Selembar daunku berarti secercah kehidupanmu

Muhammad Fadli Al_Fudhail. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger
RSS

Natural_Green

Aku adalah keberlangsungan hidup_mu

Pelajaran Bahasa Indonesia III



 MORFOLOGI


A.    Pengertian Morfologi
Morfologi atau tata bentuk (Ingg. morphology; ada pula yang menyebutnya morphemics) adalah bidang linguistic yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1984 : 52). Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata. Dalam linguistik bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif, yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang berbeda tidak akan terbentuk (Alwasilah, 1983 : 101).
Morfologi merupakan bagian dari linguistik yang berhubungan dengan kajian kata, struktur internalnya dan sebagian maknanya. Morfologi juga mencakup bagaimana pengguna sebuah bahasa tertentu memahami kata-kata kompleks dan menemukan ite-item leksikal yang baru. Karena morfologi berkaitan dengan bentuk-bentuk kata maka morfologi juga berhubungan dengan fonologi (yang menunjukkan bagaimana kata dilafalkan), dan terkait pula dengan kajian leksikal karena pola-pola yang diteliti yang dikaji oleh morfologi digunakan untuk membentuk kata-kata baru. Lebih jauh, morfologi juga berhubungan dengan semantik karena memiliki kaitan dengan makna kata.
Ahli bahasa membedakan antara morfologi turunan dan morfologi infleksional. Morfologi turunan (derivational morphology) membahas tentang hubungan-hubungan kata-kata yang berbeda, dan cara-cara dimana item-item kosa kata bisa dibentuk dari beberapa unsur, seperti pada kata un-speak-able; sedangkan morfologi infleksional membahas tentang bentuk-bentuk dari satu kata yang diperlukan tergantung pada fungsi gramatikalnya dalam sebuah kalimat.

Contoh-contoh berikut dari segi struktur atau unsur-unsur yang membentuknya,
a.
makan
makanan
dimakan
termakan
makan-makan
dimakankan
rumah makan
b.
main
mainan
bermain
main-main
bermain-main
permainan
memainkan

Contoh-contoh yang terpampang di atas, semuanya disebut kata. Namun demikian, struktur kata-kata tersebut berbeda-beda. Kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna. Kata makanan, dimakan, dan termakan masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter- dengan makan. Kata makan-makan terdiri atas dua bentuk bermakna makan dan makan. Rumah makan pun terdiri atas dua bentuk bermakan rumah dan makan. Kata main, sama dengan kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna, sedangkan kata mainan, bermain, main-mainan, permainan, memainkan masing-masing terdiri atas dua buah bentuk bermakna yakni –an, ber-, main, per-an, me-kan dengan main. Kata bermain-main terdiri atas tiga bentuk bermakna ber-, main, dan main.

B.     Perbandingan Morfologi dengan Leksikologi
Kata kosong mempunyai berbagai makna dalam pemakaiannya, antara lain :
1)      Tidak ada isinya; misalnya: peti besinya telah kosong.
2)      Hampa, berongga (geronggang) di dalamnya; misalnya: tinggal butir-butir padi yang kosong.
3)      Tidak ada yang menempati; misalnya: rumah itu kosong.
4)      Terluang; misalnya: waktu kosong.
5)      Tidak mengandung sesuatu yang penting atau berharga; misalnya: perkataannya kosong. (Poerwadarminta, 1985 : 524).
Selain itu, ada pula kata-kata mengosongkan ‘menjadikan kosong’, pengosongan ‘perbuatan mengosongkan’, kekosongan ‘keadaan kosong’ atau ‘menderita sesuatu karena kosong’.
Morfologi danLeksikologi sama-sama mempelajari kata, ari kata, akan tetapi si antara keduanya terdapat perbedaan. Leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata atau yang lazim disebut arti leksis atau makna leksikal, sedangkan morfologi mempelajari arti yang timbul akibat peristiwa gramatis yang biasa disebut arti gramatis atau makna gramatikal.
Leksikologi mempelajari seluk beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. Pendek kata Leksikologi adalah ilmu yang mempelajari arti kata. misalnya kata masak. kata ini mempunyai berbagai arti dalam pemakaiannya.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan leksikologi, yaitu ; Persamaannya yaitu sama - sama mempelajari arti kata. Perbedaannya adalah morfologi mempelajari arti dari imbuhan atau disebut peristiwa gramatik (granatical learning) contoh bersepeda. sedangkan Leksikologi mempelajari arti kata dasar atau kata dasar (Lecical Meaning), contoh kursi.

C.    Perbandingan Morfologi dengan Etimologi
Dalam penyelidikan bentuk, morfologi berdekatan dengan etimologi, yakni ilmu yang menyelidiki seluk-beluk asal-usul kata secara khusus. morfologi dan etimologi mempelajari masalah yang sama yakni perubahan bentuk, namun ada perbedaannya. Morfologi mempelajari perubahan kata yang disebabkan atau yang terjadi akibat sistem bahasa secara umum. Sebagai contoh, dari kata pakai  terbentuk kata-kata baru pakaian, memakai, dipakai, terpakai, berpakaian. Perubahan-perubahan itu disebabkan oleh sistem bahasa yaitu sistem afiksasi atau pembubuhan afiks. Gejala itulah yang dipelajari oleh morfologi. Namun perhatikanlah contoh-contoh berikut: kenan di samping berkenan; ia  di samping dia, yang, dan –nya dan tuan di samping tuhan. Perubahan-perubahan tersebut bukan bersifat umum atau bukan akibat sistem bahasa Indonesia. Perubahan tersebut hanya terjadi untuk kata-kata tersebut, tidak berlaku untuk kata-kata lain. Perubahan-perubahan itu bukan dipelajari oleh morfologi atau ilmu asal-usul kata.
Etimologi adalah ilmu yang mempelajari seluk – beluk asal sesuatu kata secara khusus. pendek kata ilmu yang mempelajari kalimat serta bagian – bagiannya.

D.    Perbandingan Morfologi dengan Sintaksis
 Satu lagi cabang ilmu bahasa yang berdekatan dengan morfologi yaitu sintaksis.
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani sun “dengan” dan tattien “menempatkan”. Dengan jelas, menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat.
Bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antarkata dan antarkelompok kata dalam kalimat. Di lain pihak, morfologi mempelajari seluk-beluk kata itu sendiri secara mandiri tanpa memperhatikan hubungannya dalam kalimat. Tegasnya dapat dikatakan bahwa unsur yang paling kecil yang dipelajari oleh morfologi ialah morfem dan yang paling besar ialah kata, sedangkan sintaksis mempelajari unsur yang paling kecil ialah kata dan yang terbesar kalimat.
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari kalimat serta bagian - bagiannya. terdapat juga persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan sintaksis, yaitu persamaannya yaitu sama – sama berdasar pada kata. Perbedaannya adalah sintaksis mempelajari wacana, kalimat, klausa, dan kelompokkata ( frase) sedangkan morfologi mempelajari kata, dan morfem lebih khusus.

Contoh untuk membedakan bidang garapan morfologi dan sintaksis dalam kalimat, “Ia mengadakan perjalanan.” Dengan membaca uraian di atas, kita seolah-olah dapat dengan mudah mengetahui batas yang tegas bidang garapan morfologi dengan sintaksis. Sebenarnya tidaklah selalu demikian. Kita ambil contoh bentuk-bentuk ketidakadilan, ketidakmampuan, dan ketidaktentraman. Pembicaraan kata-kata tersebut sebagai bentuk kompleks yang terdiri atas bentuk ke-an dengan tidak adil, tidak mampu, tidak tentram termasuk ke dalam bidang morfologi. Akan tetapi pembicaraan mengenai hubungan antara tidak dengan adil, mampu, dan tentram  termasuk ke dalam bidang sintaksis. Pembicaraan tentang bentuk yang salah satu unsurnya berupa afiks atau imbuhan termasuk dalam bidang morfologi, sedangkan bentuk yang semua unsurnya berupa kata (bentuk yang seperti itu sering disebut frase) termasuk ke dalam bidang sintaksis (Ramlan dalam Prawirasumantri, 1985 : 110).
Contoh lain yang menunjukkan bahwa morfologi dan sintaksissulit ditentukan batasnya yaitu pembicaraan tentang kata majemuk yang semua unsurnyapokok kata atau kata seperti: tinggi hati, keras kepala, sapu tangan, dan sejenisnya. Pembicaraan bentuk-bentuk seperti itu tampaknya seperti termasuk kedalam sintaksis, tetapi karena bentuk-bentuk itu mempunyai sifat seperti kata, maka pembicaraannya termasuk ke dalam bidang morfologi. Hal itu disebabkan karena kata majemuk termasuk golongan kata. Jika kita membicarakan ia sebagai bentuk tunggal, mengadakan dan perjalanan sebagai bentuk kompleks, termasuk garapan bidang morfologi, tetapi jika pembicaraan mengenai ia sebagai subjek, mengadakan sebagai predikat dengan kata perjalanan  sebagai objek termasuk garapan sintaksis.

