INSAN KAMIL
Tugas disampaikan pada
diskusi kelompok
Mata Kuliah :
AKHLAK TASAWUF
Semester I KPI
Dosen Pengampu :
Dra. Siti Rahmah, M.Ag
Muhammad Rif’at, S.Ag. M.A
Disusun oleh :
MUHAMMAD FAJAR : NIM. 1001310968
MUHAMMAD FADLI : NIM. 1001310969
PROGRAM SARJANA
FAKULTAS DAKWAH
JURUSAN KOMUNIKASI DAN
PENYIARAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI ANTASARI
BANJARMASIN
2010
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillah, berkat inayah Allah swt. MAKALAH
“Akhlak Tasawuf INSAN KAMIL” telah selesai kami kerjakan. Tiada sedikit pun
dari kami kecuali mudah-mudahan bisa bermanfaat.
Sejalan dengan
semua itu, maka dengan segala kemampuan yang ada kami usahakan berbagai cara
agar mudah difahami.
Akhirnya, semoga
Allah meridhoi usaha kami. Dan bila ada kesalahan tulisan atau keterangan pada
MAKALAH kami, kami meminta maaf sebesar-besarnya, sebelumnya kami ucapkan
terimakasih,,
“WASSALAMU A’LAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUH”
Wassalam :
MUHAMMAD FAJAR
MUHAMMAD FADLI
A. PENDAHULUAN
Ketahuilah, bahwasanya bab ini merupakan inti kajian
dalam karya ini, bahkan semua kitab dari zaman permulaan hingga kelak akhir
jaman, akan menjelaskan inti dari bahan ini, maka cermati betul kandungan
maknahnya, agar anda bisa memahami kesejatian Ihsan Kamil (Manusia Sempurna).
Ketahulah bahwasanya manusia ang sempurna itu satu sama lain adalah dupikat
yang lainnya, kesempurnaannya tidak terkurangi sedikit pun, melaikan dalam hal
‘Arad
(Aksiden), semisal kaki dan tangannya terpus karna sesuatu dan hal lain, atau
terlahir dalam keadaan buta atau lumpuh karna penyakit yang diderita sejak
dalam rahim ibunya (cacat bawaan). Jika tak ada kendala aksiden tersebut, maka
satu sama lain adalah cermin dan dupikat bagi insan kamil lainnya, laksana dua
cermin yang berhadap-hadapan yang satu dengan yang lain bisa melihat duplikat
dirinya. Namun demikian diantara manusia sempurna itu ada yang lebih menonjol
dalam hal kediqyaannya, ada pula yang menonjol karena perbuatannya, mereka
semua adalah manusia-manusia terkasih dan duta-duta tuhan (para Nabi dan para
wali), demikian pula strata kesempurnaan mereka satu sama lain berbeda, ada
yang sempurna ada yang lebih sempurna serta ada yang paling senpurna. Diantara
manusia sempurna itu yang paling
sempurna adalah Muhammad SAW, beliau adalah satu-satunya manusia tersempurna
disemesta alam ini, semua itu tecerminkan dalam akhlak (Moralitas) beliau,
perkataan perbuatan beliau, serta ihwal (keadaan) pun konseus beliau, pahami
dengan betul bahwa Muhammad SAW adalah hakekat Insan Kamil, adapun para kekasih
Allah (dari para nabi dan insan terkasih-Nya) sejatinya adalah pewaris
kesempurnaan beliau. Dalam kitab ini kami hanya memfokuskan kajian kepada inti
Insan Kamil, yaitu Muhammad SAW, tidak ada yang patut mmbeli dirinya dengan
gelar Insan Kamil, karn gelar itu
hanya patut disandang baginda rasulullah Muhamma SAW dalam kesempurnaan dan
keutamaan, yang sedemikian itu merupakan konsesus (Ijma;) para Ulama.
- PEMBAHASAN
- PENGERTIAN
Insan
Kamil artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang
berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini
pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin
Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi
bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.
Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.
- LATAR BELAKANG
Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai
Nur Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga
dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam AS. Al-Jili dengan karya
monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakir wa
al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Konsep Pengetahuan tentang Misteri yang
Pertama dan yang Terakhir) mengawali pembicaraannya dengan mengidentifikasikan
insan kamil dengan dua pengertian. Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep
pengetahuan mengeneai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan
kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu
Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang
baik dan sempurna.
- AJARAN INSAN KAMIL
1. Al-Islam,
dimana pada tingkat ini seseorang harus memiliki identitas keislaman yang mana
identitas itu termaktub dalam rukun Islam: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan
menunaikan ibadah haji bagi yang mampu .
2. Al-Iman,
pada tingkat ini seseorang harus memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah s.w.t.,
Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul Alllah, Hari Akhir, dan Qadar.
3. Al-Shaleh,
pada tahap ini seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah harus didasari oleh
rasa takut (khawf) dan harap (raja’).
4. Al-Ikhsan,
dalam tahap ini seseorang harus menempuh tujuh maqam, yaitu: tobat, inabah
(tobat dari kelalaian mengingat Tuhan), zuhud, tawakal, rela, tafwidl dalam
segala hal, dan ikhlas.
5. Al-Syahadah,
pada tahap ini seseorang akan menyaksikan keindahan dan keagungan Tuhan yang
sesungguhnnya.
6. Al-Shiddiqiyah,
pada tahap ini bisa disebut juga tahap makrifat karena seseorang pada tahap ini
akan mendapatkan cahaya kebenaran secara berangsur dari asma-Nya hingga
zat-Nya, yaitu:
a. ‘ilm al-yaqin, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh asma
Tuhan.
b. ‘ayn al-yaqin, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh sifat
Tuhan.
c. haqq al-yaqin,pada tingakat ini seorang sufi disinari oleh zat
Tuhan.
7. Al-Qurbah, pada tahap ini seseorang akan mendapatkan kedudukan di
sisi Tuhan paling terdekat dengan-Nya, dan ada empat pendekatan kepada Allah,
yaitu:
a. al-Khullah, adalah sebuah persahabatan dengan Tuhan, sehingga Tuhan dikenal secara intim. Dengan demikian sufi senantiasa berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.
a. al-Khullah, adalah sebuah persahabatan dengan Tuhan, sehingga Tuhan dikenal secara intim. Dengan demikian sufi senantiasa berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.
b. al-Hubb, adalah sebuah percintaan antara sufi dan Tuhannya, sehingga yang satu merasakan apa yang dirasakan oleh yang lainnya.
c. al-Khiram, adalah sebuah pencitraan Tuhan secara utuh terhadap seorang sufi, tetapi kesempurnaan Tuhan tidak tercapai oleh sufi secara keseluruhan, karena kesempurnaan-Nya tidak terbatas.
d. al-Ubudiyah, adalah sebuah penghambaan seorang sufi terhadap Tuhannya, karena bagaimana pun ia tidak akan dapat menjadi Tuhan.
- ANALISIS
Seandainya kita cermati dan diteliti bahwasanya yang
menyandang dari gelar Insan Kamil “manusia sempurna” itu adalah orang-orang
yang benar-benar mulia. Dan sifat sempurna inilah yang
patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat
sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya. Insan Kamil
terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat
Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial
dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia
sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang
inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering
terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia
menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.
Bagi al-Jili, manusia dapat
mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan mendakian mistik,
bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai
tingkat. Latihan rohani ini diawali dengan manusia bermeditasi tentang nama dan
sifat-sifat Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam sifat-sifat Illahi serta
mendapat kekuasaan yang luar biasa.
- PENUTUP
Seorang manusia yang menyandang Insan kamil sebagaimana
yang dikemukakan Ibn ‘Arabi adalah merupakan manusia yang telah mencapai
perkembangan spiritual tingkat tinggi dan secara sempurna mencerminkan citra
Tuhan. Dan secara etimologi kata ‘Insan Kamil’ berasal dari bahasa Arab yang
terdiri dari dua kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal
dari turunan beberapa kata. Misalnya saja uns, yang artinya cinta. Dan ada yang
memandang berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa, karena manusia
sendiri secara historis berasal dari suatu lupa dan akan berakhir dengan lupa. Ada juga yang berpendapat
bahwa itu berasal dari ‘ain san, yang artinya ‘seperti mata’. Namun dalam
artian umum biasanya berarti manusia. Kata kedua, kamil, yang artinya adalah
‘sempurna’, yang menurut Murtadla Muthahhari kata ini sangat tepat sekali
digunakan oleh al-Jilli, karena selain kata ini ada juga kata yang mirip
artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam (lengkap).
Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata
tamam (lengkap). Karena kamil menunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap,
namun masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat,
dan itu lah yang disebut kamil (sempurna). Menurut al-Jilli, Lawh al-Mahfuzh
yang dipandang sebagai ketentuan-ketentuan dan catatan-catatan ilmu Tuhan
tentang makhluk-Nya identik dengan al-Nafs al-Kulliyah (jiwa universal) atau
dalam bahasa Hallaj adalah ‘nur muhammad’ yang secara paripurna dapat
ber-tajjali pada Insan Kamil, dan manjadi perantara antara Tuhan dan makhluk,
karena ia (Insan Kamil) adalah khalifah yang diutus untuk menjaga dan
melestarikan alam semesta. Dan ‘hakikat muhammadiyah’ ini dalam pandangan
al-Jilli sendiri adalah sebagai makhluk dan bersifat baharu. Tidak seperti
pandangan Ibn ‘Arabi yang menganggapnya qadim dan baharu, dan Al-Halaj
menganggapnya qadim saja.
Hakikat Muhammad sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan di dalam ilmu-Nya, itu seperti cahaya Tuhan yang menerangi-Nya dari ketiadaan (nihilo).
Hakikat Muhammad sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan di dalam ilmu-Nya, itu seperti cahaya Tuhan yang menerangi-Nya dari ketiadaan (nihilo).
‘’Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH”
DAFTAR PUSAKA
- Syekh. Abd. Karim Ibnu Ibrahim Al_Jaili /insankamil/ Ikhtiar memahami kesejatian manusia dengan sang khaliq hingga akhir zaman
- http://sufiroad.blogspot.com/2009/01/insan-kamil.html
- http://tulizan.blogspot.com/2010/07/konsep-insan-kamill-abdul-karim-al.html
- http://permainankata.blogspot.com/2010/09/insan-kamil.html










0 komentar:
Posting Komentar