SEMANTIK I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemakaian bahasa Indonesia yang
baik dan benar adalah modal penting bagi terciptanya keserasian berbahasa dan
sebagai sumber terjaganya kelestariaan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa
persatuan sebaagai penghubung antar suku bangsa di Indonesia. Dengan kita
melatih berbahasa Indonesia yang baik dan benar berarti kita turut serta
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
B. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mempelajari secara umum bagian-bagian dari
Semantik yaitu Sinonim dan Antonim.
2.
Mengetahui bagian-bagian dari Sinonim dan Antonim.
C. Rumusan Masalah
a.
Pengertian
Simantik
b.
Macam-macam Simantik
c.
Pengertian Sinonim
d.
Pengertian Antonim
e.
Macam-macam Sinonim dan Antonim
BAB II
Pembahasan
- Semantik
- Pengertian Semantik
Kata semantik (Inggris: semantics) berasal dari kata
sema, berupa kata benda dalam bahasa Yunani yang berarti “tanda” atau
“lambang”. Kata sema ini setelah diubah ke dalam kata kerja menjadi semaino
yang berarti “menandai” atau “melambangkan”.
Tanda atau lambang sebagai padanan dari kata sema
merupakan tanda linguistik yang terdiri dari komponen yang mengartikan
(signifie) dan komponen yang diartikan (signifiant). Komponen yang mengartikan
berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa, sedangkan komponen yang diartikan
merupakan komponen makna dari komponen pertama. Kedua komponen ini merupakan
tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkannya merupakan
sesuatu yang berada di luar bahasa dan lazim disebut sebagai referent atau hal
yang ditunjuk.
Selanjutnya, kata semantik disepakati sebagai
istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara
tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dapat juga
dikatakan bahwa semantik merupakan bidang studi dalam linguistik yang
mempelajari makna atau arti dalam bahasa.
Hal itu berarti bahwa, komponen makna seperti halnya
bunyi dan tata bahasa, ternyata menduduki tingkatan tertentu. Jadi, bila
komponen bunyi menduduki tingkat pertama, komponen tata bahasa tingkat kedua,
maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Dan hubungan ketiga
komponen ini sesuai dengan kenyataan bahwa; (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada
keberadaan lambang-lambang tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat
sistem yang memiliki tatanan dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang
yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan keberadaan makna
tertentu.
- Jenis Semantik
Semantik yang dapat diartikan sebagai bidang studi
dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa, dapat dibedakan
menjadi semantik behaviorisme dan
semantik struktural. Semantik behaviorisme
menekankan kajiannya pada masalah hubungan makna dengan pemeran dan konteks
pemakaian, serta makna dengan proses kejiwaan pemeran, baik dalam kegiatan
pengolahan maupun pemahaman pesan. Sedangkan semantik struktural, kajiannya berfokus pada masalah makna dalam
hubungannya dengan struktur kata maupun kelompok kata.
Selain pembagian seperti itu, mengingat pengertian
semantik menunjuk pada objek studinya yaitu berupa makna bahasa atau lebih
tepatnya, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat,
dan wacana, maka cakupan studi semantik pun dapat dibedakan berdasarkan tataran
objek penyelidikannya.
Bila objek penyelidikannya pada tataran leksikon
dari bahasa, maka jenis semantiknya disebut semantik leksikal. Dalam jenis
semantik ini diselidiki makna yang ada pada leksem-leksem dari bahasa tersebut.
Oleh karena itu, makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut makna leksikal.
Di sini perlu dijelaskan mengenai istilah leksem. Leksem adalah suatu istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik
untuk menyebut satuan-satuan bahasa yang bermakna, dapat berupa sebuah kata
atau gabungan kata. Kumpulan dari leksem-leksem ini disebut leksikon, sedangkan kumpulan dari
kata-kata suatu bahasa disebut kosa kata.
Bila objek penyelidikannya pada tataran tata bahasa
atau gramatika, maka jenis semantiknya disebut semantik gramatikal. Dalam jenis
semantik ini diselidiki makna yang ada pada satuan-satuan morfologi (morfem dan
kata) dan sintaksis (kata, frase, klausa, dan kalimat). Oleh karena itu, makna
yang dijadikan objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran
tersebut.