Morfem
Morfem dalam morfologi adalah unit-unit terkecil yang membawa makna atau memenuhi beberapa fungsi gramatikal. . Kata house terdiri dari satu morfem, dan karena berdiri sendiri maka bisa disebut morfem bebas. Pada kata houses ada dua morfem yaitu house, yang merupakan morfem bebas, dan s yang merupakan morfem terikat, karena tidak dapat berdiri sendiri, jika berdiri sendiri tidak memiliki makna. Pada contoh ke-dua diatas morfem terikat s melekat pada house – sebuah morfem bebas, yang dalam hal ini juga bisa disebut sebagai batang (stem). Batang adalah tempat dimana morfem terikat terpasang.

Morfem dalam bahasa indonesia berdasarkan bebtuknya ada dua macam,yaitu:
1). Morfem Bebas
2). MorfemTerikat

Morfem Bebas
Menurut Santoso (2004), morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Ddengan demikian, morfem bebas merupakan yang diucapkan tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi, dan sebagainya.
Morfem bebas bisa dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu:
1). morfem leksikal
Morfem leksikal adalah kata-kata yang memiliki makna – kata kerja, kata sifat, kata benda, seperti misalnya print, house, pretty, fire, go, girl. Karena tidak ada masalah dengan penambahan entitas baru ke dalam kelompok kata ini maka disebut sebagai kelas kata terbuka.
2).  morfem fungsional.
Morfem fungsional adalah kelas kata tertutup, seperti artikel (the/a/an), preposisi, pronoun yang tidak membawa makna jika berdiri sendiri, tetapi hanya memenuhi fungsi gramatikal.

Morfen Terikat
Morfem terikat merupakan morfem yang belum menagndung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabungkan dengan morfem bebas. Menurut Samsuri(1994), morfem terikat tidak pernah di dalam bahasa yang wajar diucapkan sendiri. Morfem-morfem ini, selain contoh yang telah diuraikan pada bagian awal, umpamanya: ter-, per-, -i, -an.
Morfem terikat juga bisa dibagi menjadi dua yaitu:
1). morfem terikat morfologis
Morfem terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar, adalah sebagai berikut:
(a)    Prefiks (awalan) : per-, me-, ter-, di-, ber-, dan lain-lain
(b)   Infiks (sisipan) : -el, -em, -er-
(c)    Sufiks ( akhiran) : -an, kan, -i
(d)   Konfiks (imbuhan gabungan senyawa) : mempunyai fungsi macam-macam sebagai berikut.
a.      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-, per-, -kan, -I, dan ber-an.
b.      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata benda, yaitu: pe-, ke-, -an, ke-an, per-an, -man, -wan, -wati.
c.       Imbuhan yang berfungsi membentuk kata bilangan: ke-, se-.
d.      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata sifat: ter-, -i, -wi, -iah.
e.       Imbuhan yang berfungsi membentuk kata tugas: se-, dan se-nya.
Dari contoh diatas menunjukkan bahwa setiap kata berimbuhan akan tergolong dalam satu jenis kata tertentu, tetapi hanya imbuhan yang merupakan unsur langsung yang dapat diidentifikasikan fungsinya sebagai pembentuk jenis kata.

2). morfem terikat sintaksis.
Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata. Perhatikan contoh berikut.
            Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku.
            Dari deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah: anak, pintar, sabar, baca, buku, adalah morfem bebas. Mem- adalah morfem terikat morfologis. Sedangkan morfem yang, dan morfem dan dalam kalimat diatas belum dapat berdiri sendiri sebagai kata karena tidak mengandung makna tersendiri. Gejala inilah yang tergolong morfem terikat sintaksis

Morf, Alomorf, Dan Kata
Morf adalah perubahan bentuk morfem, Alomorf adalah proses perubahannya. misalnya morfem meN- yang mempunyai struktur fonologik mem-, men-, misalnya pada membawa,mendatang, bentuk mem-, dan men- itu, masing – masing disebut morf, yang semuanya merupakan alomorf dari morfem meN-. Untuk mencari morfem dapat dicari dengan analisis morfem atau dengan diagram pohon (untuk mencari jumlah morfem), contoh ;Melarikan.
Kata adalah satuan bebas yang paling kecil, atau dengan kata lain, satuan yang mengandung arti penuh. contohnya, rumah karena rumah ini merupakan satuan – satuan bebas.Jika kata masihbisa ditambah dengan imbuhan lain bisa dikatakan bentuk dasar karena bisa membentuk dasar yang lainnya, jika kata sudah tidak bisa ditambahkan lagi maka kata tersebut tidak bisa menjadi bentuk dasar lagi.




Deretan Morfologik
Yang dimaksud dengan deretan morfologik adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata – kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata terlantar, untuk mengetahui apakah kata itu terdiri dari satu morfem atau beberapa morfem, haruslah kata itu diperbandingkan dengan kata – kata lain dalam deretan morfologik. Deretan morfologiknya sebagai berikut ;
terlantar
menterlantarkan
diterlantarkan
keterlantaran
terlantar
terlantar

Proses Morfologik
Apakah Proses Morfologik itu?
Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).

Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afiks ber- pada jalan menjadi berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda, pada susah payah menjadi bersusah payah, pada gerilya menjadi bergerilya; pertumbuhan afiks meN- pada tulis menjadi menulis, pada kenai menjadi mengenai, pada baca menjadi membaca. Pada an- misalnya sasaran, pada kata gigi, menjadi gerigi Ada juga afiks yang tidak membentuk kata, melainkan membentuk pokok kata, ialah afiks per-, kan-, dan –I, misalnya perbesar, perkecil, perluas, perindah, perkarya, perdua, perempat, ambilkan, bacakan, bangunkan, duduki, tanami, pukuli.




Struktur Morpologi Bahasa Indonesia
Morpologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika di potong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperhalus, misalnya, dapat dipotong sebagai berikut.
            Mem-perhalus
Per-halus
Jika halus diceraikan lagi, maka ha- dan lus secara teroisah tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan halus di sebut morfem.Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa morfem adalah suatu bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.

Proses Pengulanagan Bahasa Indonesia
            Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagainya, baik denagn variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan, 1980). Pengulangan merupakan pula suatu proses morfologisyang banyak terdapat pada bahasa Indonesia. Perhatikan pemakaian kata yang bercetak miring berikut.
(1)   Dia membeli rumah di Makasar.
(2)   Rumah-rumah di perkampungan itu akan digusur.
(3)   Anak itu membuat rumah-rumahan untuk adiknya.
(4)   Perumahan-perumahan yang dibangun oleh pengembang banyak yang tidak layak huni.
Berpatokan pada pendapat Ramlan di atas, maka jelas bahwa kata ulang yang terdapat pada kalimat (2), (3), dan (4) semuanya dibentuk dari bentuk atau unsur dasar rumah. Makna kata pada kalimat (1)denagn kalimat berikutnya berbeda. Pada kalimat (1) kata rumah berarti satu . Kata rumah –rumah dan perumahan-perumahan pada kalimat (2) dan (4) berarti banyak atau jamak.Sedangkan rumah-rumahan pada kalimat (3) berarti menyerupai.Perbedaan makna ini disebabkan oleh adanya rumah dan perumahan sebagai morfem pertama dan rumah,rumahan, dan perumahan pada morfem kedua. Morfem rumah adalah morfem yang bermakna leksis, sedangkan morfem kedua merupakan morfem yang bermakna struktural.
Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam membentuk dasar  kata ulang sebagai berikut.
(1)   Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. Unsur dasar kata ulang sejenis dengan kata ulangnya. Dengan prinsip ini, dapat diketahui bahwa bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata benda berupa kata benda, bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata kerja berupa kata kerja, demikian pula bentukdasar kata ulang sifat juga merupakan kata sifat.
Contoh:
-          Anak-anak (Kata benda)                                 -bentuk dasarnya anak (kata          benda)
-          Perumahan-perumahan (kata benda)               -bentuk dasarnya perumahan (kata benda)
-          Melempar-lempar (kata kerja)             -bentuk dasarnya melempar (kata kerja)
-          Menari-nari (kata kerja)                                   -bentuk dasarnya menari (kata kerja)
-          Cepat-cepat (kata sifat)                                   -bentuk dasarnya cepat (kata                   sifat)
(2)   Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar.
Contoh:
-          rumah-rumahan           -bentuk dasarnya rumah bukan rumahan
-          mengata-ngatakan       -bentuk dasarnya mengatakan atau mengata bukan ngatakan
-          berdesak-desakan        -bentuk dasarnya berdesakan bukan berdesak
-          memegang-megang     -bentuk dasarnya memegang bukan megang







Macam-macam Kata Ulang
            Berdasarkan macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk seperti berikut.
(1)   Kata ulang suku awal. Dalam bentuk perulanagn ini, vocal dari suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke posisi tengah menjadi e (pepet).
Contoh:
tangga                         tatangga          tetangga
tanaman           tatanaman        tetanaman
pohon              popohon         pepohonan
laki                  lalaki                lelaki
luhur                luluhur             leluhur

(2)   Kata ulang seluruh kata dasar. Bentuk kata ulang terjadi denagn mengulang seluruh unsur dasar secara utuh. Kata ulang seperti ini biasa di sebut kata ulang utuh.
Contoh:
buku                buku-buku
bangku            bangku-bangku
rumah              rumah-rumah
pedagang         pedagang-pedagang

(3)   Kata ulang yang terjadi diatas seluruh suku kata, tetapi pada salah satu unsur kata ulang tersebut mengalami perubahan bunyi fonem. Kata ulang semacam inibiasa di sebut kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi.
Contoh:
Gerak              gerak-gerak                 gerak-gerik
Sayur               sayur-sayur                  sayur-mayur
Balik                balik-balik                   bolak-balik

(4)    Kata ulang yang mendapatkan imbuhan atau kata ulang berimbuhan.
Contoh:
Anak               anak-anakan
Main                main-mainan
Rajin                serajin-rajinnya
Kuda               kuda-kudaan
Makna Kata Ulang
            Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata ulang menurut Keraf (1978) adalaj sebagai berikut.
(1)   Perulangan mengandung makna banyak yang tak tentu. Perhatikan contoh berikut:
-          Kuda-kuda itu berkejaran di padang rumput.
-          Buku-buku yang di belikan kemarin telah dibaca.

(2)   Perulangan mengandung makna bermacam-macam.
Contoh:
-          Pohon-pohonan perlu dijaga kelestariannya. (banyak dan bermacam-macam pohon)
-          Daun-daunan yang ada dipekaranagn sekolah sudah menumpuk.
(banyak dan bermacam-macam daun)
(3)   Makna lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah menyerupai atau tiruan dari sesuatu.
Contoh:
-          Anak itu senang bermain Kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda)
-          Andi berteriak kegiranagn setelah dibelikan ayam-ayaman.
(menyerupai atau tiruan ayam)
(4)   Mengandung makna agak atau melemahkan diri.
Contoh:
-          Sifatnya masih kekanak-kanakan.
-          Mukanya kemerah-merahan.
(5)   Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari:
a.       Intensitas kualitatif, contohnya:
-          Pukullah kuat-kuat.
-          Anak itu belajar sebaik-baiknya.
b.      Intensitas kuantitatif, contohnya:
-          Kuda-kuda itu berlari kencang.
-          Anak-anak bermain bola di pekaranagn sekolah.
c.       Intensitas frekuentatif, contohnya:
-          Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
-          Ia mondar-mandir saja sejak tadi.
(6)   Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan.
Contoh:
-          Kita harus tolong-menolong.
-          Tentara sedang tembak-menembak denagn seru.


(7)   Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.
Contoh:
-          Anak –anak berbaris dua-dua sebelum masuk kelas.
























A.    Kesimpulan
Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.Sedangkan morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relative stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.
Dalam bahasa Indonesia dikenal adanay morfem yang disebut satuan non-gramatis. Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu tidak dapat langsung membentuk kalimat. Untuk membentuk kalimat, makna satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus digabungkan dengan satuan gramatis lainnya.Morfem semacam ini disebut: “tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”. Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat.
Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kata. Morfem terikat merupakan morfem yang belum menagndung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabungkan dengan morfem bebas.
Morfem terikat dalam bahasa Indonesia menurut santoso (2004) ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar.Morfem ini meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar