Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

Pelajaran Bahasa Indonesia VIII

KALIMAT MAJEMUK



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Selamat datang, Anda masuk ke alam pikiran kalimat majemuk. Tentulah Anda sudah mengetahui apa kalimat majemuk itu! Setiap hari kita menghasilkan kalimat-kalimat baru yang tidak terhitung banyaknya.
Kalimat majemuk ialah yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih, menyelidiki struktur kalimat dan kaidah penyusunan kalimat. Marilah kita mempelajari perkembangan kalimat majemuk dalam hubungan dengan bahasa Indonesia dan memperhatikan buku-buku yang menguraikan hal itu. Berapa banyak tempat yang dipakai untuk menguraikan, dan topik apa yang menarik di dalamnya.
Secara garis besar masa perhatian terhadap kalimat majemuk bahasa Indonesia mula-mula sedikit, kemudian timbul perhatian terhadap sintaksis dari penulis Indonesia.
Kedudukan kalimat majemuk dalam tata bahasa generatif disinggung untuk menunjukan perkembangan ilmu ini.Diharapkan, Anda dapat memahami batas-batas kalimat majemuk dengan cabang-cabang kalimat lainnya, dan memahami hubungannya.
Anda diharapkan membaca makalah ini dengan cermat.

   Selamat belajar !!!


B.     Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian dari kalimat ?
2.      Apa pengertian dari kalimat majemuk ?
3.      Apa saja jenis-jenis kalimat majemuk ?


C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian kalimat
2.      Untuk mengetahui pengertian kalimat majemuk
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis kalimat majemuk

D.    Metode penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu suatu metode dengan menggunakan literatur-literatur yang terdapat di perpustakaan dan juga elektronik (internet ).

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kalimat Majemuk
Sebelum kita membahas pengertian dari kalimat majemuk ada baiknya terlebih dahulu kita membahas pengertian dari kalimat. Ahli tatabahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Misalnya, “Saya Makan Nasi”. Definisi tersebut tidak universal karena kadang kala ada kalimat yang terdiri atas satu kata tetapi maknanya dapat dipahami secara lengkap, misalnya Pergi ! ( pergi dari sini sekarang juga ).
Keraf ( 1984 : 156 ) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh  Kridalaksana ( 1982 : 72 ) bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Misalnya :
1.      Diam !
2.      Amin membeli kue di pasar

Selain pendapat tersebut, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia ( 1988 ) dinyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks ( wacana ) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Setelah kita mengetahui pengertian dari kalimat, sekarang kita akan membahas pengertian dari kalimat majemuk. Kalimat majemuk ialah kalimat yang di dalamnya terdapat dari satu pola kalimat, misalnya : SP + SP, SPO + SPO, atau kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat ( diterangkan ) dan anak kalimat ( menerangkan ). Definisi lain mengatakan bahwa kalimat majemuk ialah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai [[kata penghubung]] yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Sedangkan  . Selanjutnya Soekono Wirjosoedarmo menyebutkan kalimat majemuk sama dengan  kalimat tersusun.

B.     Jenis Kalimat Majemuk
a.       Menurut Keraf ( 1982 ) kalimat majemuk terdiri atas tiga jenis, yaitu :
1.      Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara terbagi atas empat jenis, yaitu kalimat majemuk setara penambahan, kalimat majemuk setara pemilihan, kalimat majemuk setara perlawanan, dan kalimat majemuk setara sebab-akibat.
a.       Kalimat majemuk setara penambahan
Kalimat majemuk setara penambahan ialah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-kata penghubung : dan, lagi pula, serta.
Contoh : - Adi belajar IPS dan Erni belajar IPA
                     -Tuti sangat pintar menjahit lagi pula sangat baik budi
                     -Muhaimin pergi ke pasar serta pergi ke kebun pada hari ini
b.  Kalimat majemuk setara pemilihan
Kalimat majemuk setara pemilihan ialah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung : atau, baik, . . . maupun.
Contoh : - Engkau mau pergi ke Jakarta atau mau pergi ke Semarang ?
- Pemerintah perlu meningkatkan mutu pendidikan, baik mutu
- Pendidikan dasar-menengah maupun mutu pendidikan tinggi
c.  Kalimat majemuk setara perlawanan
Kalimat majemuk setara perlawanan ialah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung : tetapi, namun, padahal.
Contoh : - Dia mau belajar tetapi diberi hadiah dulu
- Meskipun sakit jantung, Ali tetap bakarja di bengkel
- Alimuddin sering marah kepada siswanya namun demikian tidak sampai dalam hatinya
d. Kalimat majemuk setara sebab-akibat
Kalimat majemuk setara sebab-akibat ialah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung : sebab, karena, akibat.
Contoh : - Saya tidak pergi karena sakit
- Kamarudin tidak masuk bekerja sebab pergi ke kampungnya
- Hutan di hulu sungai saddang sudah rusak total, akibatnya sering banjir di hilir


2.      Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat ialah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih, satu sebagai induk kalimat dan satu sebagai anak kalimat. Atau kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sehingga perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola-pola yang sudah ada.

Contoh : - Rumah kami kosong waktu pencuri masuk
-    Pak tani yang rajin itu memberantas hama padi
-    Kebersamaan sangat penting bagi rakyat indonesia agar negara ini semakin maju

3.      Kalimat majemuk campuran.
Kalimat majemuk campuran ialah kalimat yang terdiri atas sebuah pola atasan dan sekurang- kurangnya dua pola bawahan, atau sekurang-kurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan.
Contoh : Universitas Negeri Makassar telah melaksanakan seminar nasional tentang peningkatan mutu pendidikan, yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Sulawesi selatan, dan pejabat tinggi lainnya, serta pecinta pendidikan di kota Makassar dan sekitarnya.

b.      Menurut Soekono Wirjosoedarmo (1987) dalam bukunya Tata Bahasa Bahasa Indonesia mengatakan bahwa ada empat macam kalimat majemuk, yaitu :
1.      Kalimat majemuk setara
Dikatakan juga bahwa kalimat majemuk setara terdiri dari kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara berlawanan, dam kalimat majemuk setara sebab-akibat.
a.       Kalimat majemuk setara sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal persamaan situasinya.
Contoh : - Ibu berjalan kepasar, ayah berangkat ke kantor, sedang adik pergi ke sekolah
b.      Kalimat majemuk setara berlawanan
Kalimat majemuk setara berlawanan ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan situasi berlawanan.
Contoh : - Adiknya pandai, sedangkan kakanya bodoh
c.       Kalimat majemuk setara sebab-akibat
Kalimat majemuk setara sebab-akibat ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang satu menyatakan sebab-akibat dari bagian-bagian yang lain.
Contoh : - Orang itu ditahan, karena telah menggelapkan uang negara.

2.      Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan ialah adalah kalimat majemuk setara yang bagian-bagiannya dirapatkan. Hal itu terjadi karena kata-kata atau frase dalam bagian-bagian kalimat itu menduduki fungsi yang sama. Proses perapatan dilakukan dengan cara menghilangkan salah satu fungsi kalimat yang sama itu.
a.     Kalimat majemuk rapatan subyek
Contoh: - Pak Bahrun guru olahraga
S                      p
-    Pak Bahrum, ketua pemuda
S                      P
           - Pak Bahrum, guru olah raga dan ketua pemuda
                   S                 P1               Konj. P2

b.      Kalimat majemuk rapatan predikat
Contoh : - Asep pandai bermain basket
                   S         P          Pel
               - Anto pandai bermain basket
                    S        P          Pel
               - Asep dan Anto pandai bermain basket
                    S    Ko    S2     Konj            P2

c.       Kalimat majemuk rapatan keterangan
Contoh : - Dalam liburan nanti saya akan pergi ke Tasikmalaya
                              K1                   S          P                K2
-    Dalam liburan nanti adik akan menengok nenek di Ciamis
K1                   S                      P                      K2
-    Dalam liburan nanti saya akan pergi ke Tasikmalaya
K1                   S          P                 K2

sedangkan adik akan menengok nenek di Cimahi
     Konj      S               p                O          K3
 

3.      Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat Majemuk bertingkat ialah kalimat yang terjadi dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukanya tidak setara/ sederajat, yakni yang satu menjadi bagian yang lain.



a. Proses Terjadinya Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat sesungguhnya berasal dari sebuah kalimat tunggal. Bagian dari kalimat tunggal tersebut kemudian diganti atau diubah sehingga menjadi sebuah kalimat baru yang dapat berdiri sendiri.
Bagian kalimat majemuk bertingkat yang berasal dari bagian kalimat tunggal yang tidak mengalami pergantian/ perubahan dinamakan induk kalimat, sedang bagian kalimat majemuk yang berasal dari bagian kalimat tunggal yang sudah mengalami penggantian/ peubahan dinamakan anak kalimat.
Contoh:- Ia datang kemarin.
Kalimat tunggal tersebut ialah kalimat tunggal yang mempunyai keterangan waktu: kemarin. Jika kata kemarin diganti/ diubah menjadi kalimat yang dapat berdiri sendiri, yakni diubah/ diganti dengan kalimat: ketika orang sedang makan, maka berubahlah kalimat tunggal tersebut menjadi kalimat majemuk bertingkat sebagai berikut: Ia datang, ketika orang sedang datang.
Perkataan: ia datang (yang tidak pernah mengalami perubahan/ pergantian) dinamai induk kalimat, sedang perkataan: ketika orang sedang makan (yang mengubah/ mengganti kata kemarin) dinamai anak kalimat.
Jenis-jenis Kalimat bertingkat
1. Kalimat majemuk hubungan pengandaian, ditandai dengan kata penghubung jika, seandainya, andaikan.
Contoh : -Jika tidak hujan, saya akan datang ke rumahmu.

2. Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai dengan kata sambung ibarat, seperti, bagaikan, daripada, laksana.
Contoh : -Doni lebih senang bermain sepakbola daripada bermain basket.

3. Kalimat majemuk hubungan penyebabab, ditandai dengan kata sambung sebab, karena, oleh karena
Contoh : -Amir tidak masuk sekolah karena sakit.

4. Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai dengan kata sambung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :- Ia bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit.

5. Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai dengan kata sambung dengan.
Contoh :- Sari dapat mempertahankan prestasinya dengan cara berlatih dengan giat.


6. Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai dengan kata sambung bahwa, yaitu.
Contoh : -Pak Madi telah menggemburkan tanah, yaitu dengan mencangkul tanah itu sampai  kedalaman 10 centimeter.

7. Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai dengan kata sambung ketika, sewaktu, semasa.
Contoh : - Ibu selesai memasak ketika saya pulang sekolah.

c.        Macam Anak Kalimat
Ada bermacam-macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat. Hal itu bergantung kepada bagian kalimat tunggal mana yang diubh/ digantinya. Karena itu macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat dapat diperinci sebagai berikut:
1. Anak kalimat pengganti subyek
Contoh: - Siapa bersalah, akan dihukum.
-Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
Contoh uraian kalimat:
Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi. Kalimat tersebut ialah kalimat majemuk bertingkat.
Telah ditangkap polisi = induk kalimat
Ditangkap = predikat
Polisi = obyek/ pelengkap pelaku
Telah = keterangan waktu/ keterangan modalitas.
 Yang mencuri sepeda saya = anak kalimat pengganti subyek
Yang = subyek
Mencuri = predikat
Sepeda saya = obyek/ pelengkap penderita
Catatan:
Tiap kali hendak menguraikan kalimat majemuk bertingkat, hendaknya lebih dulu diusahakan mencari/ menyelidiki kalimat tunggal mana yang menjadi asal kalimat majemuk bertingkat itu. Dengan cara itu kita akan mudah mencari induk kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat yang hendak kita uraikan.

2. Anak kalimat pengganti predikat
Anak kalimat pengganti predikat hanya terdapat pada kalimat nominal.
Contoh: - Rumah itu batu. (kalimat tunggal)
-    Rumah itu bahannya terbuat dari benda keras. (kalimat majemuk bertingkat)

3. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita
Contoh: - Basir mencintai Nova. (kalimat tunggal)
        -Basir mencintai yang sangat dikasihinya. (kalimat majemuk bertingkat)

4. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap pelaku
Contoh: - Ali ditikam oleh penjahat. (kalimat tunggal)
-Ali ditikam oleh orang yang menggedor pintu rumahnya semalam. (kalimat       majemuk   bertingkat)

5. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penyerta
Contoh: - Norief memberikan uang kepada anaknya. (kalimat tunggal)
-Norief memberikan uang kepada yang menumpang di Surabaya. (kalimat majemuk bertingkat)
6. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap berkata depan
Contoh: - Ia rindu kepada ibunya. (kalimat tunggal)
              -Ia rindu kepada yang memeliharanya sejak kecil. (kalimat majemuk bertingkat)
7. Anak kalimat pengganti obyek pasangan
Contoh: - Kami telah berunding dengan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. (kalimat tunggal)
              -Kami telah berunding dengan yang memimpin negara Indonesia. (kalimat majemuk    bertingkat)
8. Anak kalimat pengganti obyek alat
Contoh: - Norief bersenjatakan pena. (kalimat tunggal)
              -Norif bersenjatakan yang dibuat untuk menulis. (kalimat majemuk bertingkat)
9. Anak kalimat pengganti keterangan tempat
Contoh: - Henny pergi ke pasar. (kalimat tunggal)
              -Henny pergi ke yang dikunjungi orang tiap hari. (kalimat majemuk bertingkat)
10. Anak kalimat pengganti keterangan waktu
Contoh: - Anis datang kemarin. (kalimat tunggal)
              -Anis datang ketika orang sedang sholat. (kalimat majemuk bertingkat)
11. Anak kalimat pengganti keterangan sebab
Contoh: - Basir tidak berkuliah karena sakit. (kalimat tunggal)
              -Basir tidak berkuliah karena jiwanya terganggu. (kalimat majemuk bertingkat)
12. Anak kalimat pengganti keterangan alasan
Contoh: - Saya tidak pergi karena hujan. (kalimat tunggal)
              -Saya tidak pergi karena suasana yang tidak mengizinkan. (kalimat majemuk bertingkat)
13. Anak kalimat pengganti keterangan akibat
Contoh: - Basir dianiaya sehingga sakit. (kalimat tunggal)
              -Basir dianaya sehingga badannya terbaring. (kalimat majemuk bertingkat)
14. Anak kalimat pengganti keterangan alat
Contoh: - Ia menikam dengan pisau. (kalimat tunggal)
              -Ia menikam dengan yang dibelinya kemarin. (kalimat majemuk bertingkat)
15. Anak kalimat pengganti keterangan asal
Contoh: - Sepatunya Norief terbuat dari emas. (kalimat tunggal)
              -Sepatunya Norief terbuat dari bahan yang diinginkannya. (kalimat majemuk bertingkat)

16. Anak kalimat pengganti keterangan syarat
Contoh: - Kalau begitu, saya tidak mau mengajak . (kalimat tunggal)
              -Kalau kamu nakal, saya tidak mau mengajak. (kalimat majemuk bertingkat)
17. Anak kalimat pengganti keterangan tujuan
Contoh: - Tora Sudiro belajar keras agar lulus. (kalimat tunggal)
              -Tora Sudiro belajar keras agar cita-citanya tercapai. (kalimat majemuk bertingkat)
18. Anak kalimat pengganti keterangan kualitas
Contoh: - Boneng tersenyum manis. (kalimat tunggal)
               -Boneng tersenyum seperti yang kita lihat. (kalimat majemuk bertingkat)
19. Anak kalimat pengganti keterangan perihal
Contoh: - Dengan tertawa ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat tunggal)
              -Dengan mulut tertawa lebar ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat majemuk bertingkat)
20. Anak kalimat pengganti keterangan perlawanan
Contoh: - Meskipun mendung, ia berangkat juga. (kalimat tunggal)
              -Meskipun cuaca buruk, ia berangkat juga. (kalimat majemuk bertingkat)
21. Anak kalimat pengganti keterangan kuantitas
Contoh: - Mereka berjalan seratus kilometer. (kalimat tunggal)
              -Mereka berjalan jauh sekali jaraknya. (kalimat majemuk bertingkat)
22. Anak kalimat pengganti keterangan derajat
Contoh: -Udara itu dingin sekali. (kalimat tunggal)
              -Udara itu tak terperikan rasanya. (kalimat majemuk bertingkat)
23. Anak kalimat pengganti keterangan modalitas
Contoh: - Mungkin ia meninggal di sana. (kalimat tunggal)
              -Desas-desus tersiar ia meninggal di sana. (kalimat majemuk bertingkat)
24. Anak kalimat pengganti keterangan perbandingan
Contoh: - Paimo lebih rajin daripada Mopai. (kalimat tunggal)
              -Paimo lebih rajin daripada orang yang mirip dengannya itu. (kalimat majemuk bertingkat)

25. Anak kalimat pengganti keterangan perwatasan
Contoh: - Semua tahanan dibebaskan, kecuali Basir. (kalimat tunggal)
              -Semua tahanan dibebaskan, kecuali yang berseragam merah jambu itu. (kalimat majemuk bertingkat)


Catatan:
Kalimat pengganti obyek/ pelengkaptan:
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang dipergunakan kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
G Kalimat langsung
Ali mengatakan, ”saya pergi kemarin”.
Kata Ali ”saya pergi kemarin”.
G Kalimat tak langsung
Ali mengatakan bahwa ia pergi kemarin.
Kata Ali, ia pergi kemarin.

d. Cucu Kalimat
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang terdapat cucu kalimat, yaitu anak dari anak kalimat. Cucu kalimat tersebut terjadi jika bagian kalimat dari anakkalimat diubah/ diganti menjadi sebuah kalimat yang dapat berdiri sendiri.
Contoh: -Norief menyepak bola. (kalimat tunggal)
-  Ia mengambil yang disenangi adiknya. ( Kalimat majemuk bertingkat yang mempunyai anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita )
-  Ia menyepak yang disenangi oleh yang memakai baju baru itu. ( Kalimat majemuk bertingkat yang mempunyai cucu kalimat pengganti objek/ pelengkap pelaku pada anak kalimat ).

4.      Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran ialah gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
Contoh: Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang ke rumahnya. tina datang 

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kalimat ialah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap.
2.      Kalimat majemuk ialah kalimat yang di dalamnya terdapat dari satu pola kalimat, misalnya : SP + SP, SPO + SPO, atau kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat   ( diterangkan ) dan anak kalimat ( menerangkan ).
3.      Kalimat majemuk setara ialah penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar atau sederajat.
4.      Kalimat majemuk bertingkat ialah penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.
5.      Kalimat majemuk rapatan ialah setara yang bagian-bagiannya dirapatkan. Hal itu terjadi karena kata-kata atau frase dalam bagian-bagian kalimat itu menduduki fungsi yang sama.
6.      Kalimat majemuk campuran ialah gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.



DAFTAR PUSTAKA

1.      http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalimat&action=edit&section=3
2.      http://noriefwarisman.blogspot.com/2008/03/kalimat-majemuk.htm
3.      Faissal, M. dkk. 2010. Kajian Bahasa Indonesia: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional.
4.      http://bilikide.blogspot.com/2009/11/kalimat-majemuk.html
5.      Aritonang, Buha. Hastuti, Tri Iryani. dan Saptarini, Tri. 2000. Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Undang-Undang Pendidikan. Jakarta: Pusat pembinaan dan Pendidikan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
6.      Purnomo, Mulyadi Eko. Kusmiarti, Indrawati, Sri. Masri, Ali R.H.M. Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Panesak. Jakarta: Pusat Pembinaa dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan nasional.









  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar