Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

Pelajaran Bahasa Indonesia VII

SEMANTIK II
(MAKNA KATA, POLISEMI DAN MAJAS )




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah modal penting bagi terciptanya keserasian berbahasa dan sebagai sumber terjaganya kelestariaan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sebaagai penghubung antar suku bangsa di Indonesia. Dengan kita melatih berbahasa Indonesia yang baik dan benar berarti kita turut serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
B.     Tujuan Penulisan

1.      Untuk mempelajari secara umum bagian-bagian dari Semantik yaitu Makna Kata, Polisemi dan Majas.
2.      Mengetahui pengertian jenis-jenis Makna Kata, polisemi dan majas.

C.    Rumusan Masalah
a.       Pengertian  Semantik
b.      Pengertian dan jenis makna kata
c.       Pengertian polisemi
d.      Pengertian dan jenis majas.



BAB II
PEMBAHASAN

  1. SEMANTIK
  1. Pengertian Semantik
Kata semantik (Inggris: semantics) berasal dari kata sema, berupa kata benda dalam bahasa Yunani yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata sema ini setelah diubah ke dalam kata kerja menjadi semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”.
Tanda atau lambang sebagai padanan dari kata sema merupakan tanda linguistik yang terdiri dari komponen yang mengartikan (signifie) dan komponen yang diartikan (signifiant). Komponen yang mengartikan berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa, sedangkan komponen yang diartikan merupakan komponen makna dari komponen pertama. Kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkannya merupakan sesuatu yang berada di luar bahasa dan lazim disebut sebagai referent atau hal yang ditunjuk.
Selanjutnya, kata semantik disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dapat juga dikatakan bahwa semantik merupakan bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa.

B.     MAKNA KATA
1.      Pengertian
Makna kata adalah pertalian antara bunyi bahasa atau lambangnya dengan pengertian yang dimaksud, atau hubungan antara nama dan bendanya (bagi kata benda). Kata Indonesia ayam tidaklah tidaklah sama dengan binatang berbulu, berkaki dua, termasuk golongan burung, dipiara sebagai binatang ternak. Kata ayam adalah tanda bunyi fisiologis yang dalam masyarakat Indonesia mempunyai hubungan dengan binatang tersebut. Hubungan anatara tanda bunyi ayam dengan binatang tersebut didasarkan atas perjanjian para pemakai bahasa Indonesia. Hubungan antara tanda bunyi fisiologis dengan pengertian yang dimaksud, seperti hubungan antara ayam dan binatang berbulu dan sebagainya, atas dasar perjanjian masyarakat bahasa tertentu, disebut makna kata atau arti kata.
2.      Jenis-jenis makna kata
A.     Makna Leksikal dan Makna Struktural
Contoh :
a.       (1) Ibu membeli garam di pasar.
(2) Nenek telah banyak makan garam.
b.   (1) Lembu menarik pedati.
(2) Peristiwa bunuh diri itu menarik perhatian orang.
Kalau kita bandingkan pemakaian kata-kata garam dan menarik dalam kalimat (1) dan (2) diatas, ternyata terdapat makna yang berlainan. Kata-kata sering berlainan maknanya jika berdiri sendiri dan jika berkelompok dengan kata-kata lainnya dalam bentuk kalimat.
            Kalau kita tidak mengetahui arti sebuah kata, biasanya kita cari kamus. Dalam kamus dijelaskan makna kata tersebut dan sekaligus diterangkan pula dari mana kata itu diambil dan diberi penjelasan-penjelasan. Makna kata yang berdiri sendiri seperti didaftarkan dalam kamus atau leksikon itu disebut makna leksikal; sering juga disebut makna lugas. Namun, kalau kata-kata tersebut kita pakai dalam kalimat yang berbeda-beda, ternyata artinya pun berbeda-beda pula, seperti kita lihat dalam kedua contoh diatas.
Makna kata garam dalam kalimat (1) ialah suatu benda berwarna putih dengan rasa asin (seperti yang terdapat dalam kamus), sedangkan dalam kalimat (2) ialah “pengalaman hidup”. Makna kata menarik dalam kalimat (1) ialah “menghela baju atau menyeret”, sedangkan dalam kalmat (2) ialah “menimbulkan atau membangkitkan”. Jadi, makna suatu kata sangat ditentukan oleh hubungannya dalam suatu kalimat disebut makna struktural.
B.     Makna Konotatif dan Makna Denotatif
Makna kata yang ditimbulkan oleh hubungan antara kata dan pengertiannya secara obyektif disebut makna dasar atau makna sentral. Disamping itu ada kalanya kata-kata mengandung unsure subyektif berupa rasa pemakaian bahasa. Gejal penambahan rasa pada makna dasar diseut nilai rasa.
Perhatikan contoh kalimat berikut :
a.      (1) Si Maman bodoh.
(2) Si Maman goblok.
b.   (1) Orang itu mati dua hari yang lalu.
(2) Orang itu telah mampus.
Kata bodoh dan goblok mempunyai makna dasar yang sama yaitu tidak lekas mengerti atau tidak mudah mengerti. Namun kata bodoh boleh dikatakan mengandung asosiasi yang umum, sedang kata goblok memberikan suatu rasa penghinaan. Demikian juga, kata mati dan mampus memiliki makna sentral yang sama, yaitu sudah hilang nyawanya. Namun pemakaian kata mampus tidak sama tepat dengan pemakaian kata mati. Kata mampus memberikan suatu rasa benci atau penghinaan; tergolong kata kasar.
Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan tambahan disebut denotasi, sedangkan makna kata yang mengandung makna tambahan, perasaan tertentu, nilai rasa tertentu disamping makna yang umum atau makna dasar, disebut konotasi. Jadi pada contoh diatas kata-kata goblok dan mampus mengandung makna konotatif, sedang kata-kata bodoh dan mati mengandung makna denotatif.


C.    POLISEMI

Polisemi adalah relasi makna suatru kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti. Satu kata seperti kata “kepala” dapat diartikan bermacam-macam walaupun arti utama kepala adalah bagian tubuh manusia yang ada diatas leher.

Contoh            : “Kepala”
·           Guru yang dulunya pernah menderita cacat mental itu sekarang menjadi kepala    sekolah SMP Kroto Emas. (Kepala bermakna pemimpin)
·           Kepala anak kecil itu besar sekali karena terkena penyakit hidrosepalus.  (Kepala berarti bagian tubuh manusia yang ada diatas)
·           Tiap kepala harus membayar upeti sekodi tiwul kepada Ki Joko Cempreng. (kepala berarti indivdu)
·           Pak Sukatro membuat kepala surat untuk pengumuman dilaptop eee pc yang baru dibelinya di mangga satu. (kepala berarti bagian dari surat)

D.    MAJAS
Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1.      Majas perulangan/penegasan
2.      Majas perbandingan
3.      Majas pertentangan
4.      Majas pertautan



1.   Majas  Perulangan/Penegasan
A.   Aliterasi
Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi.
Contoh:    Kau keraskan kalbunya
 Bagai batu membesi benar
 Timbul telangkai bertongkat urat
 Ditunjang pengacara petah pasih
B.   Antanaklasis
Antanaklasis ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh:    Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.
C.   Kiasmus
Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh:    Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.
D.   Epizeukis
Epizeukis ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh:    Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.
E.   Tautotes
Tautotes ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.
Contoh:     Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.
F.  Anafora
Anafora ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat.
Contoh:     Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti diganyang.
G.  Epistrofa (efifora)
Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.
Contoh:    Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.
H.   Simploke
Simploke ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berturut-turut).
Contoh:    Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.
I.  Mesodiplosis
Mesodiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh:    Pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.
                        Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.
J.  Anadiplosis
Anadiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya.
Contoh:    Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya
2.   Majas Perbandingan
a.  Perumpamaan
Perumpamaan ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.
Contoh:    Seperti air dengan minyak.
b.  Metafora
Metafora ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh:    Aku adalah angin yang kembara.
c.  Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Contoh:    Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
d.   Depersonifikasi
Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya, seumpama.
Contoh:    Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.
e.   Alegori
Alegori ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain:
Fabel, contoh   :   Kancil dan Buaya
Parabel, contoh:   Cerita Adam dan Hawa
f.   Antitesis
Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh:    Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
g.  Pleonasme dan Tautologi
Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh:    Capek mulut saya berbicara.
Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu.
Contoh:    Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?
h.  Koreksio (epanortosis)
Koreksio ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.
Contoh:    Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!
3.   Gaya Bahasa Pertentangan
a.  Hiperbola
Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:    Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.
b.  Litotes
Litotes ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:    Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.
c.  Ironi
Ironi ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:    Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.
d.  Oksimoron
Oksimoron ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.
Contoh:    Olahraga mendaki gunung memang menarik walupun sangat membahayakan.
e.  Paronomosia
Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh:    Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.
f.  Inuendo
Inuendo ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:    Dia memang baik, cuma agak kurang jujur
g.   Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
Contoh ironi:         Kami tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.
h.  Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh:    Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
i.  Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
Contoh:    Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
j.   Anti klimaks
Antiklimaks ialah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting.
Contoh:    Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.

k.   Anastrof atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.
Contoh:    Diceraikannya istrinya tanpa setahu saudara-saudaranya.
l.   Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya.
Contoh : Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.



m.    Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.
Contoh:  Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.
n.   Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh:  Kau memang benar-benar bajingan.

       4.    Gaya Bahasa Pertautan
a.   Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh:  Parker jauh lebih mahal daripada pilot.
b.  Sinekdoke            
Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.
Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Contoh Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.
c.   Alusio
 Alusio ialah gaya bahasa yang  menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
Contoh:    Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?

d.  Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak menyenangkan.
Contoh:    Tunasusila sebagai pengganti pelacur.
e.   Eponim
Eponim ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh:    Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.
f.   Antonomasia
Antonomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri.
Contoh:    Kepala sekolah mengundang para orang tua murid.
                                    Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).
g.   Gradasi
 Gradasi ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata)  yang diulang dalam konstruksi itu.
Contoh:  Kita harus membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.


  

BAB III
PENUTUP
1.              KESIMPULAN
Semantik adalah ilmu yang mengkaji makna bahasa. Dengan demikian, yang menjadi bahan kajian semantic adalah makna-makna yang terdapat dalam satuan-satuan bahasa, seperti kata, frasa, kalimat atau wacana. Dalam kajian semantic membahas makna kata, majas dan polisemi. Makna kata adalah pertalian antara bunyi bahasa atau lambangnya dengan pengertian yang dimaksud, atau hubungan antara nama dan bendanya (bagi kata benda). Makna kata terdiri dari makna leksikal dan makna struktural, makna denotatif dan makna konotatif.  Polisemi adalah relasi makna suatru kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti. Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1.      Majas perulangan/penegasan
2.      Majas perbandingan
3.      Majas pertentangan
4.      Majas pertautan

2.              SARAN
Makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu apabila ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan karena itulah kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kami perlu kritik serta komentar yang membangun supaya kami bias lebih baik lagi.


DAFTAR ISI

http : // id.wikipedia.org / wiki / semantik
ttp : // wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas
DR. T. Djajasudarma Fatimah. 1993.  Semantik 1 Pengantar kearah ilmu makna. Bandung : PT Eresco
DR. T. Djajasudarma Fatimah. 1993.  Semantik 2. Bandung : PT Eresco
DRA. Sitaresmi Nunung, dkk. 1997. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penyetaraan Guru SLTP Setara D-III
Drs. Chaer Abdul. 1993. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung : Rineka Cipta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar