan (organisasi dan pers), maka berikutnya humas harus dapat meyakinkan kedua belah pihak untuk dapat menerima dan menghormati kepentingan masing-masing. Misal, kepada pers humas harus dapat meyakinkan bahwa publisitas yang buruk merupakan blocking (halangan) bagi pihak organisasi/lembaga, bahwa kelangsungan organisasi/lembaga sangat mempengaruhi banyak public yang lain dan organisasi/lembaga juga memiliki kode etik bisnis tersendiri. Begitu pula sebaliknya kepada organisasi/lembaga, humas harus dapat meyakinkan bahwa pers akan menulis sesuai dengan fakta, mencari dan memperoleh berita merupakan hak pers dan pers memiliki kode etik sendiri.

3.                  Memelihara dan Menciptakan Kerja Sama (Aspek Psikomotorik)
Tujuan berikutnya adalah dengan komunikasi diharapkan akan terbentuknya bantuan dan kerja sama nyata. Artinya, bantuan dan kerja sama ini sudah dalam bentuk perilaku atau dalam bentuk tindakan tertentu.
Dalam contoh hubungan dengan pers (external public relations), aspek psikomotoris dapat dilihat dari usaha humas sebagai wakil organisasi/lembaga untuk senantiasa terbuka terhadap pers yang menginginkan fakta, tidak mempersulit kerja pers dalam mendapat informasi dan menghubungi sumber berita, bahkan bila mungkin humas memberi ide kepada pers (take media initiatif). Begitu pula kepada organisasi/ lembaga humas dapat menampilkan kerja pers yang professional, memberikan hak jawab dan memberikan hak orang-orang (decision maker) sebagai sumber berita, bahkan bila perlu pers dapat menunjukkan bantuannya dalam menampilkan profil organisasi/lembaga (dapat diwakili oleh profil pimpinan ataupun manajemen) melalui publisitas yang positif. Terhadap peristiwa yang diasumsikan membawa citra negatif, pers dapat mempertimbangkan untuk memuat secara tidak menyolok dan proporsional.
B.     FUNGSI HUMAS
Dalam buku Pulic Relations: Teori dan Preaktek yang ditulis oleh Djanalis Djanaid (1993) disebutkan dua fungsi PR, yakni fungsi konstruktif dan fungsi korektif.
1.      Fungsi Konstruktif
Djanalis menganalogikan fungsi ini sebaga “perata jalan”. Jadi humas merupakan “garda” terdepan yang dibelakangnya terdiri dari “rombongan” tujuan-tujuan perusahaan. Fungsi konstruktif ini mendorong humas membuat aktivitas ataupun kegiatan-kegiatan yang terencana, berkesinambungan yang cenderung bersifat proaktif.
2.      Fungsi Korektif
Apabila kita mengibaratkan fungsi konstruktif sebagai “perata jalan”, maka fungsi korektif berperan sebagai “pemadam kebakaran” yakni apabila api sudah terlanjur menjalar dan membakar organisasi/lembaga, maka peranan yang dapat dimainkan oleh humas adalah memadamkan api tersebut. Artinya, apabila sebuah organisasi/lembaga terjadi masalah-masalah (krisis) dengan public, maka humas haru berperan dalam mengatasi terselesaikannya masalah tersebut.
Sementara Cutlip and Center mengatakan bahwa fungsi PR meliputi hal-hal berikut:
1.      Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organisasi.
2.      Mencipatakan komunikasi dua arah secara timbale balik dengan menyebarkan informasi dan perusahaan kepada public dan menyalurkan opini public pada perusahaan.
3.      Melayani publik dan memberikan nasihat kepada pimpinan organisasi untuk kepentingan umum.
4.      Membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan public, baik internal maupun eksternal.
a.       PERANAN PETUGAS HUMAS
Peranan petugas humas dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yakni peranan managerial (communication manager role) dan peranan teknis (communication technician role). Peranan managerial dikenal dengan peranan ditingkat messo (manajemen) dapat diuraiakn menjadi 3 peranan, yakni expert preciber communication, problem solving process facilitator, dan communication facilitator. Sehingga, bila dijelaskan lebih jauh terdapat 4 peranan, meliputi sebagai berikut.
1.      Expert Preciber Communication
Petugas PR dianggap sebagi orang yang ahli
2.      Problem Solving Process Facilitator
Yakni peranan sebagai fasilitator dalam proses pemecahan masalah.
3.      Communication Facilitator
Peranan petugas humas sebagai fasilitator komunikasi antara perusahaan/ organisasi dengan publik. Baik dengan publik eksternal maupun internal.
4.      Technician Communication
Petugas humas dianggap sebagai pelaksana teknis komunikasi. Dia menyediakan layanan dibidang teknis, sementara kebijakan dan keputusan teknis komunikasi mana yang akan digunakan bukan merupakan keputusan petugas humas, melainkan keputusan manajemen dan petugas humas yang melaksanakannya.


b.       TUGAS HUMAS
Ada 3 tugas humas dalam organisasi/lembaga yang berhubungan erat dengan tujuan dan fungsi humas. Ketiga tugas tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Menginterpretasikan, menganalisis dan mengevaluasi kecendrungan perilaku publik, kemudian direkomendasikan kepada manajemen untuk merumuskan kebijakan organisasi/lembaga.
2.      Mempertemukan kepentingan organisasi/lembaga dengan kepentingan publik.
3.      Mengevaluasi program-program organisasi/lembaga, khususnya yang berkaitan dengan publik.
Sementara Astrid S. Sutanto mengutip pendapat Cutlip & Center menyatakan Tugas PR perusahaan adalah sebagai berikut.
1.      Mendidik melalui kegiatan nonprofit suatu publik  untuk menggunakan barang/ jasa instansinya.
2.      Mengadakan usaha untuk mengatasi salah paham antara instansi dengan publik.
3.      Meningkatkan penjualan barang/jasa.
4.      Meningkatkan kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat sehari-hari.
5.      Mendidik dan meningkatkan tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
6.      Mencegah pergeseran penggunaan barang atau jasa yang sejenis dari pesaing perusahaan oleh konsumen.
c.        KEGIATAN HUMAS
Kegiatan merupakan implementasi dari tugas. Dengan demikian, kegiatan humas sebenarnya adalah implementasi dari tugas humas untuk mencapai tujuan humas dan menjalankan fungsi dan peranannya secara menyeluruh.
     Kegiatan humas pada hakikatnya adalah kegiatan berkomunkasi dengan berbagai macam simbol komunikasi, verbal maupun nonverbal. Kegiatan komunikasi verbal, sebagian besar adalah pekerjaan mulai dari menulis proposal, artikel, progress report, menulis untuk presentasi, menulis untuk pers (press release), membuat rekomendasi, dan sebagainya. Sedangkan nonverbal antara lain jumpa pers, guest guide/open house, announcer, presenter, desk informations, dan sebagainya. Kegiatan komunikasi nonverbal meliputi penyelenggaraan pameran, seminar, special event, riset/penelitian, pers kliping, dan sebagainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar