Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

Makalah Filsafat Umum

FILSAFAT ALAM


MUHAMMAD FADLI
1001310969

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI 
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI 
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM 
BANJARMASIN
2011




KATA PENGANTAR
 

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Hal ini karena berkat rahmat, taufiq dan hidayah-Nya jualah, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “FILSAFAT ALAM”.
Shalawat serta salam tak lupa pula kami haturkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, kerabat, sahabat serta pengikut beliau sampai akhir zaman.
Penulis ucapkan terimakasih yang utama kepada Drs. A. Gazali, M. Hum selaku dosen pembimbing FILSAFAT UMUM, dan orang-orang yang mendukung dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam penyusunan maupun dari segi penulisan, maka dari itu kritik dan saran pembaca sangat diharapkan dalam menunjang perbaikan.



Banjarmasin, April 2011


 Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
Biasanya orang beranggapan ilmu mempresoalkan alam, dan yang demikian ini tampak pada istilah “ilmu alam”.
Dalam arti yang luas, yang dinamakan alam ialah hal-hal yang ada disekitar kita dan yang dapat kita cerap secara Inderawi. Secara  lebih cermat, istilah “alam” dapat dipakai untuk menunjuk lingkungan obyek-obyek yg terdapat pada ruang dan waktu. Tetapi pada aneka jaman pandangan orang mengenai alam berbeda-beda.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Filsafat alam (dari bahasa Latin philosophia naturalis) adalah istilah yang melekat pada pengkajian alam dan semesta fisika yang pernah dominan sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Filsafat alam dipandang sebagai pendahulu ilmu alam semisal fisika.
Bentuk-bentuk ilmu pengetahuan persejarahnya berkembang di luar filsafat, atau lebih khususnya filsafat alam. Di universitas-universitas yang lebih tua, Kursi-Kursi Filsafat Alam yang sudah mapan kini sebagian besar dikuasai oleh para guru besar fisika. Catatan modern ilmu pengetahuan dan ilmuwan merujuk pada abad ke-19 (Webster's Ninth New Collegiate Dictionary menuliskan bahwa asal mula kata "ilmuwan" adalah dari tahun 1834). Sebelumnya, kata "ilmu pengetahuan" sekadar berarti pengetahuan dan gelar ilmuwan belumlah wujud. Karya ilmiah Isaac Newton dari tahun 1687 dikenal sebagai Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica.”1)
B.     Sejarah Lahirnya Filsafat Alam
Pada umumnya setiap bangsa didunia ini apakah mereka telah mempunyai keberadaban yang sudah maju, lebih-lebih lagi bangsa yang masih tergolong dalam keadaan sederhana / primitive, pada dasarnya mereka mempunyai suatu mythos, dongeng dan takhyul yang mempengruhi kehidupan dan perkembangan ala fikiran mereka. Mythos dan dongeng tersebut kadang-kadang diceritakan dari mulut, dari orang tua pada anak-anaknya dgn berbagai cara. Didalamnya kadang-kadang diceritakan tentang keajaiban alam, kekuatan suatu benda alam atau Dewa-Dewa yg melebihi dari kekuatan manusia, sehingga tidak jarang hal tersebut membuat pendengarnya merasa takut dan kagum tersebut lama kelamaan menimbulkan berbagai fantasi, membawa orang kealam bebas.
Fantasi tersebut tak ada batasnya, ia tidak bersangkut dgn yang lahir, fantasi merupakan pangkal dari perasaan yang indah, indah pangkal dari seni, pangkal dari pengetahuan-pengetahuan yang ajaib. Dgn fantasi org dapat menyatukan jiwanya dgn alam sekitarnya. Hal ini membuat org tidak ingin mencari kebenaran buah fantasinya, sebab kesenagan jiwanya terletak pada fantasi itu. Tetapi pekembangan selanjutnya, orang berusaha untuk mengetahui kebenarann fantasi tersebut lebih jauh. Bertitik pagkal dari sikap inilah kemudian timbul keinginan akan kebenaran.”2)
Demikian pula bangsa Yunani (Grik) pada mereka terdapat suatu metologi, dongeng dan takhayul yang meluas dikalangan masyarakat, dimana dalam Mythos, dongeng dan takhayul ini diantaranya sudah memberikan jawaban atas pertayaan-pertanyaan yang berkembang dalam masyarakat, misalnya tentang asal usul alam dan kejadian-kejadian dalam alam tentang tenggelam dan terbitnya matahari dan lain sebagainya.
Tetapi bagi bangsa Grik ini rupa-rupanya apa yang diceritakan dari mulut kemulut oleh nenek moyangnya itu meskipun telah mereka pusakai lama kelamaan ternyata tidak memuaskan, mereka berusaha untuk menyusun mite-mite yang diceritakan menjadi suatu keseluruhan yang sistematis. Hal ini berarti Mythos sudah berrangsur-angsur merka tinggalkan namun memakan waktu yang cukup lama. Mereka telah berusaha untuk mengerti hubungan mite-mite satu sama lain dan menyingkirkan mite yang tidak dapat dicocokkan dgn mite lain. Dalam usaha tersebut sudah tampak sifat rasional bangsaYunani.”3)
Perkembangan pemikiran demikian sudah mulai Nampak sejak abad ke 6 sebelum Masehi. Sejak saat itu orang mulai mencari-mencari jawaban rasionil tentang problim-problim yang diajukan oleh alam semesta, dengan demikian filsfat dilahirkan.”4)
Filsafat yang mula-mula ini dikenal dengan filsafat alam, karena enyidikan dan pembahasannya terutama ditunjukkan untuk mencari inti dari pada ala mini. Filsuf-filsuf yg berusaha mencari inti Dalam sejarah mereka disebut filsuf alam.”5) Tetapi meskipun filsafat telah lahir dan berangsur-angsur mengalahka mite, namun harus diakui bahwa mitologi itu adalah merupakan suatu factor yang mendahului serta mempersiapkan kearah lahirnya filsafat. Disamping itu harus diingat pula sebagaimana yang dikemukakan oleh Abbas Mahmoud Al-Akkad; bahwa manusia pada umumnya telah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui Aqidah sejak sepuluh abad sebelum Masehi, akan tetapi ia baru mengetahui “sebab pertama” melalui filsafat semenjak lebih abad keempat sebelum Masehi, dan kebanyakan pegangannya dalam hal ini adalah Agama. Dari agamalah para filosof menerima pikiran tentang roh, dari agama pulalah mereka mengambil pikiran tentang ketidak benarnnya gejala-gejala material (kebendaan) dan dari agama juga mereka belajar memisahkan antara akal (roh) dgn benda, dimana mereka mempelajari bagaimana bisa menembus sampai dibelakang indera. Membersihkan hakekat wujud-wujud sampai kepada kedalam yang tidak sanggup lagi diselami badan (benda) dan sampai ketinggian yang tidak sanggup lagi dicapai oleh pandangan mata. Dari agama-agama permulaan pulalah para filosof telah meminjam akidah para pemeluknya dalam menafsirkan sumber-sumber semua yang ada dan meramalkan akhir kejadiannya sesudah menyelesaikan masa wujudnya.”6)
Maka filsafat itu dengan usahanya memandang keseluruhan dan menjelaskannya secara rasional serta usahanya meninjau dari sudut keseluruhan bagian-bagian itu dalam ketetapannya yang tertentu itu sangatlah mesra perhubungannya dengan religi (kepercayaan) yang menyatakan pengalamannya akan kemestaan dgn berbagai-bagai cara.”7)
Dalam suasana kebebasan mengemukakan pendapat dan pemikiran yang telah mulai berkembang dimasyarakat Yunani, sangat memungkinkan perkembangan dan kemajuan berbagai bidang ilmu pengatahuan terutama dibidang filsafat. Mereka mulai berfikir sendiri. Dibelakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum mereka cari suatu keterangan yang memungkinkan untuk mengerti kejadian-kejadian itu.”8)
Bagi orang Yunani pengertian filsafat pada dasarnya meliputi baik filsafat maupun ilmu pengetahuan, mereka belum membeda-bedakan ilmu dagan filsafat seperti yang terjadi kemudian dimana sekarang diperbedakan termenologi modern, ilmu-ilmu pengatahuan berangsur-angsur satu demi satu akan melepaskan diri dari filsafat untuk memperoleh otonominya masing-masing, karena itu tidak mengherankan kalau sejumlah filosofnya terkenal dikemudian hari dan sejumlah ilmuan mempunyai leluhur yang sama dinegeri Yunani, dan bangsa Yunani ini mendapat kehormatan yang luar biasa, karena dari bangsa inilah yang menyelorkan cara berfikir ilmiah, dan dari bangsa Yunani termasuk pendasar-pendasar pertana kultur Barat, bahkan kultur sedunia.”9)
C.    Pandangan Yunani Tentang Alam
Para filsuf alam lonia. Para pemikir besar Yunani yang mempermasalahkan alam ialah Thales (+/- 630 S.M – 546 S.M.), Anaximander (hidup pada pertengahan abad 6 S.M.), Anaximenes (+/- 550 S.M.), para penganut paham pythagoreanisme (abad 5 S.M.). Plato, (427? – 347 S.M.), dan Aristoteles (384 – 322 S.M.). Ketiga tokoh yang pertama diatas mewakili “Madzab filsuf alam lonia”. Bagi mereka kiranya yang merupakan pertanyaan hakiki ialah “Apakah yang merupakan subtansi asli yang tidak berubah-ubah yang mendasari semua perubahan dalam alam semesta yang kita kenal?”
Orang-orang Yunani terkesan akan keteraturan serta ketertiban yang tampak dalam alam kodrat. Yang mereka pandang sebagai alam benda-benda yang bergerak. Bagi mereka keteraturan tersumber pada jiwa yang memaksakan ketertiban terhadap segala sesuatu.
Bahkan Thales, filsuf Yunani tertua yang berpendirian bahwa apa saja yang ada tersusun dari air, menaruh keyakinan alam kodrat merupakan semacam makhluk hidup, seperti halnya hewan, “mempunyai jiwa”.
Anaximander, memandang subtansi terdalam sebagai sesuatu yang ia namakan ketakterbatasan, yang digambarkannya bahwa hal tersebut tidak berhingga jumlahnya dan tidak tertentu sifatnya. Ia juga berpendapat bedasarkan atas ketakterbatasan tersebut timbullah berbagai dunia yang tak terbatas jumlahnya.
Kembali kemasalah subtansi yang bersifat menetukan, Anaximenes bahwa subtansi adalah udara, dan menjumbuhkannya dengan Tuhan. Unsur-unsur yang kita kenal sebagai api, angin, awan, air dan batu, sesungguhnya merupakan akibat proses perenggangan serta peratapan yang saling berlawanan. Udara secara abadi mengakibatkan gerakan yang beredar didalam dirinya sendiri, dan gerakan inilah yang menyebabkan adanya perbedaan serta perpisahan antara berbagai subtansi alam. Karena itu, bagi Anaximenes masalah dibidang kosmologi yang hendak dipecahakannya berubah, bukan lagi, masalah : -“Apakah yang merupakan penysun segala sesuatu?” melainkan -“Apakah yang menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan pada subtansi terdalam?”  . . Jawaban atas pertanyaan yang kedua menyebabkan munculnya suatu teori perubahan yaitu prinsip perenggangan-perapatan.
Dengan demikian para filsuf alam lonia memahamkan alam sebagai “keanekaragaman setempat-setempat didalam kerangka materiprima yang sejenis” yang ditumbuhkan dengan pengertian “yang ilahi” Menurut hemat mereka istilah “alam” menunjuk kepada sesuatu yang menyebabkan apa saja yang mengambil sikap serta keadaan seperti yang terdaspat dalam kenyataannya.
Plato dan Aristoteles. Dua diantara tokoh-tokoh tersebesar dalam sejarah filsafat . Dua diantara tokoh-tokoh tersebesar dalam sejarah filsafat Yunani ialah Plato dan Aristoteles. Plato merupakan guru Aristoteles. Demikian meresapnya serta lamanya pengaruh ajaran-ajaran mereka, A.N. Whitehead memberikan catatan bahwa segenap filsafat sesudah masa hidup Plato dan Aristoteles sesungguhnya merupakan ulasan-ulasan belaka terhadap ajaran-ajaran mereka. Berhubungan dengan itu kita perlu barang sekedarnya mengenai apa yang telah mereka ajarkan yang begitu besar serta menetap pengaruhnya.
Plato, secara jelas membicarakan masalah alam didalam dialognya yang berjudul Timeus. Kosmologi yang diajarkan berkisar pada masalah terciptanya dunia berserta susunannya. Pameran utama dalam kisah penciptaan ini ialah pencipta yang oleh Plato disebut Demiurgos. Bagi anda istilah ini mungkin terdengar aneh, tetapi bagi Plato kata tersebut mempunyai arti tertentu. Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pekerja” seseorang yang  menyerupai tukang kayu.
Plato, memahamkan dunia kita sebagai sesuatu yang terbentuknya mirip sekali dengan cara ketika seorang tukang kayu memberi bentuk meja yang dibuatnya. Seperti halnya seorang tukang kayu membayangkan suatu bentuk tertentu yang akan diberikannya kepada meja yg akan dibuatnya, begitu pula Demiurgos mencipta dunia menurut suatu bentuk tertentu dalam hubungannya dengan masalah ciptaan ini bentuk-bentuk bersifat abadi.
Aristoteles, untuk membayangkan suatu alam Bentuk-bentuk yang adanya terpisah dari obyek-obyek. Menurut pandangan Aristoteles kenyataan yang sebenarnya berupa satuan-satuan yang kongret satu yang kita kenal didunia ini. Kosmologi ajaran Aristoteles tidak membahas masalah penciptaan, melainkan memberikan gambaran mengenai apakah yang dinamakan kenyataan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar