FONEMIK, VOKAL, & KONSONAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan
penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran
bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan
budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam
masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan
kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Dalam Linguistik kita mempelajari lebih
mendalam tentang ruanglingkup bahasa, baik dari Fonologi, Morfologi, Sintaksis,
dan Semantik. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi-bunyi ujaran
suatu bahasa. Fonologi dapat dibedakan menjadi dua, Fonetik dan Fonemik. Dalam
makalah ini kami membahas tentang apa itu Fonemik serta Bunyi Vokal dan
Konsonan.
2.
Rumusan Masalah
a. Apa itu Fonemik?
b. Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan
Vokal dan Konsonan?
3.
Tujuan Penulisan
Untuk mendeskripsikan tentang Fonemik
serta Vokal dan Konsonan
4.
Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam
makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu suatu metode dengan menggunakan
literatur-literatur yang terdapat di perpustakaan dan juga elektronik
(internet).
5.
Sistematika Penulisan
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
4. Metode Penulisan
5. Sistematika Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Fonemik
Fonemik
adalah ilmu yang mempelajari bunyi-ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti.
Fonemik
adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran fungsinya
sebagai pembeda arti. Satuan bunyi ujaran yang terkecil, yang dapat membedakan
arti disebut fonem. Dalam kenyataan, tiap fonem bisa diucapkan secara berlainan
sesuai dengan lingkungan yang dimasukinya. Misalnya fonem /a/ dalam kata apa akan diucapkan berlainan /a/ dalam
kata bantal, atau fonem /i/ dalam
kata ini akan diucapkan berbeda
dengan /i/ dalam kata adik.
Macam-macam [a] dan [i] yang berbeda-beda pengucapannya ini berdasarkan
lingkungannya itu merupakan anggota fonem /a/ dam /i/, yang disebut alofon.
Karena
itu, sasaran fonemik adalah mengadakan pengelompokan bunyi ujaran suatu bahasa
menjadi sebuah fonem, dan menetapkan kaidah-kaidah untuk menggabungkan
fonem-fonem itu. Tiap bahasa memiliki kaidah-kaidah untuk menggabungkan
fonem-fonem untuk membentuk kata. Misalnya, bahasa Indonesia tidak mengenal
rangkaian tiga fonem konsonan berurutan pada akhir kata seperti dalam
bahasa-bahasa Barat. Kaidah-kaidah penggabungan fonem disebut fonotaktik sebuah
bahasa. Bahwa sebuah bunyi ujaran dapat menjadi sebuah fonem dapat dibuktikan
melalui pasangan minimal, yaitu satu
pasangan kata yang sama dalam semua bunyinya, kecuali satu dalam tiap kata
tadi. Misalnya, bila kita memperhatikan kata lari dan dari, tampak
keduanya mengandung bunyi-bunyi yang sama. Kecuali satu yang berbeda, yaitu /l/
dan /d/ yang menyebabkan kedua kata itu berbeda artinya. Demikian pula, ketika
bunyi /l/dari kata lari diganti lagi
dengan /t, m/ akan diperoleh kata tari dan
mari. Dengan cara ini terbukti bahwa
/l, d, t, m/ itu adalah fonem karena dapat membedakan arti.
1.
Fonem dan Alofon
Fonem
Fonem
adalah satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Misalnya bunyi
[h] pada kata [tuah] karena bila ditanggalkan menjadi [tua] makna katanya akan
berbeda. Fonem merupakan konsep abstrak yang di dalam ujaran direalisasikan
oleh alofon-alofonnya.
Bunyi-bunyi
tersebut, meskipun merupakan representasi dalam pertuturan, ternyata yang satu
dengan yang lain dapat bergabung dalam satu kesatuan yang statusnya lebih
tinggi yaitu sebuah fonem, sehingga dapat membedakan makna kata. Jadi, fonem
merupakan abstraksi dari satu atau sejumlah fon,
entah vokal maupun konsonan.
Memang
banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. Namun, intinya adalah satu
kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Bagaimana kita tahu
sebuah bunyi adalah fonem atau bukan fonem. Banyak cara dan prosedur telah
dikemukkan berbagai pakar. Namun, intinya adalah kalau kita ingin mengetahui
sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari yang disebut pasangan
minimal, yaitu dua buah bentuk bunyinya mirip dan hanya berbeda. Umpamanya kita
ingin mengetahui bunyi [p] fonem atau bukan, maka kita cari, misalnya, pasangan
kata paku dan baku. Kedua kata ini mirip sekali. Masing-masing terdiri dari empat
buah bunyi. Kata paku terdiri dari
bunyi [p], [a], [k], dan bunyi [u]; sedangkan kata baku terdiri dari bunyi [b], [a], [k], dan [u]. Jadi, pada pasangan
paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang sama, yaitu bunyi kedua, ketiga,
dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi pertama, yaitu bunyi [p] pada kata paku dan bunyi [p] pada kata baku.
p
|
a
|
k
|
u
|
b
|
a
|
k
|
u
|
Dengan demikian kita sudah dapat
membuktikan bahwa bunyi [p] dalam bahasa Indonesia adalah sebuah fonem.
Untuk membuktikan sebuah bunyi adalah
fonem atau bukan dapat juga digunakan pasangan minimal yang salah satu
anggotanya “rumpang”. Artinya, jumlah bunyi pada anggota pasangan yang rumpang
itu kekurangan satu bunyi dari anggota yang utuh. Misalnya, untuk membuktikan
bunyi [h] adalah fonem atau bukan kita dapat mengambil pasangan [tuah] dan
[tua], Bentuk [tuah] memiliki empat buah bunyi, sedangkan bentuk [tua] hanya
memiliki tiga buah buny. Maka, kalau bunyi [h] itu ditanggalkan, makna kata itu
akan berbeda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bunyi [h] adalah sebuah fonem
[h].
t
|
u
|
a
|
h
|
t
|
u
|
a
|
-
|
Dengan cara sepeti itu, kita dapat
juga membuktikan bahwa bunyi [i] juga adalah fonem /i/ karena ada pasangan
minimal [k∂las] dan [k∂lasi] dimana [k∂las] memiliki lima buah bunyi sedangkan
[k∂lasi] memiliki enam buah bunyi. Simak bagan berikut:
k
|
∂
|
l
|
A
|
s
|
-
|
k
|
∂
|
l
|
A
|
s
|
i
|
Memang ada kemungkinan kita sukar
mencari pasangan minimal untuk membuktikan sebuah bunyi adalah sebuah fonem
atau bukan.
Alofon
Alofon adalah variasi dari sebuah
fonem, bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem.
Vokal [i] pada kata < i.ni >
[ini]; < ti.ti > [titi]; dan < i.si > [ isi ]
Vokal [I] pada kata < benih >
[b∂nIh]; < ba.tik > [ batik ]; dan < ta.sik > [ tasIk]
Oleh karena itu, bisa disimpulkan
bahwa:
a. Vokal [i] dan [I] bukanlah merupakan dua
buah fonem, melainkan cuma anggota dari sebuah fonem yang sama yaitu /i/
b. Vokal [i] dan vokal [I] distribusinnya
tidak sama: vokal [i] berrdistribusi pada silabel terbuka atau silabel tidak
berkoda; sedangkan vokal [I] berdistribusi pada silabel tertutup atau silabel
berkoda.
c. Vokal [i] dan vokal [I] memiliki
ditribusi komplementer, berdistribusi yang saling melengkapi.
2.
Fonem Bahasa Indonesia
Fonem
Vokal
Nama-nama fonem
vokal yang ada dalam bahasa Indonesia adalah:
1. /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar.
2. /e/ vokal depan, sedang, atas, tak
bundar.
3. /a/ vokal depan, rendah, tak bundar.
4. /∂/ vokal tengah, sedang, tak bundar
5. /u/ vokal belakang, atas, bundar.
6. /o/ vokal belakang, sedang, bundar.
Fonem Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah
fonem diftong /ay/, diftong /aw/, dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan
dengan pasangaan minimal.
/ay/
gulai x gula (gulay x gula)
/aw/
pulau x pula (pulaw x pula)
/oi/
sekoi x seka (s∂koy x seka)
B.
Vokal dan Konsonan
Bunyi Vokal
dan konsonan
Bunyi-bunyi
vokal, konsonan, dan semi vokal dibedakan berdasarkan tempat dan cara
artikulasinya. Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara, setelah
arus udara ke luar dari glotis (celah pita suara), lalu arus ujar hanya
“diganggu” atau diubah oleh posisi lidah dan bentuk mulut. Misalnya, bunyi [i],
bunyi [a], dan bunyi [u]. Sedangkan bunyi konsonan terjadi setelah arus ujar
melewati pita suara diteruskan ke rongga mulut dengan mendapat hambatan dari
artikulator aktif dan artikulator pasif. Misalnya bunyi [b] yang mendapat
hambatan pada belakang lidah (apeks) dan gigi atas, atau bunyi [g] yang
mendapat hambatan pada belakang lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Sedangkan bunyi vokal adalah bunyi yang proses pembentukannya mula-mula secara vokal
lalu diakhiri secara konsonan. Karena itu, bunyi ini sering juga disebut bunyi
hampiran (aproksiman).
a.
Bunyi vokal
Bunyi-bunyi vokal dapat diklasifikasikan menurut:
1.
Tinggi rendahnya posisi lidah
Berdasarkan
tinggi rendahnya posisi lidah bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a.
Vokal tinggi atas, seperti bunyi [i]
dan [u]
b.
Vokal tinggi bawah, seperti bunyi [I] dan [U]
c.
Vokal sedang atas, seperti bunyi [e] dan [o]
d.
Vokal sedang bawah, seperti bunyi, [ε] dan [ ]
e.
Vokal sedang tengah, seperti bunyi [∂]
f.
Vokal rendah, seperti bunyi [a]
2.
Maju mundurnya lidah
Berdasarkan
maju mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a.
Vokal depan, seperti bunyi [i], [e], dan [a]
b.
Vokal tengah, seperti bunyi [∂]
c.
Vokal belakang, seperti bunyi [u] dan [o]
Berkenaan
dengan penentuan bunyi vokal brtdasarkan posisi lidah ada konsep yang disebut vokal
kardinal (Jones 1958: 18), yang berguna untuk membandingkan vokal-vokal suatu
bahasa di antara bahasa-bahasa lain. Konsep vokal kardinal ini menjelaskan
adanya posisi lidah tertinggi, terendah, dan terdepan dalam memproduksi bunyi
vokal itu. Bunyi vocal [i] diucapkan dengan maninggikan lidah depan setinggi
mungkin tanpa menyebabkan terjadinya konsonan geseran. Vocal [a] diucapkan
dengan merendahkan pangkal lidah sebawah mungkan. Vocal [u] diucapkan dengan
menaikanpangkal lidah setinggi mungkin.
3.
Striktur
Striktur
pada bunyi vokal adalah jarak antara lidah dengan langit-langit keras (palatum). Maka, berdasarkan sttikturnya
bunyi vokal dapat dibedakan menjadi:
a)
Vokal tertutup, yang terjadi apabila lidah diangkat setinggi mungkin
mendekati langit-langit, seperti bunyi [i] dan bunyi [u].
b)
Vokal semi tertutup, yang terjadi apabila lidah diangkat dalam ketinggian
sepertiga di bawah vokal tertutup, seperti bunyi [ε], dan [ ].
c)
Vokal terbuka, yang rejadi apabila lidah berada dalam posisi serendah
mungkin, seperti bunyi [a]
4. Bentuk mulut
Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vokal itu
diproduksi dapat dibedakan:
a) Vokal bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk
mulut membundar. Dalam hal ini ada yang bundar terbuka bundar seperti bunyi
[ ], dan yang bundar tertutup seperti
bunyi [o] dan bunyi [u].
b) Vokal tak bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan
bentuk mulut tidak membundar, melainkan terbentang melebar, seperti bunyi [i],
bunyi [e], dan bunyi [ε].
c) Vokal netral, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk
mulut tidak bundar dan tidak melebar, seperti bunyi [a].
b.
Bunyi Konsonan
Pengertian Konsonan
Bila dalam
menghasilkann suatu bunyi ujaran, udara yang keluar dari paru-paru mendapat
halangan, maka terjadilah bunyi yang disebut konsonan. Konsonan adalah bunyi
ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan,
entah seluruhnya atau sebagian.
Macam-macam Konsonan
Konsonan dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor
berikut:
1.
Artikulator
dan Titik Artikulasi
2.
Jenis
Halangan Udara yang Dijumpai
3.
Bergetar
tidaknya Pita Suara
4.
Jalan
Keluar Udara dari Rongga Ujaran
a. Artikulator dan Titik Artikulasi
Berdasarkan
artikulator dan titik artikulasi untuk menghasilkan sebuah konsonan, konsonan
dapat dibedakan atas:
1.
Konsonan bilabial,
yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir yang
bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi. Bunyi yang
dihasilkan adalah: p, b, m, w;
2.
Konsonan labio-dental,
yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik
artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator. Bunyi yang dihasilkan adalah f, r;
3.
Konsonan apiko-dental,
yaitu konsonan yang dihasilkan dengan ujung lidah yang bertindak sebagai artikulator
dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi. Dalam bahasa Indonesia bunyi
yang dihasilkan adalah t dan n, dalam bahasa jawa: t, d, dan n. Demikian pula konsonan z,
s, l, dan r dihasilkan dengan
alat ini.
4.
Konsonan apiko-alveolar,
yaitu konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan
lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi. Dalam bahasa Indonesia terdapat
konsonan d dan n, sedangkan dalam bahasa Jawa konsonan t, d, dan n;
5.
Konsonan palatal atau
lamino-palatal, yaitu konsonan yang
dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras
sebagai titik artikulasi. Contohnya: c,
j, ny, dan sy;
6.
Konsonan velar
atau dorso-velar, yaitu konsonan
yang dihasilkan oleh belakang lidah, sebagai artikulator, dan langit-langit
lembut, sebagai titik artikulasi. Contohnya: k, g, ng, dan kh.
7.
Konsonan hamzah (hambat glottal),
yaitu konsonan yang dihasilkan dengan posisi pita suara sama sekali merapat
sehingga menutup glottis. Udara sama sekali dihalangi. Bunyi yang dihasilkan
adalah ? atau hamzah;
8.
Konsonan laringal,
yaitu konsona yang dihasilkan dengan pita suara terbuka lebar sehingga udara
yang keluat digesekkan melalui glottis: h.
b. Jenis Halangan Udara
Berdasarkan
jenis halangan udara yang terjadi pada waktu udara keluar dari rongga ujaran,
konsonan dapat diibedakan atas:
1.
Konsonan hambat (stop),
yaitu konsonan yang dihasilkan dengan
udara yang sama sekali dihalangi pada daerah artikulais. Konsonan yang dihasilkan adalah: p, b, t, d, c, j, k, g, dan ?.
2.
Frikatif,
yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru digesekkan
sehingga terdengar bunyi geser atau frikatif. Konsonan yang dihasilkan
adalah: v, f kh, dan h;
3.
Spiran atau sibilan,
yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru mendapat
halangan berupa pengadukan sehingga terdengar bunyi desis. Konsonan yang
dihasilkan adalah: z, s, dan sy;
4.
Likuida atau
lateral, yaitu konsonan yang
dihasilkan dengan menaikkan lidah ke langit-langit sehingga udara terpaksa
diaduk dan keluar melalui kedua sisi (sisi = latus) lidah. Konsonan yang dihasilkan adalah l;
5.
Getar atau trill, yaitu konsonan yang dihasilkan
dengan mendekatkan dan menjauhkan lidah ke alveolum dengan cepat dan
berulang-ulang sehingga udara bergetar. Getaran udara yang terjadi disebut getar apikal. Konsonan yang dihasilkan
adalah r.
c. Bergetar-tidaknya Pita Suara
Berdasarkan
bergetar-tidaknya pita suara pada saat menghasilkan suatu konsonan, konsonan
dapat dibagi atas:
1.
Konsonan bersuara,
yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari rongga ujaran turut
menggetarkan pita suara. Konsonan yang terjadi adalah m, b, v, m, n, d, r, ny, j, ng, g, dan R;
2.
Konsonan
tak bersuara, yaitu konsonan yang terjadi bila udara yang keluar dari rongga
ujaran tidak menggetarkan pitta suara. Konsonan yang terjadi adalah p, f, t, s, c, sy, k, kh, ?, dan h.
d. Jalan Keluar Udara
Berdasarkan
jalan yang diikuti arus udara waktu keluar dari rongga ujaran, konsonan dapat
dibedakan atas:
1.
Konsonan oral,
yaitu konsonan yang terjadi bila keluar melalui rongga mulut (mulut = os, -oris). Konsonan yang dihasilkan
adalah b, p, v, f, d, t, z, s, l, r, j,
c, sy, g, k, kh, R, ?, dan h.
2.
Konsonan nasal,
yaitu konsonan yang terjadi bila udara keluar melalui rongga hidung (hidung = nasus). Konsonan yang dihasilkan adalah m, n, ny, dan ng.









0 komentar:
Posting Komentar