MORFOLOGI
A.
Pengertian Morfologi
Morfologi atau tata bentuk (Ingg. morphology; ada pula yang
menyebutnya morphemics) adalah bidang linguistic yang mempelajari susunan
bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1984 : 52). Dengan perkataan
lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi
kata-kata. Dalam linguistik bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif,
yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk
mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang
berbeda tidak akan terbentuk (Alwasilah, 1983 : 101).
Morfologi merupakan bagian dari linguistik yang berhubungan
dengan kajian kata, struktur internalnya dan sebagian maknanya. Morfologi juga
mencakup bagaimana pengguna sebuah bahasa tertentu memahami kata-kata kompleks
dan menemukan ite-item leksikal yang baru. Karena morfologi berkaitan dengan
bentuk-bentuk kata maka morfologi juga berhubungan dengan fonologi (yang
menunjukkan bagaimana kata dilafalkan), dan terkait pula dengan kajian leksikal
karena pola-pola yang diteliti yang dikaji oleh morfologi digunakan untuk
membentuk kata-kata baru. Lebih jauh, morfologi juga berhubungan dengan
semantik karena memiliki kaitan dengan makna kata.
Ahli bahasa membedakan antara morfologi turunan dan
morfologi infleksional. Morfologi turunan (derivational morphology) membahas
tentang hubungan-hubungan kata-kata yang berbeda, dan cara-cara dimana
item-item kosa kata bisa dibentuk dari beberapa unsur, seperti pada kata
un-speak-able; sedangkan morfologi infleksional membahas tentang bentuk-bentuk
dari satu kata yang diperlukan tergantung pada fungsi gramatikalnya dalam
sebuah kalimat.
Contoh-contoh berikut dari segi struktur atau unsur-unsur
yang membentuknya,
|
a.
|
makan
makanan
dimakan
termakan
makan-makan
dimakankan
rumah makan
|
b.
|
main
mainan
bermain
main-main
bermain-main
permainan
memainkan
|
Contoh-contoh yang terpampang di atas, semuanya disebut kata.
Namun demikian, struktur kata-kata tersebut berbeda-beda. Kata makan terdiri
atas satu bentuk bermakna. Kata makanan, dimakan, dan termakan
masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter-
dengan makan. Kata makan-makan terdiri atas dua bentuk bermakna makan
dan makan. Rumah makan pun terdiri atas dua bentuk bermakan rumah
dan makan. Kata main, sama dengan kata makan terdiri atas
satu bentuk bermakna, sedangkan kata mainan, bermain, main-mainan,
permainan, memainkan masing-masing terdiri atas dua buah bentuk bermakna
yakni –an, ber-, main, per-an, me-kan dengan main. Kata bermain-main
terdiri atas tiga bentuk bermakna ber-, main, dan main.
B.
Perbandingan Morfologi dengan Leksikologi
Kata kosong mempunyai berbagai makna dalam
pemakaiannya, antara lain :
1)
Tidak ada isinya; misalnya: peti besinya telah kosong.
2)
Hampa, berongga (geronggang) di dalamnya; misalnya: tinggal butir-butir padi
yang kosong.
3)
Tidak ada yang menempati; misalnya: rumah itu kosong.
4)
Terluang; misalnya: waktu kosong.
5)
Tidak mengandung sesuatu yang penting atau berharga; misalnya: perkataannya
kosong. (Poerwadarminta, 1985 : 524).
Selain itu, ada pula kata-kata mengosongkan
‘menjadikan kosong’, pengosongan ‘perbuatan mengosongkan’, kekosongan
‘keadaan kosong’ atau ‘menderita sesuatu karena kosong’.
Morfologi danLeksikologi sama-sama mempelajari kata, ari
kata, akan tetapi si antara keduanya terdapat perbedaan. Leksikologi
mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata atau yang
lazim disebut arti leksis atau makna leksikal, sedangkan morfologi mempelajari
arti yang timbul akibat peristiwa gramatis yang biasa disebut arti gramatis
atau makna gramatikal.
Leksikologi
mempelajari seluk beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu
bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat
pemakai bahasa. Pendek kata Leksikologi adalah ilmu yang mempelajari arti kata.
misalnya kata masak. kata ini mempunyai berbagai arti dalam pemakaiannya.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan leksikologi, yaitu ; Persamaannya yaitu sama - sama mempelajari arti kata. Perbedaannya adalah morfologi mempelajari arti dari imbuhan atau disebut peristiwa gramatik (granatical learning) contoh bersepeda. sedangkan Leksikologi mempelajari arti kata dasar atau kata dasar (Lecical Meaning), contoh kursi.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara morfologi dengan leksikologi, yaitu ; Persamaannya yaitu sama - sama mempelajari arti kata. Perbedaannya adalah morfologi mempelajari arti dari imbuhan atau disebut peristiwa gramatik (granatical learning) contoh bersepeda. sedangkan Leksikologi mempelajari arti kata dasar atau kata dasar (Lecical Meaning), contoh kursi.
C. Perbandingan Morfologi dengan Etimologi
Dalam penyelidikan bentuk, morfologi berdekatan dengan
etimologi, yakni ilmu yang menyelidiki seluk-beluk asal-usul kata secara
khusus. morfologi dan etimologi mempelajari masalah yang sama yakni perubahan
bentuk, namun ada perbedaannya. Morfologi mempelajari perubahan kata yang
disebabkan atau yang terjadi akibat sistem bahasa secara umum. Sebagai contoh,
dari kata pakai terbentuk kata-kata baru pakaian, memakai,
dipakai, terpakai, berpakaian. Perubahan-perubahan itu disebabkan oleh
sistem bahasa yaitu sistem afiksasi atau pembubuhan afiks. Gejala itulah yang
dipelajari oleh morfologi. Namun perhatikanlah contoh-contoh berikut: kenan
di samping berkenan; ia di samping dia, yang,
dan –nya dan tuan di samping tuhan. Perubahan-perubahan
tersebut bukan bersifat umum atau bukan akibat sistem bahasa Indonesia.
Perubahan tersebut hanya terjadi untuk kata-kata tersebut, tidak berlaku untuk
kata-kata lain. Perubahan-perubahan itu bukan dipelajari oleh morfologi atau
ilmu asal-usul kata.
Etimologi adalah
ilmu yang mempelajari seluk – beluk asal sesuatu kata secara khusus. pendek
kata ilmu yang mempelajari kalimat serta bagian – bagiannya.
D.
Perbandingan Morfologi dengan Sintaksis
Satu lagi cabang ilmu bahasa yang berdekatan
dengan morfologi yaitu sintaksis.
Kata
sintaksis berasal dari bahasa Yunani sun “dengan” dan tattien
“menempatkan”. Dengan jelas, menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi
kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat.
Bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antarkata dan
antarkelompok kata dalam kalimat. Di lain pihak, morfologi mempelajari
seluk-beluk kata itu sendiri secara mandiri tanpa memperhatikan hubungannya
dalam kalimat. Tegasnya dapat dikatakan bahwa unsur yang paling kecil yang
dipelajari oleh morfologi ialah morfem dan yang paling besar ialah kata,
sedangkan sintaksis mempelajari unsur yang paling kecil ialah kata dan yang
terbesar kalimat.
Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari
kalimat serta bagian - bagiannya. terdapat juga persamaan dan perbedaan antara
morfologi dengan sintaksis, yaitu persamaannya yaitu sama – sama berdasar pada
kata. Perbedaannya adalah sintaksis mempelajari wacana, kalimat, klausa, dan
kelompokkata ( frase) sedangkan morfologi mempelajari kata, dan morfem lebih
khusus.
Contoh untuk membedakan bidang garapan morfologi dan
sintaksis dalam kalimat, “Ia mengadakan perjalanan.” Dengan membaca
uraian di atas, kita seolah-olah dapat dengan mudah mengetahui batas yang tegas
bidang garapan morfologi dengan sintaksis. Sebenarnya tidaklah selalu demikian.
Kita ambil contoh bentuk-bentuk ketidakadilan, ketidakmampuan, dan ketidaktentraman.
Pembicaraan kata-kata tersebut sebagai bentuk kompleks yang terdiri atas bentuk
ke-an dengan tidak adil, tidak mampu, tidak tentram
termasuk ke dalam bidang morfologi. Akan tetapi pembicaraan mengenai hubungan
antara tidak dengan adil, mampu, dan tentram
termasuk ke dalam bidang sintaksis. Pembicaraan tentang bentuk yang salah satu
unsurnya berupa afiks atau imbuhan termasuk dalam bidang morfologi, sedangkan
bentuk yang semua unsurnya berupa kata (bentuk yang seperti itu sering disebut
frase) termasuk ke dalam bidang sintaksis (Ramlan dalam Prawirasumantri, 1985 :
110).
Contoh lain yang menunjukkan bahwa morfologi dan
sintaksissulit ditentukan batasnya yaitu pembicaraan tentang kata majemuk yang
semua unsurnyapokok kata atau kata seperti: tinggi hati, keras kepala, sapu
tangan, dan sejenisnya. Pembicaraan bentuk-bentuk seperti itu tampaknya
seperti termasuk kedalam sintaksis, tetapi karena bentuk-bentuk itu mempunyai
sifat seperti kata, maka pembicaraannya termasuk ke dalam bidang morfologi. Hal
itu disebabkan karena kata majemuk termasuk golongan kata. Jika kita membicarakan
ia sebagai bentuk tunggal, mengadakan dan perjalanan
sebagai bentuk kompleks, termasuk garapan bidang morfologi, tetapi jika
pembicaraan mengenai ia sebagai subjek, mengadakan sebagai
predikat dengan kata perjalanan sebagai objek termasuk garapan sintaksis.
Morfem
Morfem dalam morfologi adalah unit-unit terkecil yang
membawa makna atau memenuhi beberapa fungsi gramatikal. . Kata house terdiri
dari satu morfem, dan karena berdiri sendiri maka bisa disebut morfem bebas.
Pada kata houses ada dua morfem yaitu house, yang merupakan morfem bebas, dan s
yang merupakan morfem terikat, karena tidak dapat berdiri sendiri, jika berdiri
sendiri tidak memiliki makna. Pada contoh ke-dua diatas morfem terikat s
melekat pada house – sebuah morfem bebas, yang dalam hal ini juga bisa disebut
sebagai batang (stem). Batang adalah tempat dimana morfem terikat terpasang.
Morfem dalam bahasa indonesia berdasarkan bebtuknya ada dua macam,yaitu:
Morfem dalam bahasa indonesia berdasarkan bebtuknya ada dua macam,yaitu:
1). Morfem
Bebas
2).
MorfemTerikat
Morfem Bebas
Menurut Santoso
(2004), morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri
sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Ddengan demikian, morfem
bebas merupakan yang diucapkan tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi, dan sebagainya.
Morfem
bebas bisa dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu:
1).
morfem leksikal
Morfem
leksikal adalah kata-kata yang memiliki makna – kata kerja, kata sifat, kata
benda, seperti misalnya print, house, pretty, fire, go, girl. Karena tidak ada
masalah dengan penambahan entitas baru ke dalam kelompok kata ini maka disebut
sebagai kelas kata terbuka.
2). morfem fungsional.
Morfem
fungsional adalah kelas kata tertutup, seperti artikel (the/a/an), preposisi,
pronoun yang tidak membawa makna jika berdiri sendiri, tetapi hanya memenuhi
fungsi gramatikal.
Morfen Terikat
Morfen Terikat
Morfem terikat
merupakan morfem yang belum menagndung arti, maka morfem ini belum mempunyai
potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabungkan dengan
morfem bebas. Menurut Samsuri(1994), morfem terikat tidak pernah di dalam
bahasa yang wajar diucapkan sendiri. Morfem-morfem ini, selain contoh yang
telah diuraikan pada bagian awal, umpamanya: ter-, per-, -i, -an.
Morfem
terikat juga bisa dibagi menjadi dua yaitu:
1). morfem terikat morfologis
Morfem terikat morfologis
yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar, adalah sebagai berikut:
(a) Prefiks (awalan) : per-, me-, ter-, di-, ber-, dan lain-lain
(b)
Infiks
(sisipan) : -el, -em, -er-
(c)
Sufiks
( akhiran) : -an, kan, -i
(d) Konfiks (imbuhan gabungan senyawa) :
mempunyai fungsi macam-macam sebagai berikut.
a.
Imbuhan
yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-,
ber-, per-, -kan, -I, dan ber-an.
b.
Imbuhan
yang berfungsi membentuk kata benda, yaitu: pe-,
ke-, -an, ke-an, per-an, -man, -wan, -wati.
c.
Imbuhan
yang berfungsi membentuk kata bilangan: ke-,
se-.
d. Imbuhan yang berfungsi membentuk kata
sifat: ter-, -i, -wi, -iah.
e. Imbuhan yang berfungsi membentuk kata
tugas: se-, dan se-nya.
Dari contoh diatas menunjukkan bahwa
setiap kata berimbuhan akan tergolong dalam satu jenis kata tertentu, tetapi
hanya imbuhan yang merupakan unsur langsung yang dapat diidentifikasikan
fungsinya sebagai pembentuk jenis kata.
2). morfem terikat sintaksis.
Morfem terikat
sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata.
Perhatikan contoh berikut.
Anak
yang pintar dan sabar itu membaca buku.
Dari
deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika
diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah: anak, pintar, sabar, baca, buku, adalah morfem bebas. Mem- adalah morfem terikat morfologis.
Sedangkan morfem yang, dan morfem dan dalam kalimat diatas belum dapat
berdiri sendiri sebagai kata karena tidak mengandung makna tersendiri. Gejala
inilah yang tergolong morfem terikat sintaksis
Morf, Alomorf,
Dan Kata
Morf adalah perubahan bentuk
morfem, Alomorf adalah proses perubahannya. misalnya morfem meN- yang mempunyai
struktur fonologik mem-, men-, misalnya pada membawa,mendatang, bentuk mem-,
dan men- itu, masing – masing disebut morf, yang semuanya merupakan alomorf
dari morfem meN-. Untuk mencari morfem dapat dicari dengan analisis morfem atau
dengan diagram pohon (untuk mencari jumlah morfem), contoh ;Melarikan.
Kata adalah satuan bebas yang
paling kecil, atau dengan kata lain, satuan yang mengandung arti penuh.
contohnya, rumah karena rumah ini merupakan satuan – satuan bebas.Jika kata
masihbisa ditambah dengan imbuhan lain bisa dikatakan bentuk dasar karena bisa
membentuk dasar yang lainnya, jika kata sudah tidak bisa ditambahkan lagi maka
kata tersebut tidak bisa menjadi bentuk dasar lagi.
Deretan Morfologik
Yang dimaksud dengan deretan morfologik adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata – kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata terlantar, untuk mengetahui apakah kata itu terdiri dari satu morfem atau beberapa morfem, haruslah kata itu diperbandingkan dengan kata – kata lain dalam deretan morfologik. Deretan morfologiknya sebagai berikut ;
terlantar
menterlantarkan
diterlantarkan
keterlantaran
terlantar
terlantar
Yang dimaksud dengan deretan morfologik adalah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata – kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Misalnya kita dapati kata terlantar, untuk mengetahui apakah kata itu terdiri dari satu morfem atau beberapa morfem, haruslah kata itu diperbandingkan dengan kata – kata lain dalam deretan morfologik. Deretan morfologiknya sebagai berikut ;
terlantar
menterlantarkan
diterlantarkan
keterlantaran
terlantar
terlantar
Proses Morfologik
Apakah Proses Morfologik itu?
Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).
Apakah Proses Morfologik itu?
Proses morfologik ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).
Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada
suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks,
untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afiks ber- pada jalan menjadi
berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda, pada susah payah menjadi bersusah
payah, pada gerilya menjadi bergerilya; pertumbuhan afiks meN- pada tulis
menjadi menulis, pada kenai menjadi mengenai, pada baca menjadi membaca. Pada
an- misalnya sasaran, pada kata gigi, menjadi gerigi Ada juga afiks yang tidak
membentuk kata, melainkan membentuk pokok kata, ialah afiks per-, kan-, dan –I,
misalnya perbesar, perkecil, perluas, perindah, perkarya, perdua, perempat,
ambilkan, bacakan, bangunkan, duduki, tanami, pukuli.