Namun, bila objek penyelidikannya lebih bertumpu
pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis meskipun masih berada dalam
tataran tata bahasa, maka jenis semantiknya disebut semantik sintaktikal. Hal
ini dilakukan karena dalam sintaksis terdapat tiga tataran bawahan yang disebut
fungsi gramatikal, kategori gramatikal, dan peran gramatikal. Fungsi gramatikal
merupakan kotak-kotak kosong yang diberi nama subjek, predikat, objek, dan
keterangan. Kategori gramatikal merupakan pengisi kotak-kotak kosong tersebut
yang dapat berupa nomina, verba, atau ajektiva. Sedangkan peran gramatikal
merupakan peran pengisi kotak-kotak kosong yang sudah memiliki makna leksikal,
seperti peran agentif, pasien, objek, benafaktif, lokatif, instrumental, dan
sebagainya.
Selain semantik leksikal, semantik gramatikal, dan
semantik sintaktikal tersebut, terdapat satu jenis semantik lagi yang oleh
Verhaar disebut semantik maksud (1978: 130). Semantik maksud merupakan jenis semantik yang menjadikan pemakaian bentuk-bentuk
gaya bahasa sebagai objek penyelidikannya.
3.
Bagian dari Semantik
a. Makna Kata
1. Makna Leksikal dan makna Gramatikal
a.
Makna
Leksikal adalah makna suatu kata sebelum mengalami proses perubahan
bentuk atapun belum digunakan dalam kalimat. Makna leksikal sering juga disebut
makna kamus. Makna leksikal adalah makna yang berdasarkan kamus.
b.
Makna
Gramatikal adalah suatu kata setelah kata itu mengalami proses
gramatikalisasi, baik melalui pengimbuhan, pengulangan, atapun pemajmukan.
Makna gramatikal suatu kata bisa sama, berubah, atau bahkan berbeda sama sekali
dengan makn leksikalnya. Makna gramatikal sanngat bergantung pada struktur
kalimantya. Oleh karena itu, makna gramatikal sering pula disebut makna structural.
2. Makna Dinotatif dan Makna Konotatif
a.
Makna
Dinotatif disebut juga makna lugas. Kata itu tidak mengalami
penambahan-penambahan makna. Makna kata itu sesuai dengan konsep asal, apa
adanya.
b.
Makna
Konotasi adalah makna yang berdasarkan perasaan atau pikiran seseorang.
Makna konotasi sebenarnya merupakan makna denotasi yang telah mengalami
penambahan.
3. Gejala Perubahan Makna
a.
Perluasan
Makna (generalisasi), terjadi apabila cakupan makna suatu kata lebih
luas dari makna asalnya.
b.
Penyempitan
makna (Spesialisasi), terjadi apabila makna suatu kata lebih sempit
cakupannya daripada makna aslinya.
c.
Ameliorasi
adalah perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi daripada
asalnya.
d.
Peyorasi adalah perubahan makna kata yang nilainya menjadi lebih rendah
daripada sebelumnya.
e.
Sinistesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan
antara dua indra yang berlainan.
f. Asosiasi
adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat.
4. Bentuk Pertalian Makna
a.
Kata umum dan Kata khusus
-
Kata
Umum adalah kata yang ruang lingkup maknanya mencakup hal-hal umum dan
menyangkut aspek-aspek yang lebih luas.
-
Kata
Khusus adalah kata yang ruang lingkup maknanya mencakup hal-hal yang
sempit atau hanya meliputi aspek-aspek tertentu
b.
Sinonim dan Antonim
-
Sinonim
adalah suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki arti atau
pengertian yang sama atau mirip
-
Antonim
adalah adalah suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim
disebut juga dengan lawan kata
c. Homonim
adalah kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama.
d.
Polisemi adalah suatu kata yang memiliki banyak makna.
Namun pada pembahasan kali ini, kami akan membahasan
pada point Sinonim dan Antonim saja. Mulai dari pengertian Sinonim dan Antonim
bagian-bagian dari Sinonimdan Antonim.
- Pengertian Sinonim dan Macam-macam Sinonim
- Pengertian Sinonim
Sinonim adalah
suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki arti atau
pengertian yang sama atau mirip. Sinomin bisa disebut juga dengan persamaan
kata atau padanan kata.
Sinonim adalah
kata-kata yang memiliki kesamaan arti secara struktural atau leksikal dalam
berbagai urutan kata-kata sehingga memiliki daya tukar (substitusi).
- Macam-Macam Sinonim
- Sinonim
mutlak: kata-kata yang dapat bertukar tempat
dalam konteks kebahasaan apa pun tanpa mengubah makna struktural dan makna
leksikal dalam rangkaian kata/frasa/klausa/kalimat. Contoh:
kosmetik
= alat kecantikan
laris
= laku, larap
leksikografi
= perkamusan
kucing
= meong
- Sinonim
semirip: kata-kata yang dapat bertukar
tempat dalam konteks kebahasaan tertentu tanpa mengubah makna struktural dan
leksikal dalam rangkaian kata/frasa/klausa/kalimat tersebut saja. Contoh:
melatis
= menerobos
lahiriah
= jasmaniah
- Sinonim
selingkung: kata-kata yang dapat saling
mengganti dalam satu konteks kebahasaan tertentu saja secara struktural dan
leksikal. Contoh:
lemah
= lemas
- Pengertian Antonim dan Macam-macam Antonim
- Pengertian Antonim
Antonim adalah
suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim disebut juga dengan
lawan kata.
Antonim
adalah kata-kata yang memiliki pertalian makna bertentangan secara penuh atau
secara sebagian dalam berbagai urutan kata.
- Macam-macam Antonim
- Antonim
berpasangan: kata-kata yang secara makna jelas
bertentangan karena didasarkan pada makna pasangannya sehingga tidak bisa
dipertentangkan tanpa kehadiran makna pasangannya. Jika salah satu unsur
dinegatifkan, tidak secara serta-merta memunculkan pasangannya. Contoh:
- (ber)-dosa >< suci (tidak (ber)-dosa ≠suci)
- istri >< suami (bukan istri ≠ suami)
- pembeli >< penjual (bukan pembeli ≠ penjual)
- Antonim
melengkapi: kata-kata yang secara makna
bertentangan, tetapi kehadiran makna salah satu kata bersifat melengkapi
kehadiran makna yang lain. Contoh:
- pertanyaan >< jawaban
- mencari >< menemukan
- Antonim
berjenjang: kata-kata yang secara makna
mengandung pertentangan, tetapi pertentangan makna ini bersifat
berjenjang/bertahap/bertingkat. Contoh:
a. dingin >< hangat >< panas
b. kaku >< lentur >< elastis
c. mahal >< wajar >< murah
- Manfaat Mempelajari Semantik
Manfaat yang dapat diperoleh melalui studi semantik
sangat bergantung pada jenis bidang yang kita geluti dalam kehidupan
sehari-hari. Jadi, bagi seorang wartawan, peneliti bahasa, guru, dan orang
awam, studi semantik memiliki manfaat yang berbeda.
Bagi seorang wartawan yang berkecimpung dalam dunia
pemberitaan, studi semantik akan memberikan manfaat praktis. Manfaat ini berupa
kemudahan dalam memilih dan menggunakan kata-kata yang tepat ketika
menyampaikan informasi kepada masyarakat umum. Hal ini terjadi karena tanpa
pengetahuan tentang konsep-konsep polisemi, homonimi, denotasi, konotasi, dan
nuansa-nuansa makna tertentu, mereka akan sulit menyampaikan informasi secara
tepat dan benar.
Bagi para peneliti bahasa, studi semantik akan
memberikan bekal teoritis dalam menganalisis bahasa atau bahasa-bahasa yang
sedang dipelajari. Sedangkan bagi guru atau calon guru, studi semantik akan
memberikan manfaat teoritis dan praktis.
Selanjutnya, bagi orang awam pun studi semantik
ternyata akan memberikan manfaat, yaitu memberikan kemudahan bagi dirinya untuk
memahami dunia di sekelilingnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas
kebahasaan.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran
Makalah
yang kami tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu apabila ada
kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan karena itulah kemampuan yang kami
miliki. Untuk itu kami perlu kritik serta komentar yang membangun supaya kami
bias lebih baik lagi.









0 komentar:
Posting Komentar