KALIMAT MAJEMUK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Selamat datang,
Anda masuk ke alam pikiran kalimat majemuk. Tentulah Anda sudah mengetahui apa
kalimat majemuk itu! Setiap hari kita menghasilkan kalimat-kalimat baru yang
tidak terhitung banyaknya.
Kalimat majemuk
ialah yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih, menyelidiki struktur
kalimat dan kaidah penyusunan kalimat. Marilah kita mempelajari perkembangan
kalimat majemuk dalam hubungan dengan bahasa Indonesia dan memperhatikan
buku-buku yang menguraikan hal itu. Berapa banyak tempat yang dipakai untuk
menguraikan, dan topik apa yang menarik di dalamnya.
Secara garis
besar masa perhatian terhadap kalimat majemuk bahasa Indonesia mula-mula
sedikit, kemudian timbul perhatian terhadap sintaksis dari penulis Indonesia.
Kedudukan
kalimat majemuk dalam tata bahasa generatif disinggung untuk menunjukan
perkembangan ilmu ini.Diharapkan, Anda dapat memahami batas-batas kalimat
majemuk dengan cabang-cabang kalimat lainnya, dan memahami hubungannya.
Anda diharapkan membaca
makalah ini dengan cermat.
Selamat belajar !!!
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari kalimat ?
2.
Apa pengertian dari kalimat majemuk ?
3.
Apa saja jenis-jenis kalimat majemuk ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian kalimat
2.
Untuk mengetahui pengertian kalimat
majemuk
3.
Untuk mengetahui jenis-jenis kalimat
majemuk
D. Metode penulisan
Metode penulisan
yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu suatu metode
dengan menggunakan literatur-literatur yang terdapat di perpustakaan dan juga
elektronik (internet ).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kalimat Majemuk
Sebelum kita membahas pengertian dari kalimat majemuk
ada baiknya terlebih dahulu kita membahas pengertian dari kalimat. Ahli
tatabahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuan kumpulan kata
yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Misalnya, “Saya Makan
Nasi”. Definisi tersebut tidak universal karena kadang kala ada kalimat yang
terdiri atas satu kata tetapi maknanya dapat dipahami secara lengkap, misalnya
Pergi ! ( pergi dari sini sekarang juga ).
Keraf ( 1984 : 156 ) mendefinisikan kalimat sebagai satu
bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang
intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian tersebut
sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Kridalaksana ( 1982 : 72 ) bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang
secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual
dan potensial terdiri dari klausa. Misalnya :
1.
Diam !
2.
Amin membeli
kue di pasar
Selain pendapat tersebut, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia ( 1988 ) dinyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau
teks ( wacana ) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan. Dalam
wujud lisan, kalimat diiringi oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya
perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan
huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Setelah kita mengetahui pengertian dari kalimat, sekarang kita akan
membahas pengertian dari kalimat majemuk. Kalimat majemuk ialah kalimat yang di
dalamnya terdapat dari satu pola kalimat, misalnya : SP + SP, SPO + SPO, atau
kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat ( diterangkan ) dan anak
kalimat ( menerangkan ). Definisi lain mengatakan bahwa kalimat majemuk ialah
kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk
mempunyai [[kata penghubung]] yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut
dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya.
Sedangkan . Selanjutnya Soekono
Wirjosoedarmo menyebutkan kalimat majemuk sama dengan kalimat tersusun.
B. Jenis
Kalimat Majemuk
a.
Menurut
Keraf ( 1982 ) kalimat majemuk terdiri atas tiga jenis, yaitu :
1.
Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara terbagi atas empat jenis, yaitu
kalimat majemuk setara penambahan, kalimat majemuk setara pemilihan, kalimat
majemuk setara perlawanan, dan kalimat majemuk setara sebab-akibat.
a.
Kalimat
majemuk setara penambahan
Kalimat majemuk setara penambahan ialah kalimat majemuk
setara yang menggunakan kata-kata penghubung : dan, lagi pula, serta.
Contoh : - Adi belajar IPS dan Erni belajar IPA
-Tuti sangat pintar menjahit lagi pula
sangat baik budi
-Muhaimin pergi ke pasar serta pergi
ke kebun pada hari ini
b. Kalimat
majemuk setara pemilihan
Kalimat majemuk setara pemilihan ialah kalimat majemuk
setara yang menggunakan kata penghubung :
atau, baik, . . . maupun.
Contoh : - Engkau mau pergi ke Jakarta atau mau pergi ke
Semarang ?
-
Pemerintah
perlu meningkatkan mutu pendidikan, baik mutu
-
Pendidikan
dasar-menengah maupun mutu pendidikan tinggi
c. Kalimat
majemuk setara perlawanan
Kalimat majemuk setara perlawanan ialah kalimat majemuk
setara yang menggunakan kata penghubung :
tetapi, namun, padahal.
Contoh : - Dia mau belajar tetapi diberi hadiah dulu
-
Meskipun
sakit jantung, Ali tetap bakarja di bengkel
-
Alimuddin
sering marah kepada siswanya namun demikian tidak sampai dalam hatinya
d. Kalimat majemuk setara sebab-akibat
Kalimat majemuk setara sebab-akibat ialah kalimat
majemuk setara yang menggunakan kata penghubung : sebab, karena, akibat.
Contoh : - Saya tidak pergi karena sakit
-
Kamarudin
tidak masuk bekerja sebab pergi ke kampungnya
-
Hutan di
hulu sungai saddang sudah rusak total, akibatnya sering banjir di hilir
2.
Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat ialah kalimat yang terdiri
atas dua pola kalimat atau lebih, satu sebagai induk kalimat dan satu sebagai
anak kalimat. Atau kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sehingga
perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola-pola
yang sudah ada.
Contoh : - Rumah kami kosong waktu pencuri masuk
-
Pak tani
yang rajin itu memberantas hama padi
-
Kebersamaan
sangat penting bagi rakyat indonesia agar negara ini semakin maju
3.
Kalimat majemuk campuran.
Kalimat majemuk campuran ialah kalimat yang terdiri atas
sebuah pola atasan dan sekurang- kurangnya dua pola bawahan, atau
sekurang-kurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan.
Contoh : Universitas Negeri Makassar
telah melaksanakan seminar nasional tentang peningkatan mutu pendidikan, yang
dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Sulawesi selatan, dan pejabat
tinggi lainnya, serta pecinta pendidikan di kota Makassar dan sekitarnya.
b.
Menurut
Soekono Wirjosoedarmo (1987) dalam bukunya Tata Bahasa Bahasa Indonesia
mengatakan bahwa ada empat macam kalimat majemuk, yaitu :
1.
Kalimat majemuk setara
Dikatakan juga bahwa kalimat majemuk setara terdiri dari
kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara berlawanan, dam kalimat
majemuk setara sebab-akibat.
a.
Kalimat
majemuk setara sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan ialah kalimat majemuk
setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal persamaan situasinya.
Contoh : - Ibu berjalan kepasar, ayah berangkat ke
kantor, sedang adik pergi ke sekolah
b.
Kalimat
majemuk setara berlawanan
Kalimat majemuk setara berlawanan ialah kalimat majemuk
setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan
situasi berlawanan.
Contoh : - Adiknya pandai, sedangkan kakanya bodoh
c.
Kalimat
majemuk setara sebab-akibat
Kalimat majemuk setara sebab-akibat ialah kalimat
majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang
satu menyatakan sebab-akibat dari bagian-bagian yang lain.
Contoh : - Orang itu ditahan, karena telah menggelapkan
uang negara.
2.
Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan ialah adalah kalimat majemuk setara yang bagian-bagiannya dirapatkan. Hal itu terjadi karena kata-kata atau
frase dalam bagian-bagian kalimat itu menduduki
fungsi yang sama. Proses perapatan dilakukan dengan cara menghilangkan salah satu fungsi kalimat yang sama itu.
a. Kalimat majemuk rapatan subyek
Contoh: - Pak Bahrun
guru olahraga
S
p
-
Pak Bahrum, ketua pemuda
S P
- Pak Bahrum, guru olah raga dan ketua pemuda
S P1 Konj. P2
b.
Kalimat
majemuk rapatan predikat
Contoh : - Asep pandai bermain basket
S P Pel
- Anto pandai bermain
basket
S P Pel
- Asep dan Anto pandai
bermain basket
S
Ko S2 Konj P2
c.
Kalimat
majemuk rapatan keterangan
Contoh : - Dalam liburan nanti saya akan
pergi ke Tasikmalaya
K1 S P K2
-
Dalam
liburan nanti adik akan menengok nenek
di Ciamis
K1 S P K2
-
Dalam
liburan nanti saya akan pergi ke
Tasikmalaya
K1 S P K2
sedangkan adik akan menengok nenek di Cimahi
Konj
S p O
K3
3.
Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat Majemuk bertingkat ialah kalimat yang terjadi
dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukanya tidak setara/ sederajat, yakni
yang satu menjadi bagian yang lain.
a. Proses
Terjadinya Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat sesungguhnya berasal dari
sebuah kalimat tunggal. Bagian dari kalimat tunggal tersebut kemudian diganti
atau diubah sehingga menjadi sebuah kalimat baru yang dapat berdiri sendiri.
Bagian kalimat majemuk bertingkat yang berasal dari
bagian kalimat tunggal yang tidak mengalami pergantian/ perubahan dinamakan induk
kalimat, sedang bagian kalimat majemuk yang berasal dari bagian kalimat tunggal
yang sudah mengalami penggantian/ peubahan dinamakan anak kalimat.
Contoh:- Ia datang kemarin.
Kalimat tunggal tersebut ialah kalimat tunggal yang
mempunyai keterangan waktu: kemarin. Jika kata kemarin diganti/ diubah menjadi
kalimat yang dapat berdiri sendiri, yakni diubah/ diganti dengan kalimat:
ketika orang sedang makan, maka berubahlah kalimat tunggal tersebut menjadi
kalimat majemuk bertingkat sebagai berikut: Ia datang, ketika orang sedang
datang.
Perkataan: ia datang (yang tidak pernah mengalami perubahan/ pergantian) dinamai induk kalimat, sedang perkataan: ketika orang sedang makan (yang mengubah/ mengganti kata kemarin) dinamai anak kalimat.
Perkataan: ia datang (yang tidak pernah mengalami perubahan/ pergantian) dinamai induk kalimat, sedang perkataan: ketika orang sedang makan (yang mengubah/ mengganti kata kemarin) dinamai anak kalimat.
Jenis-jenis Kalimat bertingkat
1. Kalimat majemuk hubungan pengandaian, ditandai dengan
kata penghubung jika, seandainya, andaikan.
Contoh : -Jika tidak hujan, saya akan datang ke rumahmu.
2. Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai dengan kata sambung ibarat, seperti, bagaikan, daripada, laksana.
Contoh : -Doni lebih senang bermain sepakbola daripada bermain basket.
3. Kalimat majemuk hubungan penyebabab, ditandai dengan kata sambung sebab, karena, oleh karena
Contoh : -Amir tidak masuk sekolah karena sakit.
4. Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai dengan kata sambung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :- Ia bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit.
5. Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai dengan kata sambung dengan.
Contoh :- Sari dapat mempertahankan prestasinya dengan cara berlatih dengan giat.
2. Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai dengan kata sambung ibarat, seperti, bagaikan, daripada, laksana.
Contoh : -Doni lebih senang bermain sepakbola daripada bermain basket.
3. Kalimat majemuk hubungan penyebabab, ditandai dengan kata sambung sebab, karena, oleh karena
Contoh : -Amir tidak masuk sekolah karena sakit.
4. Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai dengan kata sambung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :- Ia bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit.
5. Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai dengan kata sambung dengan.
Contoh :- Sari dapat mempertahankan prestasinya dengan cara berlatih dengan giat.
6. Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai dengan kata sambung
bahwa, yaitu.
Contoh : -Pak Madi telah menggemburkan tanah, yaitu dengan mencangkul tanah itu sampai kedalaman 10 centimeter.
7. Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai dengan kata sambung ketika, sewaktu, semasa.
Contoh : - Ibu selesai memasak ketika saya pulang sekolah.
Contoh : -Pak Madi telah menggemburkan tanah, yaitu dengan mencangkul tanah itu sampai kedalaman 10 centimeter.
7. Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai dengan kata sambung ketika, sewaktu, semasa.
Contoh : - Ibu selesai memasak ketika saya pulang sekolah.
c.
Macam Anak
Kalimat
Ada bermacam-macam anak kalimat dalam kalimat majemuk
bertingkat. Hal itu bergantung kepada bagian kalimat tunggal mana yang diubh/
digantinya. Karena itu macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat
dapat diperinci sebagai berikut:
1. Anak kalimat pengganti subyek
Contoh: - Siapa bersalah, akan dihukum.
-Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
Contoh uraian kalimat:
Contoh uraian kalimat:
Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
Kalimat tersebut ialah kalimat majemuk bertingkat.
Telah ditangkap
polisi = induk kalimat
Ditangkap = predikat
Polisi = obyek/ pelengkap pelaku
Telah = keterangan waktu/ keterangan modalitas.
Yang mencuri sepeda saya = anak kalimat pengganti subyek
Yang = subyek
Mencuri = predikat
Sepeda saya = obyek/ pelengkap penderita
Ditangkap = predikat
Polisi = obyek/ pelengkap pelaku
Telah = keterangan waktu/ keterangan modalitas.
Yang mencuri sepeda saya = anak kalimat pengganti subyek
Yang = subyek
Mencuri = predikat
Sepeda saya = obyek/ pelengkap penderita
Catatan:
Tiap kali hendak menguraikan kalimat majemuk bertingkat,
hendaknya lebih dulu diusahakan mencari/ menyelidiki kalimat tunggal mana yang
menjadi asal kalimat majemuk bertingkat itu. Dengan cara itu kita akan mudah
mencari induk kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat yang
hendak kita uraikan.
2. Anak kalimat pengganti predikat
Anak kalimat pengganti predikat hanya terdapat pada kalimat nominal.
Contoh: - Rumah itu batu. (kalimat tunggal)
-
Rumah itu
bahannya terbuat dari benda keras. (kalimat majemuk bertingkat)
3. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita
Contoh: - Basir mencintai Nova. (kalimat tunggal)
-Basir
mencintai yang sangat dikasihinya. (kalimat majemuk bertingkat)
4. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap pelaku
Contoh: - Ali ditikam oleh penjahat. (kalimat tunggal)
-Ali ditikam oleh orang yang menggedor pintu rumahnya
semalam. (kalimat majemuk bertingkat)
5. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penyerta
Contoh: - Norief memberikan uang kepada anaknya.
(kalimat tunggal)
-Norief memberikan uang kepada yang menumpang di
Surabaya. (kalimat majemuk bertingkat)
6. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap berkata depan
Contoh: - Ia rindu kepada ibunya. (kalimat tunggal)
-Ia rindu kepada yang memeliharanya sejak kecil. (kalimat majemuk bertingkat)
7. Anak kalimat pengganti obyek pasangan
Contoh: - Kami telah berunding dengan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. (kalimat tunggal)
-Kami telah berunding dengan yang memimpin negara Indonesia. (kalimat majemuk bertingkat)
8. Anak kalimat pengganti obyek alat
Contoh: - Norief bersenjatakan pena. (kalimat tunggal)
-Norif bersenjatakan yang dibuat untuk menulis. (kalimat majemuk bertingkat)
9. Anak kalimat pengganti keterangan tempat
Contoh: - Henny pergi ke pasar. (kalimat tunggal)
-Henny pergi ke yang dikunjungi orang tiap hari. (kalimat majemuk bertingkat)
10. Anak kalimat pengganti keterangan waktu
Contoh: - Anis datang kemarin. (kalimat tunggal)
-Anis datang ketika orang sedang sholat. (kalimat majemuk bertingkat)
11. Anak kalimat pengganti keterangan sebab
Contoh: - Basir tidak berkuliah karena sakit. (kalimat tunggal)
-Basir tidak berkuliah karena jiwanya terganggu. (kalimat majemuk bertingkat)
12. Anak kalimat pengganti keterangan alasan
Contoh: - Saya tidak pergi karena hujan. (kalimat tunggal)
-Saya tidak pergi karena suasana yang tidak mengizinkan. (kalimat majemuk bertingkat)
13. Anak kalimat pengganti keterangan akibat
Contoh: - Basir dianiaya sehingga sakit. (kalimat tunggal)
-Basir dianaya sehingga badannya terbaring. (kalimat majemuk bertingkat)
14. Anak kalimat pengganti keterangan alat
Contoh: - Ia menikam dengan pisau. (kalimat tunggal)
-Ia menikam dengan yang dibelinya kemarin. (kalimat majemuk bertingkat)
15. Anak kalimat pengganti keterangan asal
Contoh: - Sepatunya Norief terbuat dari emas. (kalimat tunggal)
-Sepatunya Norief terbuat dari bahan yang diinginkannya. (kalimat majemuk bertingkat)
-Ia rindu kepada yang memeliharanya sejak kecil. (kalimat majemuk bertingkat)
7. Anak kalimat pengganti obyek pasangan
Contoh: - Kami telah berunding dengan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. (kalimat tunggal)
-Kami telah berunding dengan yang memimpin negara Indonesia. (kalimat majemuk bertingkat)
8. Anak kalimat pengganti obyek alat
Contoh: - Norief bersenjatakan pena. (kalimat tunggal)
-Norif bersenjatakan yang dibuat untuk menulis. (kalimat majemuk bertingkat)
9. Anak kalimat pengganti keterangan tempat
Contoh: - Henny pergi ke pasar. (kalimat tunggal)
-Henny pergi ke yang dikunjungi orang tiap hari. (kalimat majemuk bertingkat)
10. Anak kalimat pengganti keterangan waktu
Contoh: - Anis datang kemarin. (kalimat tunggal)
-Anis datang ketika orang sedang sholat. (kalimat majemuk bertingkat)
11. Anak kalimat pengganti keterangan sebab
Contoh: - Basir tidak berkuliah karena sakit. (kalimat tunggal)
-Basir tidak berkuliah karena jiwanya terganggu. (kalimat majemuk bertingkat)
12. Anak kalimat pengganti keterangan alasan
Contoh: - Saya tidak pergi karena hujan. (kalimat tunggal)
-Saya tidak pergi karena suasana yang tidak mengizinkan. (kalimat majemuk bertingkat)
13. Anak kalimat pengganti keterangan akibat
Contoh: - Basir dianiaya sehingga sakit. (kalimat tunggal)
-Basir dianaya sehingga badannya terbaring. (kalimat majemuk bertingkat)
14. Anak kalimat pengganti keterangan alat
Contoh: - Ia menikam dengan pisau. (kalimat tunggal)
-Ia menikam dengan yang dibelinya kemarin. (kalimat majemuk bertingkat)
15. Anak kalimat pengganti keterangan asal
Contoh: - Sepatunya Norief terbuat dari emas. (kalimat tunggal)
-Sepatunya Norief terbuat dari bahan yang diinginkannya. (kalimat majemuk bertingkat)
16. Anak kalimat pengganti keterangan syarat
Contoh: - Kalau begitu, saya tidak mau mengajak . (kalimat tunggal)
-Kalau kamu nakal, saya tidak mau mengajak. (kalimat majemuk bertingkat)
17. Anak kalimat pengganti keterangan tujuan
Contoh: - Tora Sudiro belajar keras agar lulus. (kalimat tunggal)
-Tora Sudiro belajar keras agar cita-citanya tercapai. (kalimat majemuk bertingkat)
18. Anak kalimat pengganti keterangan kualitas
Contoh: - Boneng tersenyum manis. (kalimat tunggal)
-Boneng tersenyum seperti yang kita lihat. (kalimat majemuk bertingkat)
19. Anak kalimat pengganti keterangan perihal
Contoh: - Dengan tertawa ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat tunggal)
-Dengan mulut tertawa lebar ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat majemuk bertingkat)
20. Anak kalimat pengganti keterangan perlawanan
Contoh: - Meskipun mendung, ia berangkat juga. (kalimat tunggal)
-Meskipun cuaca buruk, ia berangkat juga. (kalimat majemuk bertingkat)
21. Anak kalimat pengganti keterangan kuantitas
Contoh: - Mereka berjalan seratus kilometer. (kalimat tunggal)
-Mereka berjalan jauh sekali jaraknya. (kalimat majemuk bertingkat)
22. Anak kalimat pengganti keterangan derajat
Contoh: -Udara itu dingin sekali. (kalimat tunggal)
-Udara itu tak terperikan rasanya. (kalimat majemuk bertingkat)
23. Anak kalimat pengganti keterangan modalitas
Contoh: - Mungkin ia meninggal di sana. (kalimat tunggal)
-Desas-desus tersiar ia meninggal di sana. (kalimat majemuk bertingkat)
24. Anak kalimat pengganti keterangan perbandingan
Contoh: - Paimo lebih rajin daripada Mopai. (kalimat tunggal)
-Paimo lebih rajin daripada orang yang mirip dengannya itu. (kalimat majemuk bertingkat)
25. Anak kalimat pengganti keterangan perwatasan
Contoh: - Semua tahanan dibebaskan, kecuali Basir. (kalimat tunggal)
-Semua tahanan dibebaskan, kecuali yang berseragam merah jambu itu. (kalimat majemuk bertingkat)
Catatan:
Kalimat pengganti obyek/ pelengkaptan:
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang dipergunakan kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
G Kalimat langsung
Ali mengatakan, ”saya pergi kemarin”.
Kata Ali ”saya pergi kemarin”.
G Kalimat tak langsung
Ali mengatakan bahwa ia pergi kemarin.
Kata Ali, ia pergi kemarin.
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang dipergunakan kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
G Kalimat langsung
Ali mengatakan, ”saya pergi kemarin”.
Kata Ali ”saya pergi kemarin”.
G Kalimat tak langsung
Ali mengatakan bahwa ia pergi kemarin.
Kata Ali, ia pergi kemarin.
d. Cucu Kalimat
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang terdapat
cucu kalimat, yaitu anak dari anak kalimat. Cucu kalimat tersebut terjadi jika
bagian kalimat dari anakkalimat diubah/ diganti menjadi sebuah kalimat yang
dapat berdiri sendiri.
Contoh: -Norief menyepak bola. (kalimat tunggal)
-
Ia mengambil yang disenangi adiknya. ( Kalimat
majemuk bertingkat yang mempunyai anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap
penderita )
-
Ia menyepak yang disenangi oleh yang memakai
baju baru itu. ( Kalimat majemuk bertingkat yang mempunyai cucu kalimat
pengganti objek/ pelengkap pelaku pada anak kalimat ).
4.
Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran ialah gabungan antara kalimat
majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari
tiga kalimat.
Contoh: Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar,
ketika aku datang ke rumahnya. tina datang
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Kalimat
ialah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap.
2.
Kalimat
majemuk ialah kalimat yang di dalamnya terdapat dari satu pola kalimat,
misalnya : SP + SP, SPO + SPO, atau kalimat yang di dalamnya terdapat induk
kalimat ( diterangkan ) dan anak
kalimat ( menerangkan ).
3.
Kalimat
majemuk setara ialah penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang
kedudukannya sejajar atau sederajat.
4.
Kalimat
majemuk bertingkat ialah penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal
yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur
induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang
terdapat pada induk kalimat.
5.
Kalimat
majemuk rapatan ialah setara yang
bagian-bagiannya dirapatkan. Hal itu
terjadi karena kata-kata atau frase dalam bagian-bagian kalimat itu menduduki fungsi yang sama.
6.
Kalimat majemuk campuran ialah gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk
bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
DAFTAR PUSTAKA
1.
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalimat&action=edit§ion=3
2.
http://noriefwarisman.blogspot.com/2008/03/kalimat-majemuk.htm
3.
Faissal,
M. dkk. 2010. Kajian Bahasa Indonesia:
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.
4.
http://bilikide.blogspot.com/2009/11/kalimat-majemuk.html
5.
Aritonang,
Buha. Hastuti, Tri Iryani. dan Saptarini, Tri. 2000. Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Undang-Undang Pendidikan.
Jakarta: Pusat pembinaan dan Pendidikan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
6.
Purnomo,
Mulyadi Eko. Kusmiarti, Indrawati, Sri. Masri, Ali R.H.M. Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Panesak. Jakarta: Pusat Pembinaa dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan nasional.









0 komentar:
Posting Komentar