KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
OLEH
MUHAMMAD FADLI
NIM. 1001310969
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
ANTASARI
FAKULTAS DAKWAH
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
BANJARMASIN
2011
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah yang berjudul “Komunikasi antar Budaya” yg diajukan
untuk memenuhi tugas berstruktur mata kuliah “Ilmu Komunikasi” yang diasuh oleh
Bapak Syaiful Hadi, S. IP, M.AP Pada kesempatan
ini kami ingin mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang mana telah membantu kami sehingga tersusunnya makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritikan
dan saran yang bersifat membangun sehingga makalah ini menjadi sempurna.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amien.
Banjarmasin, Mei 2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang Masalah
Di Indonesia, Komunikasi antara
budaya belum secara serius mendapatkan tempat sebagai suatu kajian penting,
sehingga sampai saat ini masih sulit ditemui buku yang menjelaskan secara
lengkap tentang definisi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Padahal
komunikasi antar budaya di Indonesia sangatlah penting karena pada kenyataannya
kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia sangatlah heterogen yang terdiri dari
berbagai suku bangsa, bahasa, agama, ras, budaya, dan istiadat. Sebagaimana
dituangkan dalam semboyang Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda tetapi
tetap satu. Lebih dari 350 bahasa daerah berkembang di Indonesia dan ratusan
etnis tersebar diberbagai wilayah. Kehidupan majemuk bangsa Indonesia yang
kompleks ditandai dengan kenyataan latar belakang social budaya etnis yang
berbeda-beda. Dengan kenyataan tersebut tidaklah mudah bagi bangsa Indonesia
untuk mewujudkan suatu integrasi dan menghindari konflik atau bahkan perpecahan
(DeVito 1997).
Komunikasi antar budaya kala menjadi
semakin penting karena meningkatnya mobilitas orang diseluruh dunia, saling
ketergantungan Ekonomi diantara banyak Negara, kemajuan Teknologi Komunikasi,
perubahan pola imigrasi dan politik membutuhkan pemahaman atas kultur yang
berbeda-beda (DeVito 1997). Komuniasi antara budaya sendiri lebih menekankan
aspek utama yakni komunikasi antar pribadi diantara Komunikator dan Komunikan
yang kebudayaannya berbeda (Mulyana 1990) .
2. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk
menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yang terjadi diantara dua orang
yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda berarti mereka memiliki
perbedaan kepribadian dan persepsi terhadap relasi antar pribadi. Ketika A dan
B dengan budaya yang berbeda bercakap-cakap itulah yang disebut Komunikasi
antar Budaya karena dua pihak “menerima” perbedaan diantara mereka sehingga
bermanfaat untuk menurunkan tingkat ketidakpastian dan kecemasan dalam relasi
antar pribadi.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Penjelasan
Komunikasi antar budaya adalah seni
untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain.
(Sitaram, 1970). Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi diantara
orang-orang yang berbeda kebudayaan. (Rich, 1974). Komunikasi antarbudaya
adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya
perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, kebiasaan. (Stewart, 1974).
Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi di mana para
pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu
kontak antara satu dengan lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung.
(Young Yung Kim, 1984.
Dari defenisi tersebut nampak jelas
penekanannya pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam
berlangsungnya proses komunikasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Karena
itu dua konsep terpenting di sini adalah kontak dan komunikasi merupakan ciri
yang membedakan studi Komunikasi Antar-Budaya dari studi-studi antropologi dan
psikologi lintas budaya yang berupaya mendeskripsikan kebudayaan-kebudayaan
antarbudaya.
Sejauh ini upaya pemerhati
Komunikasi Antar-Budaya lebih banyak diarahkan pada aspek intracultural atau
pun crosscultural, buakan studi-studi intercultural dari komunikasi.
Sebagaimana tradisi penelitian antropologi dan psikologi lintas budaya
(cross-cultural psycology), kebanyakan dari kegiatan penelitian memusatkan
perhatian pada ; pola-pola komunikasi dalam kebudayaan-kebudayaan tertentu,
studi komparatif lintas budaya mengenai fenomena-fenomena komunikasi.
2. Dimensi
Komunikasi Antar-Budaya
Untuk mencari kejelasan dan
mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan dalam konteks
Komunikasi Antar-Budaya, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan:
1. Tingkat
masyarakat kelompok budaya dari partisipan;
2. Konteks
sosial tempat terjadinya Komunikasi Antar-Budaya
3. Saluran
yang dilalui oleh pesan-pesan Komunikasi Antar-Budaya (baik yang verbal maupun
non-verbal).
