JENIS KATA
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Kebanyakan
para ahli tata bahasa mendasarkan pembagian jenis kata menurut Aristoteles,
seorang ahli fikir bangsa Yunani.
Ciri
pembagian kelas atau jenis kata menurut Aristoteles itu berdasarkan tiga
criteria, yaitu :
1.
Pengertian kata
2.
Fungsi kata dalam kalimat
3.
Bentuk kata atau perubahannya (proses morfologi)
- Rumusan Masalah
1.
Apa pengetian dari kata ?
2.
Apa saja jenis-jenis kata ?
- Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian kata
2.
Untuk mengetahui jenis-jenis kata
D.
Metode Penulisan
Metode
penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu
suatu metode dengan menggunakan literatur-literatur yang terdapat di
perpustakaan dan juga elektronik (internet).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil dari
kalimat yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kesatuan yang terbentuk
dari gabungan huruf atau gabuangan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem,
baru kita akui sebagai kata bila bentuk itu mempunyai makna. Perhatikan kata sepeda, ambil, dingin, kuliah. Keempat
kata yang diambil secara acak itu kita akui sebagai kata, karena setiap kata
mempunyai makna. Kita akan meragukan bahkan memastikan bahwa kata adepes, libma, ningid, hailuk bukan kata
bahasa Indonesia karena tidak mempunyai makna.
Dari segi bentuknya kata dapat dibedakan
atas dua macam, yaitu :
1)
Kata yang bermorfem tunggal
2)
Kata yang bermofem banyak.
Kata
bermorfem tunggal disebut juga kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata
dasar pada umumnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi kata turunan atau kata
berimbuhan. Perhatikan perubahan kata dasar menjadi kata turunan dibawah ini.
|
Kata Dasar
|
Kata Turunan
|
|
Rumah
Buku
Cerdas
Mulia
Hukum
|
Dirumahkan,
perumahan
Dibukukan,
pembukuan
Kecerdasan,
mencerdaskan
Dimuliakan,
memuliakan
Dihukum,
hukuman
|
Perubahan kata dasar menjadi kata turunan, selain
mengakibatkan perubahan bentuk, juga perubahan makna. Selanjutnya, perubahan
makna mengakibatkan perubahan jenis atau kelas kata.
B.
Jenis Kata
Secara tradisional pembagian kelas/jenis kata di
dalam bahasa-bahasa yang besar di dunia, termasuk bahasa Indonesia, umumnya
terdiri atas sepuluh jenis kata, yaitu :
1)
Kata benda (nomina)
2)
Kata Kerja (verba)
3)
Kata sifat (adjektiva)
4)
Kata ganti (pronomina)
5)
Kata keterangan (adverbia)
6)
Kata bilangan (numeralia)
7)
Kata sambung (konjungsi)
8)
Kata sandang (artikel)
9)
Kata seru (interjeksi)
10) Kata depan
(preposisi)
Pembagian kata menjadi sepuluh jenis yang dilakukan
oleh para ahli bahasa tentulah didasari pertimbangan yang matang dan didukung
oleh alasan yang kuat. Dalam bahasa Indonesia nama jenis kata-kata itu pun sudah
dikenal luas. Harus diakui bahwa pembagian kata yang dipopulerkan oleh Sutan
Takdir Alisyahbana dan diikuti oleh sejumlah penulis tata bahasa Indonesia,
cukup berpengaruh dan cukup lama mendominasi bidang morfologi bahasa Indonesia.
Sementara itu ilmu bahasa termasuk morfologi terus
berkembang. Sejauh ini, sudah cukup banyak ahli bahasa yang membagi kata atas
beberapa macam disertai argmentasinya masing-masing. Pembagian kelas kata
bahasa Indonesia yang paling mutakhir adalah yang diajukan oleh Tim Depdikbud
RI yang terdapat di dalam buku Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi pertama 1998). Di dalam buku ini,
Moeliono, dkk mengelompokkan kata kedalam lima jenis yaitu :
1)
Verba (kata kerja)
2)
Adjektiva (kata sifat)
3)
Adverbia (kata keterangan)
4)
Rumpun Kata Benda, yang beranggotakan
(i)
Nomina (kata benda/kata nama)
(ii)
Pronomina (kata ganti)
(iii)
Numeralia (kata bilangan)
5)
Rumpun Kata Tugas, yang beranggotakan
(i)
Preposisi (kata depan)
(ii)
Konjungsi (kata sambung)
(iii)
Interjeksi (Kata seru)
(iv)
Artikel (kata sandang)
(v)
Partikel
1) Kata Kerja (Verba)
Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses,
dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Kata kerja pada umumnya berfungsi
sebagai predikat dalam kalimat.
Untuk mengenali jenis kata kerja kita dapat mengujinya dengan menambahkan dengan + KB (kata benda)/KS (kata sifat) dibelakang
kata yang diuji. Kata tulis, pergi,
bicara, lihat menulis, bepergian, berbicara, melihat, tergolong sebagai
kata kerja karena jika digabungkan dengan bentuk konstruksi penguji tadi akan
tercipta arti yang jelas. Perhatikan penggabungan di bawah ini.
tulis +
denga pena (KB) menulis + dengan cepat (KS)
pergi +
dengan adik (KB) bepergian + dengan gembira (KS)
bicara +
dengan dosen (KB) berbicara + dengan fasih
(KS)
lihat +
dengan mata (KB) melihat + dengan jelas (KS)
Pada
contoh di atas tampak bentuk kata kerja ada dua macam:
1)
Kata kerja asal, yaitu kata kerja yang dapat berdiri
sendiri didalam kalimat tanpa bantuan afiks; misalnya tulis, pergi, bicara, lihat.
2)
Kata kerja turunan, yaitu kata kerja yang mempunyai afiks;
misalnya menulis, bepergian, berbicara,
melihat.
Khusus
untuk mengenali kata kerja turunan, di bawah ini disajikan tabel yang memuat
afiks pembentuk kata kerja beserta contohnya.
|
Bentuk
|
Afiks
|
Contoh
|
|
prefiks
|
ber-
di-
me-
per-
ter-
|
berkarya, bertemu, berlayar
dibawa, dipakai, dibahas
melatih, membaca, mendengar, mengolah, mengetik
perindah, perkuat
tertawa, tersenyum
|
|
sufiks
|
-i
-kan
|
namai, gulai, tandai
maafkan, matikan, camkan
|
|
konfiks
|
ber- + -an
ber- + -kan
di- + -i
di- + -kan
ke- + -an
memper-
memper- + i
memper- +
kan
me- + -kan
per- + -I
per- + -kan
|
bepergian, berpelukan, berlarian
beralaskan, berselimutkan
diselimuti, dipengaruhi, dicintai
dibuatkan, diambilkan, dibacakan
kejatuhan, kemasukan, kedatangan
memperjelas, memperindah
memperbaiki, mempersenjatai
mempertanyakan, mempertemukan
meluruskan, membuatkan,mendatangkan
perbaiki, perbarui, persenjatai
pertemukan, permasalahkan
|
Selain bentuk-bentuk di atas, ada pula bentuk kata
kerja atau verba yang lain, diantaranya :
1)
Verba reduplikasi atau verba berulang dengan atau tanpa pengimbuhan; misalnya makan-makan, batuk-batuk, berlari-lari,
tembak-menembak;
2)
Verba majemuk, yaitu verba yang terbentuk melalui
proses penggabungan kata, namun hasil penggabungan itu bukan idiom; misalnya terjun paying, temu wicara, siap tempur,
tatap muka;
3)
Verba berpreposisi, yaitu verba intransitif yang selalu
diikuti oleh preposisi tertentu; misalnya tahu
akan, berdiskusi tentang, cinta pada, sejalan dengan, terdiri dari, menyesal
atas, tergolong sebagai.
2) Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak,
tabiat orang/binatang/suatu benda. Kata sifat dapat menerangkan kuantitas,
kecukupan, urutan, kualitas, maupun penekanan suatu kata. Di dalam
pembentukan kalimat, kata sifat umumnya berfungsi sebagai predikat, objek, dan penjelas
subjek. Berdasarkan bentuknya, kata sifat dibedakan atas dua macam, yaitu kata
sifat yang berbentuk tunggal dan kata sifat berimbuhan. Ciri dari kata sifat
yang berbentuk tunggal adalah sebagai berikut :
(1)
Dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: misalnya lebih baik,
kurang indah, paling pandai.
(2)
Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: misalnya sangat senang, amat luas, mahal benar, sedikit sekali,
terlalu berat.
(3)
Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak; misalnya tidak benar, tidak sehat.
Kata sifat berbentuk tunggal dapat dipilah dan
dihimpun kedalam lima kelompok. Inilah nama kelompok yang di maksud beserta
contohnya :
(a)
Keadaan/situasi; misalnya aman, kacau, tenang, gawat
(b)
Warna; misalnya ungu, hijau, biru, merah
(c)
Ukuran; misalnya berat, ringan, tinggi, besar
(d)
Perasaan/sikap; misalnya malu, sedih, bahagia, heran
(e)
Cerapan/indera; misalnya harum, manis, terang, jelas.
Sebagian besar kata sifat berimbuhan dibentuk dengan
bantuan sufiks yang diserap dari bahasa Inggris dan bahasa Arab yang menjadi
produktif dalam bahasa Indonesia yaitu sufiks –al, -i, -iah, -if, -ik,-is, -er, -wi. Selain akhiran tersebut, ada
dua kombinasi afiks yang turut membentuk kata sifat, yaitu konfiks ke-+-an dan se-+-nya, dengan bentuk dasar kata ulang (reduplikasi). Secara
lengkap, contoh kata sifat berimbuhan dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
|
Bentuk
|
Afiks
|
Contoh
|
|
sufiks
|
-al
-i
-iah
-if
-ik
-is
-er
-wi
|
formal, nasional
abadi, alami, hewani
lahiriah, ilmiah, alamiah
aktif, fiktif, reaktif
magnetik, elektronik
praktis, anarkis,egois
komplementer, parlementer
manusiawi, kimiawi, surgawi
|
|
konfiks
|
ke-+-an
(dengan
reduplikasi)
se-+-nya
(dengan
reduplikasi)
|
Keinggris-inggrisan, kekanak-kanakan
Sebaik-baiknya, sepandai-pandainya
|
3) Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva,
nomina predikatif,dan klausa (kalimat). Dalam kalimat saya ingin segera melukis, kata segera
adalah adverbial yang menerangkan verba melukis:
dalam kalimat lukisannya sangat
indah, kata sangat adalah
adverbial yang menerangkan adjektiva indah.
Membicarakan adverbia yang juga disebut kata keterangan harus dibedakan dengan
istilah keterangan sebagai fungsi
sintaksis, yaitu peran kata di dalam kalimat (di samping subjek, predikat,
objek, dan pelengkap). Yang di bahas di sini adalah kategori kata
keterangan/adverbia sebagai salah satu jenis kata utama (seperti halnya kata
kerja, kata benda, dan kata sifat).
Menurut bentuknya adverbia dapat dibedakan atas tiga
macam, yaitu
(1)
Adverbia berbentuk tunggal
(2)
Adverbia berbentuk turunan
(3)
Adverbia berbentuk ulang.
Adverbia berbentuk ulang mempunyai dua
varian, yaitu :
(a)
Dengan mengulang kata dasar, contohnya :
diam-diam
lama-lama
pelan-pelan
(b)
Dengan mengulang kata dasar dan menambahkan se-+-nya:
setinggi-tingginya
sedalam-dalamnya
sebaik-baiknya
4) Kata Benda ( Nomina)
Kata
benda atau nomina
adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak). Kata Benda juga bisa diartikan sebagai kelas kata yang
menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang
dibendakan.
Kata benda sangat perlu dikenali
karena kata benda akan berfungsi sebagai subjek,
objek, pelengkap, dan keterangan dalam
kalimat. Untuk mengenali jenis kata benda, kita dapat mengujinya antara lain
dengan menambahkan yang + KS (kata
sifat) atau yang sangat + KS (kata
sifat) di belakang kata yang diuji. Kata-kata seperti buku, pohon, orang, pengetahuan, kekasih, dan pikiran tergolong sebagai kata benda karena dapat diikuti oleh
kedua jenis kombinasi di atas. Mari kita buktikan pernyataan tersebut.
buku + yang mahal (KS) pengetahuan+ yang sangat penting (KS)
pohon + yang rindang (KS) kekasih + yang sangat cantik (KS)
orang +
yang baik (KS) pikiran + yang
sangat cemerlang (KS)
a. Kata benda menurut bentuknya
Seperti halnya pembagian
bentuk kata pada umumnya, secara morfologis kata benda itu dapat kita bedakan
atas :
1) Kata dasar : Nasir, ular, Susi, mangsa
2) Kata kompleks : pencari, pikiran, keamanan
3) Kata mejemuk : surat kabar, rumah sakit
4) Kata ulang :ikan-ikan, ular-ularan
Afiks-afiks yang mungkin
membentuk kata benda ialah: -an, pe-, per-,
ke-an, pe-an, per-an, dan yang tidak produktif lagi ialah: ke-, -er-,
-el-, -em-
b. Jenis-jenis kata benda
Menilik pengertiannya
lebih lanjut, kata benda itu dapat dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut:
1)
Kata benda kongkret,
yaitu nama bagi sesuatu yang dapat dilihat, diraba, dirasai; yang dapat dicapai
dengan salah satu indra kita.
Kata benda konkret ada 4 macam:
(a)
Nama diri, ialah menyatakan nama benda tertentu, nama
orang, sungai, kota, jalan, gunung, dan lain-lain, fonem awalnya ditulis dengan
huruf kapital: Solo, Serayu, Amin, Merapi dan sebagainya.
(b)
Nama zat, ialah benda-benda yang tak dapat ditentukan
satuannya, yang berupa bahan yang belum diolah: garam, air dan sebagainya.
(c)
Nama jenis, untuk membeda-bedakan benda yang sejenis, yang
dibuat dari zat atau bahan yang sama: gelang, kalung, cincin, dan sebagainya.
(d)
Nama himpunan (kumpulan), yakni kumpulan benda-benda yang sejenis: lautan,
daun-daunan, hutan, kota dan sebagainya.
2)
Kata benda abstrak atau
niskala, yaitu nama sesuatu yang dibendakan. Kata benda yang dibentuk dari kata
dasar dengan morfem terikat (kata kompleks) perlu mendapat perhatian. Bentukan
itu akan memberi arti yang agak berbeda dari kata dasarnya. Kata benda yang
demikian ada yang menunjukkan benda kongkret ada juga yang abstrak. Perhatikan
tabel dibawah ini.
|
Kata Dasar
|
Afiks
|
Kata Kompleks
|
Arti
|
|
Pegang
Saring
Tulis
|
-an
|
Pegangan
Saringan
Tulisan
|
Alat berperang
Alat penyaring
Hasil menulis
|
|
Ladang
Tani
Marah
|
Pe-
|
Peladang
Petani
Pemarah
|
Kerjanya di ladang
Kerjanya bertani
Kerjanya marah
|
|
Baik
Camat
Manusia
|
Ke-an
|
Kebaikan
Kecamatan
Kemanusiaan
|
Hal baik
Daerah camat
Hal manusia
|
|
Hitung
Disel
Temu
|
Per-an
|
Perhitungan
Perdiselan
Pertemuan
|
Hal/hasil berhitung
Hal-hal disel
Hal bertemu
|
|
Nama
Luas
Baca
|
Pe-an
|
Penamaan
Peluasan
Pembacaan
|
Hal memberi nama
Hal meluaskan
Hal membaca
|
|
Tua
Kasih
|
Ke-
|
Ketua
Kekasih
|
Yang dituakan
Yang dikasihi
|
|
Harta
|
-wan
|
Hartawan
|
Orang yang berkecim-pung dalam soal harta
|
5)
Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti ialah
segala kata yang menjadi pengganti nama benda, menurut fungsinya di dalam
kalimat, ialah segala kata yang mungkin menduduki subyek atau obyek, seperti
halnya fungsi kata benda dalam kalimat. Contoh :
1.
Beliau, ayah saya.
2.
Pernahkah anda melihat
dia ?
3.
Mereka sedang belajar.
4.
Itu tetangga saya
5.
Siapa pula yang tidak suka uang ?
Semua kata yang tercetak
miring di atas ialah kata ganti atau pronominal (=pronoun: Inggris).
Ada enam golongan kata
ganti :
(1) Kata ganti orang
Ada tiga macam kata ganti, yaitu :
(a)
Kata ganti orang pertama,
yaitu yang berbicara. Misalnya: saya, aku,
kami, kita.
(b) Kata
ganti orang kedua, yaitu yang diajak bicara.
Misalnya: engkau, kamu, kalian.
(c) Kata
ganti orang ketiga, yaitu yang
dibicarakan. Misalnya: dia, beliau,
mereka.
Orang
pertama, orang kedua, orang ketiga tidak selalu dinyatakan dengan kata ganti,
tetapi dapat juga dengan kata benda.
(2)
Kata ganti
milik
Kata
ganti milik yaitu kata ganti orang yang dipakai dibelakang kata benda untuk menyatakan hubungan pemilikan. Kata
ganti pemilik untuk orang pertama, kedua, dan ketiga tunggal umumnya dinyatakan
dengan bentuk enklitik yaitu bentuk
singkat yang diletakkan dibelakang kata, yaitu –ku, -mu, dan –nya. Contohnya:
bukuku, bukumu, bukunya.
(3)
Kata ganti
tunjuk
Kata
ganti tunjuk ini dan itu, berfungsi untuk menunjuk sesuatu
yang telah dikemukakan sebelumnya. Kata ganti ini dan itu dapat pula
berfungsi sebagai predikat atau sebagai subyek. Dalam hal ini dipakai berdiri sendiri.
Sebagai predikat biasanya ditandai partikel –lah. Sebagai subyek biasanya ditandai oleh partikel pun atau yang, contoh :
Itu kakakku. (itu = subyek)
Itulah kakakmu. (itulah = predikat)
(4)
Kata ganti
tanya
Kata
ganti tanya berfungsi menanyakan benda atau orang. Yang masuk golongan ini
ialah apa dan mana, serta kata-kata yang dibentuk daripadaya.
(a) Apa, menanyakan benda atau hal. Contoh: Apa maksud Tuan ?
Yang dibentuk dari “apa” ialah :
- Siapa, menanyakan orang
- Berapa, menanyakan jumlah
- Betapa, menanyakan keadaan
- Apabila, menanyakan waktu
(b) Mana,lengkapnya yang mana, untuk menanyakan satu diantara beberapa benda yang
sejenis. Contoh: Orang mana dia itu ?
Yang dibentuk dari “mana” ialah:
- Bagaimana, menanyakan keadaan, sama dengan betapa.
- Manakala, dan bilamana,keduannya menanyakan waktu.
(5)
Kata ganti
hubung
Dalam bahasa Indonesia hanya ada satu kata
ganti hubung, yaitu yang. Kata yang disebut kata ganti hubung, oleh
karena menjadi penghubung kata benda yang telah disebut lebih dahulu, dan
disamping itu berfungsi menghubungkan anak kalimat pada induknya.
(6)
Kata ganti
tak tentu
Kata
ganti ini mewakili atau mengganti sesuatu benda yang tak tentu. Misalnya: Barang siapa menggali lubang akan
terperosok kedalamnya.
6)
Kata
Bilangan (Numeralia)
Kata Bilangan
adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan atau urutan
tempat dari nama-nama benda.
Menurut sifatnya kata bilangan dapat dibagi atas:
Kata Bilangan Utama (Numeralia
Caedinalia): satu,
dua, tiga, empat, seratus, seribu, dan sebagainya.
- Kata Bilangan Tingkat (Numeralia Ordinalis): pertama, kedua, ketiga, kelima, kesepuluh, keseratus, dan sebagainya.
- Kata Bilangan Tak Tentu: beberapa, segala, semua, tiap-tiap dan sebagainya.
- Kata Bilangan Kumpulan: kedua, kesepuluh, dan sebagainya; bertiga, berdua, bersepuluh.
Dari segi morfologi tidak ada perbedaan antara kata bilangan
tingkat dan kata bilangan kumpulan yang memakai prefiks ke-. Tetapi
dalam distribusi kalimat nampaklah perbedaan struktur keduanya, yaitu kata
bilangan tingkat tempatnya selalu mengikuti kata benda sedangkan kata bilangan
kumpulan selalu mendahului kata benda.
|
Kata bilangan tingkat
bangku yang kedua
permainan kesepuluh
soal yang ketiga
|
Kata bilangan kumpulan
kedua bangku itu
kesepuluh permainan itu
ketiga soal itu
|
7)
Kata Depan
(Preposisi)
Kata depan atau preposisi adalah
kata tugas yang selalu bedada didepan kata benda, kata sifat, atau kata kerja
untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional).
Contoh :
di kantor pada hari Minggu
di kota buat orang tuamu
dengan memburuh bagi almamater tercinta
oleh petugas sekretariat sejak kecil
tentang peristiwa itu
Kata yang dicetak tebal
dalam contoh diatas adalah preposisi. Adanya preposisi dengan di depan kata kerja
memburuh; sejak di depan kata sifat kecil; dan sejumlah preposisi lain di
depan kata benda, mengakibatkan seluruh contoh di atas menjadi frasa
preposional.
8) Kata Sambung (Konjungsi)
Kata sambung atau
konjungsi adalah kata yang berfungsi
menghubungkan dua kata atau dua kalimat. Karena peranannya sebagai kata
penghubung, kata sambung disebut juga dengan istilah konjungtor. Diantara yang ada, dibawah ini contoh konjungtor yang
banyak dipakai dalam kalimat.
Contoh :
(1)
… antara hidup dan mati
(2)
Anda pasti berhasil kalau rajin belajar
(3)
… oleh Presiden atau Wakil Presiden RI
(4)
Pengethuannya terbatas karena kurang membaca
(5)
… bukan Amri, tetapi Amrin
(6)
Rapat sudah dimulai ketika kami tiba
(7)
… terhalang demonstran sehingga pertumuan tertunda.
(8)
Bersikaplah biasa agar mereka tidak curiga.
Selain menghubungkan dua
kata, konjungtor juga dipakai untuk menautkan dua kalimat dalam sebuah alinea
dengan cara memakai konjungtor pada awal kalimat yang kedua, bahkan dapat juga
pada awal kalimat ketiga. Konjungtor itu dinamakan konjungtor antar kalimat.
Contoh :
(9)
Pak Susilo mengidap radang hati. Selain itu, dia juga terkena penyakit kencing manis.
(10)
Situasi memang sudah membaik. Akan tetapi, kita harus selalu siaga.
(11)
Istri saya bebelanja ke Sarinah. Setelah itu, dia ke salon. Kemudian,
dia akan mengikuti arisan.
(12)
Ibu tidak sependapat dengan kamu. Walaupun begitu, Ibu tidak memaksa kamu mengikuti saran Ibu.
Bentuk konjungtor antar kalimat tidak selalu
dua kata seperti contoh di atas. Satu kata juga
bias berperan menyambung dua kalimat, inilah contoh lain konjungtor
antarkalimat, baik yang berupa satu kata maupun yang lebih dari satu kata.
Contoh:
meskipun demikian selanjutnya
walaupun begitu tambahan
pula
kemudian kecuali
itu
namun dengan
demikian
tetapi oleh
karena itu
setelah itu bertalian
dengan itu
9)
Kata Seru (Interjeksi)
Kata
seru atau interjeksi
adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa
kagum, sedih, heran, dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau
kalimat perintah (imperatif).
Contoh:
(1)
Ayo, maju terus, psntsng mundur!
(2)
Aduh, gigiku sakit sekali!
(3)
Ih, bau benar kamr mandi itu!
(4)
Sial, memancing seharian, cuma
dapat sedikit!
(5)
Astaga, dia bukannya berjaga,
malahan pergi!
(6)
Wah, lagi dapat untung besar
rupanya!
10) Kata
Sandang (Artikel)
Kata sandang atau
artikel adalah kata tugas yang
membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang tidak mempunyai
sebarang makna/maksud serta tidak dapat berdiri dengan sendiri. Ada tiga macam
artikel, yaitu (1) artikel yang menyatakan makna tunggal; (2) artikel yang
menyatakan makna jamak; dan (3) artikel yang menyatakan makna netral.
Contoh:
(1) Yang bermakna tunggal: sang
guru
sang suami
sang putri
sang juara
(2)
Yang bermakna jamak: para petani
para hakim
para pemimpin
para ilmuwan
(3)
Yang bermakna netral: si hitam manis
si dia
si terhukum
si cantik
11) Partikel
Sebenarnya partikel
bermakna ‘unsur-unsur kecil dari suatu benda’. Analog dengan makna
tersebut, unsur kecil dalam bahasa, kecuali yang jelas satuan bentuknya disebut
partikel. Dalam kaitan dengan kata tugas, partikel yang dibicarakan disini
adalah partikel yang berperan
membentuk kalimat Tanya (interogatif), yaitu –kah, dan –tah ditambah
dengan –lah yang dipakai dalam
kalimat perintah (imperatif) dan kalimat pertanyaan (deklaratif), serta pun yang hanya dipakai dalam kalimat
pertanyaan.
Contoh:
-kah
(1) Apakah Bapak Ahmadi sudah dating?
(2) Bagaimanakah rasanya naik pesawat ruang angkasa?
(3) Ke
manakah akan kucari pengganti
dirimu?
-lah
(1) Apalah dayaku tanpa bantuanmu.
(2) Kalau
engkau mau, ambillah apel itu satu!
(3) Pergilah segera, sebelum jalan macet!
-tah
(1) Siapatah gerangan jodohku nanti.
(2) Apatah artinya hidupku tanpa engkau.
pun
(1)
Apa pun yang terjadi, saya harus pergi.
(2)
Karena dosen
berhalangan, kuliah pun dibatalkan.
(3)
Hendak makan pun lauknya tidak ada.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
1.
Kata adalah satuan bentuk terkecil dari kalimat yang
dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna.
2.
Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses,
dan keadaan yang bukan merupakan sifat.
3.
Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak,
tabiat orang/binatang/suatu benda.
4.
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva,
nomina predikatif,dan klausa (kalimat).
5.
Kata benda atau nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret
maupun abstrak).
6.
Kata ganti atau pronomina ialah segala kata yang menjadi pengganti nama benda,
menurut fungsinya di dalam kalimat, ialah segala kata yang mungkin menduduki
subyek atau obyek, seperti halnya fungsi kata benda dalam kalimat.
7. Kata Bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah
kumpulan atau urutan tempat dari nama-nama benda.
8.
Kata depan
atau
preposisi adalah kata tugas yang
selalu bedada didepan kata benda, kata sifat, atau kata kerja untuk membentuk
gabungan kata depan (frasa preposional).
9.
Kata
sambung atau
konjungsi adalah kata yang berfungsi
menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
10. Kata seru atau interjeksi
adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa
kagum, sedih, heran, dan jijik.
11. Kata
sandang atau artikel adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau
benda.
DAFTAR
PUSTAKA
Finoza Lamuddin. 2005, Komposisi Bahasa Indonesia,Diksi Insan
Mulia, Jakarta
Kawi Djantera,
Durdje Durasid, dan Nely Latif. 1986, Morfo
Sintaksis Bahasa Banjar Kuala, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Surana,dkk. 1985, Ikhtisar Tata Bahasa Indonesia, Tiga
Serangkai, Solo
http://www.scribd.com/doc/









0 komentar:
Posting Komentar