IQ, EQ DAN SQ KEPEMIMPINAN
DALAM PERUBAHAN ORGANISASI
Oleh : Muhammad Fadli Al-Fudhail
1013109696
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
IAIN Antasari Banjarmasin
Abstrak :
Dalam perkembangannya kecerdasan intelektual
(IQ) tidak selalu menjamin seorang bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.
Nilai IQ tinggi tidak menggiring seseorang akan menjadi seorang pemimpin yang
disegani. Kecerdasan intelektual memang diperlukan seorang pemimpin untuk
menangkap gagasan-gagasan yang muncul, dan mencari pemecahan masalah secara
logis, serta melahirkan ide-ide segar yang inovatif dan berbeda.
Namun pada saat pengimplementasian sebuah
rencana, menganalisa sebuah masalah juga dibutuhkan kecerdasan emosional (EQ).
Pemimpin juga perlu mengendalikan dan memainkan emosinya didalam menghadapi
orang lain dan kelompok-kelompok yang berhubungan. Dalam pola relasi hubungan
juga diperlukan empati seorang pemimpin untuk melihat permasalahan bukan dari
kacamata dirinya saja.
Untuk bisa menarik keputusan terbaik sesuai
etika kejujuran dan kebenaran, pemimpin juga membutuhkan kecerdasan spiritual
(SQ). Seorang pemimpin harus paham dan mengenal dirinya sebagai mahluk
spiritual dan bagian dari alam semesta ini. Pemimpin harus menyadari bahwa
dibutuhkan juga pertanggungjawaban di hadapan Tuhan YME nantinya.
Kata Kunci : IQ, EQ, SQ, Pemimpin
dan Perubahan Organisasi
A.
Pendahuluan
Kecerdasan merupakan
salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya
sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan
meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir
dan belajar secara terus menerus.
Gejolak
perubahan yang berlangsung secara cepat mengakibatkan kesementaraan menjadi
sifat hakiki dari kegiatan usaha di masa depan. Kegiatan bisnis menghadapi
berbagai kondisi paradoksial yang penuh ketidakpastian. Organisasi-organisasi
dan perusahaan-perusahaan diseluruh dunia dirongsong oleh faktor-faktor
eksternal yang memaksa mereka untuk berubah secara drastis. Dalam bukunya: :”The
New Rulles: How to Succed in Today’s Posth Corporate World”, John P. Kotter
menyebut empat penyebab utama yang memaksa organisasi untuk berubah. Keempat
factor tersebut adalah perubahan teknologi, integrasi ekonomi internasional,
kejenuhan pasar di negara-negara ojmaju serta jatuhnya rezim komunis dan
sosialis.[1]
Namun pemimpin
mempunyai kesempatan paling banyak untuk bisa merubah, jika itu bisa dan yakin
untuk merubahnya tapi sebaliknya jika ia tak mampu untuk merubah maka akan
lebih jatuh kebawah. Sehubungan hal yang demikian itu, perlulah manajemen
kepemimpinan sebagai kunci pembuka bagi suksesnya suatu organisasi dan lembaga
yang terbentuk.
Kemampuan
berfikir, daya menghubungkan, menila dan kemampuan dalam pemecahan masalah
dengan logika soerang pemimpin ditentukan melalui skor dari hasil tes kecerdasan
yang popular dengan sebutan School Aptitude Test (SAT) atau tes IQ.
Jadi apakah
benar demikian bahwa IQ adalah satu-satunya parameter kecerdasan dan sekaligus
menjadi faktor penentuan kesuksesan dalam hidup terutama dalam keoraganisasian
dan kelembagaan? Dan bagaimana dengan EQ dan SQ dalam kepemimpinan, berikut ini
akan lebih dijelaskan secara rinci.
B.
Pengertian IQ, EQ Dan SQ
Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun
belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg &
Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan
dan adaptif.
Saat ini cukup popular
tentang tiga kecerdasan manusia, yaitu Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan
Emosional, dan Kecerdasan Spiritual.
1)
Intellgence Quotient
(IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan
keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang
tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari
hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan
mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja
dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan
menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita
memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan
gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.
2)
Emotional Quotient (EQ) mempunyai dua arah dan dua dimensi, arah ke dalam
(personal) berarti sebuah kesadaran diri (self awareness), penerimaan diri
(self acceptance), dan hormat diri (self respect), dan penguasaan diri (self
mastery) dan arah keluar (interpersonal) berarti kemampuan memahami orang (to
understand others), menerima orang (to accept others), mempercayai orang (to
trust others), dan mempengaruhi orang (to influence others).
3) Spiritual Quotient (SQ) intinya adalah transendensi, yaitu proses
penyeberangan, pelampauan, penembusan makna yang lazim, khususnya dari wilayah
material ke wilayah spiritual, dan dari bentuk yang kasar ke bentuk yang
sublime. Dalam hal ini hidup bukan semata-mata untuk memperoleh materi semata
akan tetapi harus betul-betul dihayati sebagai serangkaian amal bagi sesama
manusia dan beribadah kepada Tuhan. Sehingga tidak cukup jika kita hanya
mengandalkan kecerdasan intelegensi dan emosional saja. Mempertebal iman dan
taqwa kita akan membangun budi dan akhlak mulia sehingga segala sesuatu yang
kita lakukan semata-mata mohon perkenan dan ridho Tuhan, sehingga apa yang kita
kerjakan akan terasa bermakna, nikmat, dan kita lakukan penuh dengan suka cita,
tanpa keterpaksaan belaka.[2]
C.
Kepemimpinan
1.
Pengertian Pemimpin
Kepemimpinan merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan
organisasi, terlebih lagi dalam menuju perubahan. Untuk memahami apa
yang dimaksud dengan kepemimpinan (leadership) ada baiknya
terlebih dahulu mengetahui arti pemimpin (leader). Hal ini disebabkan
kepemimpinan dilakukan oleh seorang pemimpin dan ia mengemban tugas dengan
beraktivitas untuk melaksanakan kepemimpinan tersebut. Menurut
Robbert D Stuart, bahwa pemimpin adalah seorang yang diharapkan
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu
menentukan individu untuk mencapai tujuan organisasi.[3] Seiring
dengan itu James P. Spillane, menyatakan bahwa pemimpin itu agen perubahan
dengan kegiatan mempengaruhi orang-orang lebih daripada pengaruh orang-orang
tersebut kepadanya.[4]
2.
Konsep Kepemimpinan
Beragam definisi dan konsep kepemimpinan yang ditemukan dalam
berbagai bahan pustaka, yang masing-masing berbeda dalam penekanan arti.
Richard L. Daf, mendefinisikan kepemimpinan (leadership) adalah suatu
pengaruh yang berhubungan antara para pemimpin dan pengikut (followers)[5].
Kemudian Gibson menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya menggunakan
pengaruh untuk memotivasi orang-orang guna pencapaian suatu tujuan. Masih
berhubungan dengan pengaruh, Ken Blanchard yang dikutip oleh Marcelene
Caroselli, menyatakan bahwa kunci untuk kepemimpinan hari ini adalah “pengaruh”
bukan “kekuasaan” selanjutnya ia mengatakan para pemimpin tahu bagaimana
mempengaruhi orang-orang dan membujuk mereka untuk suatu tuntutan pekerjaan
yang tinggi.[6]
3.
Konsep Kepememimpinan Perubahan
Pada dasawarsa akhir ini, kepemimpinan lebih populer dengan
kepemimpinan perubahan. Richard L. Daff mengemukakan konsep kepemimpinan dalam
satu definisi saja yaitu “kepemimpinan adalah merupakan suatu pengaruh hubungan
antara pimpinan dan pengikut (followers) yang bermaksud pada perubahan
dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan bersama” Dari definisi tersebut
tercakup tujuh unsur yang esensial dalam kepemimpinan, (1) pemimpin (leader),
(2) pengaruh (Influence), (3) pengikut (Follower), (4) maksud (Intention),
(5) Tujuan bersama (shared purpose), (6) Perubahan (change), (7)
tanggung jawab pribadi (Personal responbility).
Pengaruh adalah hubungan timbal balik bukan satu arah antara
pemimpin dengan pengikut dengan maksud dan harapan terjadi perubahan yang
berarti sebagai hasil dari tujuan bersama. Dari pandangan Daff di atas dapat
dipahami bahwa pengaruh tidak dikaitkan dengan unsur kekuasaan maupun paksaan
yang dilakukan pemimpin terhadap bawahan. Pemimpin mempengaruhi bawahan dan
juga bawahan dapat mempengaruhi pemimpin, malahan menurut Daff pengikut yang
baik bukanlah “Yes people” kadang-kadang pemimpin yang efektif sama
denganm dengan pengikut yang efektif, hanya berbeda dalam memainkan perannya.
Kemudian unsur tanggung jawab pribadi dan integritas (personal responbility
and integrity) menunjukkan adanya tanggung jawab antara pimpinan dan
orang-orang yang ada dalam organisasi harus sama-sama mempunyai tanggung jawab
penuh untuk mencapai tujuan.
Sedangkan unsur perubahan (change) merupakan hasil dari
pimpinan dan pengikut yang menjadi harapan masa depan dan mereka sama-sama
menciptakan perubahan, bukan memelihara status quo. Atau dengan kata
lain perubahan adalah gambaran dari tujuan bersama (shared
purpose). Jika dicermati ketujuh elemen kepemimpinan yang
dikemukakan oleh Daff, terkandung makna penting, bahwa antara pimpinan
dan pengikut tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam memberikan pengaruh
dan tanggung jawab untuk mencapai perubahan. Yang berbeda adalah peran
antara pemimpin dan pengikut. Dari beberapa definisi dan konsep
kepemimpinan di atas terlihat bahwa kepemimpinan pada artinya
merupakanadanya kegiatan/aktivitas mempengaruhi dan menggerakkan orang lain
untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama, apakah tujuan itu
berupa perubahan organisasi dan sebagainya. Sehubungan dengan itu, Burt Nanus,
menemukan model khusus yang digunakan untuk memahami peran pemimpin organisasi
non profit yang diwujudkan dalam kegiatan, yaitu:
1)
Dalam organisasi (Inside the organization), peran pimpinan
berinteraksi dengan staf dan tenaga sukarela untuk memberikan inspirasi,
mendorong, menggerakkan dan memberdayakan mereka.
2)
Ke luar organisasi (outside organization), peran pimpinan
mencari bantuan, dukungan dari donatur, mitra yang berpotensi dengan para
pimpinan bisnis di luar organisasi.
3)
Pada masa operasi (present operation), pimpinan memusatkan
pada kualitas dan pelayanan, pada struktur organisasi, sistem informasi dan
aspek lainnya.
4)
Kemungkinan masa depan (on future possiblities), pimpinan
mengantisipasi trends serta mengembangkan arah masa depan organisasi.[7]
Merujuk pada konsep kepemimpinan di atas, yang dimaksud dengan
kepemimpinan adalah aktivitas/kegiatan atasan dalam mempengaruhi dan
menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dengan aspek-aspek:
1). Pimpinan yang memberikan, mengembangkan dan menyebarkan visi (visioner),
2). Sebagai komunikator, 3). Menjadi agen perubahan (change agent), 4).
Sebagai pelatih (coac) dan 5). Dapat menganalisa pemanfaatan teknologi
informasi. Konsep kepemimpinan berserta indicator di atas, dikumpulkan dari
teori-teori yang dianggap dianggap cocok untuk membawa organisasi pada
perubahan, karena untuk suatu perubahan pemimpin harus seorang yang visioner,
dan dapat berperan sebagai change
agent, dapat mengkomunikasikan perubahan baik ke luar maupun ke
dalam organisasi, ia harus menguasai teknologi informasi sehingga ia akan dapat
bertindak sebagai pelatih dari bawahannya. Kepemimpinan perubahan akan berhasil
apabila ia kuat dan mampu menjalankan perannya seperti yang disebutkan di atas,
di samping itu beberapa teori menyatakan bahwa kepemimpinan melalui pimpinannya
berpengaruh langsung terhadap perubahan organisasi hal ini sangat mendukung
untuk pimpinan tersebut melaksanakan perannya.
4.
Perubahan Organisasi
Untuk memahami
perubahan organisasi secara teoretis, penulis mengumpulkan beberapa definisi
dan konsep para ilmuan. Michel Beer (2000: 452) menyatakan berubah itu adalah
memilih tindakan yang berbeda dari sebelumnya, perbedaan itulah yang
menghasilkan suatu perubahan.[8]
Jika pilihan hasilnya sama dengan yang sebelumnya berarti akan memperkuat
status quo yang ada. Selanjutnya Winardi (2005: 2) menyatakan, bahwa perubahan
organisasi adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi yang
berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan dating menurut yang di inginkan
guna meningkatkan efektivitasnya. Sejalan dengan itu Anne Maria (1998: 209)
berpendapat, bahwa perubahan organisasi adalah suatu tindakan menyusun kembali
komponen-komponen organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas
organisasi. Mengingat begitu pentingnya perubahan dalam lingkungan yang
bergerak cepat sudah saatnya organisasi tidak menunda perubahan, penundaan
berarti akan menghadapkan organisasi padaproses kemunduran. Akan tetapi perlu
diingat bahwa tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang
lebih baik, sehingga perlu diupayakan agar perubahan tersebut diarahkan kearah
yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang sebelumnya.
Pendapat yang senada dikemukakan oleh JO. Bryson seorang pakar
dalam manajemen perpustakan menyatakan bahwa ”when one or more elements in
alibrary change it is called organizational change” Pendapat Bryson
tersebut menunjukkan bahwa salah satu unsur saja dalam organisasi yang berubah,
sudah dapat dikatakan sebagai perubahan organisasi.[9]
Dari beberapa definisi tentang perubahan di atas dapat ditarik pengertian bahwa
perubahan organisasi itu merupakan suatu tindakan yang dilakukan terhadap
unsur-unsur dalam suatu organisasi untuk meningkatkan efektivitas organisasi
menuju ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya. Perubahan merupakan bagian
dari kehidupan manusia, dan dapat juga terjadi pada organisasi termasuk
organisasi perpustakaan. Perpustakaan sebagai organisasi nirlaba tidak dapat
terhindar dari perubahan, kehadiran perkembangan teknologi informasi merupakan
dorongan eksternal yang utama akan merubah unsur-unsur dari organisasi perpustakaan.
Setiap organisasi mempunyai target perubahan yang berbeda sesuai dengan
kebutuhan dan faktor dominan yang mendorong perubahan tersebut, begitu juga
perubahan pada perpustakaan perguruan tinggi termasuk perubahan yang
direncanakan yang diakibatkan oleh dorongan teknologi informasi.
Sehubungan dengan itu Bryson menjelaskan bahwa perubahan yang
mendasar pada organisasi perpustakaan adalah:
1.
Perubahan teknologi yang meliputi otomasi perpustakaan pada bidang:
proses pengatalogan, pelayanan pemakai dan sistem pengadaan bahan pustaka,
Sistem penelusuran informasi seperti CD-ROM dan OPACs, internet.
2.
Perubahan struktur, sebagai hasil dari komputerisasi yang meliputi
spesialisasi kerja, wewenang, departementalisasi dan rentang kendali.
3.
Seting pisik, meliputi letak tata ruang, desain interior, fasilitas
penempatan peralatan sesuai dengan kebutuhan kerja.[10]
Pernyataan Bryson tersebut lebih memperjelas bahwa perubahan
organisasi perpustakaan yang utama adalah pemanfaatan teknologi informasi yang
secara otomatis akan merubah struktur dan penataan pisik dan individu (people)
di perpustakaan. Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa untuk melaksanakan
perubahan organisasi di perpustakaan perguruan tinggi tidaklah mudah,
kepemimpinan merupakan factor kunci dalam menentukan suksesnya suatu organisasi
menuju perubahan. Berikut ini akan dibahas lebih luas tentang konsep
kepemimpinan perubahan yang berlandaskan pada teori.
D.
Hubungan Antara IQ, EQ dalam SQ dalam Kepemimpinan
Hubungan antara IQ, EQ dan SQ sangat penting
dimiliki seorang pemimpin untuk mewujudkan keadaan kepemimpuinan yang efektif
dan kondusif. Hubungan antara ketiga kecerdasan tersebut angat erat, dan dari
ketiga kecerdasan tersabut yang paling esensial adalah kecerdasan spiritual
(SQ) karena dari katiga kecerdasan itu SQ -lah yang mengendalikan IQ dan
EQ agar berjalan sesuai dengan koridor yang baik dan positif. Apalagi bila
dihadapkan pada realita seperti sekarang ini banyak manusia yang telah
menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang telah digariskan oleh Allah SWT. Hal
iti berdampak pada kemunduran akhlak bangsa kita sekarang ini seperti banyak
seorang pemimpin yang yang menjalankan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.
E.
PENUTUP
Seorang
pemimpin yang hanya berlandaskan pada IQ saja, maka visi dan misi serta orientasi
kerjanya sebatas pada hal-hal yang sifatnya materialistis, matematis dan
pragmatis, dengan mengenyampingkan hal-hal yang berbau spirituallits dan
sentuhan hati nurani. Pencapain visi dan misi oleh pemimpin yang hanya
mengandalkan IQ, dilakukan dengan prinsip just do it, sehingga segala bentuk
kegagalan ataupun keberhasilan, disikapi sebagai prinsip just a game. bahkan
ultimate goal nya juga masih sebatas mancari kepuasan materiil atau duniawi.
Pemimpin yang
menerapkan nilai-nilai EQ akan menggunakan hatinya dalam memimpin, tidak
semata-mata logika sebagaimana pendekatan IQ di atas. Penerapan EQ ini
ditunjukan dengan sifat sidik (jujur), Tabligh (berani menyampaikan kebenaran),
Amanah (terpercaya), dan Fatonah (berpendirian kuat) dalam memimpin. namun pendekatan
EQ ini sasaran akhirnya cenderung masih tetap sama dengan pendekatan IQ yakni
sebatas mengejar kepuasan materiil atau duniawi. Konon di dalam dunia
pendidikan negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika ada materi tambahan
yang berkaitan erat dengan life skill dan leadership. Disitu aspekkejujuran,
pemahaman akan individu dan masyarakat, ditambah basic technology diberikan
sebagai menu sehari-hari. Namun konsep itu nampaknya masih terlepas dari
nilai-nilai luhur ajaran agama, hanya sebatas pada hubungan antar sesama
manusia dengan mengabaikan hubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam.
Pemimpin
yang mendalami dan menerapkan nilai-nilai SQ dipadukan dengan nilai-nilai EQ,
ultimate goal nya semata-mata mendapat ridha Allah SWT. Visi dan misinya sangat
jauh kedepan karena dihasilkan dari proses memahami masa lalu (sejarah) yang
sangat jauh ke belakang. Mulai dari upaya memahami penciptaan alam dan manusia
sampai meyakini bahwa tujuan akhirnya tidak lain adalah akhirat. dengan
demikian visinya tidak sebatas sampai akhir kehidupan dunia saja, tapi sampai
pada kehidupan akhirat, dimana semua perilaku kita di dunia akan dipertanggung
jawabkan dihadapan Allah SWT dan kita yakin bahwa pengadilan akhirat akan kita
hadapi. Oleh karena itu prinsip just do it nya adalah mengerjakan segala
sesuatu dengan penuh keikhlasan karena melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai
seorang pemimpin, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, sehingga ukuran yang
digunakannya bukan lagi ukuran manusia tapi sudah menggunakan ukuran Tuhan
Pencipta Alam Semesta.
DAFTAR PUSAKA
Beer, Michael. Breaking the Code of Change, USA: President
and Fellow of Harvard College, 2002.
Bryson, JO. Effective Library and Information Centre Management,
England: Gower, 1990.
Caroselli, Marcelene, Leadership Skill for Managers,
New York: McGraw-Hill, 2000.
Daff, Richard L. The Leadership Experience. Canada: Thomson,
2005.
Nanus, Burt and Stephen M. Dobbs. Leaders Make Different
Strategies for Meeting the Non Profit Challenge, San Francisco: Jossey bass,
1999.
P Spillane, James. Distributed leadership, San Francisco:
Jossey Bass, 2006.
Stuart, Robert D and Barbara B. Morgan. Library and information
centre management, USA: Library Unlimited, 2002.
Sudjarwadi, Tommy. Mengapa Dinosaurus Punah?. (2003).
http://ahmed-saepudin.blogspot.com/2013/02/pengertian-iq-eq-dan-sq.html, diakses hari senin 31 september 2013 07:16 WITA.
[1]
Tommy Sudjarwadi, Mengapa Dinosaurus Punah?. (2003) h. 4.
[2] http://ahmed-saepudin.blogspot.com/2013/02/pengertian-iq-eq-dan-sq.html, diakses hari senin 31 september 2013 07:16 WITA
[3]
Robert D Stuart. and Barbara B. Morgan. Library and information centre management,
USA: Library Unlimited, 2002. h. 352.
[4] James p Spillane. Distributed leadership, San Francisco:
Jossey Bass, 2006. h. 10.
[5] Richard L. Daff, The Leadership Experience. Canada:
Thomson, 2005. h. 5.
[6] Marcelene Caroselli, Leadership Skill for Managers,
New York: McGraw-Hill, 2000. h. 9.
[7] Burt Nanus and Stephen M. Dobbs. Leaders Make Different
Strategies for Meeting the Non Profit Challenge, San Francisco: Jossey
bass, 1999.
[8] Michael Beer. Breaking the Code of Change, USA: President
and Fellow of Harvard College, 2002. h. 452
[10] Ibid. h. 374-375.









0 komentar:
Posting Komentar