Struktur
Morpologi Bahasa Indonesia
Morpologi
merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa dalam bahasa
ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang
lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika di potong lagi, tidak mempunyai
makna. Kata memperhalus, misalnya,
dapat dipotong sebagai berikut.
Mem-perhalus
Per-halus
Jika halus
diceraikan lagi, maka ha- dan lus secara teroisah tidak mempunyai
makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan
halus di sebut morfem.Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997)
dinyatakan bahwa morfem adalah suatu bentuk bahasa terkecil yang mempunyai
makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.
Proses
Pengulanagan Bahasa Indonesia
Proses
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun
sebagainya, baik denagn variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut
kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan,
1980). Pengulangan merupakan pula suatu proses morfologisyang banyak terdapat
pada bahasa Indonesia. Perhatikan pemakaian kata yang bercetak miring berikut.
(1) Dia membeli rumah di Makasar.
(2) Rumah-rumah di perkampungan itu akan
digusur.
(3) Anak itu membuat rumah-rumahan untuk
adiknya.
(4) Perumahan-perumahan yang dibangun oleh
pengembang banyak yang tidak layak huni.
Berpatokan
pada pendapat Ramlan di atas, maka jelas bahwa kata ulang yang terdapat pada
kalimat (2), (3), dan (4) semuanya dibentuk dari bentuk atau unsur dasar rumah.
Makna kata pada kalimat (1)denagn kalimat berikutnya berbeda. Pada kalimat (1)
kata rumah berarti satu . Kata rumah –rumah dan perumahan-perumahan pada
kalimat (2) dan (4) berarti banyak atau jamak.Sedangkan rumah-rumahan pada
kalimat (3) berarti menyerupai.Perbedaan makna ini disebabkan oleh adanya rumah
dan perumahan sebagai morfem pertama dan rumah,rumahan, dan perumahan pada
morfem kedua. Morfem rumah adalah morfem yang bermakna leksis, sedangkan morfem
kedua merupakan morfem yang bermakna struktural.
Beberapa
prinsip yang dapat digunakan dalam membentuk dasar kata ulang sebagai berikut.
(1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah
jenis kata. Unsur dasar kata ulang sejenis dengan kata ulangnya. Dengan prinsip
ini, dapat diketahui bahwa bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata
benda berupa kata benda, bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata kerja
berupa kata kerja, demikian pula bentukdasar kata ulang sifat juga merupakan
kata sifat.
Contoh:
-
Anak-anak
(Kata benda) -bentuk
dasarnya anak (kata benda)
-
Perumahan-perumahan
(kata benda) -bentuk dasarnya perumahan (kata
benda)
-
Melempar-lempar
(kata kerja) -bentuk dasarnya
melempar (kata kerja)
-
Menari-nari
(kata kerja) -bentuk dasarnya menari (kata
kerja)
-
Cepat-cepat
(kata sifat) -bentuk
dasarnya cepat (kata sifat)
(2) Bentuk dasar dapat berdiri sendiri
sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar.
Contoh:
-
rumah-rumahan -bentuk dasarnya rumah bukan rumahan
-
mengata-ngatakan
-bentuk dasarnya mengatakan atau
mengata bukan ngatakan
-
berdesak-desakan
-bentuk dasarnya berdesakan bukan
berdesak
-
memegang-megang
-bentuk dasarnya memegang bukan megang
Macam-macam Kata Ulang
Berdasarkan
macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri
atas empat bentuk seperti berikut.
(1) Kata ulang suku awal. Dalam bentuk
perulanagn ini, vocal dari suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke
posisi tengah menjadi e (pepet).
Contoh:
tangga tatangga tetangga
tanaman tatanaman tetanaman
pohon popohon pepohonan
laki lalaki lelaki
luhur luluhur leluhur
(2) Kata ulang seluruh kata dasar. Bentuk
kata ulang terjadi denagn mengulang seluruh unsur dasar secara utuh. Kata ulang
seperti ini biasa di sebut kata ulang utuh.
Contoh:
buku buku-buku
bangku
bangku-bangku
rumah
rumah-rumah
pedagang
pedagang-pedagang
(3) Kata ulang yang terjadi diatas seluruh
suku kata, tetapi pada salah satu unsur kata ulang tersebut mengalami perubahan
bunyi fonem. Kata ulang semacam inibiasa di sebut kata ulang salin suara atau
kata ulang berubah bunyi.
Contoh:
Gerak gerak-gerak gerak-gerik
Sayur sayur-sayur sayur-mayur
Balik balik-balik bolak-balik
(4) Kata ulang yang mendapatkan imbuhan atau kata
ulang berimbuhan.
Contoh:
Anak anak-anakan
Main main-mainan
Rajin serajin-rajinnya
Kuda
kuda-kudaan
Makna Kata Ulang
Sesuai
dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata
ulang menurut Keraf (1978) adalaj sebagai berikut.
(1) Perulangan mengandung makna banyak yang
tak tentu. Perhatikan contoh berikut:
-
Kuda-kuda
itu berkejaran di padang rumput.
-
Buku-buku
yang di belikan kemarin telah dibaca.
(2) Perulangan mengandung makna
bermacam-macam.
Contoh:
-
Pohon-pohonan
perlu dijaga kelestariannya. (banyak dan bermacam-macam pohon)
-
Daun-daunan
yang ada dipekaranagn sekolah sudah menumpuk.
(banyak dan
bermacam-macam daun)
(3) Makna lain yang dapat diturunkan dari
suatu kata ulang adalah menyerupai atau tiruan dari sesuatu.
Contoh:
-
Anak
itu senang bermain Kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda)
-
Andi
berteriak kegiranagn setelah dibelikan ayam-ayaman.
(menyerupai atau tiruan
ayam)
(4) Mengandung makna agak atau melemahkan
diri.
Contoh:
-
Sifatnya
masih kekanak-kanakan.
-
Mukanya
kemerah-merahan.
(5) Menyatakan makna intensitas. Makna
intensitas terdiri dari:
a. Intensitas kualitatif, contohnya:
-
Pukullah
kuat-kuat.
-
Anak
itu belajar sebaik-baiknya.
b. Intensitas kuantitatif, contohnya:
-
Kuda-kuda
itu berlari kencang.
-
Anak-anak
bermain bola di pekaranagn sekolah.
c. Intensitas frekuentatif, contohnya:
-
Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya.
-
Ia
mondar-mandir saja sejak tadi.
(6) Perulangan pada kata kerja mengandung
makna saling atau pekerjaan yang berbalasan.
Contoh:
-
Kita
harus tolong-menolong.
-
Tentara
sedang tembak-menembak denagn seru.
(7) Perulangan pada kata bilangan mengandung
makna kolektif.
Contoh:
-
Anak
–anak berbaris dua-dua sebelum masuk kelas.
A.
Kesimpulan
Morfologi merupakan bagian dari
tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.Sedangkan morfem adalah
satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relative stabil dan
tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.
Dalam bahasa Indonesia dikenal
adanay morfem yang disebut satuan non-gramatis. Satuan ini belum mengandung
makna tersendiri, karena itu tidak dapat langsung membentuk kalimat. Untuk
membentuk kalimat, makna satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus
digabungkan dengan satuan gramatis lainnya.Morfem semacam ini disebut:
“tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”. Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan
bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat.
Morfem bebas adalah morfem yang
mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung
membentuk kata. Morfem terikat merupakan morfem yang belum menagndung arti,
maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata,
morfem ini harus digabungkan dengan morfem bebas.
Morfem terikat dalam bahasa
Indonesia menurut santoso (2004) ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis
dan morfem terikat sintaksis. Morfem
terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem
dasar.Morfem ini meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Morfem terikat
sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata.









0 komentar:
Posting Komentar