DAKWAH ISLAMIYAH PADA ZAMAN ABBASIYAH
o
l
e
h
Muhammad Fadhli Al-Fudhail
1001310969
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS DAKWAH
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
BANJARMASIN
2011
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan
karunia-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu
yang telah ditentukan.
Makalah
yang berjudul “Dakwah Islamiyah pada Zaman Abbasiyah” yg diajukan untuk
memenuhi tugas berstruktur mata kuliah “Sejarah Dakwah” yang diasuh
oleh Bapak Hatmansyah, S.Ag, M.E.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan banyak terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mana telah membantu kami
sehingga tersusunnya makalah ini.
Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran
yang bersifat membangun sehingga makalah ini menjadi sempurna.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien.
Banjarmasin, Mei 2011
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
(Surat al-Hadid / 57: 25)
Ayat ini dinukilkan mendahului uraian mengenai dakwah Islamiyah dizaman
Daulah Abbasiyah, karena inti ajaran yang terkandung didalamnya kita
jumpai kembali dalam perjalanan sejarah Daulah Abbasiyah, yang lebih
lima abad itu.
Ayat 25 surat al-Hadid ini berintikan ajaran-ajaran:
- Para rasul diutus Allah dengan membawa bukti-bukti nyata tentang Allah sendiri dan makhluk-Nya.
- Para rasul dibekali dengan Kitab sebagai neraca agar dengan neraca itu manusia menegakkan keadilan.
- Dalam menegakkan keadilan, Allah menciptakan besi untuk dimanfaatkan manusia diwaktu perang dan diwaktu damai.
- Dengan ini Allah ingin hendak mengetahui siapa yang memfaatkan kegunaan besi untuk membantu tegaknya Agama Allah dan Risalah Rasul-Nya, dan siapa yang berbuat sebaliknya.
- Akhirnya, Allah memperingatkan bahwa Allah Maha Kuat dn Maha Perkasa untuk menyiksa mereka yang membangkan.
Bahagian
yang pertama dari sejarahnya ia telah berpedomankan Neraca untuk
menegakkan kemakmuran dan keadilan, dengan memanfaatkan kegunaan besi
dimasa damai dan kejayaan yang menakjubkan, dan telah sanggup
menempatkan dirinya sebagai Khalifah Penguasa Dunia. Tetapi, setelah
memakai “neraca manusia” untuk menegakkan kemakmuran dan keadilan dan
mulai meninggalkan Neraca Allah, pudar pulalah keagungan dan
kejayaannya; kemakmuran yang bina menjadi bencana baginya; keadilan yang
ditegakkan menjadi tidak adil, bahkan akhirnya pemanfaatan keagungan
besi dengan cara yang tidak wajar telah mengakhiri sejarah kehadirannya
dipermukaan bumi ini, seperti yang dijelaskan dalam uraian-uraian
selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
- Naik Turunnya Dakwah Islamiyah
Daulah
Abbasiyah yang mendukung dakwah Islamiyah dalam waktu lebih lima abad
itu, telah membagi oleh Daulah Abbasiyah kedalam empat periode, sehingga
dalam masa empat periode terjadi pula naik turunnya dakwah Islamiyah,
atau dengan kata lain suka dukanya dakwah slamiyah, yang dengan
ringkasan dapat dituliskan sebagi berikut:
- Masa Daulah Abbasiyah I
Masa
Daulah Abbasiyah I yang dimulai dengan Khalifah Abdul Abbas as-Safah
(132-136 Hijriyah/750-754) dan berakhir dengan Khalifah al-Wasiq
(227-232 Hijriyah/ 842-847), adalah masa yang sangat gemilang bagi
dakwah Islamiyah.
Dalam masa ini, kota-kota Baghdad, Basrah, dan Khaufah meruakan
pusat-pusat kegiatan dakwah Islamiyah dalam arti yang luas, atau dengan
istilah lain; pusat-pusat kegiatan kebudayaan Islam.
Kota Baghdad sebagai ibukota Negara merupakan kota Internasional yang
mkmur dan mewah, yang mempunyai kemampuan dalam taraf yang tinggi.
Para Khalifah pada masa Daulah Islamiyah I pada hakekatnya mereka juga
ulama yang memcintai ilmu, memuliakan ulama-ulama dan pujangganya, serta
membuka pintu istana bagi mereka selebar-lebarnya.
Para putra khalifah diberi pendidikan khusus dalam istsna-istana oleh
ulama-ulama dan pujangga-pujangganya, agar mereka juga menjadi ulamadan
pujangga.
Kebebasan berfikir merupakan cirri khas yang lain dari jaman ini,
sehingga disamping lahir hal-hal positif lahir pula hal-hal yang
negatif. Kebanyakkan para khalifah berdada lapang dalam hal ini,
umpamanya khalifah al-Makmun; beliau sendiri beraliran Syi’ah, perdana
menterinya Yahya bin Aqsam beraliran Sunnah, dan seorang menterinyaAhmad
bin Abi Daud beraliran Muktazilah.
Demikian jauhnya sudah kemerdekaan berfikir dizaman itu sehingga tidak
boleh seorang dipaksa menganut suatu aliran dalam agama. Terjadilah
umpamanya beberapa orang bersaudara dalam suatu rumah tangga bukan dalam
satu Madzhab, seperti Abu Za’di berputra enam: dua diantaranya
berMadzhab Syi’ah, dua berMadzhab Murjiah, dan dua lainnya berMadzhab
Kharijiyah (Khawarij).
Diantara cirri khas yang lain dari zaman ini, yaitu meningkatkannya
usaha penerjemahan, dimana telah diterjemahkan dari berbagai bahasa
kedalam bahasa Arab bermacam ilmu pengetahuan, seperti filsafat, ilmu
kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu music, dan
lain-lainnya.
Suatu penbidangan ilmu dizaman ini telah menampakkan wajahnya yang
nyata. Ada bidang yang disebut Ilmu Arab Asli, yaitu yang terpenting
diantaranya Ilmu Lughat, syair, dan Khitabah; dan ada bidang yang
disebut Ilmu Islam, yaitu Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Hikmat, Ilmu
Kalam, Ilmu Tasawuf, dan lain-lain; ada yang disebut Ilmu Baru, seperti
Filsafat, ilmu-ilmu Eksakta, Ilmu Musik dan lan-lain.
Zaman ini, disamping telah menampilkan sejumlah besar pujangga besar,
seperti Humayri, Abu Nawas, Abu Taman, Abu Atahiyah, Muslim bin Walid,
Khuza’i. juga telah melahirkan sejumlah Ulama besar, seperti Imam Abu
Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’e, Imam Ahmad bin Hambal, Qadhi
Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan Syibany, Abdurrahman bin Qasyim, dan
telah menghasilkan para ahli sejarah kenamaan, seperti Abu Ismail Azdy,
Waqidy, Ibnu Sa’d, Hisym, Ibnu Ishaq, Abdul Malik bin Hisyam Humairy.
- Perluasan Wilayah Dakwah
Dalam
Daulah Abbasiyah I tidak banyak usaha untuk memperluas wilayah dakwah
Islamiyah, hanya membina wilayah-wilayah yang telah ada dalam segala
bidang, terutama dalam bidang politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan.
Wilayah
Mesir yang telah menjadi wilayan dakwah Islamiyah semenjak zaman
Khalifatur Rasyidin, diusahakan agar menjadi basis bagi dakwah Islamiyah
untuk daerah bekas jajahan Kerajaan Romawi Timur sekitar Laut Tengah,
antara lain dengan membina ibukota untuk menggantikan kota Futsat, yaitu
kota Askar, kota mana kemudian menjadi pusat kegiatan dakwah Islamiyah
dalam arti seluas kata.
Wilayah
Afrika yang telah mulai dimasuki dakwah Islamiyah sejak Daulah
Amawiyah, dan disana dengan ditangani oleh Panglima Aqabah bin Nafi
telah dibangun kota Kairawan (di Tunisia sekarang) dalam tahun 51
Hijriyah, yang dijadikan sebagai benteng yang kuat untuk Angkatan Perang
dan Angkatan Dakwah, dilanjutakan pembinaannya oleh Daulah Abbasiyah.
Penduduk Asli Afrika Utara, turunan Bar-bar, yang telah masuk dalam
agama Islam, menggabungkan diri dalam Angkatan Dakwah dan Angkatan
Perang Islam, selesailah penaklukan seluruh Afrika Utara, tidak saja
dibawah pimpinan para pewira seluruh Arab, bahkan juga dibawah pimpinan
para perwira turunan Barbar, seperti Panglima Thariq bin Ziyad, yang
amat terkenal itu, dan selanjutnya dalam waktu kurang dari setengah abad
seluruh Andalusia dapat dikuasai Dakwah Islamiyah. Sekalipun selama
masa Daulah Abbasiyah I pengolakan politik terjadi selih berganti, namun
usaha pemantapan sasaran dakwah Islamiyah berjalan dengan baik,
terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Dakwah Islamiyah di Andalusia
Setelah
Daulah Amawiyah berakhirnya Daulah Abbasiyah dalam tahun 132 Hijriyah
(750), maka diwilayah Andalusia terjadi kekacauan politik, karena
perebutan jabatan gubernur antara Suku Madhariyah dengan Suku Yamaiyah,
sehingga pernah Andalusia empat bulan tanpa gubernur.
Setelah
Kordova menjadi ibukota Andalusia, maka kota tersebut menjadi saingan
yang setaraf bagi Baghdad, yang keduanya menjadi pusat kegiatan dakwah
Islamiyahdan kebudayaan Islam satu di Barat dan satu d Timur. Kemajuan
dan tamaddun yang dicapai Andalusia kalau tidak lebih, pasti tidak
kurang dari kemajuan dari tamaddun yang dicapai Daulah Abbasiyah di
Timur.
- Dakwah dan Byzantium
Usaha
untuk melebarkan Dakwah Islamiyah kewilayah-wilayah kerajaan Byzantium
(Roma Timur) masih dilanjutkan oleh Daulah Abbasiyah setelah masa Daulah
Amawiyah gagal merebut ibukota mereka Konstantinopel.
Dalam
memperluas daerah dakwah Islamiyah, berkali-kali terjadi peperangan
antara Angkatan Perang Islam dengan Angkatan Perang Byzantium, dan
berkali-kali pula terjadi perdamaian. Sungguh pun penyerangan dibawah
pimpinan dibawah Khalifah Muktsim telah berhasil merebut sebagian besar
Asia Kecil, namun ibukotanya Konstantinopel masih belum ditaklukkannya.
Walau pun demikian, dalam masa Daulah Abbasiyah I sayap dakwah Islamiyah
telah bertambah, melebar kedaerah-daerah Kerajaan Byzantium.
- Dakwah Melebar keIndia
Pengembangan
dakwah Islamiyah kedaerah India yang beragama Hindu, yang telah dimulai
sejak zaman Khlaifatur Rasyidin dan dilanjutkan oleh Daulah Amaewiyah;
dan dilanjutkan pula oleh Daulah Abbasiyah.
Demikianlah,
Khalifah Mansyr telah mengangkat Hisyam bin Amru menjadi Gubernur Sind
dengan tugas melanjutkan pengembangan dakwah Islamiyah kedaerah-daerah
lain, sehingga dalam masa Khalifah Mansurlah dakwah Islamiyah menguasai
Kashmir, sementara dalam Khalifah Mahdi (158-169 Hijriyah = 775-785)
Angkatan Dakwah Islamiyah dan Angkatan Perang Islam melakukan kampanye
besar kedaerah India lainnya dan dalam tahun 159 Hijriyah (776) kota
Baghdad dikepung dan ditaklukkannya. Dakwah Islamiyah terus meluas
dinegeri Sind dalam masa Khalifah Makmun (198-218 Hijriyah = 813-833),
dakwah Islamiyah berkembang terus dengan pesatnya di negeri-negeri yang
terletak antara Kabul, Kashmir dan Miltan.
- Masa Daulah Abbasiyah II
Dalam
masa ini dimulai dengan Khlifah Mutawakkal yang mulai memerintah dalam
tahun 232 Hijriyah (847) sampai dengan berakhirnya pemerintahan Khalifah
Muthi dalam tahun 334 Hijriyah (946), yaitu tahun lahirnya Daulah
Buwaihiyah, dan zaman ini juga dinamakan Turki karena berpengaruhnya
turunan Turki dalam urusan Negara.
Oleh
tekanan-tekanan yang terus menerus dari turunan Turki yang diberikan
kekuasaan terhadap para khalifah, maka dalam masa ini terjadilah
kekalutan politik yang membuat kedudukan Khalifah tidak ada artinya sama
sekali, hanya sebagai boneka-boneka belaka. Disamping itu, para Khadam
juga memainkan peranan yang menetukan, karena para Khalifah memerlukan
batuan mereka, dan untuk imbalannya maka diberi pula kepada mereka
kedudukan-kedudukan penting, sehingga pengaruh mereka dalam
istana-istana khalifah menentukan.
Menurut
Dr. Hasan Ibrahim Hasan, ada bebera orang khalifah dari Daulah
Abbasiyah II yang telah berusaha keras untuk mengembalikan Daulah
Abbasiyah kepuncak kekuatan dan kejayaannya, dan menurutnya pula
bahwakerajaan kecil yang lahir dimasa itu, seperti Samaniyah, Daulah
Buaihiyah, Daulah Hamdaniayah, Daulah Ghaznawiyah, dan Daulah
Saljukiyah, telah meninggalkan jejak terpuji dalam memajukan peradaban
dan kesenian.
- Gerakan Politik/Agama
Menurut
Dr. Hasan Ibrahim Hasan, bahwa lahirnya Daulah Abbsiyah II ditandai
oleh munculnya gerakan-gerakan politik dan agama, yang meninggalkan
jejak mendalam dalam sejarah masa ini. Parti Syi’ah dengan sektenya
telah menimbulkan revulosi berdarah yang menyebabkan goncangan
tersendiri bagi perumahan Daulah Abbasiyah, sementara partai-partai
politik Khawarij dan Zanji cukup juga menimbulkan Daulah Abbasiyah,
sekalipun akhirnya dapat ditindas. Di samping itu, lahir pula gerakan
Mu’tazilah yang lebih memusatkan pengetahuannya kepada Ilmu Pengetahuan
dan Filsafat Yunani, seperti yang dilakukan oleh organisasi Akhwanus
Safa, para pengarang Risalah Ikhwanus Safa yang
masyur itu. Selanjutnya berkembang dengan baik Madzhab Ahli Sunnah
dengan munculnya Abi Hasan Asy’ary dan Hujjatu Islam Imam al-Ghazali,
disamping bergolak pula paham-paham orang-orang tasawuf, baik yang
moderat, ataupun yang ekstrim.
- Perluasan Dakwah Islamiyah
Pertarungan
sengit terus menerus terjadi antara Daulah Abbasiyah II dengan Kerajaan
Byzantium, dimana kalah menang senantiasa silih berganti. Karena
terjadinya perpecahan dan kekacauan politik didalam, maka dalam
menghadapi Kerajaan Byzantium yang menentang dakwah Islamiyah tidak
mendapat kemajuan yang berarti, bahkan mengalami kemunduran.
Satu
hal yang lain menyebabkan bertambah lemah Daulah Abbasiyah berhadapan
dengan Kerajaan Byzantium, yaitu berhasilnya Byzantium mengikat
perjanjian damai dengan Daulah Amawiyah yang berpusat dikota Kordova,
daulah mana dalam kedudukan bermusuhan dengan Daulah Abbasiyah.
Dalam
pada itu, Daulah Amawaiyah yan gtelah mengikat perjanjian damai dengan
Byzantium, mengambil keuntungan dari perjanjian tersebut, yaitu
disamping mereka menguatkan kedudukan dakwah Islamiyah di Andalusia,
juga meluaskannya ke pulau-pulau disekitar Laut Tengah dan pantai Laut
Tengah di Italia dan Perancis, bahkan menduduki gunung-gunung dan
lembah-lembah yang strategis, sehingga pada pertengahan abad kesepuluh
kota Torino dapat didudukinya dan dalam tahun 325 Hijriyah (935)
Angkatan Dakwah Islamiyah telah melintas perbatasan Liguria dan memasuki
kota Genoa serta mnguasai pula lalu lintas Pegunungan Alpen yang curam.
Tidak cukup hingga disitu, bahkan dilintasinya bagi Pegunungan Alpen
Utara dan Mereka dari danau-danau Knastan disebelah selatan saampai
kekota-kota Genoa, Maresie, dan Nice di selatan, seterusnya mereka
mengembangkan dakwah Islamiyah di daerah baru ini, sehingga sampai
sekarang masih tersisa nama perkampungan Arab di kota Nice, yaitu Conton
de Sarazins.
- Pusat Kegiatan Dakwah dan Kebudayaan
Perkembangan
kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam dalam zaman ini, sungguh sangat
menajubkan, terutama terjemehan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa
asing kedalam bahasa Arab. Dorongan para Khalifah agar pertumbuhan ilmu
pengetahuan ditingkatkan, telah menyebabkan para ulama dan sarjana
berlomba-lomba mengarang dan menterjemahkan, mengedakan dan
penyelidikan, bahkan istina-istana khalifah menjadi pusat kegiatan ilmu
dan kebudayaan Islam.
Kebangkitan
alam pikiran dan kebebasan mimbar, merupakan cirri yang sangat khas
dari dakwah Islamiyah dimasa ini, sehingga karenanya terjadilah
pertukaran pikiran yang seru antara aliran-aliran dalam berbagai
madzhab, dari telah meninggalkan jejak yang kekal dalam kebangkitan ilmu
pengetahuan.
Dr.
Hasan Ibrahim Hasan telah menikhtitsarkan beberapa tempat yang menjadi
pusat kegiatan dakwah Islamiyah dalam bidang ilmu pengetahuan dan
kebudayaan, yang sarinya tercantum dibawah ini:
- Isfahan dan Ray
- Kota Bukhara
- Istana Tabristan
- Istana Khawazim
- Istana Ghaznah
- Istana Mushil dan Halab
- Istana Mesir
- Istana Amawiyah
Ibukota
Daulah Islamiyah lainnya, sehingga dengan demikian Andalusia menjadi
pusat tamaddun dan kemajuan Islam di bumi belahan Barat; menjadi
Ka’bahnya para ulama dan para pujangga, sementara mesjid-mesjidnya
menarik orang-orang Eropa datang kesana untuk menampung Ilmu
pengetahuan. Kutubkhanah Kordova terkenal sebagai kutubkhanah terbesar,
yang mempunyai jutaan jilid buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Dengan
uraian singakat diatas, jelaslah bahwa dalam zaman Daulah Abbasiyah II,
dakwah Islamiyah betul-betul bergerak sangat luas dalam bidang Ilmu
pengetahuan dan kebudayaan.
- Masa Daulah Abbasiyah III
Masa
Daulah Abbasiyah III dinilai Jarji Zaidan sebagai masa keemasan Islam
dalam bidang ilmupengethuan, karena dalam zaman ini berbagai bidang ilmu
pengetahuan telah matang meranum dan berbagai kitab telah dikarang,
terutama dalam ilmu bahasa, sejarah, jughrafi, adab dan filsafat.
Dakwah
Islamiyah dalam masa Daulah Abbasiyah III tidak mengalami kemajuan
dalam bidang politik, bahkan menderita kemunduran; tetapi dalam bidang
ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat,
melebihi zaman sebelumnya.
Kemunduran
dalam bidang politik, karna perpecahan berat yang terjadi dalam Daulah
Islamiyah, dimana bermunculan kerajaan-kerajaan kecil yang dalam
kenyataannya telah berdiri sendiri, memisahkan diri dari kekuasaan
Baghdad, sehingga muncullah beberapa ibukota Negara yang lain, yang
sekaligus menjadi kegiatan dakwah Islamiyah dalam bidang ilmu
pengatahuan dan kebudayaan.
Masa
Daulah Abbasiyah III ditandai oleh lahirnya ahli-ahli fikir, para
sarjana, para pujangga, para pengarang, para ahli filsafat dalam
berbagai kota Mamlakah Islamiyah, sejak dari ujung Turkestan di Timur
sampai ke ujung Andalusia di Bart, yang termasuk didalamnya Daerah
Belakang Sungai, Afganistan, Tabri,tan, Khawazim, Persia, Daerah, antara
Dua Sungai, Maghribi, Andalusia, Mesir, Syam, dan lain-lain.
- Keutamaan Masa Daulah Abbasiyah III
Zaman
ini, masa Daulah Abbasiyah III, mempunyai keutamaan dan cirri-ciri khas
sendiri, yang juga menjadi keutamaan dan ciru-ciri khas dari dakwah
Islamiyah yang didukungnya.
- Matangnya Ilmu dan Banyaknya Kutubkhanah
- Lahirnya Mausu’at
- Aneka Ragam Ilmu
- Ilmu Pendidikan Rumah Tangga
- Kitab-kitab Ilmu Politik
- Ilmu Politik Ekonomi
- Ilmu Sosiologi
Satu lagi Ilmu yan amat penting, yang diciptakan dalam Daulah Abbasiyah III, yaitu ilmu sosiologi atau ilmu umran.
- Masa Daulah Abbasiyah IV
Masa
Daulah Abbasiyah IV dimulai dengan masuknya kekuatan bersenjata Saljuk
ke Baghdad dalam tahun 447 Hijriyah (1075) dan berakhir dengan masuknya
Baghdad kedalam kekuasaan Mogul dalam tahun 656 Hijriyah (1261) serta
berpindahnya Khilafat Abbasiyah Ke Mesir.
Selama
masa Daulah Abbasiyah IV ini telah terjadi pergeseran-pergeseran
politik yang menjejakkan pengaruh mendalam dalam Mamlakan Islamiyah dan
umat Islam.
Ahli
sejarah Jarji Zaidan telah mencatat beberapa pergolakan dan pergeseran
politik dalam Daulah Abbasiyah IV, yang diikhtisarkan sebagai berikut:
- Daulah Saljukiyah
Pergerakkan politik yang terpenting, yaitu lahirnya Daulah Saljuk pada waktu Mamlakah Abbasiyah dalam keadaan melemah.
Dinsati
Saljuk memerintah dibawah bayangan Daulah Abbasiyah IV, dan yang
benar-benar berkuasa adalah mereka, bukan Dinasty Abbasy. Para khalifah
Daulah Abbasiyah hanya lambing semata-mata. Pada waktu itu, daerah
kekuasaan Syria,dan seperti telah dijelaskan bahwa mereka memasuki
Baghdad dalam tahun 447 Hijriyah.
- Penyerbuan Tentara Salib
Dalam
keadaan kekacauan dan pergeseran-pergeseran politi yang mengkhawatirkan
itu, Tentara Nasrani berusaha untuk mematahkan sayap dakwah Islamiyah
dengan menyerbu Syria dan menaklukkan negeri-negeri pantai serta
menguasainya dari tahun 492-582 Hijriyah. Pendudukan Tentara Salib atas
negeri Syam, telah menyebabkan melemahnya daya pengaruh dakwah
Islamiyah, yang terasa sampai dewasa ini dinegeri tersebut.
- Pada akhir Daulah Abbasiyah IV ini, muncullah Jengkhiz Khan, Panglima Tentara Mogul melakukan penyerbuan dahsyat terhdap Mamlakah Islamiyah, dimana ditaklukkan negeri-negerinya, dimusnahkan kota-kotaya, dibinasakan kutubkhanah-kutubkhanahnya, dan disembelih pendudukannya. Dari keturunannya lah lahir Hulako yang menaklukkan Baghdad dan menghancurkannya, serta membunuh khalifah Muktasim dalam tahun 656 Hijriyah. Pendudukan dan pemusnahan yang dilakukan Tentara Mugol ini telah membuat dakwah Islamiyah semakin melemah, bahkan semakin kecil daerah wilayahnya.
- Retaknya Andalusia
Dalam
masa yang muram bagi dakwah Islamiyah ini, timbul pula krisis dalam
tubuh Daulah Amawiyah di Andalusia, dimana terjadi perebutan kekuasaan
sesame Islam, sehingga retaklah persatuannya, bahkan akhirnya hancur
sama sekali. Keadaan yang demikian telah lama dinanti-nanti oleh
kekuatan Nasrani sekitarnya, sehingga peluang baik itu tidk disia-siakan
mereka; maka direbutlah Andalusia itu wilayah demi wilayah, pada
akhirnya kaum Muslimin dikeluarkan dari bumi belahan barat itu.
Sesuatu
terjadi yang dialami dakwah Islamiyah, yang sangat menyedihkan, dimana
harus menyerahkan hasil kebudayaannya yang gemilang ketangan Nasrani.
- Dinasti Aiyubi dan Fathimi
Pergesekan
politik dari Dinasti Abbasi kepada Dinasti Aiyubi dan Dinasti Fathimi,
hanya memberi kemunduran kepada dakwah Islamiyah dalam bidang
pemerintahan saja, sedangkan dalam bidang pembinaan pendidikan dan
kebudayaannya berjalan terus, bahkan dalam beberapa hal bertambah maju.
Kota-kota yang dikuasai oleh kedua Dinasti tersebut, tetap menjadi pusat
kegiatan dakwah Islamiyah, terutama dalam bidang pendidikan, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan, sehingga akhirnya dari daerah-daerah itulah
sayap dakwah Islamiyah dikembangkangkan kembali.
Sungguh
dalam bidang politik dan perluasan dakwah Islamiyah, masa Daulah
Abbasiyah IV mengalam kemunduran yang mencolok, tetapi dalam bebera hal
ia memepunyai keistemewaan-istimewaan, seperti yang dicatat Jarji
Zaidan:
- Berkembangnya Madrasah-madrasah
Salah
satu keistimewaan zaman ini, yaitu berkembangnya madrasah-madrasah
dalam dunia Islam, serta pembeharuan sistem pendidikan, karena ilmu yang
telah matang dalam daulah-daulah Islamiyah. Terkenallah sebagai
pahlawan membangun madrasah Nidgmul Muluk, dan madrasah yang paling
masyhur dizaman itu, yaitu Madrasah Nidhamiyah di Baghdad, yang
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam Dunia Islam, karena Madrasah
tersebut telah mencetak sejumlah besar ulama, pujangga, pahlawan, dan
berbagai ahli lainnya.
- Lahirnya ulama pengarang terkemuka
Sebagai
hasil dari pembaharuan pendidikan dan pendirian madrasah-madrasah,
sejak dari rendah sampai kepada yang tinggi, maka lahirlah sejumlah
ulama-ulama, pujangga-pujangga, pengarang-pengarang, ahli-ahli sejarah,
dan lain-lainnya.
- Dari dunia seni bahasa dan karang mengarang, lahirlah sejumlah pujangga Sebagai hasil dari pembaharuan pendidikan dan pendirian madrasah-madrasah, sejak dari rendah sampai kepada yang tinggi, maka lahirlah sejumlah ulama-ulama, pujangga-pujangga, pengarang-pengarang, ahli-ahli sejarah, dan lain-lainnya.
- Lahirnya Lima Besar Islam
Setelah
jatuh Daulah Abbasiyah IV, yang diganti oleh Daulah Moghuliyah, maka
selama dua setengah abad dakwah Islamiyah telah keihilangan pendukungnya
yang kuat, sehingga karenanya ia dalam segala bidang seperti tiada
berdaya; tiada berjiwa, seperti orang lumpuh.
Selama
lebih dua setengah abad dakwah Islamiyah meraba-raba mencari dirinya
sendiri, sehingga pada beberapa bagian dunia ia menemui kembali dirinya,
dan dalam tahun 1453 tentara Turki Islam dibawah pimpinan Muhammad
al-Fatih dapat merebut kota Konstantinopel, ibukota Kerajaan Byzantium
(Romawi Timur) benteng terakhir dari kerajaan Nasrani itu.
Kejatuhan
kota Konstantinopel kedalam tangan Angkatan Dakwah dan Angkatan Perang
Islam, adalah permulaan dari berjiwanya kembali dakwah Islamiyah,
sehingga pada abad XVI Masehi muncullah kepanggung dunia Lima Besar
Islam, sebagai pendukung dakwah Islamiyah, yaitu Maroko di Afrika Utara,
Istambul di Asia Kecil, Isfahan di Timur Tengah, Arga di Anak Benua
India, dan Aceh di Asia Tenggara.
Lima
Besar Islam ini yang tumbuh pada awal abad XVI Masehi sekalipun tidak
terlalu lama usianya, namun ia telah dapat memberi daya gerak kembali
kepada dakwah Islamiyah, sehingga sayapnya meluas kembali kepada
beberapa penjuru dunia, seperti yang akan dijelaskan dalam pasal
berikut, walaupun hanya mengenai dengan pengembangan dakwah Islamiyah
diAceh (Indonesia).
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
- Daulah Abbasiyah yang mendukung dakwah Islamiyah selama lebih lima abad, dinilai sebagai suatu kerajaan yang telah mencapai tamaddun yang menakjubkan, dimana didalamnya dakwah Islamiyah telah dapat menakjubkan, dimana didalamnya dakwah Islamiyah telah dapat mengembangkan ajarannya dalam arti seluas kata.
- Diberinya kesempatan dakwah Islamiyah berkembang seperti seadanya, terutama dibelahan pertama dari sejarahnya, telah menjadikan Daulah Abbasiyah sebagai satu Kerajaan Islam yang telah dapat merubah wajah dunia, dari gelap menjadi terang, dari mundur menjadi maju, seperti dinilai para ahli sejarah.
- Dakwah Abbasiyah yang mendukung dakwah Islamiyah dalam waktu lebih dari lima abad itu, oleh para ahli sejarah dibagi kedalam empat periode yaitu:
- Abbasiyah I, sejak pembangunannya sampai dengan awal Khalifah Mutawakkal; 132-232 Hijriyah (750-847).
- Abbasiyah II, sejak Khalifah Mutawakkal sampai dengan berkuasanya Daulah Buaihiyah di Baghdad, 232-334 Hijriyah (847-946).
- Abbasiyah III, sejak berkuasanya Daulah Buaihiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Tartar dibawah pimpinan Hulako; 467-656 Hijriyah (1075-1261).
- Daulah Abbasiyah IV, dimulai dengan masuknyan berkekuatan bersenjata Saljuk keBaghdad dalam tahun 447 Hijriyah (1075) dan berakhir dengan masuknya Baghdad dalam kekuasaan Mogul dalam tahun 656 Hijriyah (1261) serta berpindahnya Khalifah Abbasiyah keMesir.
DAFTAR PUSAKA
- Hasan, Hasan Ibrahim. Tarikhul Islam as-Siyasi, (Kairo, Darul Kutubil Hadits, 1961), Cetakkan ke-2
- Zaidan, Jarji. Tarikhul Adabil Lughah Al-Arabiyah, (Kairo, Darul Hilal).









0 komentar:
Posting Komentar