SEMANTIK II
(MAKNA KATA, POLISEMI
DAN MAJAS )
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemakaian bahasa Indonesia yang
baik dan benar adalah modal penting bagi terciptanya keserasian berbahasa dan
sebagai sumber terjaganya kelestariaan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa
persatuan sebaagai penghubung antar suku bangsa di Indonesia. Dengan kita
melatih berbahasa Indonesia yang baik dan benar berarti kita turut serta
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
B.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mempelajari secara umum
bagian-bagian dari Semantik yaitu Makna Kata, Polisemi dan Majas.
2. Mengetahui pengertian jenis-jenis Makna
Kata, polisemi dan majas.
C.
Rumusan Masalah
a. Pengertian Semantik
b. Pengertian dan jenis makna kata
c. Pengertian polisemi
d. Pengertian dan jenis majas.
BAB II
PEMBAHASAN
- SEMANTIK
- Pengertian Semantik
Kata semantik (Inggris: semantics)
berasal dari kata sema, berupa kata benda dalam bahasa Yunani yang berarti
“tanda” atau “lambang”. Kata sema ini setelah diubah ke dalam kata kerja
menjadi semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”.
Tanda atau lambang sebagai padanan
dari kata sema merupakan tanda linguistik yang terdiri dari komponen yang
mengartikan (signifie) dan komponen yang diartikan (signifiant). Komponen yang
mengartikan berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa, sedangkan komponen yang diartikan
merupakan komponen makna dari komponen pertama. Kedua komponen ini merupakan
tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkannya merupakan
sesuatu yang berada di luar bahasa dan lazim disebut sebagai referent atau hal
yang ditunjuk.
Selanjutnya, kata semantik
disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang
mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya. Atau dapat juga dikatakan bahwa semantik merupakan bidang studi
dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa.
B.
MAKNA KATA
1. Pengertian
Makna kata adalah pertalian antara bunyi bahasa atau
lambangnya dengan pengertian yang dimaksud, atau hubungan antara nama dan
bendanya (bagi kata benda). Kata Indonesia ayam
tidaklah tidaklah sama dengan binatang berbulu, berkaki dua, termasuk
golongan burung, dipiara sebagai binatang ternak. Kata ayam adalah tanda bunyi fisiologis yang dalam masyarakat Indonesia
mempunyai hubungan dengan binatang tersebut. Hubungan anatara tanda bunyi ayam dengan binatang tersebut didasarkan
atas perjanjian para pemakai bahasa Indonesia. Hubungan antara tanda bunyi
fisiologis dengan pengertian yang dimaksud, seperti hubungan antara ayam dan binatang berbulu dan
sebagainya, atas dasar perjanjian masyarakat bahasa tertentu, disebut makna kata atau arti kata.
2. Jenis-jenis makna kata
A.
Makna Leksikal dan Makna Struktural
Contoh :
a. (1) Ibu membeli garam di pasar.
(2) Nenek telah banyak makan garam.
b. (1) Lembu menarik pedati.
(2)
Peristiwa bunuh diri itu menarik
perhatian orang.
Kalau kita bandingkan pemakaian kata-kata garam dan menarik dalam kalimat (1) dan (2) diatas, ternyata terdapat makna
yang berlainan. Kata-kata sering berlainan maknanya jika berdiri sendiri dan
jika berkelompok dengan kata-kata lainnya dalam bentuk kalimat.
Kalau kita tidak mengetahui arti
sebuah kata, biasanya kita cari kamus. Dalam kamus dijelaskan makna kata
tersebut dan sekaligus diterangkan pula dari mana kata itu diambil dan diberi
penjelasan-penjelasan. Makna kata yang berdiri sendiri seperti didaftarkan
dalam kamus atau leksikon itu disebut makna
leksikal; sering juga disebut makna
lugas. Namun, kalau kata-kata tersebut kita pakai dalam kalimat yang
berbeda-beda, ternyata artinya pun berbeda-beda pula, seperti kita lihat dalam
kedua contoh diatas.
Makna kata garam
dalam kalimat (1) ialah suatu benda berwarna putih dengan rasa asin
(seperti yang terdapat dalam kamus), sedangkan dalam kalimat (2) ialah
“pengalaman hidup”. Makna kata menarik
dalam kalimat (1) ialah “menghela baju atau menyeret”, sedangkan dalam kalmat
(2) ialah “menimbulkan atau membangkitkan”. Jadi, makna suatu kata sangat
ditentukan oleh hubungannya dalam suatu kalimat disebut makna struktural.
B.
Makna Konotatif dan Makna Denotatif
Makna kata yang
ditimbulkan oleh hubungan antara kata dan pengertiannya secara obyektif disebut
makna dasar atau makna sentral. Disamping itu ada kalanya kata-kata mengandung
unsure subyektif berupa rasa pemakaian bahasa. Gejal penambahan rasa pada makna
dasar diseut nilai rasa.
Perhatikan contoh kalimat berikut :
a.
(1)
Si Maman bodoh.
(2) Si Maman goblok.
b. (1) Orang itu mati dua hari yang lalu.
(2) Orang itu telah mampus.
Kata bodoh dan goblok mempunyai makna dasar yang sama yaitu tidak lekas mengerti atau tidak
mudah mengerti. Namun kata bodoh boleh
dikatakan mengandung asosiasi yang umum, sedang kata goblok memberikan suatu rasa
penghinaan. Demikian juga, kata mati
dan mampus memiliki makna sentral
yang sama, yaitu sudah hilang nyawanya.
Namun pemakaian kata mampus tidak
sama tepat dengan pemakaian kata mati.
Kata mampus memberikan suatu rasa benci atau penghinaan; tergolong kata kasar.
Kata yang tidak
mengandung makna atau perasaan tambahan disebut denotasi, sedangkan makna kata yang mengandung makna tambahan,
perasaan tertentu, nilai rasa tertentu disamping makna yang umum atau makna
dasar, disebut konotasi. Jadi pada
contoh diatas kata-kata goblok dan mampus mengandung makna konotatif, sedang kata-kata bodoh dan mati mengandung makna denotatif.
C.
POLISEMI
Polisemi adalah relasi makna suatru kata
yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna yang
berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti. Satu kata seperti kata
“kepala” dapat diartikan bermacam-macam walaupun arti utama kepala adalah
bagian tubuh manusia yang ada diatas leher.
Contoh : “Kepala”
·
Guru
yang dulunya pernah menderita cacat mental itu sekarang menjadi kepala sekolah SMP Kroto Emas. (Kepala bermakna
pemimpin)
·
Kepala
anak kecil itu besar sekali karena terkena penyakit hidrosepalus. (Kepala berarti bagian tubuh manusia yang ada
diatas)
·
Tiap
kepala harus membayar upeti sekodi tiwul kepada Ki Joko Cempreng. (kepala
berarti indivdu)
·
Pak
Sukatro membuat kepala surat untuk pengumuman dilaptop eee pc yang baru
dibelinya di mangga satu. (kepala berarti bagian dari surat)
D.
MAJAS
Majas adalah
cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas
adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara
lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah
majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan
santun, dan menarik.
Majas dapat dikelompokkan menjadi empat
kelompok, yaitu:
1. Majas
perulangan/penegasan
2. Majas
perbandingan
3.
Majas pertentangan
4.
Majas pertautan
1. Majas Perulangan/Penegasan
A. Aliterasi
Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud
perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada
puisi.
Contoh: Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi
benar
Timbul
telangkai bertongkat urat
Ditunjang
pengacara petah pasih
B. Antanaklasis
Antanaklasis ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung
perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh: Karena
buah penanya itu menjadi buah bibir orang.
C. Kiasmus
Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan
sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu
kalimat.
Contoh: Ia
menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.
D. Epizeukis
Epizeukis ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat
langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali
berturut-turut.
Contoh: Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali
lagi bertobat.
E. Tautotes
Tautotes ialah gaya bahasa perulangan yang berupa
pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.
Contoh: Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku
sama saja.
F. Anafora
Anafora ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan
perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat.
Contoh: Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti diganyang.
G. Epistrofa (efifora)
Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi yang berupa
perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.
Contoh: Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau
tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.
H. Simploke
Simploke ialah gaya bahasa repetisi yang berupa
perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berturut-turut).
Contoh: Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak
pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.
I. Mesodiplosis
Mesodiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa
pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara
berturut-turut.
Contoh: Pendidik harus meningkatkan kecerdasan
bangsa.
Para
dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.
J. Anadiplosis
Anadiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau
frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama
pada klausa atau kalimat berikutnya.
Contoh: Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya
2. Majas Perbandingan
a. Perumpamaan
Perumpamaan ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti.
Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti,
sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.
Contoh: Seperti
air dengan minyak.
b. Metafora
Metafora
ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh: Aku adalah angin yang kembara.
c. Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan
sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide
yang abstrak.
Contoh: Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
d. Depersonifikasi
Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan
sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Biasanya
memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya,
seumpama.
Contoh: Kalau engkau jadi bunga, aku jadi
tangkainya.
e.
Alegori
Alegori ialah gaya bahasa yang menggunakan
lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain:
Fabel,
contoh : Kancil dan Buaya
Parabel,
contoh: Cerita Adam dan Hawa
f. Antitesis
Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung
gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh: Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
g. Pleonasme dan Tautologi
Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebenarnya
tidak perlu.
Contoh: Capek mulut saya berbicara.
Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau
frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu.
Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?
h. Koreksio (epanortosis)
Koreksio ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya
mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki
yang mana yang salah.
Contoh: Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!
3. Gaya
Bahasa Pertentangan
a. Hiperbola
Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan
yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk
menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh: Pemikiran-pemikirannya
tersebar ke seluruh dunia.
b. Litotes
Litotes ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan
kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: Apa
yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.
c. Ironi
Ironi ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: Bagus
benar rapormu Bar, banyak merahnya.
d. Oksimoron
Oksimoron ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang
berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.
Contoh: Olahraga mendaki gunung memang menarik
walupun sangat membahayakan.
e. Paronomosia
Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh: Bisa ular
itu bisa masuk ke sel-sel darah.
f. Inuendo
Inuendo ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan
mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: Dia memang
baik, cuma agak kurang jujur
g. Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang
berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan
dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang
menyatakan kebalikan itu.
Contoh Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah tiba
(maksudnya si cebol).
Contoh ironi: Kami
tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang
percaya padamu.
h. Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang
nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh: Teman
akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
i. Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan
yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya
dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
Contoh: Hidup
kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
j. Anti klimaks
Antiklimaks ialah suatu pernyataan yang berisi
gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang
penting.
Contoh: Bahasa
Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.
k. Anastrof atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh
dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur
konstruksi sintaksis.
Contoh: Diceraikannya
istrinya tanpa setahu saudara-saudaranya.
l. Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya.
Contoh : Sebenarnya
saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.
m. Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran
yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau
ketulusan hati.
Contoh: Anda
benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.
n. Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang
mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh: Kau memang
benar-benar bajingan.
4. Gaya Bahasa Pertautan
a. Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang,
orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh: Parker jauh
lebih mahal daripada pilot.
b. Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama
sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.
Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah
dipotong pada acara itu.
Contoh Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu
Indonesia menang satu lawan Malaysia.
c. Alusio
Alusio ialah gaya bahasa yang menunjuk secara
tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui
orang.
Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di
sini?
d. Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai
pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap merugikan atau
yang tidak menyenangkan.
Contoh: Tunasusila
sebagai pengganti pelacur.
e. Eponim
Eponim ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang
yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama
itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh: Dengan
latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.
f. Antonomasia
Antonomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang
menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama
diri.
Contoh: Kepala
sekolah mengundang para orang tua murid.
Mari makan!(penghilangan subyek dan
obyek).
g. Gradasi
Gradasi ialah
gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang
diulang dalam konstruksi itu.
Contoh: Kita harus
membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan
ketangguhan itu kita maju.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Semantik adalah ilmu yang mengkaji makna bahasa. Dengan
demikian, yang menjadi bahan kajian semantic adalah makna-makna yang terdapat
dalam satuan-satuan bahasa, seperti kata, frasa, kalimat atau wacana. Dalam
kajian semantic membahas makna kata, majas dan polisemi. Makna kata adalah
pertalian antara bunyi bahasa atau lambangnya dengan pengertian yang dimaksud,
atau hubungan antara nama dan bendanya (bagi kata benda). Makna kata terdiri
dari makna leksikal dan makna struktural, makna denotatif dan makna
konotatif. Polisemi adalah relasi makna
suatru kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna
yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti. Majas adalah
cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas
adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Majas dapat dikelompokkan menjadi
empat kelompok, yaitu:
1. Majas
perulangan/penegasan
2. Majas perbandingan
3. Majas pertentangan
4. Majas pertautan
2.
SARAN
Makalah yang kami tulis ini
masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu apabila ada kekurangan dan kesalahan
mohon dimaafkan karena itulah kemampuan yang kami miliki. Untuk
itu kami perlu kritik serta komentar yang membangun supaya kami bias lebih baik
lagi.
DAFTAR ISI
http
: // id.wikipedia.org / wiki / semantik
ttp
: // wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas
DR. T. Djajasudarma
Fatimah. 1993. Semantik 1 Pengantar
kearah ilmu makna. Bandung : PT Eresco
DR. T. Djajasudarma
Fatimah. 1993. Semantik 2.
Bandung : PT Eresco
DRA. Sitaresmi Nunung, dkk. 1997. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penyetaraan Guru SLTP Setara
D-III
Drs. Chaer Abdul.
1993. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.
Bandung : Rineka Cipta









0 komentar:
Posting Komentar