Dimensi pertama
menunjukan bahwa istilah kebudayaan telah digunakan untuk merujuk pada
macam-macam tingkat lingkupan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya
istilah kebudayaan mencakup beberapa pengertian sebagai berikut:
- Kawasan di dunia, misalnya; budaya Timur, budaya Barat.
- Subkawasan-kawasan di dunia, budaya Amerika Utara, Asia Tenggara.
- Nasional/negara, misalnya budaya Indonesia, budaya Perancis, budaya Jepang.
- Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negeri seperti, Cina, Jawa, Negro
- Macam-macam subkelompok sosiologis berdasarkan kategori jenis kelamin, kelas sosial (budaya hippiis, budaya kaum gelandangan, budaya penjara)
Dimensi kedua
menyangkut Konteks Sosial, meliputi bisnis, organisasi, pendidikan, akulturasi
imigran politik, konsultasi terapi, dan sebagainya. Komunikasi dalam semua
konteks sosial tersebut pada dasarnya memilih persamaan dalam hal unsur-unsur
dasar an proses komunikasi (misalnya menyangkut penyampaian, penerimaan dan
pemrosesan). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latarbelakang
pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran, penggunaan
pesan-pesan verbal dan non-verbal serta hubungan-hubungan antaranya. Maka
variasi kontekstual misalnya; komunikasi antara orang Indonesia dengan Jepang
dalam suatu transaksi dagang akan berbeda dengan interaksi dalam peran sebagai
dua orang mahasiswa. Dengan demikian, konteks sosial memberikan tempat khusus
pada para partisipan, hubungan-hubungan antarperan, ekspektasi-ekspektasi,
norma-norma dan aturan tingkah laku yang khusus.
Dimensi ketiga
berkaitan dengan saluran komunikasi. Dimensi ini menunjukan tentang saluran apa
yang dipergunakan dalam Komunikasi Antar-Budaya. Secara garis besar saluran
dapat dibagi atas:
1. Antarpribadi
2. Media massa
3. Bersama-sama
dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga mempengaruhi proses dan
hasil keseluruhan dari Komunikasi Antar-Budaya. Misalnya orang Indonesia
menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika, akan memiliki pengalaman yang
berbeda dengan keadaan, apabila ia sendiri berada di sana dan melihat dengan
keala sendiri. Umumnya pengalaman antarpribadi dianggap dapat memberikan dampak
yanng lebih mendalam.
Ketiga dimensi
di atas dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan, dlam mengklasifikasi
fenomena Komunikasi Antar-Budaya. Misalnya kita dapat mengambarkan komunikasi
antara presiden Indonesia dengan dubes baru dari Nigeria sebagai komunikasi
internasional, antarpribadi dalam konteks politik. Maka apapun tingkat
keanggotaan kelompok konteks sosial dan saluran komunikasi, komunikasi dianggap
antarbudaya apabila para komunikator yang menjalin kontak dan interaksi
mempunyai latarbelakang pengalaman budaya berbeda.
3. Hubungan Tmbal Balik antara Komunikasi dengan Kebudayaan
Unsur-unsur
pokok yang mendasari proses komunikasi antarbudaya adalah konsep-konsep tentang
‘kebudayaan’ dan ‘komunikasi’. Hal ini ditekankan oleh Sarbaugh (1979) yang
menyatakan bahwa pengertian tentang komunikasi antarbudaya memerlukan suatu
pemahaman tentang konsep-konsep komunikasi dan kebudayaan serta adanyasaling
ketergantungan antar keduanya. Saling ketergantungan ini dapat terbukti apabila
disadari bahwa:
1) Pola-pola
komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu keompok
kebudayaan tertentu;
2) Kesamaan
tingkah laku antara satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan
berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi.
Sementara Smith
(1966) menerangkan hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan budaya
sebagai berikut:
1) Kebudayaan
meruakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki
bersama.
2) Untuk
mempelajari dan memiliki bersama diperlukan komunikasi, sedangkan komunikasi
memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki
bersama.
Untuk lebih
mengerti hubungan komunikasi dengan kebudayaan bisa ditinjau dari sudut pandang
perkembangan masyarakat, perkembangan kebudayaan, dan peranan komunikasi dalam
proses perkembangan tersebut. Perkembangan mencerminkan hubungan terus menerus
dan berlangsung dan di mana simbol dan lambang berlangsung dalam proses
resiprokal (timbal-balik) antara orang-orang didalamnya.
4. Unsur-unsur Kebudayaan
Karena
kebudayaan memberikan identitas pada sekelompok manusia, maka muncul suatu
persoalan yakni bagaimana cara kita mengidentifikasi aspek-aspek atau
unsur-unsur kebudayaan yang membedakan satu kelompok masyarakat budaya dari
kelompok masyarakat budaya lainnya. Samovar (1981) membagi berbagai aspek
kebudayaan kedalam tiga pembagian besar unsur-unsur sosial budaya yang secara
langsung sangat mempengaruhi penciptaan makna untuk persepsi, yang selanjutnya
menentukan tingkah laku komunikasi.
Pengaruh-pengaruh
terhadap komunikasi ini sangat beragam dan mencakup semua segi kegiatan sosial
manusia. Dalam proses Komunikasi Antar-Budaya unsur-unsur yang sangat
menentukan ini bekerja dan berfungsi secara terpadu bersama-sama seperti
komponen dari suatu sistem stereo, karena masing-maasing saling membutuhkan dan
berkaitan. Tetapi dalam penelaahan, unsur-unsur tersebut dipisah-pisahkan agar
dapat diidentifikasi dan ditinjau secara satu persatu. Unsur-unsur sosial
budaya tersebut adalah:
1) Sistem
keyakinan, nilai dan sikap.
2) Pandangan
hidup tentang dunia.
3) Organisasi
sosial.
Pengaruh ketiga
unsur kebudayaan tersebut pada makna untuk persepsi terutama pada aspek
individual dan subjektifnya. Kita semua mungkin akan mlihat suatu obbjek atau
peristiwa sosial yanng sama dan memberikan makna objektif yang sama, tetapi
makna individualnya tidak mustahil akan berbeda. Misalnya orang Amerika dengan
Arab sepakat menyatakan seseorang wanita berdasarkan wujud fisiknya. Tetapi
kemungkinan besar keduanya akan berbeda pendapat tentang bagaimana wanita itu
dalam makna sosialnya. Orang Amerika memandang nilai kesetaraan antara pria
dengan wanita, sementara orang Arab memendang wanita cenderung menekankan
wanita sebagai ibu rumah tangga.
5. Peranan Persepsi Dalam Komunikasi Antar Budaya
Persepsi
individu mengenai dunia sekelilingnya, orang, benda, dan peristiwa mempengaruhi
berlangsungnya Komunikasi Antar-Budaya. Pemahaman dan penghargaan akan
perbedaan persepsi diperlukan jika ingin meningkatkan kemampuan menjalin
hubungan dengan orang yang berbeda budaya. Kita harus belajar memahami
referensi perseptual mereka, sehingga kita akan mampu memberikan reaksi yang
sesuai dengan ekspektasi dalam budaya mereka. Karenanya pengertian secara umum
tentang persepsi diperlukan sebagai landasan memahami hubungan antara
kebudayaan dan persepsi.
Persepsi
merupakan proses internal yang dilalui individu dalam menseleksi, dan mengatur
stimuli yang datang dari luar. Secara sederhana persepsi dapat dikatakan
sebagai proses individu dalam melakukan kontak/hubungan dengan dunia
sekelilingnya. Dengan cara mendengar, melihat, meraba, mencium dan merasa kita
dapat mengenal lingkungan dan sadar apa yang terjadi di luar diri kita. Apa
yang terjadi sebenarnya ialah bahwa kita menciptakan bayang-bayang internal
tentang objek fisik dan sosial serta peristiwa-peristiwa yang dihadapi dalam
lingkungan. Dalam hal ini masing-masing individu berusaha untuk memahami lingkungan
melalui pengembangan struktur, stabilitas, dan makna bagi persepsinya.
Pengembangan ini mencakup kegiatan-kegiatan internal yang mengubah sistem
stimuli menjadi impuls-impuls (rangsangan) yang bergerak melalui sistem syaraf
ke otak, serta mengubahnya lagi ke dalam pengalaman-pengalaman yang bermakna.
Kegiatan internal perseptual ini dipelajari. Setiap orang lahir sudah dengan
alat-alat fisik yang penring bagi persepsi, seperti halnya dengan alat untuk
mampu berjalan. Dalam hal ini orang haru belajar untuk mencapai kemampuan
tersebut. Secara umum proses persepsi melibatkan tiga aspek :
a. Struktur
Jika kita
menutup mata, memalingkan muka dan dan kemudian membuka mata, kita akan melihat
lingkungan yanng terstruktur dan terorganisasikan. Apa yang kita hadapi
mempunyai bentuk, ukuran, tekstur, warna, intensitas, dan lain-lain. Bayangan
kita mengenai lingkungan merupakan hasil dari kegiatan kita secara aktif
memproses informasi, yang mencakup seleksi dan kategorisasi input/masukan. Kita
mngembangkan kemampuan membentuk struktur ini dengan mempelajari
kategorisasi-kategorisasi untuk memilah-milah stimjulasi eksternal.
Kategorisasi
untuk mengkalsifikasikan lingkungan ini dapat berbeda-beda antara orang yang
satu dengan lainnya. Kategori tergantung pada sejarah pengalaman dan
pengetahuan kita. Misalnya kata ‘rumah’ konsep fisiknya akan berbeda antara
orang asia dengan orang eskimo.
Objek-objek
sosial dan fisik juga akan mempunyai struktur yang berbeda-beda tergantung pada
kebutuhan saat itu. Fungsi misalnya bisa digunakan sebagai kategori. Dalam
membeli pena kita mempunyai beberpa kategori seperti warna, ukuran dan
sebagainya.
b. Stabilitas
Dunia realitas
yanng berstruktur tadi mempunyai kelanggengan, dalam arti tidak selalu
berubah-ubah. Melalui pengalaman kita mengetahui bahwa tingi/besar seseorang
tetap , walajupun dari bayangan terfokus pada mata kita berubah seiring dengan
perbedaan jarak. Walaupun alat-alat panca indera kita sangat sensitif, kita
mampu untuk secara intern menghaluskan perbedaan-perbedaan atau
perubahan-perubahan dari input sehingga dunia luar tidak berubah-ubah.
c. Makna
Persepsi
bermakna dimungkinkan karena persepsi-persepsi terstruktur dan stabil tidak
terasingkan/terlepas satu sama lain, melainkan berhubungan setelah selang
beberapa waktu. Jika tidak, maka setiap masukan yang sifatnya perseptualakan
ditangkap sebagai sesuatu yang baru. Dan akibatnya kita akan selalu berada
dalam keadaan heran/terkejut/aneh dan gtiak ada yag nampak familiar bagi kita.
Makna
berkembang dari pelajaran dan pengalaman kita masa lalu, dan dalam kegiatan
yang ada tujuannya. Kita belajar mengemangkan aturan-atruan bagi usaha dan
tujuan yang ingin dicapai. Dengan atruan-aturan ini kita kita bertindak sebagai
pemroses aktif dari stimulasi kita mengkategorisaikan peristiwa-peristiwa di
masa lalau dan sekarang. Kita menjadi pemecah masalah yang aktif dalam usaha
mencari makna dari lingkunagan kita. Artinya, kita belajar untuk memberi makna
pada persepsi-persepsi kita yang dianggap masuk akal jika dihubungkan dengan
pengalaman masa lalu, tindakan dan tujuan masa sekarang, dan antisipasi kita
tentang masa depan.
Suatu hal yang
pokok dalam makna ini adalah sistem kode bahasa. Dengan kemampuan bahasa, kita
dapat menangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi warna
dan merumuskan kategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik pada
pengalaman-pengalaman, kita dapat mengingat, memanipulasi, dan membagi bersama
dengan orang lain, serta menghubungkan mereka pada pengalaman-pengalaman lain
melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu.
Makna, karenanya, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan bahasa dan tergantung
pada penggunaan kta atas kata-kata yang dapat memberi gambaran secara tepat
6. Dimensi-dimensi Persepsi
Kita telah
membahas sebelumnya bahwa persepsi tentang lingkungan fisik dan sosial
merupakan kegiatan internal dalam menangkap stimuli dan kemudian memrosesnya
melalui sistem syaraf dan otak sampai akhirnya tercipta struktur, stabilitas,
dan makna darinya. Untuk memahami bekerjanya proses tersebut, kita harus
menyadari akan adanya dua dimensi pokok fundamental dari persepsi:
1) Dimensi
fisik (mengatur/mengorganisasi)
2) Dimensi
psikologis (menafsirkan).
Kedua
dimensi ini secara bersama-sama bertanggungjawab atas hasil-hasil persepsi,
sehingga pengertian tentangnya akan memberi gambaran tentang bagaimana persepsi
terjadi.
1) Dimensi Persepsi secara Fisik
Sekaliun
dimensi fisik ini merupakan tahp penting dari persepsi, tetapi untuk tujuan
kita mempelajari KAB, hanya merupakan tahap permulaan dan tidak berapa perlu
untuk terlali didalami. Dimensi ini menggambarkan perolehan kita akan
informasi tentang dunia luar. Tahap permulaan ini mencakup
karateristik-karakteristik stimuli yang berupa energi, hakikat dan fungsi
mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit) serta
transmisi data melalui syaraf menuju otak, untuk kemudian diubah ke dalam
bentuk yang bermakna.
Bagaimana
bekerjanya anggota tubuh manusia pada tahap ini dapat dikatakan sama antara
satu orang dengan orang lainnya, baik yang berasal dari kebudayaan yang sama
ataupun berbeda. Karena setiap orang pada dasarnya memiliki mekanisme anatomis
dan biologis yang sama, yang menghubungkan mereka dengan lingkungannya.
2) Dimensi Persepsi secara Psikologis
Dibandingkan
denga penanganan stimuli secara fisik, keadaan individu (seperti kepribadian,
kecerdasan, pendidikan, emosi, keyakinan, nilai, sikap, motivasi dan lain-lain)
mempunyai dampak yang jauh lebih menentukan terhadap persepsi mengenai
lingkungan dan perilaku. Dalam tahap ini, setiap individu menciptakan
struktur, stabilitas, dan makna dalam persepsinya, serta memberikan sifat yang
pribadi dan penafsiran mengenai dunia luar.
Dalam kehidupan
sehari-hari, kita menerima begitu sbanyak masukan pesan. Misalnya ketika
membaca buku, selain kata-kata yang ada dalam buku tersebut, kita juga akan
menerima pesanlainnya seperti suhu udara dalam ruangan tempat kita berada,
kondisi kursi yang diduduki, suara air di kamar mandi, suara anak yang
menangis, dan berbagai stimulus lainnya yang ada di sekitar kita. Semus
stimulus ini secara bermasaan akan ikut mempengaruhi proses kegiatan kita dalam
membaca buku. Namun demikian, dalam praktiknya tidak mungkin kita mengolah
semua masukan pesan yang kita terima. Dengan kata lain kita melakukan
penyeleksian terhadap semua stimulus yang kita terima. Proses penseleksian ini
terjadi secara cepat (dalam beberapa detik saja),dan mungkin secara spontan
atau dalam keadaan tidak sadar.
Keputusan untuk
menyeleksi semua masukan pesan yang akan diberi makna secara langsung
berhubungan dengan kebudayaan kita. Selama hidup kita telah belajar, baik
selaku individu ataupun selaku anggota dari suatu kelompok kebudayaan tertentu.
Ini berarti bahwa kebudayaan memang mempunyai pengruh pada proses dan hasil
persepsi.
Proses seleksi dalam persepsi mengenai
suatu objek dan lingkungan sekelilingnya, menurut Samovar (1981) secara umum
melibatkan tiga yang saling berkaitan yakni:
1. Selective
exposure (seleksi terhadap pengenaan pesan/ stimulus)
2. Selective attention
(seleksi dalam hal perhatian)
3. Selective retention (seleksi yang
menyangkut retensi/ ingatan).
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Dengan mengetahui ciri dasar budaya
dari tiap-tiap suku bangsa akan mengurangi keterkejutan budaya (gegar budaya), memberikan
kepada kita wawasan terlebih dahulu dan memudahkan kita untuk berinteraksi
dengan suku bangsa lain yang sebelumnya sulit kita lakukan. Dari interaksi ini
selanjutnya akan cenderung terjadi relasi.
Sebenarnya keanekaragaman budaya
bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang yang memungkinkan kita
merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Dari sini kemudian
akan timbul empathy dari diri kita terhadap orang-orang dari suku bangsa lain.
Adanya saling memahami dan pengertian di antara orang-orang berbeda budaya akan
mengurangi konflik yang selama ini sering terjadi. Konflik biasanya terjadi
karena berbedanya persepsi mengenai nilai- nilai antarbudaya.
Tapi kita harus
optimis mengenai perbedaan budaya di Indonesia. Karena pada dasarnya. hal itu
merupakan salah satu kekayaan dari Negara Republik Indonesia, Dan ini adalah
tantangan bagi kita, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang ilmu
komunikasi
·
SARAN-SARAN
Dengan selesainya Makalah Komunikasi
Antar-Budaya ini, maka kami dari penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak, sehingga Makalah kami dapat lebih sempurna.
Sebab dalam penyusunan Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ø Drs. A. Mulyana, Teori Komunikasi-modul 14,2008.
kuliah.dagdigdug.com Komunikasi Antarbudaya Oleh : Dra. Hj. Dewi Widowati,
M.Si.
Ø Sasa Djuarsa sendjaja, Pengantar Komunikasi, Universitas
Terbuka 1999.










0 komentar:
Posting Komentar